PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
PERNIKAHAN ARDI DAN SELENA 2


__ADS_3

"Mau aku bantu lepaskan?" Ardi mencium pipi Elen, wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya. Ia menawarkan bantuan ketika memperhatikan istrinya kesulitan melepaskan riasan yang menempel di rambutnya.


Elen membiarkan Ardi membantunya melepas ornamen yang terpasang di rambutnya. Setelah semuanya terlepas, rambut panjangnya juga disisir secara perlahan seakan tidak ingin ia kesakitan.


Suasana canggung kembali menghinggapi ketika dirasa tak ada obrolan yang bisa diucapkan. Meskipun bukan pertama kali bertemu, akan tetapi berduaan di satu kamar dengan predikat suami istri tentunya tetap membuat grogi.


"Mau aku bantu lepaskan sekalian pakaiannya?" Ardi mendekatkan wajahnya pada sisi Elen, keduanya sama-sama saling menatap ke arah cermin. Tampak wajah Elen memerah karena malu.


"Aku akan menggantinya sendiri di kamar mandi," tolak Elen.


Ardi mengeryitkan dahinya. Ia berpikir sudah berusaha memperlakukan Elen dengan penuh perhatian, tapi wanita itu seakan tidak nyaman dengan perlakuan yang diberikannya. "Apa kamu takut?" tanyanya.


Elen hanya menunduk sembari memainkan jemarinya.


"Ini malam pernikahan kita. Apakah kamu tidak nyaman bersamaku?" Ardi sudah berjanji akan memperlakukan Elen dengan baik, memberikan cinta dan perhatian seperti layaknya seorang suami meskipun tujuan Elen mau menikah dengannya hanya karena ingin dibiayai kuliah. Ia berharap bisa menjalin hubungan suami istri yang harmonis meskipun untuk waktu yang sementara. Akan tetapi, Elen terlihat risih dan canggung setiap kali ia berusaha berbuat baik.


"Kalau memang kamu tidak nyaman dengan keberadaanku, aku akan memilih kamar lain untuk tidur malam ini. Kamu bisa beristirahat di sini dengan nyaman, ya. Aku keluar dulu." Ardi mencium puncak kepala Elen sebelum melangkah pergi.


"Mas!" seru Elen seraya berdiri dari duduknya. Seruannya membuat langkah Ardi terhenti dan berbalik memandangnya. Wanita itu tampak ragu untuk bicara. Ia masih memainkan jemarinya sembari menundukkan pandangan.


"Kamu butuh apa?" tanya Ardi.

__ADS_1


"Mas Ardi bisa tidur di sini, kok," ucapnya dengan nada lirih. Elen berkata seperti itu dengan malu dan canggung.


"Tidak apa-apa, kalau kamu merasa sungkan, aku tidak masalah tidur di kamar lain. Kamu tidak perlu memaksakan diri." Melihat tingkah Elen, Ardi berkata seperti itu agar Elen tidak sungkan membiarkannya pergi.


"Aku tidak merasa keberatan Mas Ardi tidur di sini. Aku hanya gugup saja, Mas. Bukan berarti aku terganggu dengan keberadaan Mas." Elen mencoba memberanikan diri mengatakan kejujuran dalam hatinya. Ia mengangkat kepalanya seraya memberikan tatapan kesungguhan kepada suaminya.


Melihat raut wajah istrinya, menggerakkan Ardi untuk melangkah mendekat lalu memeluknya dengan lembut. "Bagaimana ini? Tujuanku ingin keluar juga karena sepertinya aku bisa saja melakukan sesuatu yang mungkin tidak akan kamu sukai. Apapun alasan kita menikah, aku tetap seorang lelaki. Melihat wanita cantik di hadapannya, memakai gaun pengantin yang indah setelah selesai ijab qobul, tentu saja ada keinginan dalam diriku untuk menyentuhmu sepanjang malam."


Elen tertegun mendengar ucapan Ardi. Ia bingung ingin memberikan jawaban apa. Dia sendiri belum yakin dengan perasaannya. Elen belum tahu apakah ia siap untuk menjalani kehidupan pernikahannya secara normal meskipun tujuan awal mereka bukan untuk cinta.


Ardi menikahinya karena rasa tanggung jawab karena telah merenggut mahkotanya. Sedangkan Elen, menikah karena butuh biaya yang besar untuk menyelesaikan kuliahnya. Elen mencoba kembali pada keinginannya untuk membuat Ardi bisa jatuh cinta kepadanya. Jika dia bersikap dingin, suami tentunya tak akan memperhatikannya.


