
21+
Ardi merebahkan perlahan tubuh Elen di atas ranjang. Wanita itu tampak malu tubuhnya diperhatikan oleh lelaki yang sudah menjadi suaminya sendiri. Ia berusaha merapatkan kakinya namun justru diperlebar oleh suaminya.
"Mas!" Elen kembali merengek. Suaminya sangat nakal mempermainkan dirinya sampai merasa malu.
"Tidak apa-apa, bagus, kok," ucap Ardi untuk meyakinkan Elen. Tatapan matanya menjelajah mengabadikan setiap detil tubuh molek itu. Membuat pemiliknya tersipu malu dengan wajah merahnya.
Elen merasa bahagia menghabiskan malam yang mesra bersama lelaki yang dicintainya. Di lain sisi, ia belum terbiasa dengan sikap blak-blakan suaminya dalam mengekspresikan perasaannya.
Melihat Ardi mulai melepaskan pakaian tepat dihadapannya, Elen merasa semakin malu. Meskipun ia tahu bahwa nantinya tubuh mereka akan menyatu, tetap saja ia tak kuasa menahan matanya untuk melihat ke arah depannya. Ia menoleh ke samping. Seandainya posisi samlar lampu dekat dengannya, pasti sudah ia matikan agar berkurang rasa malunya.
"Astaga! Mas Ardi ...." Elen membelalakkan matanya, sementara lelaki yang ada di atasnya malah tersenyum-senyum senang. Tangan Elen dipaksa untuk memegangi milik suaminya yang sudah menegang. Mau dilepaskan juga tidak bisa karena tangannya ditahan. "Mas, aku malu ...."
"Sudah terlambat kalau merasa malu sekarang." Ardi sangat menikmati ekspresi istrinya ketika sedang malu-malu. Menurutnya, raut wajahnya jadi bertambah sek*si. "Tadi sudah aku tanya katanya sudah siap ... sesekali kamu yang inisiatif pegang-pegang, ya! Tanganmu halus sekali." Ardi semakin menggoda wanita di bawahnya.
Elen pasrah saja tangannya digerak-gerakkan oleh suaminya. Mungkin memang untuk membangun hubungan perlu dengan kemesraan. Saat tatalan mata mereka bertemu, seakan cinta yang menyelimuti malam panjang mereka.
Ardi kembali mencium bibir Elen dengan lembut, membiarkan tangan wanita itu meneruskan apa yang diajarkannya. Sementara, kedua tangan yang telah terbebas memijit kedua bukit kembar yang menjadi tempat favoritnya.
Malam itu terasa panjang mereka lewatkan sebagai malam pengantin. Suara lengkuhan bersahutan menghiasi kesunyian di kamar hotel mewah mereka. Peluh terus menetes mengiringi setiap gerakan percintaan yang semakin intens.
Elen mere*mas seprei ketika milik Ardi kembali memasukinnya untuk kedua kali. Masih ada sisa sakit meskipun tak separah yang pertama. Ardi menepati ucapannya. Elen benar-benar dibuat terlena dengan kenikmatan yang diberikannya. Wanita itu seolah menjadi seorang ratu yang menikmati malam pertamanya.
"Sayang, sekali lagi, ya ...." Ardi mencoba membujuk Elen yang telah terkulai lemas di tempat tidur. Percintaan hebat yang baru saja mereka lewati masih membuatnya kelelahan. Sementara, Ardi masih tampak gagah dan bertenaga.
"Mas, apa tidak bisa disambung besok pagi? Aku lelah ...," rengeknya.
"Sebentar, kok. Aku janji satu kali kita sudahan."
Meskipun rasanya tenaga sudah habis, mendengar rayuan suami membuatnya lemah. Elen merasa dibutuhkan dan ia sangat senang untuk menyenangkan suaminya.
__ADS_1
"Janji satu kali, ya ...." Elen memastikan. Ia rasa jika lebih dari itu dirinya bisa pingsan.
"Iya, Sayang." Ardi mengecup mesra bibir istrinya.
Setelah mendapat lampu hijau, ia kembali menjamah tubuh istrinya, menyentuh setiap titik-titik sensitif untuk membangkitkan kembali gai*rah sang istri. Ardi merasa bahagia setelah menikah. Menjalani malam pertama sebagai pasangan suami istri membuatnya merasa menjadi orang paling bahagia di dunia. Ia bisa bermesraan dengan istri cantiknya sepanjang malam.
Elen kembali terkulai lemas setelah keduanya mencapai kenikmatan bersama. Ardi memeluk istrinya dengan penuh rasa sayang. Malam yang baru saja mereka lewati terlalu indah untuk dilupakan.
