
Malam harinya Putri yang sedang terduduk disalah satu sofa ruang tamun sembari fokus membaca salah satu judul novel favoritnya, fokusnya yang tadinya terpanah pada judul novel tersebut, kini fokusnya pun seketika terhenti sesaat ia mendengar adanya suara bunyi pintu alarm yang telah ditekan oleh seseorang.
Tingtong...tingtong...tingtong...
"Siapa malam-malam gini bertamu?" gumamnya yang kemudian ia bergegas menurunkan kakinya, berlalu pergi kearah suara itu berasal.
Setibanya Putri didepan pintu dan membukakan pintu, betapa terkejutnya dia saat melihat siapa seseorang yang telah bertamu pada malam hari ini. Bahkan bola mata yang tadinya nampak biasa-biasa aja kini dalam hitungan menit bola mata itu pun fokus mengarah kearah satu tujuan yaitu seseorang tamu tersebut.
"Bi...bimo..kamu, apa yang kamu lakukan disini. Dan kapan kamu sampai di Jakarta?
"Kenapa? Apa kamu sangat penasaran dengan kehadiranku ini?" balas Bimo dengan senyuman khasnya.
"Tuh'kan kamu itu ternyata tidak pernah berubah ya, kamu masih aja bersikap seperti ini kepadaku," Oh iya apa kamu udah makan?" tanya Putri.
"Sebelum kamu menawari aku makan, seenggaknya kamu suruh aku duduk dulu kenapa, pegel nih kaki berdiri mulu."
"Iya...iya...maaf..."
"Iya aku udah makan tadi, kan aku sampai di Jakarta sudah semalam tadi, tadi karena ada tugas rencana kerja sama dengan pihak disini jadi aku bertemu dengannya terlebih dulu tadi.
"Rencana kerja sama kayaknya bakalan ada kode-kode kesuksesan nih.
"Kamu bisa aja, oh iya kata Papa kamu' kamu sudah keterima kerja di salah satu Rumah sakit terbesar di Jakarta. Apa itu benar?"tanya Bimo akan tetapi wajah Putri berubah menciut.
"Iya awalnya memang, tapi sekarang...."
__ADS_1
"Kenapa. Apa kamu ada masalah?
"Aku dipecat dari jabatanku Bim, aku sendiri juga tidak tahu apa permasalahannya tapi ya sudahlah takdir orang kan berbeda. Dan itu juga sudah takdir dari yang diatas jadi mau gimana lagi," ucap Putri dengan memanyunkan bibirnya.
"Aku sangat paham dengan kondisimu saat ini, aku pernah ada diposisi kamu jadi kamu tidak boleh putus aja, oh iya mumpung kita bertemu lagi, kamu gak mau kalau aku ajak jalan-jalan sebentar malam ini?
"Kalau ditraktir sih boleh-boleh aja.
"Baiklah kalau gitu ayo.
Iya , dia adalah Bimo, lelaki yang Papa kenalkan kepadaku disaat aku lagi susah-susah dalam tahap melupakan cinta pertamaku yaitu Gibran. Kurang lebih selama tiga tahun aku mengenalnya, dan perlahan-lahan kita mulai dekat lantaran kita sering menghabiskan waktu yang luang bersama semasa kuliah dulu, tapi entah kenapa kedekatan diantara kita aku menganggap kedekatan itu hanya sebatas kedekatan seorang Kakak dan Adik dan tidak yang lebih mau pun kurang.
Dia itu laki-laki yang sangat baik dan tidak pernah yang namanya menyakiti hati seorang Wanita. Dan aku merasa jika dia benar-benar mencintaiku, tapi aku tidak mau hubungan baik ini akan berbalik memanfaatkan perasaan orang lain, apalagi seseorang itu punya hati sebaik seperti dia.
Memang aku akui dia juga sangatlah tampan, tapi aku tidak mau merampas kebahagiaannya hanya karena dia mencintaiku, dan mengorbankan perasaannya demi menutupi luka yang lama.
