PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
PENDARAHAN


__ADS_3

"Kalian harus cepat bercerai. Aku akan melakukan apapun demi mendapatkanmu. Termasuk dengan cara licik seperti ini. Lihat saja, Melvin tidak secinta itu padamu. Dia pasti akan sangat kecewa padamu." Alben adalah orang yang ambisius. Apa yang ia inginkan, akan mati-matian berusaha ia kejar sekalipun itu istri orang.


"Siapa di sana!" Suara teriakan jarak sepuluh meter mengagetkan Alben. Ia menghela napas, merasa kesal aktivitasnya selalu disambut dengan emosi. Padahal sebentar lagi ia akan bersenang-senang dengan wanita pujaannya.


Seorang wanita biasa berjalan mendekat ke arahnya, membuat Alben terpaksa menghentikan perbuatannya. Ia bangkit meninggalkan Ruby. Sepertinya ia harus membereskan satu wanita itu demi melanjutkan kesenangan yang baru saja ia peroleh.


Ruby terbangun dari tempatnya. Pakaiannya kotor dipenuhi debu dari lantai bangunan tua itu. Kakinya memar dan masih terasa sakit. Tubuhnya masih gemetar, ia syok sekaligus ketakutan. Hampir saja ia menjadi korban pemer*kosaan.


"Jangan campuri urusan orang lain jika kamu tidak mau terkena masalah!" Alben memasang raut kesal kepada wanita yang baru saja datang itu. Hanya wanita lemah yang tidak ada artinya.


"Aku kemarin karena mendengar suara minta tolong. Pasti kamu lelaki pecundang yang mau melecehkan perempuan, kan? Dasar banci!" ejek Gita.


Kebetulan saja Gita pulang lebih awal dari kantornya. Perutnya sakit saat bekerja, sehingga ia meminta izin untuk beristirahat di rumah. Saat melewati gedung sepi, samar-samar ia mendengar suara teriakan minta tolong.


Awalnya ia justru merinding mengira mendengar suara hantu. Tapi, pikir-pikir lagi, tidak mungkin ada hantu saat siang hari. Akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk dan mendapati seorang lelaki yang sedang menindih seorang wanita. Dari raut wajah wanita, jelas sekali kalau dia sedang dipaksa.


"Aku tidak akan segan memukulmu meskipun kamu wanita. Sebelum hal itu terjadi, pergilah!" Ben cukup terganggu dengan ejekan dari Gita.


"Kamu yang seharusnya pergi ke kantor polisi, dasar penjahat!"


"Berani-beraninya kamu memanggilku penjahat!"


Ben maju menghampiri Gita. Ia langsung menjambak rambut Gita dengan ksar. Gitw tak tinggal diam. Ia melayangkan tendangan keras tepat mengenai perut Ben hingga lelaki itu terdorong mundur.


Ben sedikit terkejut. Wanita itu ternyata lumayan bertenaga. Ia tak menyangka ada wanita yang berani menentangnya. Kali ini sepertinya ia perlu mengeluarkan sedikit tenaga untuk menghadapi wanita perusuh itu. Terjadilah perkelahian yang cukup seru antara Gita dan Ben. Kemampuan Gita cukup lumayan, mampu digunakan untuk menghadapi seorang Ben.


Ruby berusaha berdiri dengan tertatih-tatih. Ia melemaskan otot kakinya yang kaku dan sulit digerakkan. Melihat perkelahian yang ada di hadapannya, ia merasa cukup khawatir dengan wanita yang sedang berusaha menolongnya. Tentu saja perkelahian itu sangatlah tidak imbang. Wanita itu tampak mulai kewalahan menghadapi Ben.


"Ah!" Pekik Gita saat Ben berhasil melumpuhkannya. Tangannya dikunci dan tubuhnya dihempaskan ke lantai bangunan yang kotor.


"Sudah aku bilang, jangan suka ikut campur urusan orang dan jangan sok jadi jagoan!" Ben membenturkan kepala Gita pada lantai dengan keras. Gita hanya pasrah, usahanya untuk menolong orang lain akhirnya sia-sia.

__ADS_1


Ruby tidak tega melihat wanita penolongnya diperlakukan seperti itu oleh Ben. Dengan sekuat tenaga, ia menahan rasa sakit dan berjalan menghampiri Ben.


Bruk!


