
"Nina ... Revan ... Kalian ngapain datang kesini malam-malam?"
"Astaga kita tau lagi kalau kalian pengantin baru, tapi setidaknya hargai dong kunjungan dari temanmu ini, sudah! Sudah kita bahas masalah lain ayo put kamu ikut aku ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan ayo kita kekamar?"ajaknya yang langsung mengandeng tangan Putri.
"Itu apa yang ingin dibicarakan Istrimu? Apa dia berniat ingin berbicara yang macam-macam mengenai diriku?"tanya Gibran pada Revan.
"Astaga curiga'an banget sih kamu! Yang jelas tidaklah sudah kita kesana!"
"Kamu bisa pelan-pelan gak sih jangan tarik-tarik gitu sakit tau tanganku?"celoteh Putri yang kesal lantaran Nina terus saja memaksanya. Hingga keduanya duduk tepi ranjang, tatapan yang ditunjukkan Nina membuat Putri yang merasa bingung ia mencoba mengalihkan pandangannya.
"Kenapa kamu menatapku dengan tatapan seperti itu? Apa aku hari ini kelihatan aneh?"tanya Putri.
"Sudah! Katakan gimana?"tanya Nina yang membuat Putri menggelengkan kepalanya karena tak paham akan maksud yang barusan diucapkannya.
"Apanya yang gimana?"tanya Putri yang merasa terheran.
"Astaga Putri ... Masak aku harus berkata secara sejujurnya sih! Kamu pastinya tau lagi apa maksud dari pertanyaan ku ini masak kamu gak tau sih?"
"Sungguh aku tidak paham apa maksud kamu ini, kenapa? Katakan saja apa maksud dari perkataan yang barusan kamu tanyakan tadi!"
"Astaga ini anak ternyata masih polos bahkan sangat polos, itu apa yang kalian lakukan tadi malam apa kalian sudah melakukan malam pertama?"tanya Nina yang saat itu juga Putri merasa malu, dengan menggaruk kepalanya dirinya bingung harus menjawab apa.
"MMM sudah!"
"Sungguh? Memangnya melakukan apa yang kamu maksud apa kalian sudah saling tindih menindih?"
"Apa kamu tau jujur dia aslinya sangatlah agresif?"balas Putri dengan memainkan jarinya, Nina yang tambah merasa puas dirinya tambah semakin mendekatkan diri pada Putri.
"Agresif maksud kamu?"
"Astaga kamu itu kenapa mempertanyakan hal yang tidak mengenakkan kaya gini sih? Dulu waktu kamu menikah dan menjadi pengantin baru aku tidak se'kepo ini? Bahkan aku juga tidak pernah bertanya kapan kalian melakukan malam pertama, tapi kenapa dirimu ini sangatlah kepo sudah! Sudah jangan bahas soal itu malu lagi aku harus menjelaskannya,"ucapnya yang saat itu juga terhenti.
"Jujur aku baru tau kalau temanku ini sangatlah pemalu. Bahkan aku rasa tadi malam kamu pasti mengenakan pakaian ini kan? Pipi merah kamu ini? Katakan saja kalian tidak sungguh-sungguh melakukan malam pertama itu kan?"
"Kok tau?"
"Soalnya kamu telah mencuri hatiku!"balasnya secara ngawur.
"Tidak lucu! " ucapnya dengan kesal" Katakan apa yang kamu bawa apa kamu memberikan aku emas 100 gram?"
"Tega amat! Kalau 100 gram mau makan apa aku nanti?"
"Bercanda kali sudah katakan apa itu hadiah yang kamu bawa? Tunjukkan padaku?"
"Baiklah bukalah aku rasa kamu akan sangat menyukainya,"balas Nina dengan tersenyum malu-malu.
Membuka kotak putih yang barusan diberikan oleh Nina. Dengan semangat 45 Putri perlahan-lahan mulai membuka kotak tersebut yang berselimut kertas kado berwarna pink.
Tepat pada pucuk isi dari hadiah itu, Putri mulai membukanya disaat dirinya sudah melihat apa isinya pandangan bahkan kedipan matanya seketika terhenti, melirik kearah Nina yang terlihat menunjuk senyum malu-malu ditambah lagi sedikit menggoda Putri sekejap itu pipi Putri terlihat makin merah merona.
Piyama berbahan tipis bahkan hampir terawang sekejab mengejutkan Putri akan hadiah yang barusan diberikan sahabat gesrek-nya ini.
"Ini? Ini apa maksudnya?"ucap Putri sembari menjinjing piyama yang sangat seksi tersebut.
"Aku sengaja membelikan kamu Piyama seksi ini agar nanti malam Gibran bisa sepuasnya memandang istri cantiknya ini? Aku sudah tidak sabar ketika kamu baru keluar dari kamar mandi dengan berpose diatas ranjang aku rasa kalian akan melakukan beberapa ronde nanti?"
__ADS_1
"Apa itu lucu? Apa kamu sedang menggodaku?"
