
PUKUL 06:00 PAGI.
"Tuan saya sudah mendapatkan data dari Dokter baru yang baru menetap di Rumah Sakit Hospitality, dan rupanya Dokter muda itu aku juga mengenalnya. Karena pada waktu itu Dokter itu juga yang sudah memeriksa kondisi Tuan,"ucap Sekertaris Lee yang kemudian, Gibran pun dengan langsung-langsung melihat berkas tersebut.
Setelah penasaran dengan apa yang ia lihat kemaren, Gibran pun akhirnya membuka satu persatu kertas putih tersebut. Dan betapa terkejutnya dia setelah ia melihat foto siapa yang tertera pada berkas ini.
"Putri..."ucap Gibran yang kemudian membuat Sekertaris Lee pun berkata.
"Putri...Tuan mengenalnya?"tanya Sekertaris Lee yang kemudian Gibran pun menatap balik kearah Sekertaris Lee.
"Jadi dia Dokter yang pada waktu itu memeriksa kondisi saya?"tanya Gibran yang membuat Sekertaris Lee pun bingung.
"Iya, dia memang orangnya Tuan. Ada apa, apa Tuan ada masalah, apa Tuan sungguh-sungguh mengenalnya?"
"Iya saya mengenalnya, dia...dia adalah mantanku!"balas Gibran yang spontan membuat pandangan Sekertaris Lee pun terkejut tidak main.
"Apa Tuan mantan, ja...jadi Wanita cantik ini adalah mantan Tuan?"tanyanya lagi yang tidak percaya.
"Ada hal yang perlu aku lakukan, jadi aku akan pergi sebentar kamu tunggulah disini jangan kemana-mana. Dan kabari aku kalau ada sesuatu yang inggin kamu tanyakan padaku!"ucap Gibran yang kemudian tanpa menunggu sekertaris Lee untuk berkata, ia terlebih dulu pergi dari ruangan ini.
"Astaga ada apa ini, Tuan muda ketemu lagi dengan mantannya. Apa itu artinya cinta itu bakalan kembali tumbuh lagi, terus gimana dengan Nyonya besar, tapi aku gak menyalahkan Tuan muda kalau dia bakalan melirik mantannya karena pada aku juga tahu kalau Nyonya Revi juga tidak sebaik yang aku kira."gumam Sekertaris Lee yang kemudian ia pun memutuskan untuk duduk kembali di kursi kerjanya.
Dokter ada pasien yang inggin bertemu dengan Dokter.
__ADS_1
"Pasien, pasien ruangan berapa Sus?"
"Pasien itu bertempat di ruangan 15 Dok, katanya Dokter habis memeriksa Pasien itu tapi tak lama kemudian, pasien itu tiba-tiba merasa sakit perut, jadi biar lebih jelasnya lagi lebih baik Dokter pergilah kesana."
"Pasien ruangan 15, tapi setahu saya saya tidak pernah memeriksa Pasien itu, tapi gak papa saya akan memeriksanya."
"Baiklah Dok."balas Suster yang kemudian Putri pun akhirnya berjalan menuju keruangan itu.
Sesampainya Putri di ruangan yang ditunjukkan Suster tadi, pandangan Putri pun seketika terhenti setelah ia tahu jika ia memasuki ruangan yang kosong tanpa adanya seseorang sakit yang dimaksud Suster tadi.
"Ini beneran ruangan yang dimaksud Suster tadi, tapi mana orang yang dimaksud Suster tadi. Apa dia sedang mengerjai ku?"gumam Putri yang merasa Bingung sendiri.
Baru sedetik Putri putuskan akan pergi dari ruangan ini dan berbalik arah, lagi-lagi langkahnya pun terhenti, bahkan pandangan matanya sekaligus kakinya pun seketika terdiam tak mampu untuk melanjutkan lagi langkahnya sesaat Putri menyadari dengan adanya kehadiran seseorang yang tiba-tiba masuk keruangan ini tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
Akan tetapi karena tatapan tajam yang ia tunjukkan sekaligus langkahnya yang semakin mendekati Putri lah yang membuat ia merasa cemas bercampur T
takut ketika menghadapinya.
"Gi...gibran, kamu ngapain disini?"tanya Putri yang mulai sangat tegang. Bahkan tatapannya pun perlahan-lahan Putri alihkan.
"Kamu kenapa. Apa yang kamu takutkan, kenapa kamu terlihat sangat cemas gitu ketika berhadapan denganku. Tapi sudahlah aku tidak inggin membahas itu, pakaian yang kamu kenakan itu sangatlah cocok dan kamu juga sangat pantas menggunakan pakaian Dokter itu.
Ngomong-ngomong selamat ya atas keberhasilan kamu yang telah berhasil mencapai impian kamu yaitu menjadi seorang Dokter. Aku cukup senang melihatnya, akan tetapi aku sadar impian kamu bisa berhasil juga karena kamu rela mengorbankan hati seseorang yang sangat tulus mencintaimu, tapi sudahlah itu sudah lama dan tidak seharusnya kita membahasnya lagi.
