PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
151 " Cinta yang kembali bersatu "


__ADS_3

BEBERAPA BULAN KEMUDIAN


Hari ini hari pernikahan ku sama halnya seperti yang dialami setiap wanita, mereka pasti akan sangat bahagia ketika hari yang telah diimpikannya telah tercapai, tapi kenapa disinilah aku malah sebaliknya aku seperti tidak menginginkan pernikahan ini, kenapa dan apa alasannya?"


Terdiam terduduk memandang dari pantulan cermin rias, dirinya terlihat sangat cantik berbalut kebaya putih yang dikenakannya telah menjadi saksi, jika pernikahan yang banyaknya menjadi setiap orang-orang dambakan kini telah berhasil meluluhkan hatinya bukan rasa bahagia yang hadir, tapi kecewaan yang terlebih dulu menusuk hatinya yang membuatnya air mata itu pun jatuh bercucuran dikedua sudut matanya.


Hadirnya seseorang wanita membuat wanita bernama Putri itu pun akhirnya luluh dalam pelukannya


"Putri kamu kenapa menangis? Berhentilah ucap air mata kamu usaplah!"ucap Nina dengan mengusap air mata Putri.


"Nin apa aku egois karena sejujurnya aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini sampai terjadi? Apa aku egois karena membohongi perasaanku sendiri?"


"Put! Setiap manusia berhak untuk memilih apa yang mereka impikan. Stop sampai disini kamu membohongi perasaan kamu sendiri. Stop sampai disini kamu berkorban untuk orang lain tapi kebahagiaan kamu sendiri terancam . Kamu berhak untuk bahagia kamu sangat berhak untuk bahagia. Kamu masih punya waktu untuk mengakhiri semua ini, jadi katakan kamu sejujurnya tidak pernah suka pada Bimo kan? Katakan yang sejujurnya jika sampai detik ini kamu masih sungguh-sungguh masih mencintainya katakan ayo jujurlah padaku!"


"Aku rasa dengan berkata jujur tidak akan membuahkan hasil. Pernikahan ini hanya menghitung menit, kalau pun aku berkata jujur semua ini tidak akan merubah keadaan, tidak akan! Sejujurnya aku juga masih sangat mencintainya karena hanya wanita bodohlah yang akan diam membohongi perasaannya sendiri, tapi percuma juga aku berkata jujur perkataan ku tidak akan mungkin merubah keadaan apapun tidak akan pernah!"


"Siapa yang bilang tidak akan merubah keadaan?"


Terkejut akan siapa seseorang yang menimpali pembicaraan keduanya. Putri mau pun Nina Pandangannya dikejutkan dengan hadirnya pria tampan berjas putih yang perlahan-lahan mulai menghampirinya dengan langkah pasrahnya.


"Gibran kamu?"timpal Nina.


"Apa yang kamu katakan barusan?"tanya Putri.


"Kedua hati saling beradu. Sejujurnya aku juga masih sangat mencintaimu, hanya perkataan bohonglah jika aku berkata tidak mencintaimu. Jadi sebelum semuanya terlambat kita masih mampu merubah keadaan dan disini ... Hari ini dan tanggal inilah aku orang pertama yang akan membawa kamu kabur dari sini jadi ayo ikutlah denganku!"


"Punya hak apa kamu nekat ingin membawanya kabur? Aku bisa saja melaporkan kamu atas kasus penculikan tapi sayangnya untuk apa aku harus melakukannya jika pada kenyataannya rencana kamu sungguh-sungguh akan gagal. Ayo pergi sudah waktunya untuk berijab kabul!"


"Apa kamu pikir dengan cara memaksanya seperti ini kamu akan mampu membahagiakannya? Bukankah dengan cara pemaksaan yang ada rumah tangga yang akan kalian jalani menjadi keruh saling membohongi perasaan satu sama lain, melihat air matanya akan jatuh setiap harinya apa mungkin rumah tangga seperti itu kamu anggap sebagai rumah tangga bahagia dan harmonis?"

__ADS_1


"Kita tidak ada waktu ayo pergilah!"


