PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
FITTING BAJU PENGANTIN


__ADS_3

Melvin menarik tangan Ruby dan memeluknya seakan ia tidak rela wanita itu pergi meninggalkannya.


"Nanti malam datang ke apartemenku." ucapnya.


"Tapi aku akan makan malam dengan keluarga Kak Ardi juga." tolak Ruby.


"Kalau begitu setelah kalian makan malam, pulang ke apartemenku." Melvin berusaha ngeyel mempertahankan pendapatnya.


"Aku sudah sangat kelelahan seharian mondar-mandir ke ruangan ini." Ruby tampak menghela nafas.


"Aku orang yang bertanggung jawab, nanti aku pijiti supaya lelahmu hilang." godanya.


Ruby langsung mendorong tubuh Melvin lalu melingkarkan tasnya ke pundak. "Aku pergi dulu!" pamitnya.


"Kalau kamu tidak datang, aku yang akan datang ke apartemenmu!"


Rubu tak mendengarkan ucapan Melvin. Ia berjalan lurus leluar dari ruangan itu.


"Anda sudah selesai?" tanya Tomi.


Ruby jadi risih setiap kali keluar dari ruangan itu dan ditanya-tanya olehnya.


"Sudah, Tomi. Kamu masuk saja ke dalam karena aku juga mau pulang." ijinnya.


Ruby berjalan lurus menuju ke arah lift. Ketika pintu terbuka, ia masuk ke dalamnya dan menutup kembali pintu lift itu. Setibanya di lobi, seperti biasa, Ardi sudah berdiri di sana menyambutnya. Kedatangan Ardi bukan hal yang mengejutkan lagi. Seisi kantor sudah tahu kalau mereka sudah bertunangan dan akan segera menikah.


Meskipun nantinya mereka akan menikah secara sederhana saja, sesuai kesepakatan yang telah dua pihak keluarga setujui. Ardi dan Ruby sama-sama menginginkan pernikahan biasa, hanya akan dihadiri kerabat dekat meskipun beritanya tetap akan menyebar luas karena dua perusahaan besar juga akan bersatu dengan pernikahan mereka.


"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi kepadamu. Meskipun aku tidak enak hati merepotkanmu, aku tidak berencana memintamu mundur. Maafkan aku." ucap Ardi sembari tetap fokus pada kemudinya.


Seandainya kondisi ibunya tidak separah itu, Ardi pasti sudah melepaskan Ruby untuk pergi. Sebagai seorang anak, ia ingin menyenangkan hati orang tuanya bagaimanapun caranya. Meskipun ia harus berbohong.

__ADS_1


Ibunya menginginkan ia mendapatkan pendamping hidup sebelum ia pergi dan wanita yang sesuai dengan kriteria itu ada dalam diri Ruby. Ibunya sudah jatuh cinta lebih dulu kepada Ruby sejak pertemuan pertama.


Setelah acara makan malam dengan keluarga Wijaya, ibunya tak henti-hentinya memuji Ruby. Seolah tak ada wanita lain yang lebih baik dari putri keluarga Wijaya itu. Bahkan, sikap sayangnya kepada Ruby melebihi sayang kepada anak kandungnya. Bisa dimaklumi, tiga orang anak Sukma laki-laki semua dan Ardi adalah anak bungsunya.


"Ini memang kemauanku sendiri, Kak. Kamu tidak perlu merasa bersalah. Aku juga melakukan ini untuk Tante Sukma."


Ardi menghela nafas. Hampir saja air mata keluar dari matanya. Sebagai anak bungsu, kedekatan dengan ibunya merupakan sesuatu yang sangat erat. Ibunya saja bisa menyukai Ruby, apalagi dirinya. Wanita yang dia suka saat ini ada di sampingnya. Sayangnya, wanita itu tak memiliki perasaan yang sama dengannya.


Mobil yang Ardi bawa berhenti di sebuah butik besar. Hari ini Ruby memenuhi undangan Tante Sukma untuk melakukan fitting gaun pengantin.


Meskipun kondisi fisiknya tidak terlalu baik, tapi semangat Sukma untuk mempersiapkan pernikahan putranya begitu besar. Ia sampai sibuk memikirkan gaun pengantin seperti apa yang akan dikenakan oleh calon menantunya.


Ruby menyalami Sukma serta mencium pipinya seperti yang biasa ia lakukan setiap mereka bertemu. Karena kebiasaan itu, Sukma sampai luluh dan menyukainya.


