PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
PAK ALBEN GILA


__ADS_3

"Totalnya Dua Ratus Lima Puluh Ribu," ucap kasir kafe setelah menghitung harga minuman yang Ruby pesan.


Ruby menyodorkan sejumlah uang yang disebutkan kasir. Ia menerima cup holder berisi 10 gelas kopi yang sengaja ia pesan untuk anak buahnya. Ia ingin memberikan minuman sebaagai bentuk rasa terima kasih atas kerja keras mereka beberapa waktu ini.


Ia keluar dari kafe dengan perasaan bahagia, selain karena kehamilannya, juga karena pekerjaannya akhir-akhir ini terasa menyenangkan. Ia tidak terlalu banyak bekerja setelah Melvin menyuruh Tomi menangani sebagian pekerjaannya. Semenjak kehamilannya, Melvin jadi lebih protektif dan perhatian. Masih diizinkan bekerja sana Ruby sudah bersyukur. Ia akan sangat bosan jika hanya menghabiskan waktu di rumah.


"Darimana?"


Ruby menghentikan langkah. Saking asyiknya berjalan Ruby sampai kaget saat ada seorang lelaki yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Lagi-lagi ia harus bertemu dengan Pak Ben. Baru saja ia menikmati ketenangan hidup, tidak ikut mengurusi masalah promosi, tidak perlu bertemu dengan Pak Ben, tapi sekarang harus berpapasan dengannya di jalan.


"Saya baru membeli minuman untuk teman-teman. Kenapa, Pak? Apa ada urusan dengan saya?" Ruby pura-pura bersikap biasa di depan orang itu. Kalau menuruti kata hatinya, ia ingin marah-marah kepada lelaki yang sudah mengganggu perjalanannya.


"Kamu sengaja menghindariku?" Pak Ben melipat tangannya di dada dengan tatapan mata kesal yang diarahkan padanya.


"Maaf, Pak. Maksudnya apa? Saya tidak ada waktu untuk basa-basi."


"Kenapa kamu keluar dari tim perencanaan promosi produk perusahaanmu?"


Ruby sudah mengira Ben akan menanyakan hal itu. Kalau boleh jujur, itu karena memang dia ingin menghindari Ben. Melvin tak akan suka jika tahu ia istrinya berpapasan dengannya di jalan.


"Sejak awal saya memang tidak ada dalam tim promosi, Pak. Waktu itu saya hanya menggantikan karyawan yang tidak bisa datang sekaligus mengecek progres pembuatan iklan."

__ADS_1


Ben kecewa mendengarnya. Ia sengaja meluangkan waktu setiap hari ke tempat syuting ataupun promosi hanya berharap bisa bertemu Ruby. Mantan mahasiswinya itu benar-benar tidak bisa ia lupakan. Selama berada di luar negeri, tak seharipun ia melupakan wajah cantik Ruby. Apalagi saat tanpa sengaja ia melihat wanita itu melepas baju di toilet.


Hasrat unruk mendapatkan Ruby sangat tinggi. Sekalipun ia tahu bahwa Ruby telah memiliki suami, Ruby anak orang kaya, perasaannya tak berubah sedikitpun. Setelah pulang dari luar negeri, hal yang dilakukannya adalah mencari keberadaan Ruby. Sayangnya, ia sulit menemukannya.


Ketika Ben kembali bisa berjumpa dengan Ruby, ia semakin percaya bahwa mereka berjodoh. Walaupun Ruby telah menikah, ia tak peduli asalkan ambisinya terpenuhi. Kali inipun sama. Terbersit rencana jahat untuk membuat Ruby menjadi miliknya.


Ruby melirik ke sekeliling. Sialnya daerah di sekitar sana sangat sepi. Sejak tadi tidak terlihat orang yang berlalu lalang. Ia punya firasat kurang baik.


"Ikut aku!" Ben menarik kasar tangan Ruby dan membawanya masuk ke dalam bangunan tua tak berpenghuni yang ada di dekat sana.


Ruby yang tidak sudi mengikuti kemauan Ben, menepis genggamannya dan berniat lari dari sana. Sayangnya, Ben lebih dulu mencegahnya. Tubuh Ruby kembali ditarik dan didorong hingga punggungnya membentur tembok.


"Jangan gila ya, Pak! Saya sudah menikah!" Ruby menatap nyalang ke arah Ben. Nada bicaranya menyiratkan kekesalan yang mendalam terhadap lelaki itu. Selain melindungi diri sendiri, ia juga harus melindungi kedua calon bayi yang ada di dalam kandungannya.


