PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
WANITA BERNAMA GITA 2


__ADS_3

SILAKAN GABUNG GRUP CHAT AUTHOR, YA 😘


*****


Gita mengambil keranjang yang tergeletak di depan pintu kamar mandi yang masih tertutup. Rei benar-benar menanggalkan seluruh pakaiannya dan mandi. Semua memang salahnya, seharusnya ia menempatkan papan peringatan sedang dipel supaya tidak ada orang yang melewatinya.


Gita tidak tahu kalau di akhir pekan masih ada yang masuk kantor, apalagi itu adalah bosnya, pimpinan tertinggi di perusahaan. Lagipula, ia memang tidak terlalu pandai mengepel karena hampir tidak pernah bersih-bersih selama hidupnya. Gita terbiasa dilayani pelayan di rumahnya sebelum akhirnya diusir oleh ibu tirinya dari rumah.


Jika dalam kisah dongeng Upik Abu berubah menjadi Cinderella, maka kehidupan Gita adalah kebalikannya. Dari orang kaya menjadi orang tak berpunya. Sudah sekitar 5 tahun ia terusir dan harus hidup sendiri setelah harta kekayaan sang ayah dikuasai oleh ibu tiri.


Gita memasukkan pakaian milik Rei ke dalam mesin cuci, menambahkan bubuk detergen ke dalamnya lalu mulai menyalakan mesinnya. Mesin cuci di kantor itu bisa mencuci pakaian sampai mengeringkannya. Fasilitas laundry disediakan untuk memenuhi kebutuhan para karyawan yang butuh membersihkan diri sebelum pulang kerja, terutama karyawan yang pekerjaannyaĺ berkotor-kotor ria seperti Gita.


"Astaghfirullah!" Gita terperanjat kaget melihat lelaki yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rei hanya membelitkan handuk di pinggangnya sementara badan bagian atasnya dibuarkan terekspose begitu saja.


"Pak! Aurat, Pak!" seru Gita.


"Aurat apa? Aku memangnya aku pamer pusar?" Rei menganggap wanita itu berlebihan. Padahal, handuk yang melilitnya cukup untuk menutupi area pusar sampai lututnya. Tidak ada auratnya yang sengaja ia buka.


"Saya kan tapi memberikan bathrobe, kenapa tidak dipakai, Pak!" Gita merasa bisa gila berada dalam satu ruangan dengan lelaki tampan dan berbadan bagus. Kalau ingat yang semalam, ia kembali ingin menerkamnya saking menggemaskannya. Mantan pacarnya tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Rei.


"Tadi bathrobe-nya jatuh, sekalian saja aku buat keset di dalam. Sisa handuk ini saja. Lagipula, nanti juga selesai cuciannya." Rei menjawab enteng. Ia duduk di samping Gita. Wanita itu sedikit bergeser dan mengalihkan pandangan ke tempat lain.


"Untuk orang yang pernah blak-blakan mengajak lelaki asing tidur bersama, sangat mengherankan melihatmu bersikap malu-malu," sindir Rei. "Bagaimana semalam?" tanyanya.


"Apanya yang bagaimana, Pak?" Gita heran Rei bisa setenang itu duduk di sebelahnya. Sementara dirinya justru panas dingin bersebelahan dengan lelaki hot itu.


"Semalam kamu pergi meninggalkanku. Katanya aku bukan orang yang tepat untuk mewujudkan keinginanmu. Jadi, aku ingin tahu saja apa semalam kamu sudah menemui pria random untuk mewujudkan keinginanmu itu?"

__ADS_1


Gita tidak menyangka ia akan di-bully karena hal semalam. "Tidak, Pak. Setelah dari klab saya langsung pulang naik taksi dan tidur."


"Bisa tidur sendiri? Aku pikir baru bisa tidur setelah ditiduri," ledek Rei.


Gita ternganga, ingin sekali ia membalas kasar sindiran yang diucapkan oleh Rei. "Siapa yang bisa mencari lelaki lain secara random di jalan, Pak? Selera saya sudah terlanjur tinggi saat melihat Bapak di klab malam itu. Belum lagi orang seperti Bapak tiba-tiba menjadi orang yang sok alim memberikan ceramah tentang larangan berhubungan se*ks sebelum menikah. Saya kan jadi takut dosa ... akhirnya saya pulang saja ke rumah. Gagal rencana saya gara-gara Bapak!" gerutunya.


