
Suasana di tempat wisata Dunia Air cukup ramai saat akhir pekan. Banyak pengunjung yang membawa serta keluarganya untuk menikmati momen kebersamaan di waktu liburan.
Melvin menggendong Davin di atas bahunya, sementara tangan kanannya menggenggam erat tangan Ruby. Orang yang melihat kebersamaan mereka pasti akan mengira bahwa mereka adalah pasangan muda.
"Tante ... ikannya besar!" Davin menunjuk pada arah akuarium raksasa yang ada di depan. Ia tidak sabar untuk segera melihat ikan hiu dari dekat.
Melvin dan Ruby berjalan mengikuti arah yang diinginkan Davin. Akhir pekan ini mereka benar-benar mengasuh anak kecil itu, tidak ada waktu sedikitpun untuk momen romantis bagi mereka.
Davin sangat antusias menyaksikan ikan ganas bergerigi tajam itu dari balik kaca bening yang tebal. Tawa dan senyumannya tak kunjung pudar dari wajahnya saking cerianya.
Davin sangat jarang pergi ke luar. Ibunya terlalu sibuk bekerja hingga akhir pekan sering dimanfaatkan untuk tidur dan beristirahat. Jangankan mengajak Davin ke tempat wisata, ke swalayan atau pasar saja sangat jarang. Hari-hari Davin sebagian besar dihabiskan di tempat penitipan anak yang sudah sangat membosankan baginya.
Saat ada Ruby datang berkunjung, Davin akan sangat senang. Biasanya jika ada yang datang ke rumah, Davin akan diajak jalan-jalan ke luar, seperti hari ini.
"Tante, itu namanya ikan apa?" Davin menunjuk pada sejenis ikan berbadan lebar dengan ekor panjang yang baru pernah ia lihat.
"Ini namanya ikan Pari," terang Ruby.
"Bentuknya lucu, seperti layang-layang." Davin kembali menatap kagum pada hewan air yang menurutnya memiliki bentuk unik itu sedang meliuk-liuk di dalam air.
Melihat ikan pari di sana, Ruby tak bisa menahan tawa. Melvin keheranan melihat Ruby tertawa tanpa sebab seperti orang gila. Sepertinya dia teringat akan sesuatu.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Melvi penasaran.
"Tidak, tidak ... aku hanya merasa hewan ini mengingatkanku pada seseorang." jawabnya sembari masih tertawa kecil.
Melvin mengernyitkan dahi, "Kamu mengingat cinta pertamamu?" tanyanya.
"Iya, kamu benar. Hahaha .... " Ruby semakin tak bisa menahan tawanya. Sementara, Melvin kelihatan cemburu mendengar Ruby menjawab bahwa ia sedang mengingat cinta pertamanya.
"Kelihatannya cinta pertamamu sulit sekali dilupakan sampai membuatmu begitu bahagia." Melvin melipat tangannya di dada. Raut mukanya menjadi masam.
"Ya, tentu! Dia cinta pertama yang tidak mungkin aku lupakan. Bahkan sampai mati mungkinaku tak akan bisa melupakannya."
"Siapa dia? Apa aku mengenalnya?" Melvin terlihat semakin kesal, membuat Ruby semakin senang.
__ADS_1
"Kamu pasti tahu, Kak. Pokoknya, dia adalah jenis ikan yang bisa ngamuk saat ekornya diputus. Hahaha .... " Ruby kembali tertawa mengingatnya.
Melvin semakin tak mengerti apa maksud pembicaraan Ruby.
"Dulu, ada seorang lelaki, anak orang kaya yang sok berkuasa. Bagian belakang rambutnya ada sedikit yang dipanjangkan seperti ekor ikan pari yang dicat biru."
Melvin masih mendengarkan cerita Ruby dengan penuh perhatian.
"Karena dia berani memotong rambutku, maka aku juga membalas dengan memotong rambut ekor ikan parinya."
Melvin mulai mengingat ternyata orang yang Ruby maksud adalah dirinya. Dulu, ia sangat dendam dengan Ruby karena berani memotong kucir rambut yang susah payah ia jaga selama 3 tahun. Bahkan rambut itu masih ia simpan di dalam pigura untuk dijadikan pengingat kepada wanita yang sangat ia benci.
Melvin ikut tertawa mengenang masa lalu. Bisa-bisanya sekarang ia jadi sangat mencintai wanita yang dulu menjadi musuhnya.
"Dulu aku menganggapmu sebagai Ikan Pari langka dari UPH." ucap Ruby sambil senyum-senyum.
