PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
FERDIAN YANG TAK MENYERAH


__ADS_3

Meka baru saja pulang dari kantornya. Ia menenteng oleh-oleh dari kantor untuk diberikan kepada guru-guru yang menjaga Davin di daycare sekaligus ingin menjemput Davin.


Langkahnya terhenti ketika melihat sosok lelaki yang masih berdiri di depan pagar tempat penitipan anak itu. Ferdian. Lagi-lagi ia harus melihatnya. Lelaki itu pasti berniat untuk mengambil Davin darinya.


Meka mempercepat langkah menghampiri Ferdian dengan raut marah. Kalau sampai ia berani mengambil Davin, Meka tidak akan segan untuk lapor polisi.


"Akhirnya kamu datang juga," ucap Ferdian dengan santainya. Meka sampai hilang, kenapa lelaki seperti dia seakan tidak pernah menyesali segala perbuatannya? Apa dia merasa tidak pernah berbuat salah?


"Untuk apa kamu berdiri di sini!?" Meka berkata dengan nada tegas tanpa dilembutkan sedikitpun.


"Aku menunggumu. Orang-orang di dalam tidak mengizinkanku masuk menemui Davin."


Meka menghela nafas. Ia sampai menginap di rumah tetangganya beberapa hari hanya untuk menghindari Ferdian. Dia tahu kalau lelaki itu pasti akan datang lagi untuk menemuinya. Tapi dia tidak menyangka kalau sampai Ferdian nekad mendatangi sekolah anaknya. Untunglah seminggu yang lalu ia pernah berpesan kepada guru Davin.


"Aku tidak menyangka kalau kamu akan menghindar terus dariku. Padahal, aku sedang berusaha untuk bersikap lembut padamu. Apa itu bukan kurang ajar namanya?"


"Atau sepertinya kamu tidak sabar melihat sisi lain diriku?"


Meka berusaha menahan kesabarannya, "Didi, please ... jangan libatkan lagi aku dan Davin ke dalam kehidupanmu. Kami sudah sangat bahagia hidup berdua."


"Aku tidak yakin dengan itu." bantah Ferdian. " Mana ada anak yang bahagia jika hidup berjauhan dari ayah kandungnya."


"Kamu tidak pantas disebut sebagai ayah kandung!" Ingin rasanya Meka mencakar-cakar tubuh Ferdian gila itu.


"Itu terserah padamu. Faktanya, dia memang darah dagingku." Ferdian menyeringai.


"Jadi, apa maumu sekarang?"


"Aku tidak mau apa-apa, hanya ingin bertemu dengan anakku seperti waktu itu." Ferdian menyunggingkan senyum. "Ayolah, kalau aku berniat tidak baik, pasti aku sudah memaksa masuk ke dalam. Aku sengana menunggumu karena aku ingin menjadi ayah yang baik di mata Davin."


Meka melemparkan lirikan tajam.


"Aku hanya ingin mengantar kalian berdua pulang."


"Ya sudah, tunggu di sini!" akhirnya Meka mengalah. Ia masuk melewati pintu gerbang untuk menjemput Davin.


Di dalam ruang guru, ada Davin yang sedang dudul sambil makan es krim pemberian Bu Ana. Meka memberikan bingkisan yang dibawanya kepada Bu Ana.


"Bu Ana, terima kasih sudah menjaga Davin, ya!" ucapnya.

__ADS_1


Bu Ana tersenyum, "Sama-sama, Ibu. Di luar tadi ada papanya Davin. Saya larang masuk karena mengingat pesan Bu Meka."


"Iya, Bu Ana. Terima kasih sudah mendengarkan permintaan saya."


"Davin, ayo ikut mama." Meka merentangkan kedua tangannya, Davin berjalan memeluk dan menciunya. Meka menggendong anak semata wayangnya.


"Bu, kalau boleh memberi saran, selesaikan urusan dengan ayahnya Davin dengan baik. Bagaimanapun juga, anak tetap membutuhkan kedua orang tuanya."


Meka tersenyum. Tidak semua orang mengerti apa yang sebenarnya dihadapi olehnya. "Iya, Bu. Terima kasih sarannya. Saya permisi dulu."


Meka berpamitan dan membawa Davin keluar. Di depan sudah ada Ferdian membukakan pintu mobil Audy yang dibawanya.


"Papa .... " sapa Davin kegirangan. Anak kecil dan polos itu bahagia bisa bertemu dengan papanya lagi.