Memang, tujuannya datang ke klab malam adalah mencari kesenangan, melampiaskan kesedihan tentang hidupnya yang terasa begitu berat. Setelah menderita gara-gara ibu tirinya, mantan pacarnya juga tega menduakannya bahkan menipu. Padahal, ia adalah satu-satunya tempat berkeluh kesah dan sangat ia percaya menjadi sandaran ketika dirinya sedang terpuruk.


Akan tetapi, tujuan untuk melampiaskan kekesalannya ia urungkan lantaran mendapat ceramah panjang lebar dari Rei. Padahal, permintaannya sangat simpel. Ia butuh seorang lelaki sebagai teman kencannya. Justru lelaki yang ia incar menolaknya secara terang-terangan.


Hal itu membuatnya malu sekaligus merasa berdosa. Apalagi Rei juga sempat membahas-bahas tentang agama, katanya ia harus nikah dulu sebelum mencoba yang seperti itu. Gita sudah tak berhasrat untuk menikah. Baginya, lebih baik bahagia hidup sendiri daripada menikah tapi ujung-ujungnya bercerai.


"Aku tidak tahu kalau kamu salah satu karyawanku," gumam Rei.


"Saya juga tidak menyangka kalau Anda Bos di perusahaan ini. Kalau tahu, saya tidak mungkin akan menghampiri Anda malam itu."


Rei mengernyitkan dahi, "Untuk sekelas wanita yang bisa masuk ke klab dengan pakaian dan barang mewah, kamu bekerja sebagai tukang bersih-bersih?"


"Hidup itu terus berputar, Pak. Kebetulan posisi saya seperti orang salto. Dari puncak menuju ke lembah. Begitulah posisi saya. Setelah dirampok dan diusir mantan pacar sendiri, diberhentikan dari kantor, saya tidak tahu harus bekerja apa selain bekerja di sini dengan posisi paling rendah."


"Kenapa tidak pulang ke rumah atau mencoba menghibungi keluargamu?"


"Saya tidak punya keluarga," jawab Gita datar.


"Orang kalau bekerja bukan di bidangnya malah bisa membuat orang lain celaka. Mending kamu berhenti dan cari pekerjaan lain saja."


"Yah, Pak ... susah jaman sekarang cari kerja kalau tidak ada koneksi. Masukin lamaran ke perusahaan juga butuh proses. Saya juga akan berhenti kerja di sini kok kalau sudah ada pekerjaan lain. Jangan pecat saya, Pak ... kasihan saya tidak bisa makan nanti saya mati." Gita terus berusaha mengambil hati Rei. Untuk masuk ke perusahaan itu saja dia memanfaatkan temannya agar bisa bekerja apalagi kalau mau melamar ke perusahaan sebagai karyawan dengan jabatan lebih tinggi. Dia harus memulai usahanya dari nol.

__ADS_1


"Kalau mati kan tinggal dikubur." Rei menjawabnya dengan ketus.


"Bapak jahat juga, ya!"


Tut tut tut


Mesin cuci mengeluarkan bunyi yang menandakan pakaian sudah selesai dicuci. Gita bangkit dari duduknya menghampiri mesin kotak yang ada di depannya. "Pak, ****** ******** mau langsung dipakai atau saya setrika dulu biar anget?" celotehnya santai tanpa beban.


Rei yang mendengarnya malah malu sendiri. Langsung ia sambar dalaman miliknya yang sedang dilebarkan oleh wanita aneh itu.


"Ukurannya XL ya, Pak!"


Plak!


"Aduh!" Gita memegangi kepalanya yang dijitak oleh Rei.


"Cepat setrika pakaian milikku!" perintah rei.b


Tanpa berkomentar lagi, Gita membawa kemeja dan celana panjang bosnya ke area setrika. Ia merapikan pakaian yang baru selesai dicuci sembari sesekali melirik ke arah Rei yang sedang memperhatikannya dengan tangan terlipat di dada.


"Pak, rambutnya dikeringkan dulu daripada nanti dikira bebek yang baru nyemplung got. Di sana ada hair dryer," ucap Gita sembari menyetrika.


Meskipun ucapan wanita itu menyebalkan, Rei menurutinya. Ia berjalan ke arah meja rias untuk mengeringkan rambutnya.


*****


Maaf telat update karena terkendala review dari Noveltoon. Semoga masih semangat menantikan kelanjutannya, ya! 😘

__ADS_1


__ADS_2