
"Menurut hasil penyelidikan polisi di tempat kejadian ada bekas tembakan di ban mobilmu. Apa itu yang menjadi penyebab kecelakaan?"
"Iya."
Rei baru saja tersadar. Melvin dan Ruby berada di ruangannya untuk melihat kondisi Rei. Kakinya dibalut perban karena terluka. Begitu pula dengan bagian dahi di kepalanya juga terbentur sehingga perlu dipasang perban.
"Siapa kira-kira pelakunya, Rei?" tanya Ruby penasaran.
"Aku tidak tahu. Kemarin malam cukup gelap untuk bisa melihat dengan jelas wajah pelakunya. Ada dua orang yang berusaha menyerangku. Sepertinya mereka memang sudah menargetkanku sejak awal. Mereka menunggu kesempatan saat situasi lengang untuk melancarkan serangannya."
"Kamu sudah ngapain, Rei, sampai punya musuh mengerikan seperti itu?" Ruby jadi merinding sendiri mendengar cerita Rei.
"Semalam aku hanya pergi ke pernikahan Livy, lalu langsung pulang. Aku juga merasa tidak punya masalah dengan siapapun," kilah Rei.
"Apa mungkin mereka begal?" Melvin mengira-ira.
"Kalau begal pasti ada barang Rei yang hilang, Kak."
"Mungkin tidak jadi karena keburu banyak orang berdatangan. Aku tiba di sana juga sudah banyak orang yang mengerumuni lokasi."
"Ya sudahlah, setidaknya aku baik-baik saja," ucap Rei. "Kamu kenapa di sini terus? Bukannya kamu disuruh dokter untuk istirahat total?" Rei memarahi Ruby.
"Tiduran terus di atas ranjang bosan, Rei. Lagipula kamarku juga di sebelah. Sebenarnya aku sudah bisa pulang kalau bukan kemauan Papa dan Kak Melvin untuk tetap menahanku di sini."
"Tunggu beberapa hari lagi sampai kandunganmu benar-benar kuat."
Ruby hanya bisa menghela napas. Ia sudah sangat bosan berada di rumah sakit tanpa melakukan apapun. Ruby juga sudah dipecat dari perusahaan oleh suaminya sendiri. Ia sudah tidak boleh bekerja.
Drrtt drrtt
Ponsel Melvin bergetar. Ia lihat yang menghubungi nomornya adalah sekertaris Pak Wijaya. "Halo?" ucapnya. Ruby dan Rei terdiam mendengarkan Melvin mengangkat teleponnya.
"Pak Melvin, Tuan Wijaya diserang seseorang. Beliau terluka."
__ADS_1
Melvin terdiam sesaat. Setelah kemarin Rei, sekarang giliran ayah mertuanya yang dicelakai orang. "Apa kondisinya parah?"
"Beliau terkena luka tusukan dan mengalami pendarahan hebat. Kami sedang membawanya ke rumah sakit tempat Nona Ruby dirawat."
"Aku akan menunggu kalian di sini. Tolong, jaga Papa!" Melvin sampai gemetar memberikan perintahnya.
"Baik, Pak."
Melvin mematikan teleponnya. Ia terduduk lesu di samping ranjang Rei. Ada yang tidak beres dengan kejadian yang menimpa Rei dan ayah mertuanya.
"Ada apa, Kak?" Ruby sangat penasaran melihat perubahan ekspresi suaminya.
"Papa ditusuk orang," ucap Rei dengan nada lemas.
"Kak ... jangan bercanda." Jantung Ruby serasa mau copot mendengar ayahnya dilukai orang.
"Siapa yang barusan menghubungimu?" tanya Rei.
"Sekertaris Papa, Pak Edgar."
"Hubungi Markus, Vin. Suruh dia memperketat penjagaan di rumah. Juga suruh beberapa orang berjaga di sini. Aku takut mereka akan datang ke tempat ini jika tahu kita semua dirawat di tempat yang sama," pinta Rei.
"Ya, akan aku lakukan." Melvin mengambil kembali ponselnya lalu memilih keluar dari ruangan Rei untuk menelepon Markus.
"Hati-hati, Ruby. Jangan lagi pergi sendirian dalam waktu dekat ini. Sebelum kita berhasil menangkap dalang pembuat onar kejadian ini."
Ruby mengangguk dengan ucapan Rei. "Aku jadi khawatir dengan kondisi Papa."