__ADS_1
Akan tetapi setelah aku perhatian kamu sudah banyak berubah dan berbeda dari Putri yang aku kenal dulu. Dan pastinya sekarang kamu sudah menemukan cinta sejati kamu kan, dan pastinya juga kamu telah memiliki keluarga yang harmonis. Sama halnya sepertimu, sejak kamu meninggalkanku, aku sadar jika Tuhan sudah mengatur jodohku.
Dan...aku cukup bahagia mendapatkan Istri seperti Revi, karena dia sangat berbeda dengan kebanyakan Wanita. Dan pastinya dia juga sangatlah berbeda dengan sifat aslimu, memiliki seorang anak laki-laki itu juga sudah menjadi kebahagiaan yang tersendiri bagiku. Bahkan bisa dibilang aku sangat bersyukur karena dulu kamu telah mencampakkan ku begitu saja, tanpa adanya kabar mau pun pesan yang kamu kirimkan padaku, tapi sudahlah dunia sudah berputar, dan pastinya lebih baik dari yang dulu, dan masa lalu hanya akan jadi masa lalu, dan masa lalu gak seharusnya dikenang mau pun dipendam, karena masa lalu harusnya dibuang pada tempatnya.
Hanya itu yang inggin aku katakan, dan doaku semoga kamu semakin berhasil menggapai apa yang kamu inginkan dan ingatlah perasaan tidak akan datang dua kali, jadi jangan coba untuk menyakiti seseorang lagi jika kamu tidak mau seseorang itu akan berbalik pergi tanpa mau memperdulikan mu lagi.
Langkahnya yang mulai berjalan. Dan ucapan yang tadinya mengalir tanpa henti, kini hanyalah seperti tetesan air yang akhirnya berhenti tanpa adanya usaha apapun. Terasa teriris ketika menyadari orang yang selama ini iya pikirkan ternyata malah berbalik membencinya.
Awal pertemuan yang ia harapkan dengan adanya pandangan manis satu sama lain, kini semua ini hanyalah mimpi...mimpi yang berbeda seratus derajat dengan kenyataan yang iya inginkan selama ini. Hanya luka yang tidak berdarah lah yang bisa ia rasa saat ini, biar pun iya seorang Dokter tapi dia juga mampu merasakan perasaan sakit ini dan tidak tahu dengan obat apa iya bisa menyembuhkannya.
"Aku tidak perduli sesakit apa perkataan yang barusan kamu katakan tadi, karena semua itu sudah sepantasnya untuk aku dapatkan. Karena apa yang kamu lakukan kepadaku, tidak sebanding dengan perbuatan yang aku lakukan selama ini. Maafkan aku..maafkan aku karena aku hanya egois tanpa memperdulikan perasaanmu, maafkan aku.
Air mata yang tidak henti-hentinya menetes dari kedua sudut matanya, sama halnya seperti nasi yang sudah menjadi bubur, seberusaha apa kita berusaha mengembalikan kembali menjadi nasi, pasti ujung-ujungnya pasti akan gagal karena itu tidak akan pernah terjadi.
Tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan Gibran saat ini, berjalan seperti tanpa adanya tenaga membuat langkahnya tambah semakin pelan dan pelan.
Berhasil keluar dari Rumah sakit Hospitality, dan memasuki Mobilnya, bayang-bayang perkataan yang barusan ia katakan tadi pun akhirnya berhasil menyelimuti pikirannya, menyenderkan punggungnya dibangku Mobil sembari melamun, Gibran pun merasa bingung apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya ini.
Akankah dendam mampu mengalahkan perasaan cinta yang dulunya pernah hadir dalam benaknya, ataukah cinta itu sudah berbalik menjadi benci yang menghasut pikirannya untuk tambah membenci...dan terus membencinya.
"Aku tidak tahu perkataan yang barusan aku katakan apa itu salah untuk aku katakan, tapi aku rasa, rasa sakit yang aku alami selama ini tidak akan sebanding dengan perasaan apa yang kamu rasakan saat ini Putri. Dan menurutku ini sudah sepantasnya untuk kamu dapatkan, aku tidak pernah menyalahkan mu untuk menggapai impianmu. Karena aku juga tahu setiap manusia pasti memiliki sebuah impian dan cita-cita, tapi caramu yang berusaha menghindari ku dengan memblokir nomorku tanpa adanya pesan yang kamu kirimkan lah yang membuatku merasakan kekecewaan ini. Apakah aku salah jika mulai sekarang aku malah berbalik membencimu."gumam Gibran yang akhirnya tanpa mau berkata lagi, ia pun putuskan untuk melajukan lagi laju kendaraannya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1