
Silakan join group chat author untuk berinteraksi secara langsung 😘
*****
Rei datang memasuki area restoran tempat Fero menunggunya. Lelaki itu sangat mudah ditemukan karena penampilan dan tubuh atletisnya. Wajahnya terlihat kesal saat melihat kedatangannya.
"Ada urusan apa sampai lama sekali bisa menemuiku, sialan!" gerutunya saat Rei baru saja duduk di hadapannya.
"Sudah aku bilang temui saja langsung di kantor. Salahmu sendiri meminta bertemu di luar." Rei tidak kalah kesal gara-gara kejadian yang baru saja dialami. Berkat petugas kebersihan yang bodoh itu, ia harus kerepotan dan kehilangan waktu berharganya selama 30 menit lebih.
"Jadi bagaimana, kamu bisa membantu adikku, kan?"
"Aku usahakan. Apa kamu membawa dokumen-dokumen yang aku minta?"
"Tentu saja." Fero menyerahkan map berisi salinan dokumen milik adiknya sesuai permintaan Rei beberapa hari lalu.
Rei mengecek kelengkapan dokumen yang dimintanya sebelum nanti ia serahkan kepada Pak Edgar, seorang ilmuwan di bidang rekayasa genetika dari Australia yang merupakan teman baiknya. Adiknya Fero ingin menjadi seorang ilmuwan. Setelah lulus, ia bermimpi untuk bisa bekerja di laboratorium milik Pak Edgar. Tidak mudah untuk masuk ke sana, makanya Fero meminta bantuan Rei agar bisa memasukkan adiknya.
"Sebenarnya adikku memaksa ingin ikut menemuimu." Fero meminum kopi yang ada di hadapannya.
Rei memberikan lirikan kepada Fero. "Kalau Chika sampai datang ke sini, aku tidak mungkin mau membantunya."
"Hahaha ... kamu kejam sekali kepada adikku."
Chika, adik Fero sangat mengagumi Rei. Saking sukanya kepada Rei, ia selalu main peluk dan cium sampai membuat Rei trauma untuk bertemu dengan adiknya Fero. Mendengar anak itu mau menjadi ilmuwan ke luar negeri, ia sangat senang. Setidaknya dia menjadi lebih jauh dan tidak bisa menemuinya lagi.
"Lagipula kenapa sih dengan adikku, dia anak yang cantik dan pintar." Fero mempromosikan adiknya kepada Rei, seperti biasanya.
"Aku tidak mau menjadi adik iparmu," jawab Rei singkat.
"Halah! Alasan!"
"Nanti dokumen ini aku bawa menemui Pak Edgar di Australia. Semoga saja adikmu bisa diterima. Hasil penelitiannya bagus, aku rasa Pak edgar nanti akan suka."
"Seharusnya kamu juga bisa suka dengan adikku," ledek Fero.
"Ck! Kalau saja dia bukan adikmu, mungkin aku masih bisa mempertimbangkannya." Rei masih mencari alasan. Sebenarnya memang dia takut dengan Chika. Menurutnya, Chika itu mungkin seperti Rafa versi cewek. Dia geli sendiri memikirkan jika Chika ada di sebelahnya.
__ADS_1
"Oh, iya. Sampaikan kepada adikmu untuk membuat video pendek tentang profil dirinya dan hobinya lalu kirimkan ke emailku. Nanti aku teruskan kepada Pak Edgar."
"Kenapa tidak kamu sendiri saja yang memberitahunya biar dia lebih semangat."
"Mau aku blok sekalian nomormu?" ancam Rei.
"Ampun, Suhu ...." Fero akhirnya mengalah.
"Ya sudah, aku mau kembali ke kantor." Rei kembali merapikan dokumen yang tadi dibacanya lalu memasukkannya lagi ke dalam map.
"Kita tidak makan dulu sekalian?"
"Belum waktunya makan siang. Kita juga janjian untuk hal di luar bisnis, kamu sudah mencuri waktu kerjaku."
"Hm, kerjamu setiap hari serius terus."
"Kamu juga harus mulai serius, Fer. Kita tak selamanya muda. Ada tanggung jawab yang harus dipikul ketika kita menginjak dewasa."
Fero merasa sedang diceramahi anak kecil. "Ya, ya
... pergi sana! Jangan lupa bantu adikku. Salam juga untuk sekertarismu."
