PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
MENGHADAPI ALBEN


__ADS_3

"Permisi ...." Gita mengintip lewat pintu yang sedikit ia buka.


"Masuk!" seru Rei yang tetap terbaring di atas ranjang perawatannya.


Gita cengengesan setelah dipersilahkan masuk oleh bosnya. Ia membawa parcel keranjang buah dan meletakkannya di atas meja. Kemudian ia duduk di sisi Rei tetap dengan sikap malu-malu.


"Saya dengar Bapak kecelakaan dari obrolan para staff HRD. Maaf, baru sempat menjenguk Bapak sekarang."


"Terima kasih sudah menyempatkan waktu datang."


Gita merasa sangat canggung berhadapan dengan Rei, apalagi datang ke sana adalah inisiatifnya sendiri. Ia melirik kondisi bosnya, kakinya dan kepalanya masih dibalut perban. "Katanya Bapak kecelakaan setelah dari acara pernikahan mantan Bapak, ya? Apa berarti setelah mengantar saya pulang?"


Rei mengangguk.


"Saya jadi merasa bersalah," ucap Gita.


"Kalau sudah waktunya kena musibah, tidak mengantarmu pun aku akan tetap kecelakaan."


"Tapi, tetap saja ... seharusnya kita pulang tidak terlalu larut. Bapak pasti mengantuk ya nyetirnya."


Rei hanya tersenyum. Ia tidak tega kalau menceritakan yang sebenarnya. Gita pasti akan syok jika mengetahui Rei hampir terkena tembakan oleh orang yang tidak dikenal. "Bukannya kamu senang ya, kalau aku lebil lama tidak bisa masuk kantor."


"Haisss ... tentu tidak, Pak. Anda kan sudah janji mau mengangkat saya jadi manajer konstruksi. Saya sangat berharap Bapak segera bisa masuk kantor." Gita memberikan senyuman dengan arti terselubung.


"Jangan-jangan kamu datang ke sini juga untuk itu, ya?"


"Hehehe ... kan sekalian, Pak."


"Kamu tenang saja, walaupun aku belum bisa masuk kantor, kamu tetap akan aku tempatkan di bagian yang sudah aku tentukan."


"Terima kasih ya, Pak! Anda memang bos terbaik di dunia." Gita mengerlingkan sebelah matanya.


*****


"Kembalilah ke ruanganmu, istirahat. Papa sudah tidak apa-apa," pinta Pak Wijaya kepada putrinya.


Ruby, sejak ayahnya dirawat di sana, ia lebih banyak menghabiskan waktu di ruangan ayahnya daripada di ruangannya sendiri. Ia hanya kembali ke ruangan saat ada pemeriksaan dokter dan pengecekan kondisi kandungan. Ruby masih merasa sedih jika mengingat luka tusukan sang ayah yang harus mendapatkan beberapa jahitan. Untung saja tidak sampai melukai organ dalam.

__ADS_1


Melvin akhir-akhir ini jadi lebih sibuk. Ia harus menggantikan pekerjaan ayahnya juga mengurusi perusahaannya sendiri. Ruby yang ingin membantu dilarang. Padahal pekerjaannya di rumah sakit hanya tidur-tiduran saja. Menurut dokter, kondisi kandungannya juga sudah stabil. Akan tetapi, Melvin tak mau percaya.


Selain sibuk mengurusi pekerjaan, Melvin juga turut ikut menyelidiki kasus yang menimpa Rei dan ayahnya. Dia sampai menyewa detektif untuk membantu polisi mempercepat penyelidikan.


"Ruby ...."


"Aku mau di sini saja, Pa." Ruby berdikeras tetap duduk menemani ayahnya.


"Kamu jangan egois. Ada dua nyawa di dalam tubuhmu yang harus dijaga. Kamu jangan menyepelekan. Kehilangan anak itu rasanya sangat berat, Ruby. Mamamu dulu juga sampai sakit-sakitan karena kehilangan Rei."


"Ruby tahu batas kemampuan Ruby sendiri, Pa. Jangan khawatir. Aku yakin mereka juga ingin ikut menemani kakeknya di sini." Ruby mengelus perutnya yang kian hari terasa semakin membuncit.


Pak Wijaya tertawa kecil dengan kelakuan Ruby. Anak itu bisa saja membuat orang tidak bisa marah. "Sudahlah, memang percuma saja menasihatimu." Pak Wijaya geleng-geleng kepala.


Ruby menerima sebuah pesan dari nomor tidak dikenal. Saat ia buka pesan itu, ada seseorang yang mengirimkan gambar padanya. Betapa hatinya hampir copot ketika melihat foto Melvin dalam kondisi terikat dan tidak sadarkan diri. Seketika raut wajahnya berubah menjadi pucat pasi.


"Em, Pa ... Aku mau pipis dulu, ya ...." pamitnya seraya bergegas menuju pintu keluar.


