PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
131 " Apa yang akan terjadi "


__ADS_3

Mencari Putri secara berpencar kearah yang berbeda, Gibran yang kebetulan mencarinya dari arah belakang belakang hotel ini, dirinya nampak cemas memandang kesana-kemari untuk mendapatkan hasil yang ia dapat, namun hasil yang ia cari tak kunjung ia temui.


"Putri ... Putri ... Kamu dimana Putri ...."


Beberapa teriakan Gibran lontarkan. Tak hanya Gibran beberapa teman yang lainnya pun ikut mencari dan memangil nama itu berulang kali, tapi beberapa kali mereka mengucapkan kata-kata itu tak terdengar akan seseorang yang bernama Putri untuk menyahut akan teriakan dari namanya yang terus memangil dirinya.


Sedangkan Putri sendiri yang berada didalam kedalaman sumur itu, rasa sakit tak bisa ia tahan, sesekali ia menitihkan air matanya akibat kaki yang tadinya dikira telah keseleo namun yang terjadi malah sebaliknya.


Dirinya yang tanpa sengaja menginjak ranting kayu yang membuat kakinya yang mengalami pendarahan dengan hebat dan terlihat mulai membengkak. Dan juga adanya tusukan dari perut kirinya yang sedari tadi tidak ia rasakan, kini cairan merah kental telah mengotori pakaiannya.


"Tuhan apa yang akan terjadi pada hamba selanjutnya apa hamba akan terus terjebak didalam sini hingga tubuh hamba membusuk selamanya apa yang harus hamba lakukan? Jika hamba tidak segera pergi aku yakin mungkin nyawa hamba yang akan jadi taruhannya akibat tusukan ini apa yang harus hamba lakukan tolong hamba Tuhan tolong hamba."


Merasa putus asa dan hanya bisa berpasrah dengan apa yang terjadi saat ini, dirinya sesekali menatap langit melihat awan hitam yang mulai menghitam lekat yang menandakan akan turunnya turun yang akan segera turun.


"Awan mendung mulai pekat dan tidak akan lama pasti akan turun hujan? Jika aku tidak segera keluar dari lubang ini aku mungkin akan mati karena bisa terendam dalam kedalaman air yang nantinya akan menyenangi lubang ini apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Beberapa teriakan memangilnya telah berhasil terdengar dari telinganya. Wajah putus asanya yang tadinya terlihat hanya bisa berpasrah, kini wajah itu terlihat merekah setelah mendengar akan suara seseorang yang memangil namanya.


"Putri ... Putri ...


"Suara itu? Itu suara Gibran iya aku tidak salah lagi itu suara Gibran aku harus memangilnya."


"Gibran ... Tolong aku ... Aku disini Gibran tolong aku ....


Teriakan jelas telah berhasil terdengar dari telinga Gibran, Gibran yang tadinya ikut putus aja lantaran sedari tadi mencarinya tak membuahkan hasil. Dirinya yang berniat akan pergi, tapi belum juga ia pergi dari langkah ia menginjakkan kakinya sekarang, ia mendengar suara teriakan jelas yang memangil namanya.


Mengikuti arah suara itu berasal, ia kemudian mendapati suara itu yang berasal dari lubang yang cukup dalam pada depan pandangannya.Terkejut akan siapa seseorang yang ia lihat.

__ADS_1


"Putri kamu?"


Telah sampai diatas lubang dimana Putri terjebak, Gibran yang bingung harus berbuat apa dirinya berniat ingin mencari bantuan.


Sedangkan Putri yang melihat dua seseorang tadi yang berada dibelakang Gibran, teriakan Putri akhirnya ia lontarkan untuk memberitahu pada Gibran akan bahaya yang akan terjadi pada dirinya.


Akan tetapi belum juga ia berhasil memberitahunya, keduanya sudah terlebih dulu mendorongnya hingga membuat Gibran ikut terjatuh dalam lubang dalam tersebut, untungnya tak sampai ia menindih Putri atau pun menginjak ranting dan hanya tergores akan tangannya ia menatap kearah atas melihat dua Pria tersenyum dengan puasnya.


"Akhirnya kita berhasil menjebak keduanya akhirnya ..."


Tertawa dengan puas setelah melihat keduanya sama-sama terjebak didalam lubang sana, Gibran yang melihat tatapan keduanya penuh kelicikan, suara bentakan Gibran lontarkan akan tetapi bagaikan angin yang tersapu, apa pun yang dikatakan Gibran hanya menjadi angin kabut yang telah terbawa angin yang hanya akan ikut terhempas pergi.


"Sudahlah biarkan saja mereka terjebak didalam sana, tugas kita sudah selesai pastinya bos sangat senang dengan semua ini."


