
Ferdian duduk berhadapan dengan Renata di ruang kerjanya. Setelah menghilang beberapa hari, Renata datang ke kantor untuk menemui dirinya. Wajah Renata tampak sayu, ia lebih pendiam setelah bangun kembali dari tidur panjangnya.
"Aku ingin kita bercerai," ucap Renata seraya menyodorkan lembaran kertas yang berisikan tentang gugatan perceraian.
Ferdian merasa tak percaya dengan apa yang Renata lakukan. Ia baca baik-baik lembaran kertas yang diberikan oleh istrinya. Benar, surat itu merupakan lembar gugatan perceraian.
"Apa kamu belum meminum obatmu?" tanya Ferdian cemas. Ia paling tahu tentang kondisi Renata yang mengidap bipolar, penyakit yang tidak akan bisa sembuh seumur hidupnya. Renata harus mengkonsumsi obat tanpa henti agar kondisinya bisa terkendali. Jika ia mangkir dari rutinitas mengkonsumsi obat-obatan, entah apa yang akan terjadi nanti.
"Jangan mengingatkan apa yang sudah menjadi kebutuhanku. Aku tidak akan meninggalkan obat-obatanku lagi," jawab Renata dengan nada datar.
Ferdian tak pernah melihat Renata setenang hari ini. Wanita yang biasanya sangat egois, agresif, dan keras kepala itu tiba-tiba bersikap santai. Awalnya ia kekeh menyuruh Ferdian untuk menceraikan Meka. Ferdian sendiri tidak bisa. Ada banyak pertimbangan untuk meninggalkan Meka.
Ia memang masih mencintai Renata, perasaan itu masih sama sejak dulu. Mungkin karena sudah terbiasa mencintai dan menyayangi Renata, hal itu telah mendarah daging dalam dirinya. Renata berawal dari sahabat yang sangat disayanginya, sampai sekarang juga masih sama. Ferdian masih peduli dengan kondisi Renata.
Keluarga Renata tak sesayang itu pada anaknya. Jika Renata bersikap gila, mereka justru akan mengurungnya dan semakin menekannya. Ferdian khawatir jika Renata masih bersama keluarganya. Wanita itu juga tidak terbiasa hidup sendiri berbaur dengan orang lain. Perlu ada yang mampu memahami dia dan kondisinya.
Ferdian juga tidak bisa melepaskan Meka. Dengan wanita sederhana itu, ia bisa merasakan hangatnya hubungan rumah tangga. Meka adalah istri idaman yang mampu menciptakan suasana menyenangkan dalam rumah. Entah magnet apa yang ada di dalam dirinya sehingga mampu membuat orang-orang yang mengenalnya menjadi semakin menyayanginya.
"Apa kamu marah karena aku belum menceraikan Meka?"
Renata tertawa kecil. "Aku sudah tidak peduli dengan itu. Sekalipun aku menyuruhmu menceraikannya seribu kali, kamu pasti tidak akan mau. Sekalipun aku berhasil mengusirnya dari rumah, kamu akan tetap menemuinya di tempat lain."
__ADS_1
Ferdian terdiam tak bisa membantah ucapan Renata. Satu sisi ia ingin menjaga perasaan Renata. Ia masih bersikap lembut kepada wanita yang terkadang emosinya meledak-ledak itu.
"Aku tidak menyangka kamu akan benar-benar suka kepadanya. Padahal, dulu aku senang sekali melihatmu membuatnya menderita. Apa dia juga sudah melupakan Ardi? Apa dia bisa mencintai lelaki bajingan sepertimu? Hahaha ...." ledek Renata.
"Aku tidak tahu dia mencintaiku atau tidak. Tapi, dia seorang istri dan ibu yang baik."
Renata mangguk-mangguk. "Pasti dia sangat memuaskanmu di atas ranjang."
Bagi Ferdian, bukan hanya sebatas hubungan suami istri yang hangat dengan Meka yang membuatnya sulit melepaskan wanita itu. Bahkan, hal kecil seperti mengambilkan makan untuknya di meja makan membuatnya diperlakukan istimewa oleh. Saat wanita itu memasangkan dasi di lehernya sembari memintanya untuk tidak telat pulang, ia merasa menjadi seorang suami hanya dalam beberapa bulan saja. Pengalaman sepele seperti itu yang tidak ia dapatkan selama bersama Renata.
"Apa kamu akan pulang ke rumah orang tuamu?"
