PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
GITA DIKURUNG


__ADS_3

"Halo, Sayang ... lama kita tidak bertemu. Apa kabar?" tanya Teressa, ibu tiri Gita yang usianya hanya terpaut 13 tahun darinya. Dia masih terlihat muda dan menawan. Apalagi ditunjang dengan selera fashion yang bagus, ia seperti wanita kalangan elit yang elegan. Gita membuang muka. Rasanya ia tak sudi lagi melihat wajah wanita yang telah menghancurkan keluarganya.


"Aku dengar kamu sudah putus dengan Jimmy? Aku turut senang. Papamu di atas sana juga aku rasa akan senang. Kamu butuh mendapatkpendamping yang lebih baik."


"Diam-diam ternyata Anda memperhatikan aku ya, Nyonya Teresa. Aku jadi merasa seperti seorang artis." Gita menjawab dengan raut kesal.


Teresa tersenyum. "Bagaimanapun juga, aku adalah ibu sambungmu. Aku sangat peduli pada masa depanmu. Meskipun kamu pernah mencoba untuk membunuh ibu tirimu ini, aku sudah memaafkanmu setulus hati."


Gita tidak habis pikir wanita itu bisa berkata demikian. Sungguh, baru kali ini ia bertemu dengan wanita yang sangat tidak tahu malu dan suka memutar balikkan fakta. "Jangan-jangan aku masih gila gara-gara obat anjing itu, ya? Sejak kapan Nyonya Teresa begitu perhatian kepada anak tirinya. Hahaha ... kocak sekali!"


Teresa menghela napas. "Tidak ada yang memberimu obat semacam itu. Pasti memang ada pihak yang ingin membuat hubungan kita tidak baik." Ia sangat pandai mengelak.


"Sudahlah! Percuma bicara lagi. Aku sudah malas. Kamu mau ambil apa saja milik Papaku ya silahkan, tapi jangan ganggu aku lagi!"


"Kamu masih keras kepala seperti dulu. Susah diberitahu orang tua!"


"Tidak perlu basa-basi lagi, katakan saja apa maumu dan biarkan aku pergi." Gita berharap bisa segera pergi dari sana. Meskipun rumah itu merupakan tempat yang penuh dengan kenangan masa kecilnya, namun karena sudah dihuni oleh ibu tiri keji itu, Gita sudah tak lagi menginginkan rumah itu kembali padanya.


Teresa terdiam. Ia berharap Gita bisa sopan dan menurut padanya. Anak itu susah diatur, membuatnya kesulitan untuk mengambil alih harta peninggalan suaminya. Seandainya saja Gita mau patuh padadanya, Teresa juga tidak akan memusuhinya.


"Papamu pernah berencana menjodohkanmu dengan Tuan Hendrick, relasi bisnis ayahmu yang berasal dari Singapura. Kamu pasti masih ingat, kan?"


Gita membelalakkan mata. Tentu saja dia masih ingat. Sebelum ayahnya meninggal, ia memang sempat ikut makan malam bersama ayahnya, ibu tirinya, dan Hendrick. Sepengetahuannya mereka makan malam hanya untuk urusan bisnis, bukan untuk menjodohkan mereka. Lagipula, Usia Hendrick sudah cukup tua, mungkin sekitar 40 tahunan.


"Jangan bercanda, Papaku tidak mungkin melakukan hal seperti itu."

__ADS_1


"Aku tidak akan memanggilmu pulang jika bukan untuk hal yang penting." Teresa berkata dengan raut wajah serius.


"Kenapa bukan Anda saja yang menikah dengannya? Kalian cocok karena seumuran."


"Kalau Tuan Hendrick mau menikah denganku, sudah pasti akan aku jawab iya dan tidak perlu mengundangmu datang."


"Nah, kan ... tabiat aslimu sangat terlihat!"


"Dia hanya menginginkan dirimu."


"Apa dia seorang pedofil? Usiaku hampir separuh usianya. Kenapa aku selalu bertemu dengan orang-orang yang tidak waras!"


Gita bangkit dari duduknya. Ia sudah tidak tahan ingin pergi. Akan tetapi, salah seorang pengawal memegangi lengannya dan memaksa untuk kembali duduk. "Lepaskan!" teriaknya.