Dan selama kurang waktu tiga puluh menit lamanya, mereka pun akhirnya telah sampai disalah satu titik lokasi. Sesampainya Putri pun dibuat terkejut kemana Bimo membawanya Sekarang.
"Kita sudah sampai, gimana tempat ini cocok tidak buat kencan kita hari ini.
"Aku kira kamu mau membawa aku ketempat yang mahal, tapi ternyata kamu membawaku ketempat ini, memangnya kamu tidak pernah makan bakso ya?
"Jujur aku dulu pertama kali pernah berkunjung ke Jakarta dan itu juga sudah lama sekali. Dan kunjungan pertamaku itu aku yang dalam kondisi kelaparan jadi akhirnya itulah awal mula aku mengenal makanan bakso itu. Apalagi kalau disantap pada saat lagi musim hujan-hujanan dijamin sangat menggugah selera pokoknya.
"Iya...iya..aku tahu, ini juga makanan favoritku sejak dulu, tapi sejak aku pindah aku sudah lama tidak menyantap makanan ini, jadi...,"
__ADS_1
Pandangannya yang seketika fokus pada satu mangkok yang terdapat hidangan bakso yang sangat menggugah selera. Akan tetapi melihat kenikmatan itu, Putri malah terdiam dan melamun mengingat akan kenangan dimana ia beberapa tahun yang lalu pernah duduk ditempat dan lokasi yang sama dimana ia berada saat ini. Dan seseorang itu yang tak lain adalah Gibran.
Bimo yang tadinya sudah menyantap beberapa sendok, kini pandangannya pun teralihkan sesaat ia melihat Putri yang hanya melamun sembari menatap hidangan dalam mangkok tersebut.
Menepuk pundak Putri secara tiba-tiba, lamunannya pun akhirnya buyar, dan berbalik ia pun menatap balik kearah Bimo.
"Kamu kenapa? apa kamu ada masalah?
"Tidak, aku tidak apa-apa. A... aku hanya meratapi kondisiku yang tidak dapat pekerjaan saja kok," balas Putri akan tetapi Bimo tidak bisa dibohongi.
"Apa kamu melamun seperti ini. Karena kamu mengingat akan cinta pertamamu?"tanya Bimo yang spontan membuat pandangan Putri pun menatap dirinya.
"Putri kamu bisa bohongi perasaan kamu, tapi kamu tidak bohongi aku. Aku tahu kamu melamun karena ingat akan kenangan seseorang mantan kamu itu kan?.
Menatap kedua bola mata Bimo, air mata Putri pun akhirnya kembali meneteskan air mata dari kedua sudut matanya. Dan akibatnya perasaan apa yang selama ini ia pendam, dalam hitungan menit Putri pun berani berkata dan mengatakan semua permasalahannya.
"Jujur entah kenapa rasanya aku sangat sulit untuk melupakannya, padahal dia sudah jelas-jelas berkeluarga tapi kenapa aku sangat sulit sekali melupakan semua masa lalu itu," ucap Putri dengan tatapan kosong.
"Mungkin sekarang kamu susah untuk melupakan cinta pertama itu, tapi aku yakin dengan cepat berjalannya waktu, aku yakin kamu pasti bisa melupakan semuanya aku yakin, kamu tidak sendiri Put, masih ada aku di sampingmu jadi bersemangat lah.
"Terima kasih ya..terima kasih karena kamu sudah mau jadi teman baik buatku terima kasih.
"Iya sama-sama karena teman kan akan selalu ada disaat teman yang lain lagi membutuhkannya, jadi bersemangat lah.
"Apa selama ini kamu hanya menganggap-ku hanya sebatas teman mau pun saudara. Apa didalam lubuk hatimu tidak terselip rasa cinta tulus dari hatimu untukku," batin Bimo yang menatap wajah Putri dengan tatapan tulus. Akan tetapi Putri tidak menyadarinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.