
"Tapi, menurut info yang saya peroleh, pembatalan dari pihak WO terjadi belum lama setelah Ibu Sukma meninggal. Bukankah berarti pernikahan Anda dan Pak Ardi Syauqy sebenarnya masih akan dilaksanakan?"
Mendapat pertanyaan dari seorang wartawan kritis dan memiliki banyak bukti membuat Ruby terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ia mengatakan secara gamblang apa adanya. Ia harus menjaga perasaan banyak orang, keluarganya, keluarga Melvin, dan keluarga Ardi.
Melvin menggenggam tangannya. Ia tahu istrinya sedang bimbang untuk menjawabnya. "Baiklah, sebenarnya ...."
"Saya dengar kalian berdua sudah menikah secara diam-diam." Suara lantang dari salah seorang wartawan membuat semua orang tercengang. Melvin sampai harus menjeda perkataannya. Orang menjadi bertanya-tanya tentang kebenaran berita tersebut. Suasana sedikit gaduh.
Melvin dan Ruby saling berpandangan. Mereka tidak menyangka beritanya akan menyebar begitu cepat. Padahal mereka juga bermaksud ingin mengumumkan hal tersebut setelah klarifikasi selesai.
"Jangan asal bicara, woy!" celetuk salah seorang di antara mereka.
"Ini benar ya, saya mendapatkan informasi dari warga di sekitar kediaman Ibu Ruby. Saya juga sudah konfirmasi kepada pihak RT dan RW setempat, mereka membenarkan hal tersebut."
Keterangan dari wartawan lelaki itu semakin membuat orang-orang penasaran. Sebagian mempercayainya, sebagian lagi menganggap hal itu hanya berita mengada-ada. Jika hal itu benar, seharusnya mereka juga sudah tahu tentang hal itu.
"Kami memang sudah menikah," jawab Melvin dengan tegas.
Tentu saja semua orang lebih terkejut mendengar keterangan dari Melvin sendiri yang mengiyakan berita tersebut. Ruby tampak menunduk. Ia tak terbiasa menjadi pusat perhatian. Saat ini pasti wajahnya sudah muncul di berbagai media online dan stasiun TV lokal.
"Kami memang sudah menikah 2 minggu yang lalu." Melvin mengeluarkan dua buku nikah milik mereka yang niatnya akan diperlihatkan setelah acara selesai. Para wartawan sibuk mengabadikan momen itu.
"Kenapa pernikahannya terkesan tergesa-gesa? Apa ada alasan yang mendasarinya?"
Mrlvin berpikir sejenak. Tidak mungkin ia mengatakan pernikahan itu terjadi atas desakan ayah mertuanya. "Menurut saya tidak tergesa-gesa. Kami sudah saling mengenal lama, jadi kami rasa tidak perlu lagi menunda-nunda ke jenjang yang lebih serius."
"Tapi, kenapa kalian menikah secara diam-diam?"
"Kami tidak menikah diam-diam. Kedua belah pihak keluarga sudah diberitahu, termasuk RT, RW, dan lurah setempat," kilah Melvin.
"Maksudnya, kenapa pernikahannya tidak diungkap ke publik?"
"Apa kita saling kenal?" ledek Melvin.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan dari Melvin, sebagian besar yang hadir di sana tertawa.
"Apa kita cukup dekat sampai harus memberitahu kalian?" Melvin malah melawak. "Kenapa kalian ingin tahu sekali kehidupan kami? Memangnya kami artis seperti Hyun Bin dan Son Ye-jin?" Sindiran Melvin sangat mengena sehingga mereka tertawa sendiri mendengarnya. "Kalian juga bukan orang tua kami yang harus dimintai restu untuk pernikahan kami."
"Hahaha ... namanya juga netizen, Pak. Kami juga penasaran, apa pernikahannya dibuat tertutup karena Ibu Ruby sudah hamil duluan?" tanya salah seorang wartawan.
Ruby mendelik mendengar pertanyaan itu. Ia memandang ke arah Melvin. Berita yang beredar semakin tidak masuk akal dan menyebalkan.
"Tidak, istriku belum hamil. Tapi, doakan saja secepatnya bisa hamil. Pertanyaan kalian memang tidak ada yang berbobot untuk saya jawab." Melvin agak kesal menjawab pertanyaan kurang ajar dari wartawan itu.
"Maaf, menyela ...."