"Ruby, kamu mau ke mana?" tanya Pak Wijaya menghentikan langkah Ruby.


"Aku mau pipis, Pa ...." Ruby takut ayahnya mencurigai dirinya. Ia tak ingin membuat ayahnya panik dalam kondisi seperti itu.


Ruby menggaruk kepalanya. "Aku mau pipis di toilet luar, Pa. Sekalian nanti Ruby ke restoran di bawah sebentar. Ruby lapar."


"Kenapa tidak menyuruh penjaga saja?" Di luar ruangan Pak Wijaya ada beberapa orang yang berjaga.


"Entahlah, Pa! Rasanya aku sedang ingin membeli sendiri."


"Ya sudah, nanti minta salah satu penjaga menemanimu."


Ruby tersenyum. "Iya, Pa!" Ia bergegas keluar dari ruangan ayahnya lalu berjalan lurus menuju toilet luar yang ada di lantai itu. Kebetulan situasi kelihatannya sepi, karena memang lantai tersebut adalah tempat VIP sehingga toilet umum pasti jarang terpakai.


Ruby mengunci pintu toilet dari dalam. Buru-buru ia membuka kembali ponselnya dan menelepon nomor asing yang berani mengirimkan gambar semacam itu padanya. "Halo ...," sapanya.


"Halo, Sayang ...." Terdengar suara jawaban dari seberang telepon. Dari suaranya, Ruby sudah bisa mengenali siapa suara lelaki yang sedang ia hubungi.


"Pak Ben?"

__ADS_1


"Aku sudah yakin kalau kamu akan langsung mengenali suaraku, Ruby ... kamu memang benar-benar kesayanganku."


Rasanya tidak percaya mengetahui orang yang tengah menyekap suaminya adalah Pak Ben, mantan dosennya. "Apa yang Bapak lakukan kepada suami saya?" Ruby berusaha menenangkan nada bicaranya.


"Untuk sementara ini, dia masih baik-baik saja. Aku sama sekali tidak melukainya. Paling hanya memberikannya obat bius agar tidak terlalu merepotkanku."


Ruby mengepalkan tangannya. Kalau saja Alben ada di sana, pasti sudah ia layangkan tinju mautnya.


"Bagaimana kondisi Rei dan ayahmu? Apa mereka baik-baik saja?"


Ruby melebarkan mata. "Jangan bilang kalau itu juga perbuatan Bapak ...."


"Apa kamu marah? Aku terpaksa melakukannya untuk mendapatkan perhatian darimu."


"Apa Anda sudah gila!" teriak Ruby. Ia sangat emosi mengetahui keluarganya dilukai oleh psikopat semacam Alben. Perasaannya campur aduk, ia sangat marah sekaligus sedih.


"Sudah aku bilang, aku memang tergila-gila padamu."


"Pak!" sekali lagi Ruby membentaknya."


"Stt ... jaga bicaramu kalau tidak ingin Melvin yang akan menjadi korban selanjutnya. Aku bisa nekad melukainya kalau kamu suka membantah."


Ruby tak bisa berbuat apa-apa. Semua lelaki yang seharusnya bisa ia andalkan, telah dilukai oleh Alben lebih dulu. Ia benar-benar sendirian untuk tetap berjuang.


"Mau Bapak apa?" tanya Ruby memastikan.


"Aku menginginkanmu."


"Kalau Bapak sudah mendapatkan saya, apa yang mau Bapak lakukan?"


"Aku tidak akan mengganggu keluargamu lagi. Aku akan membawamu hidup jauh dari mereka."


"Anda gila." Ruby masih tidak bisa percaya dengan kelakuan Alben.


"Penjagaan di rumah sakit sangat ketat. Aku tidak bisa masuk ke sana. Makanya, usahakan kamu bisa keluar menemuiku tanpa mereka tahu. Jangan berani mencoba menghubungi polisi, karena aku tidak akan segan membunuh Melvin."


"Aku tunggu kedatanganmu di Apartemen XXX lantai 21 nomor 205. Jika kamu berani tidak datang, Aku akan mengirimkan potongan Mayat melvin untukmu. Aku tidak akan bercanda.

__ADS_1


Alben memutus sambungan telepon. Ruby langsung terduduk lemas di sana. Ia bingung harus melakukan apa. Apakah bener, ia harus datang sendiri? Apa yang Alben inginkan darinya sejak awal sebenarnya adalah tubuhnya. Apakah lelaki itu akan puas jika hanya diberikan sekali kesempatan tidur dengannya?


Kondisinya tidak mungkin membuatnya menolak. Alben psikopat yang bisa melancarkan aksinya tanpa ragu. Keselamatan Melvin sedang terancam. Ia juga harus menjaga dua calon bayi yang sangat ia sayangi.


__ADS_2