Ruby menggerakkan tangannya hendak menampar Ben. Lelaki itu berhasil meraih tangannya dan menahannya.


"Kamu semakin berani saja, ya ... aku jadi semakin suka. Sejak dulu, kamu memang sangat sulit dijinakkan." Dari sekian banyak mahasiswi yang ia dekati, hanya Ruby yang tidak tertarik padanya. Biasanya, sekalipun mereka tak menyukai Ben, tapi mereka tetap menuruti kemauan Ben. Banyak juga wanita yang menawarkan dirinya kepada Alben.


Ruby masih berusaha melawan, akan tetapi tenaga Alben lebih kuat darinya. Bukannya bisa terlepas, ia semakin terkungkung dalam jeratan mantan dosen me*sum itu. Alben mengunci tubuhnya hingga ia tak bisa bergerak.


Dengan kasar, lelaki itu berusaha melabuhkan ciuman di bibir Ruby yang terus saja ingin mengelak. "Kenapa sih, kamu sulit sekali untuk menurut? Padahal kalau kamu mau menurut, aku tidak akan menyakitimu."

__ADS_1


"Kalau Kak Melvin tahu, Bapak harus siap-siap menerima resikonya!" Ruby sangat kesal mendapat perlakuan seenaknya dari Ben.


"Hahaha ... baguslah! Aku sangat ingin dia segera tahu kalau istrinya sudah aku ajak bercinta. Apakah dia akan tetap membelamu, atau justru akan membuangmu?"


Ben kembali memaksa ingin menciumnya. Ruby sekuat tenaga melawan dan bisa lepas darinya. Saat ia hendak berlari, kakinya tersandung batu bata hingga tubuhnya terjatuh dan kakinya terkilir. Minuman yang dibelinya jatuh berserakan ke tanah. Ia berusaha menyeret tubuhnya menghindari Ben yang kembali mendekatinya.


"Jangan, Pak!" Ruby ketakutan memperhatikan sorot mata Ben yang sudah berkabut diliputi naf*su.


Seperti yang ia duga, lelaki itu tak mendengarkannya. Ia menindih paksa tubuhnya dan menciuminya seenak hati. Kedua tangannya ditahan agar tidak memberontak.


"Tolong ... tolong ... tolong .... hmmph!" Suara teriakannya terhenti setelah Ben berhasil memagut bibirnya. Ciumannya sangat brutal sampai membuat air mata Ruby mengalir di pipinya.


Rasanya lebih baik mati daripada menyadari dirinya yang sedang dilecehkan oleh manusia bejat yang sejak dulu selalu berusaha mengusik kehidupannya. Ia memikirkan tentang Melvin dan juga tentang bayi di dalam kandungannya. Sementara, saat ini ia seperti orng yang terlihat pasrah dengan perlakuan Ben.


Padahal bukan kemauannya untuk tidak melawan. Sekujur tubuhnya kaku tak bisa digerakkan. Belum lagi tenaga Ben yang jauh lebih kuat daripada dirinya.


"Hentikan, Pak! Saya mohon!" Teriak Ruby saat bibir Ben mulai menyisir area telinga dan lehernya. Setiap kecupan yang diberikan diiringi isakan tangis serta umpatan yang meluncur dari bibirnya. Ia tidak sudi tubuhnya dinikmati oleh lelaki selain suaminya sendiri.


"Sudah lama aku menantikan saat-saat seperti ini. Meskipun tempatnya sangat kotor, aku yakin akan menjadi permulaan yang indah bagi kita."


Ruby menanggapinya dengan tangisan tersedu-sedu. Tempat mereka beradu memang hanya bangunan tua yang dipenuhi debu. Bahkan di jam-jam seperti itu, jarang ada orang lewat karena masih terhitung jam kerja.

__ADS_1


"Bahagia sekali Melvin bisa menyentuhmu setiap hari. Padahal seharusnya sejak awal kamu hanyalah milikku. Kenapa kamu bisa menyukai anak nakal seperti Melvin, hm?"


"Kalian harus cepat bercerai. Aku akan melakukan apapun demi mendapatkanmu. Termasuk dengan cara licik seperti ini. Lihat saja, Melvin tidak secinta itu padamu. Dia pasti akan sangat kecewa padamu."


__ADS_2