
Melvin mengajak Ruby menaiki seekor unta yang dituntun oleh pemandu jalan. Sejauh mata memandang hanya nampak hamparan gurun pasir yang luas. Di sisi lain gurun terdapat rombongan mobil para pecinta tantangan adrenalin yang akan melakukan safari gurun, memacu mobil mereka naik turun gundukan pasir yang bergelombang. Bahkan ada pula yang berani memacu mobilnya menaiki tebing gurun yang tinggi sampai ke atas dan kembali lagi ke bawah.
Melvin mencoret kegiatan itu dari daftar liburannya. Ia tak ingin sang istri sampai keguguran jika nekad ia ajak bergoyang-goyang di atas mobil. Apalagi sang sopir suka jahil dengan memilihkan rute yang menantang. Bisa-bisa anaknya langsung lahir di gurun pasir.
Sore itu ia hanya mengajak berkeliling sebentar dengan unta. Menjelang malam, mereka bersantai di tenda-tenda yang sengaja dibuat bagi para wisatawan yang ingin menikmati pemandangan langit malam di tengah gurun pasir. Bintang-bintang di sana terlihat begitu indah dan sangat jelas.
Di area tengah tenda ada api unggun besar yang menyala. Kehangatannya cukup menolong karena suhu di gurun saat malam memang dingin. Sembari menikmati pemandangan langit yang indah, mereka menyantap hidangan khas timur tengah yang menggoda selera. Nasi briyani, daging domba muda, roti, serta minuman segar.
Nafsu makan keduanya seakan meningkat. Rasa makanan yang tidak begitu familiar di lidah mereka terasa cukup enak untuk mengisi perut. Bahkan ruby makan sambil bermanja-manja di lengan sang suami. Dunia serasa milik mereka berdua, betapa bahagianya menghabiskan waktu hanya berdua tanpa ada gangguan dari siapapun.
"Kak, pacaran ternyata seenak ini, ya ...." gumam Ruby sembari mengunyah makanannya dan menyandarkan kepala pada lengan kokoh sang suami.
"Dulu aku ajak pacaran malah kabur ... baru menyesal sekarang?" Kalau ingat Ruby yang menyerah begitu saja dengan hubungan merema Melvin masih suka kesal. Ia masih ingat betapa frustasi hidupnya ditinggalkan oleh Ruby dan terpaksa harus menikahi wanita yang sama sekali tidak ia sukai.
"Dulu nggak enak. Lebih enak yang sekarang. Sudah halal jadi bebas mau ngapain malah berpahala. Kalau dulu aku jadi seperti wanita jahat. Orang akan menyebutku sebagai pelakor gara-gara mengganggu hubunganmu dengan Renata."
"Sudahlah! Jangan diingat lagi." Melvin lebih memilih menyudahi percakapan mereka berdua. Ia yakin kalau diteruskan, dirinya yang akan disalahkan oleh sang istri. Kenangan buruk memang sudah seharusnya dilupakan, yang terpenting adalah untuk menata kehidupan selanjutnya.
"Aku rasa ini momen paling bahagia dalam hidupku. Seandainya kita bisa terus seperti ini." Ruby mengeratkan pelukannya di lengan Melvin.
"Kita tetap harus pulang, Sayang. Kalau terus di sini, kita bisa jatuh miskin. Hanya untuk menginap seminggu di hotel saja sudah habis lebih dari dua miliyar. Perusahaan juga bisa bangkrut kalau aku kelamaan cuti."
"Hmmm ...." Ruby mengeluarkan jurus manjanya. "Masih ada Rei yang kerja. Kita bisa numpang hidup sama dia. Hahaha ...." Ruby tertawa jahat.
"Aku tidak mau! Nanti dia menghinaku. Dia pasti nanti akan sombong." Melvin tak mau kalah dengan Rei. Anak itu sudah cukup membuatnya kesal gara-gara sudsh tak mau memanggilnya kakak. Padahal, selama menjadi adiknya, betapa manis Rei bertingkah dan menurut pada dirinya.
__ADS_1
"Biarkan dia sombong yang penting kita dapat uangnya."
"Melvin ...."