Ruby melakukan tentangan keras hingga Pak Ben jatuh tersungkur. Kakinya kembali berdenyut sakit setelah ia paksakan untuk menendang. Gita membulatkan mata kaget, tiba-tiba Ben sudah jatuh tersungkur ke lantai.


"Ruby ... apa yang sudah kamu lakukan?" Ben juga kaget dengan perbuatan Ruby. Tendangannya sangat kuat dan bertenaga.


Tanpa memikirkan rasa sakit di kakinya, Ruby kembali melakukan tendangan lenuh tenaga ke arah wajah Ben. Gita juga tak menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut menedang lelaki itu. Ben dikeroyok oleh dua wanita yang sedang mengamuk. Setelah amarah mereka reda, Gita memapah Ruby agar bisa keluar dari sana.


"Siapa namamu?" tanya Gita.


"Ruby," jawab Ruby singkat. Ia berjalan tertatih-tatih dengan satu kaki terluka. Di dalam sana, Ben sepertinya sudah terkapar tak berdaya oleh mereka.


"Namaku Gita. Kamu mau aku antar kemana?"


"Antar aku ke apartemen saja Carikan taksi untuk ke sana. Maaf sudah merepotkan."


"Astaga!" Gita berteriak kaget ketika mendapati ada darah yang mengalir dari kaki Ruby.


Ruby ikut menatap ke arah pandang Gita. Ia semakin syok. Ruby memgalami pendarahan. Hal pertama yang ia khawatirkan adalah kondisi bayi kembarnya.


"Tolong ... bawa aku ke rumah sakit secepatnya!" Nada bicara Ruby bergetar. Ia ketajutan. Ruby takut terjadi sesuatu pada calon bayinya.


Iya, iya ... jangan panik, sabar ...." Gita kembali memapahnya berjalan menuju tepi jalan. Saat ada taksi yang lewat, ia segera menyetopnya.


"Pak, antar kami ke rumah sakit xxx sekarang juga! Cepat!" seru Gita saat mereka sudah berada di dalam taksi. Sang sopir langsung tancap gas mengikuti panduan mereka.


Ruby tampak mengelus-elus perutnya sembari menangis. Ia akan gila jika sampai kehilangan kedua bayinya. Gita yang ikut panik justru lupa dengan sakit perutnya. Entah kemana hilangnya sakit perut yang sebelumnya sangat menyiksa.


"Huhuhu ...." Ruby masih menangis sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


"Apa kamu sedang hamil?" tanya Gita khawatir.


Ruby menangguk. Ia terus menangis sesenggukan akibat rasa cemasnya.


"Ini pasti gara-gara kamu ikut melakukan tendangan keras kepada penjahat itu!"


Ruby juga tidak menyangka dirinya akan mengalami pendarahan.


"Kamu tidak boleh panik, harus tenang agar pendarahannya tidak semakin parah. Bayimu pasti akan baik-baik saja." Sebagai seorang wanita yang sering mendapatkan masalah berat dalam hidupnya, Gita mencoba memberi nasihat. Biasanya masalahnya akan hilang setelah ia menenangkan diri.


Ruby mencoba mengikuti saran yang Gita berikan. Ia mengatur napasnya, menarik dan menghembuskan secara perlahan dan teratur.


"Siapa lelaki tadi?" tanya Gita ingin tahu.


"Mantan dosen zaman dulu." jawab Ruby.


"Apa kalian terlibat cinta? Jangan-jangan dia mau melukaimu karena kamu hamil?"


"Bukan, aku sudah punya suami," kilah Ruby dengan cepat.


"Berarti lelaki itu sebebarnya hanya ingin melecehkanmu?"


"Benar."


Gita tercengang. "Sekalipun kamu sudah menikah, lelaki itu masih mau mendekatimu? Apa dia sudah gila?" Gita sangat tidak percaya.


"Dia memang gila. Aku sampai tidak tahu lagi deskripsi seperti apa yang tepat untuknya." Sejak dulu Ben memang sudah mencecar Ruby.


Mobil terus melaju kencang membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Sang sopir taksi memenuhi rutenya sesuai permintaan dari langgannya.


Sesampainya di rumah sakit, Ruby langsung dibawa masuk ke IGD. Gita masih setia menemaninya bagaikan seorang kakak perempuan. Ia bahkan sudah lupa dengan tujuannya pulang awal untuk istirahat dan mengobati sakit perutnya. Ajaib, sakitnya sudah hilang dan dia sangat sehat.

__ADS_1


__ADS_2