Di tengah acara konferensi pers, mereka dikejutkan oleh kedatangan Ardi yang dikawal oleh beberapa bodyguard. Ia datang bersama wanita bernama Selena, teman Ruby. Ardi tersenyum ke arah mereka berdua. Ia mengajak Selena untuk ikut duduk di barisan yang sama dengan Melvin. Fokus kamera saat ini berpindah kepada mereka.
"Oh, ternyata kita kedatangan Pak Ardi," ucap Pak Sultan. "Agar permasalahan ini tidak berlarut-larut, kita bisa dengarkan sendiri penjelasan dari sisi Pak Ardi."
"Pak Ardi, apa benar Anda ditikung oleh sahabat sendiri!" seorang wartawan sangat berani bertanya dengan nada berteriak.
"Wah, semangat sekali mba-mba wartawan yang ada di sebelah sana." Ardi menunjuk ke arah wartawan wanita yang tadi bertanya. "Tidak, tidak ada yang namanya tikung-menikung."
"Sejak awal dijodohkan, kami sudah merasa tidak ada kecocokan. Tapi, karena ibu saya sangat menyukai Ruby, kami terpaksa merahasiakan kalau kami tidak saling cinta. Setelah ibu saya meninggal, barulah kami membuka kenyataan itu."
"Saya sudah tahu tentang hubungan Ruby dan Melvin. Justru saya yang tidak enak hati sendiri karena masih memanfaatkan Ruby untuk berpura-pura menjadi tunangan saya."
"Tolong jangan lagi ada berita yang menyudutkan mereka. Di antara kami tidak ada masalah apapun."
"Sepertinya netizen memang sedang berniat ingin mengadu domba," celetuk Melvin.
"Hahaha ... sabar, Vin." Ardi tertawa mendengar celotehan temannya itu.
"Kalau perusahaanku bangkrut, netizen yang harus tanggung jawab. Kalian sudah mem-blacklist produk-produk GoodFood, kan? Awas saja kalian," ancam Melvin.
"Tenang, nanti aku bantu jadi investor." Ardi berusaha memperbaiki mood Melvin.
__ADS_1
"Memangnya kamu punya cukup banyak uang?" Melvin justru meledek Ardi yang berniat membantunya.
"Kamu memang sialan. Tahu begini aku tidak akan datang." Ardi menanggapi ledekan Melvin. Acara konferensi pers itu malah berubah menjadi acara saling ejek antara dua pengusaha muda.
"Jangan begitu, dong! Aku sangat berterima kasih kamu mau datang. Mudah-mudahan netizen sudah langsung bungkam setelah ini."
Ardi tertawa kecil. "Baiklah, intinya, berita yang beredar selama ini adalah sampah yang tidak ada kebenarannya. Semoga mereka dapat menjalani kehidupan rumah tangga dengan tenang, begitupula dengan saya yang akan menikah dengan wanita pilihan saya sendiri. Semiga kalian tidak memberikan berita macam-macam lagi kepada kami."
Acara konferensi pers akhirnya diakhiri dengan baik berkat kehadiran Ardi di waktu yang tepat. Ruby dan Melvin menjadi merasa lega.
"Sialan! Ternyata kamu sudah diam-diam mendahuluiku menikah!" Ardi meninju lengan Melvin dengan keras.
"Memangnya kenapa? Lebih cepat kan lebih baik." Melvin memegangi lengannya yang sakit terkena tonjokkan.
"Setidaknya kabari aku."
"Aku merahasiakan ini juga untuk menjaga perasanmu, sialan!"
"Hahaha ... ada-ada saja alasanmu."
"Keluargamu sepertinya marah sekali kalian gagal menikah. Perusahaanku jadi ikut kena imbas."
"Jangan sangkutpautkan mereka denganku. Aku sendiri tidak pernah sejalan dengan pemikiran mereka."
"Kapan kamu akan menikah?"
"Dalam waktu dekat ini."
"Kenapa sepertinya mengherankan, bisa-bisanya kalian akan menikah? Aku tidak pernah tahu kalau kalian sudah memiliki hubungan yang dekat."
"Memangnya kita sedekat itu sampai harus cerita?" Ardi menirukan gaya bicara Melvin.
"Hahaha ...." Melvin malah tertawa.
__ADS_1
"Kamu memang super, Vin kalau untuk urusan mengejek orang. Aku rasa netizen kena mental mendengar omonganmu selama wawancara."
"Hah ... aku harap ini jadi yang terakhir menghadapi masalah seperti ini. Menjadi orang terkenal itu tidak selamanya menyenangkan."