"Bukannya menggoda sayang tapi ini sungguhan lihat saja nanti malam disaat kamu mengenakannya apa yang akan diperbuat olehnya,"ledek Nina.
Tak tahan dengan ledekan-nya, Putri yang langsung geram dirinya melayangkan sesuatu agar mengenai Nina, lantaran Nina sudah keluar kamar keburu lari terbirit-birit.
Putri yang tak sengaja melemparkan piyama seksi itu hingga tak sengaja tersangkut tepat diatas kepala Gibran dimana dirinya telah bercanda dengan Revan diruang tamu. Sama terkejut akan kejadian yang tak terduga ini, Putri yang seketika berhenti dari larinya, membekap mulutnya sendiri tak percaya apa yang barusan ia perbuat.
Sedangkan Gibran yang mengambil sesuatu yang tersangkut diatas kepalanya. Menjinjing mempertunjukkan piyama seksi putih yang sungguh-sungguh sangat menggugah selera. Putri yang merasa malu setengah mati dengan sigap ia langsung merebutnya dari tangan Gibran.
"Apa ini?" Seketika dirinya menelan air ludahnya melihat Piyama cantik yang sudah ada digenggaman-nya.
"Jangan dilihat! Laki-laki tidak boleh lihat paham!"balasnya yang langsung menyembunyikan dari belakang tubuhnya. Menatap tajam kearah Nina, tapi sebaiknya Nina hanya menertawakannya secara diam-diam.
"Kayaknya itu sangat cocok buat kalian?"balas Revan nampak malu dan tersenyum malu-malu.
"Aku tidak butuh jadi ambillah untuk kalian?"ungkap Putri yang berniat ingin melemparkan kearah Revan mau pun Nina, tapi sekejap Gibran malah menangkap dan merebutnya kembali.
"Tidak perlu! Kamu juga bisa mengenakannya,"balasnya yang sedikit malu-malu kucing.
"Mantap aku mendukungmu,"balas Nina dengan memberikan satu jempolnya.
"Oh iya ini sudah malam. Aku juga sudah capek seharian kerja jadi cepat pulanglah!"usir Gibran pada kedua temannya. Revan mau pun Nina yang paham akan maksudnya keduanya hanya menganggukkan kepalanya mengerti apa yang dimaksud Gibran barusan.
"Baiklah kita akan pulang. Kita juga kemari hanya untuk melihat-lihat saja, oh iya pakaian itu cukup terawang jadi alangkah baiknya kamu mengunakannya juga harus berhati-hati,"ucap Nina secara terang-terangan.
"Mulutmu kok jadi ember gini sih Nin?"balas Putri nampak pasrah.
"Sudah! Sudah pulanglah ayo pulang!"
"Kok jadi panas gini sih? Ini ac-nya tidak kamu nyalakan kan?"
"Kalau perlu aku juga mampu memperbesar volumenya hingga menjadi beku jadi sudah sini berikan piyama itu?"ucapnya yang merasa malu.
"Kamu beneran mau memakainya?"tanya Gibran yang sedikit meledek.
"Tidak! Aku ingin membuangnya pakaian seperti itu tidak seharusnya ada di-Rumah ini jadi sini serahkan padaku?"
"Tidak usah aku bisa menyimpannya. Aku haus kamu bisa kan membuatkan aku minum dan satu lagi alangkah baiknya kamu cepatlah mandi karena badan kamu cukup asem, sumpah!"
"Serius? Tapi aku sudah mandi?"
"Entahlah aku rasa hidung kamu yang tersumbat jadi tidak bisa menciumnya jadi cepat mandilah!"
"Baiklah aku akan mandi setelah membuatkan kamu minuman,"balasnya terlihat pasrah berjalan kearah dapur. Sedangkan Gibran yang menggenggam piyama itu senyumnya tidak bisa sembunyikan.
Melihat Putri yang berjalan kearahnya hendak mengambil pakaian ganti didalam almarinya, pandangan Gibran beralih memandang Putri dari ujung kaki sampai ujung kepala. Putri yang sadar akan tindakan Gibran, dirinya melemparkan bantal berlalu ia menutup tubuhnya dengan pakaian yang lain.
"Hey apa yang kamu lihat kamu jangan macam-macam ya? Biar pun aku sudah menjadi Istrimu tapi aku malu di mandang seperti itu paham!"
"Gak!"balas Gibran yang membuat Putri kesal.
"Dasar menyebalkan! Oh iya aku mau ganti baju bisakah kamu keluar?"pintanya.
"Sekarang?"tanya Gibran yang masih sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
"Tidak! Tapi tahun depan, puas?"
"Astaga sama Suami sendiri jangan jutek-jutek kenapa, baiklah aku akan keluar, tapi ngomong-ngomong dengan pakaian apa kamu akan ganti?"tanya Gibran yang seolah-olah memberikan kode.
"Maksudnya?"
"Kamu tidak lihat dimana kunci almari itu berada?"balasnya spontan pandangan Putri pada almari tersebut dan benar kuncinya telah tiada.