"Jangan minta lagi ya, Mas ...."
Ardi tertawa mendengar ucapan Elen.
"Milik Mas Ardi sudah mau bangun lagi. Aku sudah tidak kuat," kata Elen lagi.
"Iya, Sayang. Sepertinya dia memang susah tidur malam ini. Aku akan menahan diri untuk besok agar kamu bisa istirahat dengan tenang."
"Besok aku harus kuliah."
"Ada mata kuliah penting yang diampu oleh dosen sangat disiplin, jadi aku akan tetap berangkat."
"Baiklah, besok aku akan mengantarmu ke kampus."
Selesai menikmati malam pengantin, mereka segera membersihkan diri dengan air hangat di kamar mandi. Setelah itu, keduanya tidur bersama.
*****
"Mas, apa jalanku terlihat aneh?" tanya Elen sembari mempraktikkan cara jalannya.
Ardi memperhatikan secara seksama cara jalan istrinya yang agak ngang*kang. "Memangnya sakit, ya?" tanyanya penasaran.
"Menurut Mas Ardi bagaimana dengan kondisiku setelah semalam diajak seperti itu?" Elen memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Maaf ya, Sayang ... aku kira tidak akan apa-apa karena kita sudah pernah melakukannya sekali sebelum menikah." Ardi menghampiri Elen dan memeluknya. "Kalau kamu masih kesakitan, lebih baik istirahat saja. Biar aku mintakan izin kepada dosenmu."
"Tidak, Mas. Aku tetap mau berangkat kuliah."
"Katanya malu kalau jalannya begitu?"
"Bilang saja habis jatuh!"
"Hahaha ... mana ada yang percaya? Sebagian teman-temanmu pasti sudah tahu kalau kamu sudah menikah denganku."
Elen terdiam sejenak. Ucapan Ardi memang benar. Ada beberapa temannya yang juga teman Ardi dan datang ke acara pernikahan mereka. "Antar aku sekarang, Mas. Aku ada kuliah pagi."
"Hah, punya istri anak kuliahan tidak bisa diajak mesra-mesraan di pagi hari, ya ... oke, baiklah! Aku akan mengantarmu ke kampus."
Ardi memeluk pinggang istrinya, berjalan beriringan keluar dari kamar hotel yang sebenarnya masih ia sewa untuk jangka waktu satu minggu. Niatnya, ia ingin menghabiskan masa cuti kerjanya di hotel untuk menikmati masa-masa pengantin baru. Akan tetapi, memiliki istri yang raji kuliah akan melahirkan cerita yang berbeda. Istrinya lebih berat meninggalkan kuliahnya daripada meninggalkan dirinya.
Sesampainya di halaman kampus, Ardi membiarkan Elen turun sendiri setelah mereka berciuman di dalam mobil. Elen melambaikan tangannya ketika mobil Ardi meninggalkannya. Ini hari pertama ia diantar ke kampus oleh suaminya. Rasanya sangat bahagia.
Perasaan Elen masih berbunga-bunga melewati koridor kampus yang setiap hari dilalui namun kali ini terasa berbeda. Suasana kampus terlihat jadi lebih indah.
"Elen!" langkah Elen terhenti ketika ada seorang lelaki yang menghadang jalan. Senyum di wajah Elen memudar setelah menyadari lelaki yang mengganggu suasana hatinya adalah Indra, kakak tingkatnya.
Indra sudah lama memiliki rasa cinta kepada Elen, namun Elen tak pernah menanggapinya. Elen tidak menyukai Indra yang menganut asas kebebasannya dalam pergaulan. Bisa dibilang Indra adalah playboy kampus. Akan tetapi, karena ketampanan dan kekayaan orang tuanya, masih banyak wanita yang mau dengannya, kecuali Elen.
Indra sampai membuat kampus mencabut beasiswa yang diterima Elen agar wanita itu mau bergantung padanya dan menuruti semua keinginannya. Akan tetapi, Elen justru menemukan jalan yang berbeda untuk tetap bertahan kuliah. Elen dipertemukan dengan Ardi ketika ia sudah berniat untuk menjual diri.
"Kenapa, Indra?"
"Kenapa kamu memilih menikah dengan lelaki lain? Aku juga bisa menikahimu kalau kamu mau. Keluargaku juga jauh lebih kaya daripada suamimu itu."
Elen tersenyum. "Ada banyak wanita yang ingin bersamamu, Erick. Aku sudah memilih suamiku sebagai pasangan hidupku. Aku permisi dulu." Elen melewati Indra setelah mengatakannya.
__ADS_1