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rei bergegas memasuki lift menuju ruangannya. Sesekali ia disapa oleh karyawan yang berpapasan dengannya. Melewati area lorong yang sempat membuatnya terjatuh, tempat itu sudah bersih dan kering. Langkahnya terhenti ketika melewati area toilet. Lagi-lagi ia harus bertemu dengan karyawan bodoh itu.
"Hah! Cari uang begini amat susahnya. Timbang buat makan aja susah ...." Bukannya bekerja, wanita itu malah sedang duduk bersantai menyandarkan punggung di dinding sembari mengibaskan kipasnya. Sebelumnya Rei dengar dia memelas tidak mau dipecat, tapi melihat karyawan yang tidak becus bekerja seperti dia, jika galaknya ingin keluar juga.
"Ehem!" Rei memberi kode.
Gita langsung sigap berdiri dan senyum-senyuk ke arah bos yang sedang memperhatikannya di ambang pintu. "Hehehe ... sudah selesai urusannya, Pak," ucapnya basa-basi.
"Sebenarnya kamu niat kerja apa tidak? Masa hari pertama sudah banyak membuat masalah." Rei memandangi sekeliling area toilet. Bukannya lebih bersih, menurutnya tempat itu jadi lebih berantakan.
"Niat kok, Pak. Kalau tidak kerja saya tidak bisa makan. Nanti saya bisa mati."
"Kalau tidak bisa bekerja, kenapa memaksakan diri? Carilah pekerjaan lain yang sesuai bidangmu!"
"Saya kan sudah bilang mau meninggalkan pekerjaan ini setelah dapat pekerjaan. Kalau Bapak cerewet terus, saya jadi pusing ... bantu saya dong, Pak! Saya ini lulusan teknik sipil. Pekerjaan terakhir juga sebagai manajer konstruksi. Tolong dimengerti kalau saya kurang bisa bersih-bersih. Walaupun agak lelet, saya pasti akan menyelesaikan pekerjaan saya, kok! Kalau tidak bisa membantu, silakan pergi dan abaikan saya."
__ADS_1
Rei tidak habis pikir wanita itu justru berani berkata seperti itu kepadanya. "Dari perusahaan mana?" tanyanya.
"Apa!?"
"Kamu sebelumnya bekerja di perusahaan mana?" Rei memperjelas pertanyaannya.
"Aku dari perusahaan XXX."
Rei tahu perusahaan yang Gita katakan cukup besar. Untuk bisa masuk ke sana harus memiliki kompetensi yang baik. Jika dikeluarkan dari sana juga biasanya punya masalah yang besar. Meskipun kasihan mendengar ceritanya, Rei tidak mau gegabah untuk menjadi pahlawan kesiangan menolongnya. Bisa saja Gita berbohong dengan semua ceritanya.
"Lanjutkan kembali pekerjaanmu! Kalau masih banyak bersantai, lebih baik aku memecatmu."
"Iya, Pak. Pasti akan saya selesaikan." Gita mencebikkan bibirnya.
Rei menghela napas. Ia tak paham dengan dirinya sendiri kenapa harus begitu peduli dengan wanita itu. Ia memutuskan untuk kembali berjalan menuju ruangannya.
"Pak, Anda sudah kembali?" Mila menyambut kedatangannya. "Ada Pak Yohan di ruangan sebelah menunggu Anda untuk membahas proyek bulan depan. Apa kita akan menemuinya sekarang?" Mila mengambil tablet dari mejanya lalu membuka-buka data sesuatu.
"Iya. Kita temui Beliau sekarang." Rei meletakkan dokumen yang Fero berikan di mejanya.
"Baik, Pak!"
"Ah, Mila! Tunggu sebentar." Rei menghentikan Mila.
"Kenapa, Pak?"
"Tolong carikan informasi tentang Gita Ayunda dari perusahaan XXX."
Mila tertegun sejenak. "Siapa, Pak?"
"Gita Ayunda dari perusahaan XXX."
Meskipun merasa janggal dengan perintah bosnya, Mila tetap menuliskan nama itu di tablet miliknya. "Kalau boleh tahu, siapa dia? Tidak seperti biasanya Anda ingin mengetahui tentang seseorang."
"Aku juga tidak tahu. Makanya meminta bantuanmu."
"Baik, Pak. Nanti akan saya cari tahu informasi selengkapnya."
__ADS_1
Mila mengambil dokumen yang akan dibahas dengan rekan bisnis Rei hari ini. Mereka berjalan berdampingan menuju ruangan sebelah untuk menemui tamu.