PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
PEREBUTAN DUA KELUARGA


__ADS_3

"Aku tidak menyangka kalau kita akan berbesanan seperti ini," guman Pak Kennedy.


Setelah acara pernikahan yang sangat sederhana itu selesai, kedua keluarga masih berkumpul melakukan perbincangan ringan di ruang tengah. Kania menjadi satu-satunya wanita di antara keempat lelaki lintas generasi. Ruby minta izin untuk masuk ke dalam kamar terlebih dahulu untuk mengganti pakaiannya.


"Aku juga sama sepertimu, Ken. Putriku sangat menyukai putramu, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain merestui hubungan mereka."


Untung saja Ruby sudah naik ke atas. Jika ia mendengar perkataan ayahnya, Ruby pasti akan malu.


"Tapi kenapa harus terburu-buru seperti ini? Kita bisa mempersiapkan pernikahan yang lebih baik lagi untuk kedua anak kita."


Pak Wijaya melirik ke arah Melvin. "Aku takut putriku hamil duluan sebelum menikah."


Melvin langsung memijit keningnya. Ia malu mertuanya berkata seperti itu seolah sedang menuduhnya. Rei dan Kania menahan tawa.


"Hahaha ... kamu seperti tidak pernah muda saja. Orang yang sedang pacaran pasti berciuman." Pak Kennedy mengambil sebatang rokok di atas meja lalu menyalakannya.


"Putramu mengajak putriku bermesraan di dalam apartemen putriku. Aku lihat dia tipe yang agresif, jadi sebagai ayah aku sangat khawatir. Sepertinya putramu juga sering menginap di sana. Aku menemukan pakaian dan peralatan mandi lelaki di kamar putriku."


Kennedy menatap putranya tidak percaya. Dia tidak mengira putranya bisa sejauh itu. Melihat tatapan ayahnya, Melvin semakin merasa malu.


"Saya berani bersumpah, Om. Belum pernah melewati batas dengan Ruby." Melvin berusaha membela dirinya sendiri.


"Tidak apa-apa, Vin. Sekarang putrinya Wijaya sudah menjadi istrimu, mau kalian melakukan apa juga Bapak tua ini tidak bisa melarang-larang kalian lagi." Kennedy mendukung putranya agar merasa percaya diri.


Pak Wijaya merasa tertekan. Putri kesayangannya sudah ia serahkan kepada anaknya Kennedy. Ia ikut mengambil sebatang rokok dari atas meja lalu menyalakannya.


"Wijaya, kamu tenang saja. Putraku juga sangat mencintai putrimu. Dia sampai ingin membatalkan pernikahannya waktu itu."


"Lalu, kenapa kamu tidak memilih putriku?" Pertanyaan Pak Wijaya menjadi pukulan yang telak bagi keluarga Adinata.


"Ah, itu .... "


"Perjodohan Melvin dan Renata sudah diatur sejak mereka SMA." Kania yang sedaritadi diam kini ikut angkat suara. "Dulu Melvin juga masih tidak masalah dengan perjodohannya. Anda pasti tahu sulit untuk membatalkan sesuatu yang sudah disetujui oleh dua keluarga besar, apalagi berkaitan juga dengan masalah bisnis."


Wijaya mangguk-mangguk mendengarkan penjelasan dari Kania sembari menikmati rokoknya.


"Lalu, di tengah perjalanan, mungkin Melvin merasa menemukan cintanya pada Ruby."

__ADS_1


"Kami tidak tahu kalau Ruby putrimu, Wijaya. Mungkin kalau aku tahu, kita juga akan mempertimbangkannya." Kennedy membantu istrinya memberi penjelasan.


"Ya, aku juga tidak sedang menyalahkan Melvin atau kalian. Putriku sejak dulu sampai sekarang mrmang tidak pernah mau dikenal sebagai putri dari keluarga Wijaya. Bahkan ia juga lebih memilih bekerja di perusahaan orang lain daripada meneruskan perusahaan milik ayahnya."


"GoodFood sudah menjadi perusahaan saya, Om," ucap Melvin.


"Benarkah? Bagus sekali." Wijaya ikut merasa bangga mendengar hal itu.


"Putraku seharusnya memiliki perusahaan yang lebih besar di Amerika Serikat, induk dari perusahaan GoodFood miliknya. Entahlah anak ini melepaskan kesempatan begitu saja memilih pulang dan mengambil alih GoodFood." Kennedy agak kecewa dengan keputusan putranya. Meskipun ia tidak menjalin komunikasi yang baik, Kennedy tetap mengikuti perkembangan bisnis yang dilakukan putranya.