"Halo, jagoan. Kita bertemu lagi." Ferdian mencium pipinya gemas. "Masuklah!" ia memerintahkan Meka agar masuk ke dalam mobil.


Meka mengikuti kemauan Ferdian. Dia meletakkan Davin di bangku belakang, sementara dirinya duduk di bangku depan bersama Ferdian. Tak lupa ia memasang sabuk pengaman demi keselamatan. Ferdian menyunggingkan senyum.


Jarak rumah Meka dengan sekolahan tidak terlalu jauh. Jika berjalan kaki, hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Menggunakan mobil jarsk tempuhnya semakin singkat. Akan tetapi, saat hampir melewati gang perumahannya, Ferdian membelokkan arah mobilnya secara mendadak.


"Arah rumahku ada di belokan tadi!" seru Meka kaget.


Ferdian diam dan terus melajukan mobilnya ke arah jalan yang semakin menjauh dari rumah Meka.


"Aku memang akan membawa kalian pulang, bukan ke rumahmu, tapi rumahku!"


Meka membelalakkan mata. Kalau saja mereka sedang tidak ada di dalam mobil dan tidak ada Davin di sana, Meka sudah akan menonjoknya.


"Sejak dulu kamu memang tidak bisa dipercaya!" Meka mengumpat kesal dengan nada lirih karena takut anaknya akan mendengarkan.


Ferdian tak menghiraukan ia tetap melajukan mobilnya dengan tenang. Sampai mereka di sebuah rumah besar bercat putih dengan gaya klasik modern. Rumah besar yang merupakan milik Ferdian pribadi.


Davin terkesima melihat rumah besar itu. Kepalanya sampai mendongak ke atas sembari melayangkan pandangan ke segala arah. Meka hanya pasrah mengikuti kemana arah Ferdian akan membawanya.


"Apa kamu suka rumah ini?" tanya Ferdian kepada Davin.


"Suka, Pa. Rumahnya bagus dan besar," ucap Davin sambil terkagum-kagum. Selama ini ia hanya tinggal di area perumahan yang saling berdempetan.


"Kalau kamu suka, kamu boleh tinggal di sini bersama mamamu."

__ADS_1


"Yeyeye .... " Davin bersorak kegirangan.


Para pelayan yang melihat kehadiran mereka memberi salam.


"Ini anakku dan dia calon istriku."


Meka terhenyak kaget mendengar penuturan Ferdian kepada para pelayannya.


"Mulai sekarang, kalian harus melayaninya dengan benar." perintahnya.


"Baik, Tuan."


Ferdian lantas membawa mereka menaiki tangga ke atas.


"Kamu sudah gila menyebutku sebagai calon istri?"


"Kamu memang calon istriku."


"Aku tidak mau."


"Nanti kamu akan mau." Ferdian berkata tanpa ragu. Seolah tak ada yang boleh menentang kemauannya.


"Sam, ajak anakku bermain dulu di kamar yang baru aku persiapkan untuknya." ucap Ferdian kepada asistennya yang baru saja lewat.


"Baik, Pak." Sam mengajak Davin bersamanya.


Sementara, Meka mengikuti Ferdian menuju suatu kamar di lantai atas.


Di ruangan yang tampak tertata rapi tanpa sedikitpun debu menempel, terdapat sebuah ranjang pasien dengan peralatan medis yang sangat lengkap. Pemandangan tak biasa di sebuah rumah.


Sampai akhirnya Meka tahu siapa yang tengah terbaring di sana. Renata, wanita tercantik yang pernah Meka ingat. Mantan istri Melvin. Meka heran kenapa Renata ada di rumah Ferdian.


"Kenapa Renata .... "


"Dia istriku!" Ferdian memotong pertanyaan Meka.


Bagaikan mendapat sambaran petir di siang bolong, Meka tak menyangka jika akhirnya Ferdian menikah dengan Renata. Renata yang kondisinya tidak terlalu bagus. Sepertinya dia sedang koma.


"Lalu, apa tujuanmu membawa aku dan Davin ke sini? Apa kamu ingin memamerkan bahwa kamu sudah berhasil menikahinya?" Meka berbicara dengan nada kesal.

__ADS_1


"Lalu, apa tujuanmu mengatakan bahwa aku adalah calon istrimu? Kamu benar-benar lelaki brengsek!" Meka memukul keras lengan Ferdian.


*****


__ADS_2