"Maaf ya, membuat Tante menunggu lama. Saya sampai lupa ada janji karena banyak kerjaan di kantor."


Ruby memandang wanita tua di hadapannya. Kondisinya tampak semakin memburuk, tubuh Tante Sukma bertambah kurus dan wajahnya pucat. Meskipun demikian, ia tetap berusaha terlihat kuat di depan orang-orang.


"Maaf, Bu. Ini siapa yang akan mencoba gaunnya? Kami sudah siap." salah seorang staf butik memberikan pemberitahuan.


"Oh, iya. Ini menantu dan anak saya yang akan mencobanya."


Sukma mendorong Ruby agar maju dan mengikuti staf tersebut masuk ke dalam ruang fitting utuk mencoba gaun yang sudah dipesan. Ardi juga ikut masuk, namun ke dalam ruangan yang berbeda.


Sukma menunggu di luar ditemani oleh kedua perawat yang setia menemaninya. Sementara Ruby di dalam memasrahkan dirinya dipasangi pakaian pengantin oleh para pegawai butik. Wajahnya juga dipoles dengan make up yang cocok dengan gaunnya.


Ardi hanya perlu mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian penganti pria. Wajahnya yang masih tampak segar tidak perlu ditimpa dengan bedak. Ia lebih dulu keluar dari bilik. Ibunya mengacungkan jempol sambil tersenyum. Senang sekali melihat putranya mengenakan setelan jas pengantin. Serasa tidak sabar untuk melihatnya benar-benar berada di atas pelaminan.


Beberapa saat kemudian, tirai yang menutupi bilik Ruby dibuka. Ruby muncul dengan riasan dan dan gaun pengantinnya. Membuat Sukma dan Ardi tercengang. Baru mencoba gaun saja dia sudah kelihatan sangat cantik. Ardi sampai khilaf beberapa lama tak mengedipkan mata saking kagumnya.


"Bagaimana, Tante?" tanya Ruby meminta pendapat. Ia tidak terlalu percaya diri mengenakan gaun pengantin model off shoulder yang mengekspose bagian pundaknya.

__ADS_1


"Calon menantuku cantik sekali .... " Sukma sampai tak melepas senyumnya saking senang melihat Ruby dalam balutan gaun pengantin di hadapannya. "Ardi saja sampai bengong, karena kamu sangat cantik, Sayang." lanjutnya.


Ardi langsung tersadar. Ia malu karena ditegur ibunya.


"Kita foto bersama dulu, ya .... " pinta Sukma dengan penuh semangat. Tiba-tiba ia seperti menjadi orang yang langsung sehat. Ia menyerahkan ponsel miliknya kepada salah satu pelayan agar membantu mengambilkan foto mereka.


"Ardi, kamu juga ikut ke sini! Kita foto bersama!" panggilnya.


Ardi menuruti permintaan Sukma. Saat ia harus berdiri di sebelah Ruby, ia jadi sedikit salah tingkah. Wanita itu terlalu cantik sampai ia sungkan untuk memandangnya.


Orang yang terlihat paling bahagia di sana sepertinya Tante Sukma. Berulang kali ia menyuruh pelayannya untuk mengambil foto mereka. Berbagai gaya dilakukan hanya untuk berfoto.


"Sekarang kalian foto berdua, ya. Ardi, mama yang mau ambil foto kalian." pinta Sukma.


Ardi dan Ruby saling berpandangan dan kikuk.


"Ayo, kalian lebih dekat sedikit, masa foto pengantin jauh-jauhan .... " protes Sukma.


"Ruby, Maaf, ya .... " ucap Ardi seraya melingkarkan tangannya di pinggang ramping Ruby.


Mereka berusaha berpose sesuai kemauan Sukma.


"Ardi ... Ruby dicium yang mesra. Mau menikah kok kelihatan kaku!" mungkin mamanya adalah fotografer paling cerewet yang pernah ia temui.


"Hah! Mamaku permintaannya sudah berlebihan." gumam Ardi.


"Tapi Tante kelihatan jadi tambah sehat."


"Tolong tahan sebentar ya, Ruby. Kalau kita tidak melakukannya, mama tidak akan berhenti mengomel."


Ardi memeluk Ruby dan mencium pipinya. Ruby berusaha santai untuk menghapus kecanggungan yang ada.

__ADS_1


*****


__ADS_2