Menarik tangan Putri, menggenggam dengan erat tangan mungil itu keduanya mulai turun dari lantai dua bersamaan dengan banyaknya para tamu yang sudah pada hadir menyaksikan semua pemandangan ini.


Tapi terlihat bukan pemandangan kebahagiaan yang terpancar dari kedua calon mempelai, calon mempelai Wanita yang terisak tangis haru pilu bahkan matanya mulai lebam melihat sedari tadi dirinya hanya mampu menangis tanpa berbuat sesuatu.


Sedangkan disisi lain, laki-laki berjas putih hanya menyaksikan pemandangan yang amat sangat menyakitkan melihat wanita yang sangat dicintainya terus saja menangis dengan dirinya tanpa bisa berbuat banyak untuk menolongnya, dirinya ikut menangis dengan buliran air mata yang sama-sama berjatuhan dari kedua sudut mata masing-masing.


Para tamu mau pun teman yang pada hadir menyaksikan sendiri suasana haru pilu yang berbeda dari suasana pernikahan pada umumnya. Gibran yang tidak kuat menahan semua ini, langkahnya berniat akan pergi tapi dengan sigap tangannya telah tertarik akan adanya seseorang yang tiba-tiba menarik tangannya. Rasya ? Iya anak kecil berumur 6 tahunan datang dan melarang Papanya untuk jangan pergi.


Bersamaan dengan penghulu yang bertanya pada calon mempelai pria apakah sudah siap


"Apa ijab kabulnya sudah bisa dimulai?"


"Tunggu! Ada satu hal yang harus aku katakan sebelum ijab kabul ini dimulai, pertama-tama aku sangat berterima kasih pada kalian semua karena pada malam hari ini kalian bersedia meluangkan waktu kalian untuk menghadiri dan memberikan doa pada kita untuk melaksanakan acara ijab kabul ini.


Tapi satu hal yang harus kalian tau ijab kabul malam hari ini bukan sayalah yang akan melakukannya, tapi seseorang yang sangat saya percayai lah yang akan melaksanakan ijab kabul pada malam hari ini dan seseorang itu dia adalah Gibran.


"Rasya sayang bisa bawa Papa kamu kemari?"pinta Bimo pada Rasya, Rasya yang mendapatkan permintaan tangan mungilnya mulai menarik dan menuntut akan langkah Papanya untuk menghampiri Putri telat berhadapan pada penghulu.


"Bimo apa maksud kamu? Apa maksud dari perkataan yang barusan kamu katakan tadi?"


"Jujurlah Put! Sebenarnya ini kan yang kamu inginkan? Kamu sangat menginginkan pernikahan tapi bukan padaku yang akan kamu jadikan sebagai calon suami kamu, tapi gibranlah orang yang sangat kamu dambakan untuk menjadi suami kamu dan sekarang aku mengabulkan permintaan kamu. Aku akui aku salah tidak seharusnya aku egois karena hanya memikirkan kebahagiaan aku sendiri.


Aku sadar jika sejatinya kalian sama-sama saling mencintai tapi bukan Bimo namanya jika dia tidak bisa mempersatukan apa yang sudah seharusnya terjadi. Hubungan kalian pudar tapi hati kalian masih sangatlah nyaman satu sama lain jadi apa mungkin aku harus memutuskan ikatan akan hati kedua kalian.


"Bukan hanya Bimo dan juga teman-teman kamu. Papa dan Mama sendiri juga setuju dengannya, semua ini sudah jadi rencana Papa, Mama dan juga Bimo sejak sedari awal kalian pacaran. Papa sudah pernah hampir kehilangan kamu, kamu putri satu-satunya Papa jadi tidak seharusnya Papa terus menekan dan mengatur-atur kamu.


Kamu berhak untuk bahagia dan dengan Gibran lah orang yang tepat menurut Papa, benar yang dikatakan Bimo cinta memang pada dasarnya saling memiliki, tapi nyatanya tidak semua cinta akan mudah berlabuh pada hati setiap orang. Cinta hanya akan berlabuh dalam rumah pertama dimana cinta itu mulai nyaman maafkan Papa maafkan Papa jika Papa sudah bikin kamu kesal maafkan Papa!"

