
"Ruby ... Melvin .... "
Canda tawa Melvin dan Ruby seketika terhenti ketika ada yang memanggil mereka. Saat mereka menoleh, Tante Sukma ada di depan mereka dalam jarak tiga meter.
Situasi yang awalnya menyenangkan berubah menegangkan. Mereka tidak menyangka akan bertemu dengan Tante Sukma di parkiran tempat wisata itu.
Tante Sukma belum tahu tentang kedekatan hubungan mereka. Dia hanya tahu bahwa sebentar lagi Ruby akan menikah dengan Ardi dan menjadi menantunya.
"Tante .... " raut wajah Ruby berubah memucat. Ia merasa bersalah. Memang tidak seharusnya ia memperlihatkan kedekatannya dengan Melvin di tempat umum. "Saya bisa menjelaskannya." Ruby ingin mendekat, namun Tante Sukma mengangkat tangannya, memberi tanda bahwa ia melarang Ruby untuk mendekat.
"Ruby, sebentar lagi kamu akan menikah dengan Ardi ... apa kamu tidak sadar?" Sukma berkata dengan nada penuh kekecewaan.
"Dan kamu, Melvin, bukankah kamu juga teman baik Ardi? Kenapa kamu tega seperti ini?" lanjutnya.
"Tante .... " Melvin juga hendak berbicara, namun Tante Sukma tidak mengizinkan.
Wanita paruh baya itu memegangi dadanya. Wajahnya seperti menahan rasa sakit yang luar biasa. Ruby sangat khawatir. Ia berlari memegangi tubuh Tante Sukma yang terlihat semakin tidak berdaya. Tante Sukma lunglai, untung saja Ruby memeganginya agar tidak jatuh begitu saja ke tanah. Melvin yang masih menggendong Davin turun berlari mendekat.
Ia masih memegangi dadanya, seakan rasa sakit itu semakin parah bukannya mereda. Sukma syok melihat Ruby terlihat mesra dengan lelaki lain yang bukan Ardi.
"Ruby, Ruby .... " Tante Sukma berbicara dengan nada yang semakin berat.
"Iya, Tante." Ruby memegangi erat Tante Sukma. Ia sangat khawatir dengan kondisinya. Wajah Tanfe Sukma sangat pucat dan nafasnya mulai tersengal-sengal.
"Ruby, jangan tinggalkan Ardi ... tante mohon, Ruby ..., " ucapnya dengan nada yang semakin melemah.
Sembari menahan rasa sakitnya, Sukma masih memikirkan tentang Ardi. Dia tahu, sisa hidupnya mungkin tidak akan lama lagi. Ia ingin Ardi benar-benar bisa bersanding dengan Ruby.
"Iya, Tante. Jangan pikirkan itu dulu. Ayo, kita ke rumah sakit!" mata Ruby semakin berkaca-kaca melihat kondisi Tante Sukma.
Pelayan yang biasa mendampingi Tante Sukma tampak berlari mendekat ke arah mereka. Sepertinya Tante Sukma pergi sendiri menghampiri Ruby tanpa sepengetahuan mereka.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Tante Sukma pingsan di pangkuan Ruby. Otomatis Ruby sangat panik, ia histeris. "Tante Sukma, bangun, Tante ... Tante ... bangun!" serunya. Tetesan air mata mengalir membasahi pipinya.
Melvin melepaskan gendongan Davin dan menyerahkannya kepada salah seorang pelayan Tante Sukma. Segera ia memapah tubuh Tante Sukma dan membawanya ke dalam mobil. Ruby bersama dua orang pelayan itu mengikuti Melvin.
Karena mobil tidak cukup luas untuk mereka naiki semua, Ruby membawa Davin menaiki mobil Melvin. Dia yang menyetir mobil itu sendiri mengikuti mobil yang membawa Tante Sukma dan Melvin.
Sesampainya di rumah sakit, Tante Sukma segera mendapatkan penanganan oleh tenaga medis di ruang IGD. Wajah Ruby memucat, tubuhnya terasa gemetar akibat terlalu cemas. Davin sudah bangun dalam gendongannya. Ia sudah tidak bisa berpikir apapun selain mengkhawatirkan kondisi Tante Sukma.
"Ruby, minum dulu. Biar Davin aku yang gendong." Melvin menyodorkan sebotol minuman. Ia ambil Davin dari gendongan Ruby.