"Kuncinya? Dimana kamu menyembunyikan kuncinya?"
"Aku lupa. Kayaknya mau tidak mau kamu harus mengenakan piyama ini karena kamu tau sendiri kan kuncinya telah tiada jadi otomatis hanya ini cara satu-satunya agar kamu mampu menutupi tubuh polos kamu itu!"
"Tidak! Aku tidak mau mengenakan piyama itu aku juga tau semua ini ulah kamu kan? Pastinya kamu orang yang telah menyembunyikan jadi katakan dimana kuncinya ayo katakan?"
"Tidak! Aku juga tidak mau memberitahu dimana kunci itu berada.
"Baiklah jika kamu tidak mau memberitahunya maka kamu akan tau sendiri apa yang akan aku lakukan padamu nanti!"
"Memangnya kamu ingin melakukan apa padaku? Kamu gak sadar kamu masih mengenakan handuk, jika saja aku langsung menariknya kamu tau sendiri kan apa yang akan terjadi?"balas Gibran secara menantang.
"Gimana ini apa yang harus aku lakukan. Aku sudah terlanjur merendam pakaian yang tadi, sedangkan sekarang hanya ada satu pakaian yaitu piyama itu tapi apa mungkin aku harus memakainya. Jujur biarpun dia suamiku aku masih sangat canggung ketika tubuhku akan dipandang olehnya nanti?"batinnya yang sesekali melirik kearah piyama itu.
"Astaga gitu aja pake acara mikir ini pakailah!"usapnya dengan melemparkan piyama itu pada Putri.
Beberapa saat kemudian ia keluar dari ruangan ganti, Gibran yang tadinya fokus pada ponsel yang ada digenggaman-nya tatapannya beralih memandang Putri setibanya ia keluar dengan balutan piyama yang dikenakannya amat-amatlah ****.
Memandang dengan seksama wajah cantik yang Putri miliki, pandangannya menjalar dari ujung kaki menatap kaki mulus Putri sampai pandangan Gibran beralih pada bibir mungil merah jambu itu, ia terus saja memperhatikannya berniat ingin menahan g4ir4hnya tapi apa daya hawa nafsu yang Gibran miliki nyatanya tidak segampang untuk ia kendalikan. Sesekali ia menelan meneguk air lud4hnya.
"Apa kamu sudah puas?"ucapnya yang merasa tak enak.
Gibran yang tiba-tiba langsung mendorongnya, ia tersungkur ke belakang, hingga akhirnya Gibran pun mendorongnya hingga benar-benar terbaring di atas ranjang. Memegang kedua pergelangan tangan Putri, mengunci dengan tangannya. Gibran menatap wajah Putri dengan bringas. Memperhatikan pahatan indah dari wajah Istrinya itu.
Sedangkan cengkraman yang dilakukan Gibran yang semakin mempersulit Putri untuk menghindar akan darinya, sedangkan Gibran yang sudah menatapnya dengan tatapan berg4ir4h bibirnya yang hampir saja menyentuh lekuk lehernya. Pandangan Gibran yang semakin menjadi setelah ia memandang bibir Putri yang sangatlah mungil.
"Kamu? Apa yang kamu lakukan kamu mengambil kesempatan ini dariku?"ucapnya dengan wajah paniknya.
"Kenapa? Bukannya ini memang sudah seharusnya untuk kita lakukan kan, kan malam ini malam pertama kita jadi kamu pastinya sudah tau kan apa tugas kamu menjadi seorang Istri?" tanyanya yang sedikit menggoda.
"Aku belum siap jadi bisakah kamu menundanya malam ini?"tanya Putri.
"Kenapa harus menundanya?"
"Mmmm karena ada sesuatu yang belum aku pikirkan dengan matang-matang,"balasnya yang terlihat takut.
"Baiklah aku akui kalau aku kalah karena hari ini aku belum sepenuhnya menguasai dirimu tapi sudahlah, tapi sebagai gantinya kamu tidak akan aku ijinkan untuk keluar dari kamar jadi selamat tidur," timpalnya yang kemudian Gibran bergegas berlari dan menguncinya dari dalam. Dan kemudian ia kembali membaringkan tubuhnya seolah-olah tidak ada yang terjadi.
"Kamu sungguh tidak apa-apa kalau kita menundanya?"tanya Putri.
"Seperti yang kamu minta aku tidak masalah kok, ya sudah cepat tidurlah!"pintanya, Gibran yang lebih memilih menutup mulut ia berlalu mulai memejamkan kedua matanya.
"Dia tidak masalah jika hari ini kita menunda malam ritual itu, tapi kenapa ia menguncinya dan apa alasannya?"gumamnya yang berkata secara pelan.
"Apa yang sebenarnya telah ia rencanakan? Apa dia sungguh-sungguh tidak ingin melakukannya? Apa hanya dengan satu permintaan ia langsung menyetujuinya seperti ini," batinnya dengan tatapan tajam pada laki-laki yang telah tertidur pulas.
BERSAMBUNG.
__ADS_1