PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
HANTU


__ADS_3

"Tapi Pa? Gimana dengan Putri kita, kalau dia gak pulang dimana?" ucap Mamanya yang terlihat sangat khawatir.


"Sudahlah Ma! Dia itu bukanlah anak kecil lagi. Dan dia juga gak akan mungkin kalau tidak pulang, nanti juga dia akan kembali!"ucap Papanya yang tanpa rasa bersalah dirinya berlalu pergi masuk kedalam kamarnya.


"Tapi Pa?"


Setelah mendapat tamparan yang tak terduga dari Papanya sendiri, hati Putri serasa tercabik-cabik apalagi ini adalah tamparan pertama yang dilakukan oleh Papanya sendiri.


Karena Putri juga tahu seperti apa sifat dan perilaku Papanya terhadap dirinya, Papanya sangat menyayangi dirinya bahkan jika Putri melakukan kesalahan Papanya gak pernah memarahinya. Dan dia hanya menasehati Dan hanya sekarang ini, gara-gara masalah kecil, Papanya telah berubah drastis bahkan beliau sampai tega menampar Putri.


"Papa bener-bener berubah, dia bukan Papaku yang dulu. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Papa saat ini, dulu Papa tidak pernah memarahiku ataupun sampai tega menamparku seperti ini, tapi sekarang, sejak dia kenal dengan Hermawan dia menjadi berubah seperti ini. Aku yakin Papa sedang dimanfaatkan oleh Hermawan tapi kenapa Papa sulit sekali untuk mempercayaiku? Sekarang apa yang harus aku lakukan, apa?"


Tangisan Putri yang tidak bisa terhenti, bahkan dirinya sendiri tak mampu untuk membendung air mata yang sedari tadi telah mengalir dari kedua sudut matanya.


Dan dari jalan kiri yang berada dekat ditempat Putri duduk saat ini, terdapat dua pemuda yang terduga kena nasib apes lantaran harus mendorong sebuah benda besar yang sedang dia bawanya saat ini.


Dan dua pemuda itu yang tak lain mereka adalah Gibran dan juga Verrel, yang lagi inggin ngidam makan seblak tapi dalam perjalanan mereka yang hendak akan pulang, mereka terkena apes lantaran motor Verrel yang tiba-tiba mogok.


"Astaga Mili kamu tuh bisa gak jangan berat-berat gini, kasihan abang yang lagi mendorongmu? Abang ini udah kurus jadi jangan bikin abang menggalami diet dadakan seperti ini?" Ocehan Verrel yang tidak jelas dengan perkataan apa yang dia katakan tadi.


Plak


Satu jitakan pun telah diberikan oleh Gibran. Lantaran dia sudah tidak sanggup lagi mendengar ocehan dari sahabat gesrek-nya itu.


"Astaga Gibran kamu tuh kenapa sih, seneng banget jitakan kepala-ku?"


"Lagian kamu juga aneh-aneh saja, masak motor aja dinamakan Mili gak geli apa?" sindir Gibran.


"Ya elah, Motor kan Motor-ku sendiri kenapa malah kamu yang harus sewot sih?" balas Verrel kesal.


"Lagian kamu juga sih ngapain sih kamu itu pake acara ngidam nyeblak segala heran aku! Sekarang jika sudah terjadi seperti ini, apa yang mesti kita lakukan. Mana bengkel dan Rumah kita masih jauh lagi dari sini?" ucap Gibran yang merasa sangat kesal.


"Sudahlah jangan kebanyakan sambat mulu, biarpun aku yang ajak kamu nyeblak, kamu juga ikut makan juga kan? Jadi sudahlah jangan kebanyakan ngomong!"


"Mana ini jalan sepi lagi?" ucap Verrel sambil lihat kanan, kiri yang terlihat sangat sepi dan suram.


"Terus apa kamu takut gitu, kalau ada hantu?" balas Gibran.


"Ya jelas tidaklah, ngapain juga aku harus takut, kan gak mungkin juga disini ada hantu, jika ada sini biar aku sendiri yang menghadapi!" ucap Verrel sok berani.


" Serius?" balas Gibran dengan menantang.


"Iya aku serius!"balas Verrel dengan santai.


Tiba-tiba suara tangisan seseorang pun muncul dari arah samping mereka berjalan saat ini. Karena ada beberapa tumbuhan semak-semak yang tertanam dipinggir jalanan jadi membuat suasana disini cukup tegang ataupun merinding.

__ADS_1


Mereka yang pada saat itu sedang bercanda dan bergurau. Seketika candaan mereka pun berubah menjadi tegang lantaran mereka mendengar suara tangisan tersebut. Bahkan kaki mereka serasa sangat kaku dan sulit untuk digerakkan.


"Gib? Itu ... Itu kamu pasti dengar kan, ada suara orang menangis disana? Kira-kira itu suara siapa?" tanya Verrel yang seketika langsung menghentikan langkahnya. Dan penuh kewaspadaan.


"A ... Aku gak tahu, oh iya Ver, aku lupa aku masih ada urusan yang sangat penting sekarang, jadi aku tinggal dulu ya?" balas Gibran yang baru aja mau kabur, tapi Verrel spontan langung menariknya.


