
"Hai ...."
Elen mengangkat kepalanya. Indra duduk di hadapannya dengan senyuman yang mengembang. Mood belajarnya langsung hilang. Tugas-tugas kampus sudah cukup membuatnya pusing ditambah keberadaan Inda yang tak pernah berhenti mengusik hari-harinya. Impian menjadi seorang dokter terasa begitu berat dijalani. Terkadang ia ingin berhenti, tapi takut keluarga dan suaminya kecewa dengan keputusannya.
Alasan awal Elen menikah dengan Ardi adalah demi mempertahankan kuliahnya. Sebelumnya ia bahkan pernah berniat menjadi seorang pela*cur demi mendapatkan banyak uang untuk menutupi biaya kuliah. Semua gara-gara Indra. Hanya karena cinta ditolak, lelaki itu tega sampai membuat beasiswanya dicabut.
Setelah ia menikah, lelaki itu belum juga menyerah untuk mengganggunya. Ia yakin jika Elen menikah dengan Ardi karena terpaksa. Meskipun kenyataannya demikian, jika Elen tak menikah dengan Ardi, ia juga tidak akan memilih Indra.
"Apa kamu sudah makan? Mau makan denganku di kantin? Atau ... bagaimana kalau kita ke restoran?"
"Terima kasih, Indra. Aku sudah makan." Elen selalu mencari alasan untuk menolak Indra.
"Kalau minum-minum sebentar di kafe depan? Jam kuliahmu juga sudah selesai, kan?"
"Aku sedang menunggu suamiku datang menjemput. Kamu bisa mengajak teman lain yang masih single, Indra. Aku sudah menikah."
Indra terdiam sejenak. Sudah berulang kali Elen mengatakan telah menikah, namun dirinya masih belum bisa menerima. Seharusnya Elen menjadi istrinya, bukan istri orang lain.
"Suamimu mungkin akan lama datangnya. Aku akan menemanimu sampai suamimu datang." Indra tak juga menyerah. Saat ini ia memilih untuk menggunakan cara yang lebih lembut dalam mendekati Elen.
"Aku tidak mau suamiku punya pikiran macam-macam jika melihatku bersama lelaki lain. Please, Indra ... berhenti menggangguku."
"Aku tidak sedang mengganggu, Elen. Aku hanya ingin menjadi teman yanh baik."
__ADS_1
"Cukup jaga jarak dariku jika kamu ingin mrnjadi temanku. Aku akan menghargainya." Elen mengemasi barang-barangnya. Ia tak ingin ribut di perpustakaan hanya karena Indra. Tempat itu tidak cocok untuk mengobrol, tapi untuk belajar.
Saat Elen memilih keluar dari perpustakaan, Indra turut mengikuti. Tentu saja hal itu membuat Elen sangat risih. Banyak temannya yang tahu kalau dia sudah menikah. Jika Indra terus berada di dekatnya, bisa-bisa muncul rumor yang buruk.
Sebagai seorang istri ia harus menjaga harga diri dan nama baik suami. Jangan sampai ada pihak yang menganggap sebagai wanita murahan. Bagaimanapun kenyataannya, orang seringkali menilai sesuatu hanya dari sudut pandangnya saja.
"Kamu mau kemana?" tanya Indra sembari terus mengikuti langkah Elen.
"Berhenti mengikutiku, Indra. Apa kamu tidak paham dengan yang aku katakan barusan?"
"Ya, aku memang tidak pernah bisa memahamimu. Kamu wanita paling egois yang tidak mau mengerti perasaan orang."
"Aku sangat mengerti perasaanmu. Berhentilah mengikutiku supaya luka hatimu cepat sembuh. Kamu hanya akan semakin terluka jika terus mengharapkanku."
Indra meraih tangan Elen. "Elen, kembalilah padaku. Aku akan membahagiakanmu. Sebelum semuanya terlambat, bercerailah dan menikah denganku."
Elen ingin tertawa mendengarnya. Mungkin Indra tak pernah mendengar saat ibunya menghina dirinya karena usaha sang ayah telah bangkrut. Elen memang hanya menikah kontrak dengan Ardi, tapi itu lebih baik karena tidak ada pihak keluarga yang mengajukan penolakan.
"Dari wajahnya aku tahu suamimu yang sekarang bukan orang baik. Bisa saja dia suatu saat menceraikanmu."
"Itu bukan urusanmu, Indra. Apapun yang terjadi padaku, suamiku yang harus bertanggung jawab."
"Jangan terlalu percaya diri dengan ucapan lelaki. Apalagi lelaki seperti suamimu."
__ADS_1
Elen sudah tak ingin lagi berbasa-basi dengan Indra. Ia memilih berjalan pergi. Namun, saat baru beberapa langkah ia beranjak, kepalanya terasa berat dan pusing. Pandangannya menjadi kabur, badannya terasa ringan dan akhirnya jatuh limbung.
"Elen!" Beruntung Indra ada di sana. Ia menopang tubuh Elen sebelum jatuh ke lantai. Segera ia bawa lari Elen ke klinik kampus.
"Kamu buat masalah lagi, Indra? Dia kenapa?" tanya seorang dokter wanita saat Indra datang memapah Elen ke sana.
"Aku tidak tahu, Dokter. Dia tadi tiba-tiba jatuh pingsan."
"Tidurkan dia di sana!"
Indra segera merebahkan tubuh Elen di atas ranjang. Wajahnya tampak panik. Meskipun ia berusaha mengejar Elen, melihatnya dalam kondisi seperti itu juga khawatir. Dokter Sasa yang bertugas di sana memeriksa denyut nadi dan napas Elen.
"Dia hanya pingsan. Tekanan darahnya juga rendah. Mudah-mudahan dia segera sadar."
Indra sedikit lega mendengar perkataan dokter. Dilihatnya wajah teduh yang sedang tertidur di atas ranjang dengan tenang. Ada rasa penyesalan yang muncul, kenapa dulu ia membuat wanita itu kesulitan karena beasiswa yang dicabut kampus.
*****
Sambil menunggu update bab selanjutnya, bisa mampir dulu ke sini ya 😘
Judul: Lelaki Bayaranku
Author: Iren
__ADS_1