"Sialan!" Melvin menjentikkan jarinya di dahi Ruby. "Kalau sekarang, kamu menganggapku apa?"
"Selingkuhan." jawab Ruby dengan nada bercanda.
"Kakak sendiri yang mau disebut begitu. Aku dapat kartu hitam itu karena Kakak selingkuhanku, kan?" Ruby mengerlingkan mata menggoda.
"Terserah kamu saja!" Melvin menepuk puncak kepala Ruby.
"Tante, kita ke sana, ya ... aku mau lihat kura-kura!" setu Davin membuyarkan obrolan mereka berdua.
Melvin dan Ruby menggandeng tangan Davin. Mereka meneruskan perjalanan ke area kura-kura dan penyu. Di sana anak-anak maupun orang dewasa boleh memegang bayi penyu dan kura-kura. Davin kegirangan saat bisa memegang kura-kura secara langsung.
"Kalau kita punya anak, sepertinya juga akan lebih lucu dari Davin." ujar Melvin.
"Aku tidak yakin kalau Kakak akan menyukai anak kecil." Ruby meragukannya.
"Kenapa kamu berkata begitu? Sejak tadi aku terus yang menggendong Davin," protesnya.
"Ini hanya sesekali. Kalau kita punya anak, anak itu akan ada 24 jam menempel dengan kita. Melihat kebiasaan Kakak yang memiliki jiwa kompetitif, aku rasa akan berat kalau Kakak punya anak. Nanti kalau anaknya hanya mau dengan ibunya, Kakak mau bermanja dengan siapa?"
__ADS_1
Ucapan Ruby ada benarnya. Setiap melihat Ruby menggendong Davin saja dia sudah kesal, seakan punya seorang saingan.
"Kalau itu anakku sendiri, sepertinya tidak akan begitu. Aku akan menyayangi mereka seperti aku menyayangi ibunya."
Ruby senyum-senyum sendiri mendengarnya. Reflek ia mendaratkan satu ciuman singkat di pipi Melvin. Tentu saja lelaki itu juga kaget mendapatkan ciuman yang mendadak. Seharian ini akhirnya ada momen romantis di antara mereka.
Setelah dari tempat bayi kura-kura, mereka melanjutkan perjalanan ke area kubah akuarium, dimana mereka bisa menyaksikan ratusan ikan berenang di atas mereka sepanjang lorong kaca yang dibuat tebal dan kokoh.
Davin tak melewatkan melihat pertunjukan putri duyung yang memukau. Dilanjutkan dengan menonton atraksi anjing laut pintar yang pandai menebak angka dan melompati lingkaran api. Davin sempat bersalaman dengan salah satu anjing laut itu.
Tak terasa sore telah menjelang. Mereka memutuskan untuk keluar dari area Dunia Air. Davin sampai kelelahan bermain dan akhirnya tertidur salam gendongan Melvin.
Sepertinya yang merasa senang bukan hanya Davin, tetapi juga Melvin dan Ruby. Mereka bisa menikmati waktu berdua yang berarti meski harus membawa anak kecil. Genggaman tangan mereka belum juga lepas sejak tadi.
"Apa hari ini kamu merasa senang?" tanya Melvin.
Ruby tersenyum, "Tentu saja. Setelah seminggu bekerja terus di kantor, akhirnya bisa menikmati weekend yang menyenangkan."
"Mulai minggu depan, kita harus jalan-jalan lagi berdua."
"Kalau tidak ada pekerjaan tambahan dari big bos." sindir Ruby.
"Aku tidak akan membebani karyawan dengan pekerjaan yang berat kalau tidak mendesak." Melvin mencubit gemas pipi Ruby.
"Ah! Sakit, Kak .... " protesnya. Ruby memegangi pipinya yang dicubit terlalu bersemangat.
"Masa, sih? Aku pegangnya pelan kok .... " Melvin mengusap bagian pipi yang katanya sakit.
Cup!
Melvin mendaratkan satu ciuman di pipi Ruby. "Sudah sembuh, kan?" ledeknya.
Kedekatan mereka di tempat umum akan membuat orang lain merasa iri. Mereka masih muda, telah memiliki anak dan hubungannya tampak harmonis.
"Ruby ... Melvin .... "
__ADS_1
Canda tawa Melvin dan Ruby seketika terhenti ketika ada yang memanggil mereka. Saat mereka menoleh, Tante Sukma ada di depan mereka dalam jarak tiga meter.