
Perjalanan mereka yang sudah menempuh jarak sekitar hampir 30 menit lamanya. Akhirnya tak lama kemudian mereka bisa lega lantaran bisa sampai tepat waktu disekolah mereka.
Sesampainya mereka di SMA Cenderawasih Putri, Gibran dan juga Reza yang sampai didepan pagar, mereka berdua pun hanya terdiam,tidak berniat inggin melangkahkan kakinya untuk memasuki SMA ini.
"Kalian? Apa yang kalian tunggu kenapa kalian hanya diam saja, ayo masuklah!"perintah Putri yang akhirnya membuat Gibran pun angkat bicara.
"Putri mana kuncinya kita tidak bisa masuk kalau dalam keadaan tangan kita yang masih terborgol seperti ini, jadi cepat berikan kunci itu pada kita, ayo?"
"Iya Putri mau ditaruh dimana ini muka gue kalau mereka semua tahu kondisi kita sekarang ini, jadi jika kamu tidak mau kita dapat malu cepat berikan kuncinya ke kita please?"balas Reza dengan menunjukkan wajah memelas-nya.
"Astaga kalian ini badan dan tampang aja yang keren, giliran baru diborgol kaya gini aja kalian udah nyerah, sudahlah apa yang sudah aku katakan, maka tidak segampang itu aku juga bisa menghilangkannya, jadi jangan banyak bertanya dan ngeles kalian ayo cepat kalian masuklah sebentar lagi bel bakal berbunyi jadi jangan banyak alasan kalian, ayo masuklah!"perintah Putri sambil mendorong kedua tubuh pria yang ada dihadapannya itu.
Bak seperti pengembara domba kedua pria itu pun dengan nurutnya menuruti apapun yang dikatakan Putri, bahkan mereka juga tidak bisa lagi membantah ataupun berusaha untuk memberontak lagi. Ya semua itu mungkin terjadi karena atas dasar satu yaitu cinta.
Melangkahkan kakinya dihalaman SMA Cenderawasih ini mereka pun sudah disambut dengan adanya mata -mata yang sudah pada tertuju kearah mereka. Bahkan bukan hanya satu ataupun dua mata yang sedari tadi sedang memperhatikan mereka tapi ada banyak sekali mata yang sedang memperhatikan langkah mereka saat ini.
Dan bagaimana mungkin orang-orang tidak pada memperhatikan mereka, jika apa yang mereka lihat saat ini sama seperti mereka yang melihat pemandangan yang sangat langka,tak mungkin akan mereka lihat lagi nantinya, pemandangan seperti inilah yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Hal pertama yang bikin mereka takjub melihat pemandangan ini adalah jika dulu yang mereka lihat Gibran dan Reza adalah dua pria yang sama sekali tidak pernah akur satu sama lain. Bahkan bisa dibilang mereka ada musuh kebuyutan, tidak ada satu ucapan yang akan terlontar diantara mulut keduanya jika mereka yang tidak sengaja bertemu.
Setiap kali mereka bertemu pasti hanya satu hal yang akan mereka lakukan yaitu pertengkaran. Dan juga perkelahian entah itu masalah besar mau pun kecil. Tapi apa yang mereka lihat saat ini nampak berbeda dari yang dulunya gimana mereka melihat Gibran dan juga Reza yang sedang berjalan bersandingan.
"Ini aku gak salah lihat kan mereka jalan bareng?" ocehan seseorang wanita yang sangat percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
"Iya ini bagaikan mimpi? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, apa mereka sudah jadi sahabat sekarang?" balas teman satunya.
"Entahlah, tapi aku lebih senang melihat mereka akur kaya gini?"
__ADS_1
"Iya gue juga sama kaya lo!"
"Lo lihat kan banyak mata yang sedang memperhatikan langkah kita, mau ditaruh dimana muka gue ini?" gumam Reza.
"Ya elah gitu aja ribet, kalau lo bingung muka lo mau ditaruh dimana? Taruh aja didepan atau dibelakang kan bisa, gitu aja repot!" Sindir Gibran.
"Apa sih lo ngikut-ngikut aja dasar!"gertak Reza.
"Udah kalian ini jangan mulai ribut lagi kenapa. Aku kasih tahu sama kamu ya Rez apa yang kamu lihat ini, tidak seperti apa yang ada dipikiran kamu saat ini. Tuhan memberikan kita sebuah anugerah sepasang bola mata ini, kan gunanya agar kita bisa melihat setiap pemandangan yang ada di alam ini, jadi kamu jangan ributkan soal itu?"
"Iya tau nih dia lebay amat jadi orang?" sindir Gibran.
"Apa sih lo!"balas Reza dengan juteknya.
bukan hanya dihalaman sekolah saja mereka yang jadi bahan perhatian tapi mereka yang berjalan melewati koridor sekolah menuju ke kelas, mereka pun masih banyak orang yang masih terus memperhatikan langkah mereka. Dan sesampainya mereka di kelas.