"Kamu masih khawatir padaku?" Renata sedikit tersenyum.
Renata terdiam sejenak. "Mungkin aku belum cerita padamu. Aku sempat menemui Melvin beberapa hari yang lalu."
Ferdian tidak terkejut mendengarnya. Renata memang seperti itu. Sebesar apapun kasih sayang yang diberikan olehnya, pikiran Renata hanya dipenuhi oleh satu nama, yaitu Melvin.
"Aku kesal sekali dia akhirnya menikah dengan wanita miskin itu. Hahaha ... wanita miskin. Miskin ...." Renata tertawa getir. "Dia ternyata putri dari Haidar Wijaya, kan?" Raut wajah Renata berubah murung. "Katanya mereka sudah menikah, bahkan wanita itu sedang mengandung anaknya. Melvin terlihat sangat bahagia memamerkan kehamilan wanita itu. Sebarusnya aku yang mengandung anaknya. Kenapa justru aku harus melahirkan anakmu?" Air mata Renata mulai mengalir. "Padahal aku hanya tertidur beberapa bulan saja, dunia ini seolah telah berubah begitu banyak. Apa aku saja yang selama ini hanya jalan di tempat? Kenapa sepertinya semua orang bahagia sedangkan aku tidak?"
"Ren ...." Ferdian meraih tangan Renata.
__ADS_1
Renata menepis tangan Ferdian. Ia mengusap air mata yang sempat menetes di pipinya. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi, Di. Aku tidak akan kembali ke rumah orang tuaku. Aku akan melanjutkan hidup dan menetap di Amerika. Terima kasih sudah menjadi sahabat yang baik selama ini. Meskipun aku tidak pernah sepenuhnya memberikan cinta padamu, kamu tetap selalu ada untukku. Rasanya sekarang sudah cukup untuk terus tergantung padamu."
"Tapi, Callista ...."
"Aku tidak akan membawanya." Sebelum Ferdian menyelesaikan perkataan, Renata sudah lebih dulu berbicara. Ia seakan mengerti apa hang Ferdian khawatirkan jika ia pergi. "Aku ini ibu yang buruk, kasihan Callista kalau harus ikut denganku. Apalagi jika sakitku kambuh, mungkin aku akan membahayakannya."
Dari cara bicara Renata, Ferdian menyimpulkan bahwa wanita itu memang sedang dalam kondisi yang tenang. Ia bisa berpikir bijak tentang dirinya sendiri dan anak yang paling disayanginya.
"Melihatnya sedekat itu dengan Meka membuatku sakit. Aku yang sudah mengandungnya selama 9 bulan serta melahirkannya sampai harus bertaruh nyawa. Ketika aku koma, Callista justru menganggap Meka sebagai ibunya." Renata tersenyum getir. "Namun, itu yang terbaik untuk Callista. Seperti yang kamu katakan, Meka orang baik yang bisa mengasuh Callista dengan baik. Jangan sampai dia bernasib sama sepertiku."
"Aku juga akan berjuang untuk hidup dengan baik di sana. Tolong jaga Callista, Di. Ceritakan kepadanya kalau aku seorang ibu yang baik." Renata kembali menyeka air matanya.
"Kamu memang seorang ibu yang baik. Tak ada yang mengatakan kalau kamu ibu yang gagal."
"Hahaha ...." Renata tertawa di sela-sela mengusap air matanya. Ferdian memang paling jago untuk menghibur hatinya. "Saat aku pulang dengan kondisi yang lebih baik, aku harap Callista bisa menerimaku sebagai ibunya."
"Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi ibu kandung bagi seorang anak, Ren. Kalau Callista sudah besar, dia pasti akan mengerti tentang kondisimu."
Renata mengangguk. Ada perasaan lega bisa berbicara panjang lebar dengan Ferdian. Sejak dulu, hanya lelaki itu yang bisa mengerti perasaannya. "Kalau begitu, aku akan pergi sekarang. Jangan lupa menandatangani surat itu dan segera serahkan ke pengadilan agama. Aku sudah tidak sabar untuk menyandang status janda untuk kedua kalinya." Renata bangkit dari duduknya. "Jangan coba-coba mengulur waktu perceraian kita, Di. Aku juga mau mencari pasangan baru yang lebih baik darimu atau juga Melvin."
"Apa aku pernah bisa menolak kemauanmu?"
__ADS_1
Renata hanya tersenyum menanggapi ucapan Ferdian. Ia pergi dari ruangan itu membawa perasaan lega.