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak paham jadi semua ini sudah jadi rencana Om, Tante dan juga Bimo untuk mempersatukan kita?"


"Iya Gibran dan dengan bodohnya kamu percaya jika aku sungguh-sungguh akan merebut berlian yang sudah seharusnya jadi milikmu. Dia untukmu jadi sudah seharusnya kamu yang harus memiliki dan menjaganya sekarang,"balas Bimo dengan menepuk pundaknya.


"Sudah ayo tunggu apa lagi kapan ijab kabul ini akan dimulai?"


"Rasanya kita tidak akan mungkin bisa melaksanakannya karena kita belum membuat buku nikah jadi gimana ijab kabul ini akan terlaksana?"tanya Gibran tak percaya.


"Kamu tenanglah sejujurnya sejak sedari tadi buku nikah ini sudah menunggu nama kalian untuk mengisinya." Menunjukkan dia buku nikah warna hijau dan merah, pandangan Gibran mau pun Putri sesekali melirik kearah satu sama lain tak percaya dengan semua yang terjadi keduanya hanya mampu menggelengkan kepalanya.


"Ini bagaimana mungkin?"


"Bukan Revan namanya jika Revan tidak bisa mengatur buku nikah ini. Dan foto kalian kitalah yang menyelesaikannya jadi gimana apa prank kita kali ini sudah berhasil dengan sangat sempurna?"


"Aku tidak tau harus berkata apalagi ini sungguh-sungguh berbeda dari dugaan-ku


"Aku sekarang jadi kepikiran sama Revi? Di-dunia ini tidak akan ada seorang wanita yang mau dimadu jadi aku tidak mungkin mengkhianati Revi hanya demi kebahagiaan ku sendiri?"


"Kamu tidak akan menghancurkan kebahagiaan siapa-siapa Put? Gibran dan juga Revi sudah bercerai 2 bulan yang lalu jadi sekarang dia duda kamu berhak untuk mendapatkan kebahagiaan ini kamu sangat berhak. Aku rasa kita tidak seharusnya menunda-nunda ijab kabul jadi cepat gibran laksanakan tugas kamu!"


"Aku sangat bersalah sama kamu Bim? Selama ini aku merasa kamu pria bodoh tidak punya hati yang hanya mampu memikirkan kebahagiaan kamu sendiri, tapi sadar dengan semua yang terjadi sekarang aku sangat malu! Aku sangat malu untuk berhadapan seperti ini sama kamu?"


"Kamu tidak perlu malu padaku. Apa yang aku lakukan semua ini hanya untuk Putri, kita berteman sejak kita duduk di bangku kuliah. Aku tau betul seperti apa Putri, jadi aku sadar diriku hanya pantas untuk dijadikan sebagai abangnya, jadi sudah lakukan apa yang sudah seharusnya kamu lakukan mari ucapkan ijab kabul sekarang!"


"Sekarang aku tidak tau harus ngomong apa. Sama halnya seperti yang Gibran katakan aku pun malu untuk memandang kamu Bim. Jika kita tidak ditakdirkan berjodoh setidaknya kamu masih mau menganggap ku sebagai adik kamu kan? Adik yang akan selalu ada untuk abangnya dan Abang yang akan selalu ada untuk adiknya disaat sang adik sedang membutuhkan ruang untuk curhat?"


"Selama ini pun aku sudah menganggap kamu seperti adik kandungku sendiri. Jika nanti Gibran berani melukai hati kamu katakan padaku biar aku yang akan memberikan dia perhitungan. Kamu berhak untuk bahagia jadi kembalilah pada cinta yang sudah seharusnya jadi milikmu kembalilah!"


Menatap kembali kearah satu sama lain. Gibran mau pun Putri yang sama-sama tidak percaya dengan semua ini, keduanya hanya mampu menitihkan air matanya, tak percaya jika cintanya akan kembali bersatu seperti halnya seperti yang mereka inginkan sejak sedari dulu.

__ADS_1


BEBERAPA EPISODE MENUJU EPISODE TERAKHIR


BERSAMBUNG.


__ADS_2