"Kalau kamu memang tidak berkenan, lepaskan saja pelukan ini. Maka aku akan segera pergi." Ardi memberikan pilihan.


"Kamu yakin?" Ardi memastikan dirinya tidak memberikan paksaan bagi Elen.


Elen mengangguk.


"Setelah ini, kamu tidak bisa berubah pikiran lagi. Laki-laki sulit untuk mengendalikan keinginannya setelah dibangunkan. Lalu, kamu akan menjalani malam-malam seperti ini selama menjadi istriku. Apa kamu siap?" Ardi masih memberi kesempatan bagi wanita di hadapannya untuk memantapkan pilihannya.


"Aku siap, Mas. Aku siap menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri." Elen mengatakannya dengan wajah begitu memerah. Wajah malu-malu yang justru membuat Ardi semakin tidak sabaran untuk mencum*bunya malam ini.

__ADS_1


Satu ciuman lembut mendarat di bibir Elen. Gerakannya sangat lambat, perlahan menyisir area bibir mungil itu dengan sesekali memberikan gigitan ringan. Ketika mulutnya terbuka, memberikannya izin untuk memainkan lidahnya, menyusuri rongga dan mengabsen gigi gerigi. Saat lidah mereka saling bertaut, sesekali terdengar suara desa*han manja yang menjadi pertanda semakin meningkatnya gair*ah keduanya.


Ardi menghentikan ciumannya, sekali lagi menatap dalam wajah istrinya. Helaian rambut yang menutupi wajah ia singkirkan. "Aku bantu melepaskan pakaianmu, ya!" ucapnya lembut.


"Biar aku lepas di kamar mandi saja, Mas. Sekalian mau menghapus make up di wajahku."


"Tidak perlu. Aku suka melihatmu cantik dengan make up. Nanti saja kalau mau dibersihkan. Sepertinya aku tidak akan sabar untuk menunggu."


Mendengar permintaan suaminya, Elen tak kuasa menolak. Ia berbalik badan membiarkan Ardi membukakan satu per satu kancing kebaya yang dikenakannya. Rasanya tetap membuat gugup meskipun hari ini buka malam pertama untuknya.


Tak butuh waktu yang lama, seluruh kancing kebaya berhasil dilepaskan. Gaun indah itu diloloskan begitu saja melewati tubuh langsingnya hingga tersisa pakaian dalam saja. Kaitan br*a tanpa tali ikut Ardi lepaskan dengan mudah. Membuat Elen memejamkan matanya ketikan dua gundukannya terekspose sempurna. Ia tidak berani melihat dirinya sendiri.


Elen merasakan tubuh Ardi yang merapat padanya. Tangan Ardi meraba-raba area dadanya dengan perlahan, membuat ia semakin tidak berani untuk membuka mata. Ia malu.


"Mas ...," rengek Elen ketika kedua puncaknya dimainkan.


"Istriku cantik sekali." Ardi menciumi area tengkuk serta leher Elen tanpa menghentikan aktivitas tangannya.


Perlakuan Ardi membuat Elen meremang seakan seluruh tubuhnya dipenuhi dengan sengatan-sengatan listrik yang menjalar. Gerakkan tangan Ardi semakin turun ke bawah menyusuri area perut, pusar, dan berakhir pada daerah yang masih tertutup oleh kain berbentuk segitiga dengan model tali samping yang memudahkan Ardi untuk melepaskan selembar kain itu.


Ia raba area bawahnya yang sudah mulai basah akibat dari sentuhan mesranya. Dimainkannya sedikit bagian yang ada di sana sampai membuat Elen mengeluarkan suara-suara yang semakin menambah gai*rahnya.

__ADS_1


Ardi tak puas mengganggu istrinya sedikit. Ia terus menggodanya dengan memainkan jemarinya sampai wanita itu merengek tidak tahan. Akhirnya Elen mendapatkan pelepasan pertamanya hanya dengan sentuhan tangan suaminya.


Tubuh Elen hampir limbung jika tidak ditahan oleh Ardi saking lemasnya. Tatapannya sayu seakan ingin marah karena suaminya sudah berbuat nakal padanya. Sementara, Ardi hanya tersenyum-senyum dengan hasil ulahnya.


__ADS_2