
Rei keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan ritual mandi wajibnya. Gita masih tertidur di atas ranjang. Ia hanya menyunggingkan senyum. Istrinya pasti sangat kelelahan setelah semalam diajak lembur dilanjutkan selesai shalat subuh mereka juga mengulanginya lagi.
Rei jadi n4fsuan setelah semalam dibolehkan. Rayuannya selalu berhasil membuat Gita pasrah menuruti. Tiga kali sejak semalam terasa belum cukup untuknya.
Dengan santai ia melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya. Ia berjalan mendekat ke arah ranjang masuk kembali ke dalam selimut mendekap sang istri tercinta. Miliknya yang sudah kembali tegak sengaja digesek-gesekkan membuat tidur wanita itu terusik. Apalagi saat ia kembali memegangi dua gundukan yang polos tanpa penghalang.
"Hm, Mas ... sudah. Aku masih lelah dan mengantuk." Gita berusaha menyingkirkan tangan Rei dari dadanya. Matanya masih terpejam meskipun ia bisa merasakan apa yang sedang suaminya lakukan.
"Kamu tidur saja, biar aku yang melanjutkannya sendiri," bisik Rei sembari mengecupi sisi wajah Gita dengan lembut.
"Aku benar-benar sudah tidak kuat lagi, Mas. Itunya juga masih sakit. Kalau nanti nggak bisa p1pis, Mas Rei harus tanggung jawab!" Gita berkata dengan suara malas khas orang yang baru bangun tidur.
"Makanya bangun, mandi dulu ... terus kita sarapan di bawah," rayu Rei.
"Nanti ... badanku masih sakit semua. Mas Rei jangan di sini terus nanti khilaf keterusan!"
"Ayo, aku bantu mandi!"
"Tidak mau ...." Gita tak mau bergerak dari tempatnya.
Terpaksa Rei menyingkapkan selimut yang menutupi keduanya lalu menggendong paksa Gita dan mengajaknya turun dari ranjang menuju kamar mandi.
"Mas ...." rengek Gita. Reflek ia mengalungkan tangannya ke belakang leher sang suami saat tubuhnya diangkat. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya kembali karena rasa kantuk yang sangat berat.
"Kalau tidak dipaksa, seharian kamu tak akan mau mandi."
Keduanya berjalan dengan tubuh polos menuju kamar mandi. Gita menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami. Ia masih merasa lemas. Tubuhnya juga sakit seperti orang yang telah bekerja keras.
Dengan hati-hati Rei memasukkan tubuh sang istri ke dalam bath tube berisi air hangat yang sudah ia siapkan. Meskipun Rei sudah mandi, ia kembali membenamkan tubuhkan di dalam bak yang sama dengan Gita.
"Katanya sudah mandi?"
__ADS_1
"Sudah, tapi jadi mau mandi lagi bareng kamu," ucap Rei sembari tersenyum.
Gita menyandarkan punggungnya pada tepian bak. Ia menghela napas panjang menikmati sensasi berendam air hangat yang membuat tubuhnya terasa lebih nyaman. Pandangannya terarah pada lelaki yang ada di hadapannya, sedang memandanginya sambil senyum-senyum. Ia turunkan pandangannya lebih ke bawah, ke arah air yang jernih. Benda yang semalam sempat membuatnya menangis kesakitan tampak sudah tegak lagi.
"Mas, itu diumpetin dulu."
"Hah, apa?" Rei jadi kaget karena ia fokus memandangi istrinya yang cantik itu.
"Punyanya Mas ... tuh, sudah bangun lagi." Gita menunjuk ke bagian bawah.
"Oh, mau pegang?"
Gita langsung menggeleng cepat.
"Ya sudah, biarkan saja begitu. Kalau diganggu malah keterusan. Nanti nangis lagi."
"Kalau maksa lagi, nanti aku mau mengungsi ke tempat lain. Mas Rei nakal!"
"Salah siapa ngajak duluan?" sindir Rei. "Sudah, cepat berbalik! Biar aku bantu menggosok punggungmu."
Keduanya menyudahi perbincangan. Gita membalikkan badannya, membiarkan Rei membersihkan area punggungnya dengan spons berisi sabun cair. Sesekali tangannya nakal memegang-megang bagian dada. Ia merapatkan tubuhnya dengan sengaja sampai Gita bisa merasakan sesuatu yang keras menekan p4ntatnya.
