
Klak!
Lampu kamar kembali menyala. Tampaknya black out yang terjadi telah usai. Cahaya lampu memperjelas keadaan Gita dan Rei yang masih terduduk di atas ranjang dengan pakaian yang berserakan.
Rei masih menutupi miliknya. Ia menyesal sekali sudah sampai berbuat sejauh itu dengan wanita yang bukan pacar atau istrinya. Seharusnya ia menyadari lebih awal kalau has*rat terlarang itu akibat dari minuman yang sempat diminumnya. Rei yang hanya meminum sedikit saja cukup berat merasakan reaksinya. Apalagi Gita yang sampai menghabiskan satu botol tanpa sisa.
Wanita itu masih memasang wajah memelas padanya. Ia tak berkeinginan menutupi tubuh polosnya sama sekali. Wajahnya sangat merah karena menahan has*rat. Jika saja pertahanan diri Rei lemah, ia pasti sudah tidak bisa berhenti. Gita akan mengerang tanpa henti di bawahnya. Untung saja dia cepat sadar.
"Pak ...." Gita masih merengek.
"Lampunya sudah menyala. Aku mau kembali ke kamarku. Kamu tidurlah!" Rei hendak turun beranjak dari atas ranjang, akan tetapi Gita menahan tangannya.
"Mana bisa saya tidur dengan keadaan seperti ini? Saya janji tidak akan marah atau menyesal dengan perbuatan Bapak," bujuknya. Wanita yang sudah terbuai dalam has*rat akan sangat sulit menahan diri.
Gita memang gila. Ucapannya membuat Rei merasa dilema. Suguhan tubuh molek di depan mata tak bisa dipungkiri benar-benar menggoyahkan imannya.
__ADS_1
"Aku bisa melakukannya kalau status kita sudah jelas." Rei tetap bertahan pada pendiriannya.
"Tadi juga Bapak bisa ... gara-gara telepon Ririn Bapak langsung berubah pikiran. Padahal punya Bapak tidak bisa bohong." Gita melirik ke benda panjang itu. Rei kembali menutupinya. Gita memang gadis yang somplak, ucapannya tidak ada saringan.
"Pokoknya aku tidak mau. Aku mau kembali ke kamarku!" Rei tetap menolak kemauan Gita. Sementara, Gita terus merengek sampai membuat Rei tidak tahan. Akhirnya wanita itu dibungkus oleh Rei dengan bed cover lalu menggendongnya masuk ke dalam kamar mandi.
"Pak! Saya mau diapakan! Jangan buang saya! Saya kan cuma minta nerusin yang tadi ... Pak Rei!" Gita menggeliat berusaha melawan. Rei tidak menggubris ocehan Gita.
Rei menurunkan Gita di dalam kamar mandi lalu menyalakan shower tepat di atas Gita. "Mandi air dingin supaya pikiranmu juga ikut dingin," ucap Rei. Ia menarik selembar handuk yang ada di sana lalu melilitkannya di pinggang untuk menutupi miliknya.
"Pak ... dingin ... aku butuh dipeluk ...." Rengekan Gita masih saja terdengar.
"Kamu harus tetap berada di sini sampai pikiranmu waras. Ada-ada saja kemauanmu. Kalau beneran aku turuti, belum tentu kamu tidak menyesalinya."
Rei terus menunggui Gita di dalam sana sampai beberapa waktu dan kondisi Gita semakin tenang. Gita membalikkan badan seraya menutupi bagian tubuhnya yang vital dengan tangannya. Kedasarannya mulai pulih, rasa malunya sudah kembali. Ia mengingat hal yang baru saja terjadi padanya. Rasanya ia ingin lenyap saja dari muka bumi. Kelakuannya di depan Rei sungguh sangat memalukan.
__ADS_1
"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Rei.
"Iya, Pak. Saya sudah membaik sekarang," ucap Gita dengan malu-malu.
Rei lega. "Kalau begitu, aku akan kembali ke kamar. Setelah ini, keringkan rambutmu sebelum tidur. Jangan sampai sakit, ya."
"Iya, Pak. Terima kasih." Gita masih tidak berani berbalik dan menatap Rei. Ia terus membasahi dirinya di bawah guyuran shower. Derasnya kucuran air merontokkan jiwa liarnya. Ia telah kembali pada kesadarannya yang sempurnanya.
Sementara, Rei kembali ke kamar dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Ia juga menjalakan kran air dingin untuk membasahi tubuhnya. Sesekali terlihat ia menghela napas panjang. Ia melihat miliknya masih tegak. Sepertinya bantuan air tak akan mampu meluluhkannya. Ia perlu menuntaskannya sendiri agar miliknya bisa tertidur.
Malam ini menjadi malam tergila yang dilewati olehnya dan Gita. Seandainya telepon dari Ririn tidak masuk, mungkin keduanya telah lebih jauh berbuat.
*****
Sambil menunggu update selanjutnya, bisa mampir dulu ke sini 😘
__ADS_1