Momen perbincangan mereka terganggu saat sebuah suara menyapa Melvin. Seorang wanita berperawakan cukup tinggi dengan jubah hitamnya serta wajah yang tertutup cadar. Keduanya tak bisa mengenali siapa orang yang baru saja menyapa.
Wanita itu melepas penutup wajahnya. Ruby dan Melvin tercengang melihat sosok di balik cadar itu. Renata ... mereka benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan wanita itu di sana. Penampilannya sungguh berubah dari biasanya. Ia yang suka mengenakan pakaian s3ksi dan terbuka tiba-tiba berpakaian tertutup dan sedang berada di Dubai. Setahu mereka Renata telah tinggal di Amerika Serikat.
"Apa kabar, Vin?" Wanita itu tersenyum manis dan menyapa Melvin. Sepertinya ia tidak memperdulikan keberadaan ruby yang jelas-jelas ada di sebelah Melvin.
"Baik. Sedang apa kamu di sini?" Melvin balik bertanya. Ia masih tercengang bisa bertemu Renata di sana.
"Aku baru pulang umroh sekalian liburan ke Dubai. Besok aku sudah kembali lagi ke Amerika."
Melvin dan Ruby saling berpandangan. Mendengar wanita itu baru pulang umroh kedengarannya sangat aneh. Tapi, mereka juga bersyukur jika Renata telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Renata tersenyum. "Kamu juga, Vin. Selamat liburan." Ia kembali memasang penutup wajah kemudian pergi meninggalkan Melvin dan Ruby tanpa berkata-kata lagi.
"Ada mantan istri kok lihatnya sampai segitunya," sindir Ruby yang merasa Melvin terus memperhatikan kepergian Renata.
Melvin mencubit pipi Ruby dengan gemas. "Aku hanya heran saja dengan dia, jangan berpikir yang macam-macam, Sayang ...."
"Aku kadang tidak bisa percaya wanita seperti itu tidak kamu apa-apakan saat masih menjadi istrimu."
Melvin tahu istrinya sedang cemburu. "Sudah, hentikan jangan dibahas lagi."
__ADS_1
"Kenapa? Takut nggak bisa move on dari masa lalu?" Ruby memberikan tatapan sinisnya.
"Kamu apa-apaan, sih ... daripada kita bertengkar di sini, aku lebih suka kita bertengkar di kamar. Kamu lebih imut dan penurut kalau di kamar."
"Mesumnya keluar!" Ruby mencebikkan bibir.
"Aduh, manisnya orang yang sedang cemburu ini." Melvin memberikan pelukan hangat kepada Ruby. "Satu-satunya wanita yang aku cintai hanya kamu. Aku tak pernah segila ini mencintai seseorang selain padamu."
"Tapi, kamu juga pernah mencintainya." Ruby masih kesal.
"Memangnya sejak dulu kamu tidak pernah mencintai lelaki lain? Saat SD? SMP? SMA? Atau sebelum mengenalku?"
Pertanyaan Melvin membuat Ruby terdiam. Tentu saja sebagai remaja normal, ia peenah menyukai seseorang.
"Cinta itu tidak mesti soal fisik, Sayang. Lebih soal kenyamanan. Saat kamu merasa nyaman dengan seseorang, maka kamu tidak akan pernah bisa melepaskannya."
"Kadang aku iri dengan Renata," gumam Ruby.
"Kenapa?"
"Karena dia lebih dulu mengenalmu. Kalian pernah berteman, pernah berpacaran, pernah bertunangan, bahkan kalian juga pernah menikah." Bibir Ruby manyun.
"Ada satu hal yang hanya pernah aku lakukan padamu?"
"Apa?" Ruby jadi penasaran.
__ADS_1
Melvin mendekatkan mulutnya ke arah telinga Ruby, "Memasukkan juniorku ke dalam tubuhmu," bisiknya. Kata-kata m3sum yang keluar dari mulutnya membuat mata membelalak. Sementara Melvin hanya senyum-senyum dengan respon yang Ruby berikan. "Punyaku enak kan, Sayang ... kita sampai bisa langsung membuat dua anak kembar." Ia berkata dengan nada bangga.
"Ih ... apa-apaan, sih ... ini tempat umum masa membahas seperti itu ...." Ruby tidak habis pikir dengan kerandoman yang Melvin ucapkan.