"Ettt enak aja kamu bilang, kamu jangan asal ninggalin aku kenapa? Aku tahu kamu pasti takut kan? Kalau aku lari ikut kamu, gimana dengan nasib si mili ini ?" ucap Verrel yang tiba-tiba nangis karena ketakutan.


"Kamu ... Kamu kok malah nangis sih, ini lagi tegang tahu, tadi kamu bilang siap ngadepin si mbak kunti, kenapa sekarang malah nangis cengeng banget sih?" ledek Gibran dengan sedikit tegangnya.


"Gak usah bawa-bawa mbak Kunti, nanti kalau dia dengar gimana? Mami tolongin Baim , Baim mau pulang, Mami ...."ucap Verrel yang terlihat sangat takut dan langsung memeluk tangan Gibran karena sangking ketakutannya.


" Udah jangan kebanyakan ngomong sekarang ayo cepat kita pergi?" ajak Gibran.


Belum juga mereka berhasil melangkahkan kakinya menjauh dari tempat adanya suara tangisan itu, mereka dikejutkan dengan suara tangisan yang semakin menjadi.


"Yahh suaranya tambak kenceng lagi, si mbak Kunti lagi banyak masalah kali ya?" ucap Verrrl.


"Tunggu tapi kalau dia mbak Kunti, suaranya tangisnya kok beda ya, agak lembut gitu? Bukannya suara mbak kunti itu hehehehehe?" tanya Gibran dengan ikut menirukan suaranya


"Suara kamu kok cempreng amat sih Gib?" ledek Verrel.


"Yaelah pake acara ngeledek segala?" balas Gibran dengan kesal.


"udah ayo kita coba periksa asal suara itu?"


"Baiklah aku akan memeriksanya sendiri?"


Perlahan Gibran pun mendekati arah asal suara itu, tangan Gibran yang sudah menyentuh tumbuhan semak-semak itupun perlahan inggin menyingkapnya.


Tapi belum juga Gibran mengetahui siapa sosok mahluk itu, Verrel seketika terkejut dan berteriak sekencang-kencangnya yang akhirnya membuat Gibran terlebih dulu terkejut.


"Ah...!"teriakan Verrel yang terkejut lantaran ada Kodok yang melompati Kakinya.


"Astaga Verrel ada apa sih? Kenapa teriak-teriak gitu, aku belum juga lihat itu siapa?" tanya Gibran.


"Itu ada kodok?"ucapnya dengan jarinya yang menunjuk kearah kodok tersebut.


"Yaelah badan aja yang maco verrrrr.. tapi sama kodok aja takut, cengeng!"


Putri yang sedari tadi menangis, seketika tangisannya pun terhenti setelah dia mendengar ada teriakan yang sangat kencang tadi.


"Siapa itu yang teriak?"ucap Putri yang kemudian dia pun seketika langsung berdiri, Gibran dan Verrel yang seketika melihatnya mereka bertiga pun sama-sama terkejut.


"Ahh

__ADS_1


"Ahh


"Ahh kamu? Kamu ngapain ada disitu?" ucap Gibran yang begitu terkejut, setelah Putri menampakkan wajahnya.


"Iya kamu Putri kan? Ngapain kamu ada disana, apa kamu sedang mencari kodok?"


"A ... Aku?" balas Putri yang bingung.


"Jadi kamu yang menangis sangat kencang tadi?" tanya Gibran.


"Huuu syukurlah kalau ternyata kamu orangnya, aku kita hantu yang menangis tadi?"


"Iya maaf aku sudah membuat kalian tegang tadi, aku hanya ada masalah sedikit jadi aku butuh waktu untuk menyendiri!"


"Tapi kalau kamu memang butuh menyendiri, gak harus kamu sembunyi di semak-semak juga kali kaya gak ada tempat lain aja?"timpal Gibran.


"Udah-udah jangan mulai ribut kenapa. Oh iya Putri kalau aku lihat kamu sekarang sedang ada masalah, apa kamu butuh teman untuk curhat?"tanya Verrel.


"Aku ...."alas Putri yang bingung mau mengatakan apa.


"Baiklah iya kamu mau, Gibran sekarang gantian kamu yang mendorong si Mili ya?"


"Lah kok malah aku sih yang dorong si mili?"


"Mili?"


"Iya motor gue maksudnya?"


"Oooo,"ucapnya dengan tawa secara diam.


"Udah sekarang kamu ikut kita, aku akan mentraktir kamu untuk makan, apa kamu mau?"tawar Verrel.


"Iya baiklah kalau kamu gak keberatan!"


"Dasar giliran lagi pedekate aja, aku yang jadi korbannya!"sindir Gibran.


"Sudahlah sekali-kali dukung temen kenapa?"


"Iya ... Iya!"balasnya dengan wajah pasrah.


"Ya sudah ayo kita jalan kesana Putri?"


"Baiklah!"


Dan kemudian mereka pun berjalan menuju ketempat yang mereka akan tuju.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2