"Aku melakukannya agar bisa dekat dengan Ruby, Pa."


"Hm, dengar sendiri kan, putraku sepertinya sudah terhipnotis oleh putrimu."


"Hahaha .... " Pak Wijaya tertawa. "Aku hanya menyayangkan Melvin dan ruby tidak langsung bertemu saja. Kenapa putriku harus bertemu putramu setelah menjadi duda. Ck! Aku sampai heran putriku masih mengharapkannya."


"Tapi saya masih perjaka, Om!" celetuk Melvin.


Ucapannya membuat semua orang jadi tercengang.


"Kamu tidak perlu sampai menceritakannya, Vin." Kania malu sekali mendengar putranya keceplosan.


"Sejak awal saya hanya mau menikah dengan Ruby, Om. Meskipun sempat menikah dengan Renata, kami tidak pernah bersama. Saya sibuk membangun bisnis sampai akhirnya Renata setuju untuk bercerai."


"Melvin juga memusuhi kami gara-gara pernikahan paksanya dulu. Kalau bukan karena kemauanmu untuk menikahkan mereka, mungkin dia tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah orang tuanya lagi." Kennedy menaruh puntung rokoknya di dalam asbak.


"Itu karena ayah bilang aku tidak boleh mendekati Ruby karena aku seorang duda."


"Ayah kan tidak tahu kalau kamu masih perjaka, Vin." ledek Kennedy.


Suasana kembali menjadi hangat dengan gelak tawa di antara mereka.


"Kalau Rei sendiri, apa sudah ada calon untuk menikah?" tanya Kennedy.


Rei langsung terdiam. Ia tidak menyangka akan menjadi sasaran selanjutnya. "Belum, Yah. Aku masih fokus meneruskan perusahaan Papa." Rei mengembangkan senyumannya.


"Kalau sudah ada, jangan lupa perkenalkan kepada Ibu dan Ayah," kata Kania.

__ADS_1


"Iya, Ibu. Aku pasti akan membawanya menemui Ibu nanti."


"Sepertinya kita memang ditakdirkan menjadi keluarga. Kalian telah membesarkan putraku Rei dan sekarang Melvin telah menjadi anak menatuku." Wijaya masih merasa berhutang budi yang besar kepada keluarga Adinata. Rei, anak yang ia kira sudah meninggal puluhan tahun lalu ternyata masih hidup dan menjadi seorang lelaki dewasa yang cakap.


"Kamu masih punya Rei yang nanti juga akan menikah dan membawa istrinya ke rumah ini. Bagaimana kalau Ruby ikut tinggal bersama kami? Aku juga ingin merasakan rasanya memiliki anak perempuan," pinta Kennedy.


"Oh, tidak bisa! Ruby akan tetap tinggal di sini bahkan sampai dia melahirkan anak-anaknya." Pak Wijaya menolak.


"Jangan terlalu serakah, Melvin anak tunggalku mau kamu ambil juga?"


"Sudah resikonya untuk menikahi putriku, maka harus tinggal di rumah ini."


"Hah! Aturan dimana-mana, wanita yang mengikuti pihak lelaki."


"Itu tidak berlaku di keluargaku."


Melvin menepuk dahinya mendengar perdebatan antara kedua ayahnya. Dia yang awalnya ternistakan kini jadi rebutan. "Sudah, Ayah, Om ... jangan diteruskan lagi. Karena kami sudah menikah, kami akan tinggal di rumah sendiri."


"Tidak boleh!" Kennedy dan Wijaya menjawab kompak.


"Kalau begitu, kami akan tinggal bergantian di rumah kalian." Melvin mencoba mencari jalan tengah.


"Perusahaanmu kan ada di kota ini, Vin. Masa kamu mau menempuh perjalanan berjam-jam dari kota sebelah?" Pak Wijaya memberi alasan yang masuk akal.


"Kami akan pindah ke sini. Kalau perlu, kami akan membangun rumah di sampingmu." Kennedy masih tidak mau kalah.


"Lalu, bagaimana dengan perusahaanmu?"


"Aku juga akan pensiun sepertimu, Wijaya. Kalau perlu, aku jual semua aset dan aku serahkan kepada Melvin. Yang penting mereka tinggal bersama kami."


*****


Sambil menunggu update berikutnya, mampir dulu ke sini 😉


Judul : Jodohku di Depan Mata


Author : Mphoon

__ADS_1



__ADS_2