PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
ISTRI DAN CALON BAYINYA


__ADS_3

"Ruby!" Seru Melvin.


Nafasnya tampak memburu. Dari arah pintu yang ia buka paksa, segera ia kembali berlari menghampiri Ruby yang telah terbaring di atas ranjangnya. Hanya wanita itu yang menjadi fokus perhatiannya. Sebuah pelukan ia berikan, menyalurkan rasa khawatir yang ia rasakan sepanjang perjalanan dari kantor ke rumah sakit.


"Kak ...." Rasa nyaman Ruby rasakan ketika suaminya telah datang. Sejak awal keberadaannya di rumah sakit, tubuhnya seakan terus gemetar ketakutan. Ia balas pelukan Melvin lebih erat seperti seseorang yang sedang mencari perlindungan.


Setelah menerima telepon dari Ruby, ia buru-buru datang. Bahkan pertemuan penting yang sedang berlangsung ia tinggalkan kepada Tomi untuk melanjutkannya. Mendengar Ruby masuk rumah sakit sudah memberikan gambaran di otaknya yang macam-macam. Apalagi istrinya kini sedang mengandung bayi kembar.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Melvin dengan tatapan mata seriusnya. Ia memperhatikan lekat wajah istrinya lekat-lekat.


Ruby hanya mengangguk. Tangannya terus menggenggam tangan Melvin seolah tak mau untuk melepaskannya.


"Apa yang terjadi?" Ruby tak menjelaskan secara detil apa yang dialaminya di telepon. Tapi, Melvin sudah memiliki firasat kurang baik karena tidak mungkin Ruby menghubunginya jika kondisinya tidak serius. Sampai ia datang di sana untuk menanyakan sendiri, Ruby belum mau bicara. Wanita itu justru kembali memeluk tubuh Melvin dengan erat. Ia merasa nyaman dalam posisi seperti itu.


Kejadian yang baru menimpanya begitu menorehkan trauma. Mungkin, di masa depan, ia tak akan berani lagi keluar sendiri. Ia hanya merasa aman berada di dekat suaminya.


Mantan dosen bejat itu hampir saja memperkosanya dalam kondisi hamil dan telah bersuami. Tidak pernah Ruby temui lelaki segila Alben. Orang yang seharusnya menyayangi dirinya sebagai seorang mantan mahasiswi, justru berniat untuk menghancurkan kehidupan yang telah ia miliki.


"Permisi ...." Seorang dokter wanita masuk bersama Gita.


"Itu dokter yang menanganiku. Wanita di sebelahnya yang sudah membawaku ke sini." Ruby memberi penjelasan kepada Melvin.


Sebelumnya Ruby meminta Gita untuk menghubungi dokter. Ia ingin tahu apakah dirinya sudah langsung bisa pulang ke rumah atau tidak. Kalau bisa dirawat di rumah, ia akan langsung pulang.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dokter?"


Dokter itu tersenyum ramah. "Istri Anda dan bayi yang ada di dalam kandungannya baik-baik saja. Tidak perlu terlalu khawatir." Penjelasan dari dokter melegakan perasaan Melvin dan Ruby. "Akan tetapi, karena sempat mengalami benturan keras sampai terjadi pendarahan, Ibu Ruby saya sarankan untuk istirahat total. Kondisi hamil kembar memang sangat rentan. Tolong kalian menjaganya dengan sangat hati-hati. Telat penanganan sedikit, mungkin Anda bisa keguguran."

__ADS_1


Ruby tidak bisa membayangkan jika sampai ia kehilangan bayinya. "Apa saya boleh pulang hari ini?" tanyanya.


"Kamu ini bicara apa, Sayang ... masa mau pulang? Kamu harus dirawat di sini sampai sembuh!" Melvin memarahi Ruby. Sebelumnya Ruby yang marah saat Melvin dirawat di rumah sakit. Sekarang, posisinya terbalik, giliran Melvin yang marah.


"Benar, Ibu Ruby. Setidaknya kita akan melihat perkembangan kondisinya sampai tiga hari ke depan. Kalau semakin membaik, Ibu Ruby boleh pulang."


"Sampai lahiran juga tidak apa-apa, Dokter, asalkan istri saya baik-baik saja." Sikap protektif Melvin kumat saking khawatirnya.


"Tidak sekalian Kakak beli rumah sakit ini untuk tempat tinggal kita? Ada-ada saja." Ruby memutar malas kedua bola matanya.