Pagi itu terasa begitu indah. Kegiatan mandi yang sudah biasa dilakukan rutin juga menjadi sesuatu yang terkesan spesial dan menyenangkan. Kebersamaan mereka di dalam bak mandi menciptakan keromantisan serta kehangatan yang sebelumnya tidak pernah mereka rasakan.
Rei hanya menempel-nempelkan miliknya sembari sesekali memainkan puncak bukit indah sang istri. Meskipun keinginannya sudah membuncah ingin mengulanginya lagi, ia memilih menahan diri. Ia berusaha menghormati Gita yang sepertinya butuh waktu untuk melakukan keromantisan lagi. Mungkin ia harus bersabar sampai malam tiba.
Selesai mandi, Gita kembali digendong oleh Rei ke arah ruang ganti yang masih satu lokasi dengan kamar mandi. Kakinya masih sakit digunakan untuk berjalan.
"Kamu mau pakai baju yang mana? Biar aku ambilkan." Rei menawarkan bantuannya. Padahal dia sendiri sejak tadi juga masih belum memakai apa-apa.
"Blouse dan rok saja, Mas. Sepertinya aku simpan di bagian sebelah situ." Gita menunjuk pada bagian lemari yang dimaksud. Rei segera membukanya. Ia cukup tercengang melihat deretan lingerie yang terpajang di lemari gantung itu.
__ADS_1
"Kamu mau pakai baju tipis seperti semalam lagi, Sayang?"
Gita menoleh. Ternyata ia salah menunjuk lemari. " Ah, bukan di situ, yang sebelahnya!" Ia buru-buru merevisi ucapannya.
Rei tersenyum. "Kamu pintar sekali mengoleksi pakaian seperti ini," pujinya.
"Ririn yang memilihkan, Mas." Dia jadi malu sendiri sudah kepedean membeli banyak lingerie sesuai saran Ririn. Katanya setiap malam usahakan kenakan pakaian tidur yang berbeda-beda, supaya suami tidak cepat bosan. Kini ia malu sendiri karena malam pertama saja ia sudah menangis-nangis kesakitan padahal niatnya mau jadi cewek nakal setiap malam di depan suaminya. Sepertinya ia akan merevisi ucapannya waktu itu dengan Ririn.
"Nanti malam pakai yang merah, ya ... hitam juga boleh." Rei justru kembali menggoda Gita. "Jadi tambah pengin ini."
Gita pura-pura membuang muka, tak berani melihat milik suaminya.
"Aku bantu pakai, ya ...." Rei membawakan dalaman dan pakaian untuk istrinya. Ia membantu sang istri mengenakan pakaiannya. Setelah istrinya berpakaian rapi, barulah ia yang mengenakan pakaiannya sendiri.
"Oh, sepertinya tadi pelayan baru mengantarkan sarapan ke kamar kita." Rei memandang ke arah meja yang ada di kamar sudah ada makanan yang tersaji di atasnya.
"Mas ... tempat tidur kita juga sudah dibereskan." Gita tertegun melihat ranjangnya telah rapi kembali. Kondisi kamar yang menurutnya semalam cukup berantakan juga sudah rapi.
"Mereka biasa membereskan kamar saat pagi. Aku tadi memang tadi menyuruh mereka menyiapkan makanan dan membawanya ke kamar saja supaya kamu tidak perlu repot turun ke bawah."
Gita tertegun mendengarnya. "Tapi kan ada bekas kita semalam, Mas ... malu kalau mereka lihat."
Rei tersenyum. Wanita itu sungguh lucu sampai memikirkan hal yang menurutnya tidak terlalu penting. "Aku sudah membersihkan bagian-bagian yang kena noda, kamu tidak usah khawatir. Lagipula, Bi Minah tidak akan berkomentar apa-apa sekalipun dia lihat. Kita kan sudah menikah, mereka akan menganggap itu sebagai hal yang wajar. Lebih baik kita makan dulu, ayo!"
Rei menarik tangan Gita menuju meja kamar. Ia tarik kursinya dan mempersilahkan Gita duduk baru kemudian ia menarik kursinya sendiri. Makanan lezat yang disajikan pelayan rumah terlihat menggugah selera. Mereka juga sudah cukup kelaparan dan tak sabar menikmati hidangan.
*****
Sambil menunggu update, bisa mampir ke sini ya ..... 😘
Judul: Apa Salahku Tuan?
__ADS_1
Author: Muda Anna