"Tidak usah khawatir, ada Pak Edgar yang menemaninya." Rei berusaha menenangkan Ruby. Ia sendiri merasa bersalah karena telah membiarkan ayahnya kembali mengurusi perusahaan karena dirinya masih terbaring sakit. Seharusnya Pak Wijaya terus menikmati waktu santainya setelah memilih pensiun dari perusahaan.
"Kamu sudah dibilang jangan khawatir malah cemberut begitu. Ingat, kondisi kehamilanmu cukup rentan, tidak usah ikut-ikutan pusing. Biar masalah ini aku dan Melvin yang akan membereskannya." Rei kembali menasihati melihat Ruby mulai menjadi orang yang bengong.
Tak berapa lama berselang, Melvin masuk kembali ke dalam. "Aku sudah menghubungi Markus. Sebentar lagi dia mengirim anak buahnya ke sini."
__ADS_1
"Ruby, kamu mau ikut ke bawah? Papa sebentar lagi sampai," ajak Melvin.
Ruby mengangguk. Melvin mengulutkan tangannya agar digandeng oleh istrinya. "Rei, kami ke bawah dulu mau melihat kondisi Papa."
Melvin membawa Ruby bersamanya. Mereka turun ke lantai bawah menuju ruang IGD. Melvin meminta petugas di sana untuk menyiapkan brangkar karena ayah mertuanya akan segera tiba.
Ketika mobil Pak Edgar sampai di depan rumah sakit, buru-buru petugas IGD mendekat untuk membantu menangani Pak Pak Wijaya yang kondisinya telah terkulai lemas akibat kehilangan banyak darah. Mereka menaikkan Pak Wijaya ke atas bed yang sudah disediakan lalu membawanya ke dalam ruangan IGD.
"Papa!" Teriak Ruby saat melihat kondisi ayahnya yang berlumuran darah. Ia ingin berlari menghampiri, namun Melvin mencegahnya.
Melvin memeluk erat Ruby yang menangis sesenggukkan, berusaha menenangkan wanita yang sedang dalam kondisi hamil itu. Batin Ruby pasti sangat terguncang. "Papa akan baik-baik saja. Kamu tenang saja."
Ruby tak bisa berkata-kata lagi selain menumpahkan kesedihannya di pelukan suaminya sendiri.
"Bagaimana kejadiannya, Pak?" tanya Melvin pada Pak Edgar yang berdiri di sampingnya.
"Saya juga tidak tahu persis, Pak. Nanti akan saya suruh anak buah saya mengecek CCTV di sekitar lokasi."
"Apa kejadiannya di perusahaan?"
"Iya. Sepertinya mereka datang saat Tuan sedang sendirian menuju tempat parkir. Kebetulan saya masih ada urusan sebentar dengan karyawan, makanya membiarkan Tuan lebih dulu turun ke basement parkiran."
"Saat saya datang, beberapa petugas keamanan berusaha melawan lima orang yang menyerang Tuan. Saya juga ikut melawan, tapi mereka berhasil kabur. Tuan terkena pukulan batu di dahinya, juga luka tusukan di area perut."
"Usut masalah ini sampai dapat pelakunya," pinta Melvin.
"Pasti, Pak. Akan saya kejar orang yang berani melukai Tuan sampai ke ujung dunia. Maafkan saya yang tidak bisa menjaga Tuan dengan baik." Pak Edgar sangat merasa bersalah. Dia sudah mengabdi kepada Pak Wijaya selama belasan tahun. Selama itu, baru kali ini ia mengalami kejadian luar biasa yang menimpa Pak Wijaya.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, Pak. Anda sudah bekerja keras. Kita harus bekerjasama menangkap pelakunya. Aku rasa yang melakukan ini semua juga ada kaitannya dengan kejadian yang menimpa Rei."
"Saya akan menyelidiki kolega bisnis Tuan yang mencurigakan. Mungkin ada salah satu dari mereka yang terlibat."
"Iya, Pak. Anda harus melakukannya."
__ADS_1
"Saya izin pamit untuk kembali ke perusahaan." Pak Edgar harus membereskan urusan di kantor yang ditinggalkan karena kejadian yang menimpa atasannya. Ia juga harus membatalkan pertemuan dengan rekan bisnis yang seharusnya dijadwalkan hari ini.