"Kamu tidak boleh pergi dari sini. Aku tidak meminta pendapatmu setuju atau tidak, pokoknya kamu harus mau. Sebagai pertimbangan, ada banyak anak buah setia papamu yang terancam kehilangan pekerjaan jika kamu bersikeras menolak kemauan Tuan Hendrick."


Plak!


Satu tamparan dilayangkan oleh Teresa. Sepertinya memang itu satu-satunya cara untuk membungkam putri tirinya. Kesabarannya habis.


"Bawa dia ke kamarnya dan jangan biarkan dia kabur!" perintah Teresa.


"Baik, Nyonya," jawab bodyguard.


"Aku mau pulang! Dasar wanita gila! Lepaskan aku!" Gita terus mengumpat sembari berusaha berkelit. Dua orang bodyguard dengan entengnya menyeret tubuh Gita ke lantai atas menuju kamarnya.

__ADS_1


*****


"Papa ...." Davin berlari menyongsong kedatangan Ferdian di rumahnya.


Meka dengan setengah hati ikut keluar menyambut kedatangan suaminya. Lelaki itu datang bersama Callista yang digendong oleh pengasuhnya. Anak itu menangis dan mengulurkan tangannya saat melihat keberadaan Meka seakan ingin digendong olehnya. Meka cukup kaget melihat keberadaan Callista. Seharusnya ia bersama dengan ibu kandungnya saat ini.


"Callista tidak mau dengan Renata. Dia terus mencarimu, makanya aku bawa di kesini," ucap Ferdian yang sudah menggendong Davin dan menciumi putranya.


Segera Meka berlari ke arah pengasuh Callista dan meminta anak itu. Ia peluk Callista dengan penuh kasih sayang. "Masuklah!" ucap Meka. Ia lebih dulu masuk rumah membawa Callista ke dalam diikuti oleh Ferdian dan pengasuh Callista.


Malam-malam Callista datang ke rumahnya, Meka yakin anak itu rewel tidak mau bersama Renata atau meminum susu kambingnya. Ia bawa Callista masuk ke dalam kamar, merebahkannya di atas ranjang dan mulai menyusuinya dengan payud*ara yang padat penuh berisi ASI karena seharian tidak menyusui Callista. Anak itu dengan semangat menyusu padanya.


Memandangi anak kecil itu, membuat hati Meka bimbang. Ia ingin pergi dari kehidupan Ferdian tapi tidak bisa. Callista sudah menjadi bagian hidupnya. Ia tak pernah terpaksa mencintai Callista meskipun pernikahannya dengan Ferdian hanyalah sementara.


Tak perlu waktu lama, anak itu sudah terlelap tidur setelah mengh*isap kedua payu*daranya. Perlahan ia lepaskan pu*tingnya dari mulut kecil itu dan membenarkan kembali pakaiannya. Tampak Ferdian sudah berdiri di depan pintu memandanginya.


Kalau boleh terus terang, Meka merasa enggan untuk berhadapan dengan Ferdian. Lelaki itu mendekatinya dan memberikan pelukan seperti biasa seolah hubungan mereka masih baik-baik saja. Ia berusaha mendorong tubuh Ferdian, namun lelaki itu tak mau berkutik. Bahkan kelakuannya semakin menjadi-jadi. Lelaki itu mulai menciumi lehernya dengan naf*su.


"Didi!" Terpaksa Meka mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk mendorong tubuh Ferdian. "Kamu pulanglah, biarkan Callista tidur di sini. Aku takut Renata akan marah jika kamu tidak pulang-pulang."


"Kamu juga istriku, aku bebas jika memilih ingin meninap di sini juga."


Rasanya Meka ingin tertawa. Ferdian benar-benar seperti menganggap masalah yang ada di antara mereka sangat sepele. Ia sama sekali tidak memikirkan perasaan pihak lain yang mungkin akan terlukan dengan sikapnya yang plin plan.


"Tolong jangan mempersulit hidupku, Di. Apa kamu ingin membuat aku dan Davin jadi pelampiasan kemarahan Renata?"

__ADS_1


"Dia tidak akan berani melakukannya."


__ADS_2