"Hahaha ... tidak sampai harus sejauh itu, Pak. Karena kandungan Ibu Ruby masih di trisemester awal, memang sangat rentan terjadi keguguran. Apalagi kehamilan kembar. Memasuki trisemester kedua, kandungannya akan semakin kuat. Jadi, Ibu Ruby sementara harus mendapatkan perawatan intensif di sini, ya!"


"Iya, Dokter." Ruby mengangguk.


"Bagaimana perasaannya sekarang, apa masih terasa sakit?"


"Kalau begitu, saya pamit dulu. Jika ada keluhan, silakan hubungi saja perawat atau datang langsung ke ruangan saya." Dokter wanita itu sangat ramah, kata-katanya lembut, membuat pasien nyaman berbicara dengannya.


"Em, apa saya juga boleh pulang sekarang?" Gita merasa canggung berada dalam satu ruangan dengan pasangan yang romantis itu. Melihat kedekatan mereka, dia seperti nyamuk yang tak dianggap keberadaannya.


"Kenapa buru-buru, Gita ... kamu di sini saja dulu bersamaku," ucap Ruby.


Gita tersenyum canggung. "Tapi sudah ada Bapak ini yang menemanimu. Aku jadi tidak enak."


"Tidak apa-apa. Tunggu kakakku datang supaya ada yang mengantarmu."


"Aku bisa pulang sendiri, kok."

__ADS_1


"Jangan! Kamu sudah banyak aku repotkan. Setidaknya izinkan kakakku mengantarmu pulang," bujuk Ruby.


"Kamu juga menghubungi Rei?" tanya Melvin heran.


"Tadi ponsel Kak Melvin sulit aku hubungi, makanya aku menghubungi Rei dan Papa juga supaya datang."


Melvin memijit kepalanya. Saat ditelepon sepertinya ia masih sibuk mempresentasikan proyek baru di kantor. Saat selesai menjadi pembicara, barulah ia bisa membuka ponselnya dan ternyata ada telepon masuk dari Ruby. Tanpa melihat situasi, ia menerima telepon mendadak dari istrinya dan meninggalkan rapat begitu saja.


Entah apa yang terjadi dengan rapat di perusahaannya. Ia belum sampai berpikir ke sana. Sekalipun rencananya akan gagal, baginya Ruby lebih penting dari pekerjaannya.


Klek!


"Papa ...." Seru Ruby saat melihat ayahnya muncul dari balik pintu. Meskipun usianya sudah dewasa, sudah menikah, bahkan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, tingkah kekanak-kanakannya muncul saat ada ayahnya.


Di belakang Pak Wijaya ada Rei. Sepertinya mereka datang bersama. Mata Rei tertuju pada sosok yang sudah tak asing di sana. Gita. Ia heran kenapa wanita itu yang merupakan karyawan di perusahaannya ada di ruangan Ruby.


"Papa ... Papa ...." seru Ruby menja sembari memeluk ayahnya. Ia senang sekali dikelilingi oleh tiga lelaki yang selalu menjaganya.


"Kamu itu kenapa lagi? Ingat, sekarang kamu sedang hamil, apalagi bayimu kembar. Jaga kesehatanmu dan kandunganmu, Papa sampai khawatir tiba-tiba kamu telepon." Pak Wijaya merasa lega melihat kondisi putrinya yang ternyata baik-baik saja. Ia hampir jantungan saat putrinya menelepon memberi kabar dia masuk rumah sakit. Sangat jarang anak itu sakit.


"Dia pasti sibuk salto dan kayang, Pa! Meskipun hakil, masih kebanyakan tingkah tidak bisa diam. Dikiranya yang ada di perut boneka kali," celetuk Rei. Ruby kesal sekali perkataan sepertinya sengaja supaya ayahnya lebih marah pada Ruby. Rei memang tukang kompor.


"Vin, sudah Papa bilang kan, Ruby tidak usah bekerja. Biarkan dia beristirahat selama masa kehamilannya."


Melvin yang tidak tahu apa-apa ikut kena marah. Padahal, Ruby sendiri yang memaksa ingin tetap bekerja. Melvin yang melarang malah dimusuhi, makanya ia mengalah pada istrinya.


"Iya, Pa. Nanti Melvin akan larang Ruby untuk bekerja," jawab Melvin.

__ADS_1


__ADS_2