"Revi maaf apa kamu bisa tukar tempat duduk, kan sekarang mereka lagi terborgol tangannya, jadi gak mungkinlah kalau mereka bakal berduduk bertiga sama kamu?"tanya Putri yang kemudian menghampiri Revi yang sedang terduduk dibangku.
"Iya gak papa kok Rev, ya sudah kalian duduklah disini, ingat jangan bertengkar?"
"Si Putri kaya lagi menasehati anak TK aja ya?" ledek teman sekelasnya yang akhirnya membuat mereka semua tertawa, sedangkan reza dan Gibran hanya bisa berpasrah diri.
"Gibran apa yang terjadi pada kalian, kenapa kalian bisa terborgol seperti ini, kalian gak habis melakukan kejahatan kan?" tanya Verrel dengan wajah seriusnya.
Putri yang mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Verrel kepada Gibran. Putri pun hanya terdiam dan menahan senyumnya, sembari berusaha bersikap biasa.
"Jika kamu inggin tahu apa yang terjadi pada kita, lo tanya aja sama orangnya noh?" sahut Reza yang langsung menunjuk kearah Putri yang sedang terduduk santai tanpa memperdulikan mereka.
__ADS_1
"Hah..Putri. kok jadi Putri?" jawab Verrel yang terkejut.
"Tapi ada baiknya juga sih kalian diborgol seperti ini, biar kalian itu tidak ribut-ribut terus. Karena jujur saja gue tuh bosen lagi lihat perdebatan kalian yang tak ada habis-habisnya, dengan kamu diborgol seperti ini, kan kelihatan tentram dan adem gini lihatnya, ya kan Dav?"
"Yoi yang kamu katakan memang benar saga, memang mereka harus diperlakukan seperti ini biar kapok, thank ya Putri lo udah membantu kita buat nenangin mereka ini?"
"Iya sama-sama aku juga senang lagi kalau melihat mereka akur gini, jadi ini alasan aku kenapa aku memborgol mereka?" sahut Putri.
"Tega lo putri terus nanti kalau kita mau makan gimana? Lo yang memborgol tangan kita, jadi kalau gue mau makan nanti, lo harus siap sua'pin kita ya?" tanya Reza dengan pura-pura mengeluarkan wajah polosnya.
"Ya elah ngapain harus Putri, gue kan bisa sua'pin lo?" sahut Gibran selanjutnya.
"Ogah gue disuapin sama lo, yang ada gue gak bakal kenyang, yang ada tambah enek lagi. Karena lihatin muka nyebelin lo!"sahut Reza.
"Terus kalau nanti kalian mau ke toilet gimana? Apa mungkin kalian akan ke toilet berbarengan?" tanya David yang seketika membuat ekpresi Gibran dan Reza pun seketika berubah.
"Yahh gue lupa itu kan masalah yang paling besar. Karena itu menyangkut soal mental dan harga diri gue nantinya, jadi gue tegaskan ke elo, lo jangan banyak minum. Karena gue gak mau ke toilet bareng sama lo, yang ada lo ngelihatin lagi nanti,jadi lo paham kan?"
"Idih kepedean banget siapa juga yang mau ngelihatin punya lo, gue masih waras lagi?" Sahut Gibran.
"Baguslah kalau gitu,"balas Reza.
"Ini tidak bisa dibiarkan gara-gara si anak pembunuh itu, kedekatan Gibran dan juga Reza udah mulai akrap lagi, bahkan gue bisa lihat sekarang mereka lebih akrap dari pada yang dulunya sebelum ada si anak pembunuh ini menginjak kaki di SMA ini, jadi gue harus melakukan sesuatu agar mereka kembali bertengkar kaya dulu. Karena gue gak mau kalau mereka akan akur dan akan jadi pelindung buat dia.
Dan ternyata teror yang aku berikan kemaren ternyata belum juga mampu membuatnya menggalami depresi. Dan ketakutan setengah mati, jadi kayaknya aku harus menggunakan cara lebih licik lagi untuk anak pembunuh ini.
Sekarang lo bisa berbangga diri anak pembunuh, tapi lihat saja nanti apa yang inggin gue lakuin ke elo dan juga keluarga lo?" batin Sally dengan tersenyum sinis, menatap secara tajam kearah Putri.
__ADS_1
"Ternyata semakin lama mereka tambah semakin dekat sama Putri, jika seperti ini caranya maka sangatlah sulit bagiku untuk membuat Gibran mencintaiku. Dan apa sih kelebihan yang dimiliki Putri sampai Reza dan juga Gibran yang bisa sampai segitu bisa terobsesi untuk memilikinya," batin Revi yang mulai penyimpan dendam pada Putri.
BERSAMBUNG....