Ruby meminum air yang Melvin berikan beberapa teguk. Perasaannya sudah sedikit tenang.
"Jangan cemas, Tante Sukma pasti akan baik-baik saja," kata Melvin sembari mengusap puncak kepala Ruby.
"Kak Ardi .... "
"Aku sudah menghubunginya." Melvin menyahut sebelum Ruby selesai bicara. "Meka juga sudah aku hubungi karena Davin ada di sini. Kamu tidak perlu memikirkan apa-apa." Melvin ikut duduk di sebelah Ruby sambil memangku Davin. Untung saja anak itu bukan tipe anak yang rewel.
Penyakit Tante Sukma seharusnya semakin membaik setelah menjalani operasi. Akan tetapi, kondisi yang diperlihatkannya hari ini sangat bertolak belakang. Kondisi Tante Sukma sangat mengkhawatirkan.
"Ah, apa yang sudah aku lakukan .... " Ruby mengusap kasar wajahnya. Nada bicaranya seolah menyiratkan penyesalan. Bulir-bulir air mata menetes membasahi pipi.
"Kalau terjadi hal yang buruk kepada Tante Sukma, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri." Air mata yang mengalir semakin deras.
Melvin meraih pundak Ruby dan merangkulnya. Membiarkan wanita itu bersandar pada bahunya sembari menangis sesenggukan.
"Tidak ada yang salah, berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Semuanya pasti akan baik-baik saja." Melvin mencoba menenangkannya.
Hal yang paling Melvin takutkan ketika Ruby merasa bersalah dan menyesali hubungan yang mereka jalani. Apalagi kalau sampai ia meminta Melvin untuk meninggalkannya.
Melvin mengeratkan rengkuhannya. Ia tak mau melepaskan Ruby. Apapun yang terjadi, ia akan tetap mempertahankannya.
__ADS_1
"Mama!" seru Davin.
Melvin dan Ruby menengok ke arah depan. Meka telah sampai di sana. Davin turun dari pangkuan Melvin dan berlari menghampiri mamanya.
Meka menggendong Davin berjalan ke arah Melvin dan Ruby. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
Awalnya Meka mengira kalau mereka kecelakaan dan Davin ikut terluka. Melvin memberi informasi kurang jelas padanya. Ia hanya diberitahu kalau Davin ada di rumah sakit. Sontak, tanpa pikir panjang, Meka langsung pergi ke rumah sakit menaiki taksi. Untunglah Davin baik-baik saja.
"Tante Sukma jatuh sakit." jawab Melvin karena Ruby belum bisa bicara.
Meka terdiam. Sudah sangat lama ia tak bertemu dengan ibunya Ardi. Mungkin terakhir kali saat mereka berpacaran di awal perkuliahan.
Tak lama kemudian, beberapa perawat mendorong keluar tempat tidur yang ditempati Tante Sukma. Ada beberapa peralatan medis terpasang di tubuh Tante Sukma. Dokter yang menanganinya menghampiri wali dari pasien yang terlihat masih cemas.
"Bagaimana kondisinya, Dokter?" tanya Ruby. Ia paling awal berdiri ketika dokter keluar. Ruby sangat mengkhawatirkan kondisi Tante Sukma.
"Kondisinya sudah stabil, untunglah cepat diberikan penanganan. Sekarang, tinggal menunggu perkembangan selanjutnya."
Perkataan dokter membuat perasaan Ruby sedikit melega.
"Pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inat. Tadi Bapak ini meminta pasien ditempatkan di ruang VVIP, kan?" tanya sang dokter memastikan kepada Melvin.
"Benar, Dok." Melvin mengangguk.
"Kalau begitu, saya permisi dulu mau kembali ke ruangan. Silakan kalau kalian ingin melihat pasien di ruangannya," pamit sang dokter.
Mereka segera berjalan menuju ruangan tempat Tante Sukma dirawat. Seorang perawat memandu mereka menuju ruangannya.
Tante Sukma masih belum sadar. Ia seperti sedang tidur dengan selang infus dan transfusi darah yang menempel di tangannya. Ada pula monitor yang menunjukkan denyut jantung pasien.
Ruby terduduk lemas di samping ranjang Tante Sukma sembari memegangi tangan keriputnya yang lemas tak berdaya.
__ADS_1