"Hey kalian jangan pergi naikkan kita keatas hey jangan pergi!"


"Ini gimana caranya kita agar bisa keluar dari sini? Kita terperangkap dalam lubang seperti ini kita akan mati disini kita akan mati jika tidak segera keluar dari sini!"timpal Gibran yang dipenuhi wajah paniknya tanpa menyadari akan bahaya yang dialami Putri akan kondisinya yang cukuplah parah akibat tusukan tersebut.


"Kamu jangan khawatir kita pasti akan bisa keluar kamu jangan cemas?"


"Bagaimana aku tidak cemas kita bukan lagi terperangkap didalam gedung atau gudang tapi kita terperangkap didalam lubang, jika tidak ada pengait untuk kita panjat kita tidak akan bisa keluar kita tidak akan bisa!"


"Ternyata sedari dulu kamu tidak pernah berubah ya? Disaat kamu lagi cemas dan ketakutan kamu masih sama seperti dulu yaitu suka ngelantur kalau ngomong dan pastinya ... Sudahlah lupakan saja!"


"Sekarang bukan saatnya untuk bercanda apa kamu bawa ponsel?"tanya Gibran.


"Aku memang membawanya tapi aku lupa tidak mengisi daya tadi?"

__ADS_1


"Ponselku tertinggi didalam hotel."


"Sekarang apa yang harus kita lakukan jika kita terus berdiam kita akan menginap bermalam disini?"


"Tuhan hamba masih mampu menahan rasa sakit ini sendiri tapi jika dihadapannya hamba tidak sanggup untuk menahannya apa yang harus hamba lakukan?"batinnya yang terasa tak tahan dengan rasa sakitnya, sesekali ia bersikap tegar agar Gibran tidak mencurigainya akan tetapi melihat wajah Putri yang memucat pandangan dan fokus Gibran akhirnya tuju pada Putri.


"Kamu kenapa? Apa kamu ada yang terluka?"tanya Gibran tapi tak mendapatkan balasan jujur dari Putri.


"Apa kamu sudah tidak lagi marah denganku makanya kamu bisa merasa cemas dan perduli seperti ini padaku?"tanya balik Putri mencoba mengalihkan pembicaraannya.


"Aku tidak tau apa aku masih marah atau tidak sama kamu tapi ya jelas jika aku disuruh jujur aku masih kecewa jadi lupakanlah! Sekarang yang ingin aku tau apa kamu terluka kenapa wajah kamu memucat? Apa akibat kaki kanan kamu yang terluka kamu merasakan kesakitan seperti ini?"


"Sekarang bukanlah saatnya untuk memikirkan keadaan-ku? Yang terpenting sekarang kita harus memikirkan cara agar kita bisa keluar dari sini hanya itu apa kamu paham!"


"Jika kamu ingin aku memikirkan cara untuk keluar dari sini? Apa kamu tau caranya kita keluar tidak kan?"


Melihat jam tangannya yang mengarah pada jarum jam pukul 20:00 malam, maka akan sangat sulit mendapatkan bantuan apalagi dirinya terjebak dalam hutan seperti ini.


Wajah Gibran yang dipenuhi rasa cemasnya untuk memikirkan cara agar bisa keluar dari dalam sini. Berbeda dari Putri yang sedari tadi nampak diam menahan rasa sakitnya yang sedari tadi ia tahan, beberapa menit bahkan jam ia menahan rasa sakitnya sendiri, kini kelopak matanya mulai terlihat sayup-sayup bahkan pandangannya mulai buram. Dan tidak menunggu waktu lama kedua kelopak mata yang tadinya terlihat segar bugar kini kelopak mata itu mulai tertutup dengan rapat setelah Putri yang tak tahan lagi dan akhirnya jatuh pingsan tidak sadarkan diri.


Gibran yang sedari tadi tidak cukup memperhatikan Putri, kini fokusnya telah berpaling pada Putri yang tiba-tiba dirinya merasa curiga lantaran Putri yang hanya diam tanpa berbuat sesuatu.


Memandang kebelakang melihat Putri yang nampak tertidur dengan pulas-nya, ia berfikir jika apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi, tapi nyatanya setelah tangan Putri yang ia gunakan menekan luka akibat tusukan tadi tergeletak dengan berdecak banyak darah ditangannya. Wajahnya terkejutnya seketika menghampirinya.


Menepuk beberapa kali kedua pipi mungil Putri, nyatanya tak mampu menyadarkan akan kesadaran Putri.


"Putri bangunlah! Bangunlah kamu tidak bisa pingsan dalam keadaan seperti ini Putri bangun! Bangun!"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2