Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Day 2 Field Trip - Solo


__ADS_3

Kota Solo atau Surakarta sering kali disebut dengan Kota Budaya. Ini semua karena kota ini memiliki budaya yang dari masyarakat Jawa yang kental, makanan yang lezat, dan juga keramahtamahan dan kesopanan warga Solo yang membuat orang-orang selalu rindu untuk kembali ke kota ini.


Kali ini, rombongan mahasiswa dan para dosen menuju Keraton Kasunanan Surakarta. Sebuah Keraton yang menjadi tempat cagar budaya di kota Solo. Berbeda dengan di Jogjakarta, apabila di Jogjakarta keraton juga menjadi tempat bagi raja untuk memerintah rakyatnya. Di Surakarta sendiri, keraton lebih difungsikan sebagai cagar budaya, raja yang bertahta sebagai simbol penerus garis keturunan dari Kasunanan Surakarta Hadininingrat saja.


“Semua rombongan sudah siap yah? Kalian bisa melihat arsitektur, desain, mau pun tata ruang di keraton ini. Kemudian bandingkan dengan Keraton di Jogjakarta,” jelas Arsyilla.


Keraton Surakarta sendiri adalah sebuah keraton yang dibangun oleh Sri Sultan Pakubowono II pada tahun 1744, sebagai pengganti Keraton Kartasura yang porak-poranda usai Geger Pecinan di tahun 1743. Pada zamannya dulu bangunan Keraton Surakarta ini merupakan bangunan yang eksotis, diarsitekturi oleh Pangeran Mangkubumi (kelak akan bergelar Sri Sultan Hamengkubowono I) dengan mengusung konsep Joglo (rumah khas Jawa Tengah) dan dipadukan dengan balairung-balairung, paviliun, dan pelataran yang luas.


Kompleks keraton ini dikelilingi oleh Baluwarti sebuah dinding pertahanan dengan tinggi sekitar tiga sampai lima meter, dan tebal sekitar satu meter tanpa anjungan. Gaya arsitektur Keraton Surakarta mirip dengan Jogjakarta karena diarsitekturi oleh satu orang yang sama yaitu KGPH. Mangkubumi yang setelah terjadinya Perjanjian Giyanti dengan dipecahnya Kerajaan Mataram Islam, kemudian Beliau diangkat menjadi Sri Sultan Hamengkubowono I.


“Bentuk bangunannya sama dengan yang di Jogjakarta kemarin ya Bu Arsyilla?” tanya Mona, salah seorang mahasiswi Teknik Arsitektur.


“Iya, memang. Namun, ada beberapa perbedaan yang cukup terlihat dari desain dan arsitekturnya,” jawab Arsyilla.


“Perbedaannya di mana Bu Arsyilla?” kali ini giliran Ryan yang bertanya.


Rasanya para mahasiswa belum menemukan di mana letak perbedaan kedua bangunan yang sama-sama disebut Keraton yang didatangi mereka kemarin dan hari ini. Arsyilla lantas memberikan pertanyaan lanjutan.


“Ada yang tahu letak perbedaan kedua bangunan ini?” tanyanya.


Semua mahasiswa pun diam, lantas Arsyilla menatap wajah mahasiswanya itu satu per satu. Merasa tidak ada yang menjawab, Arsyilla bernilai memberi hadiah bagi mahasiswa yang bisa menjawabnya.


“Yang bisa menjawab, usai ini saya traktir makan Selat Solo,” lanjut Arsyilla.


Rupanya ada satu tangan yang terangkat, Arsyilla pun melihat tangan siapa yang terangkat itu.


“Nah, itu ada tangan yang terangkat. Silakan maju ke depan, siapa ya itu?” tanyanya.


Para mahasiswa pun menoleh ke tangan yang masih terangkat itu dan tidak lain dan tidak bukan, itu adalah Aksara.


“Bang Aksara, Bu … wah, kalau benar ditraktir makan Bu Arsyilla nih,” celetuk beberapa mahasiswa.


Arsyilla bersikap santai dan setenang mungkin, walaupun sebenarnya dia beneran grogi sekarang ini. Kenapa lagi mahasiswa sekaligus suaminya itu yang mengangkat tangannya. Padahal dia memiliki 50 mahasiswa, kenapa selalu Aksara yang menjawab pertanyaannya.


Perlahan-lahan pria itu maju ke depan, beberapa jengkal di sisi Arsyilla yang kini tengah berdiri, dan mulai menjawab pertanyaan dari dosennya itu.

__ADS_1


“Perbedaannya adalah gaya arsitektur bangunan ini adalah mengusung perpaduan Jawa dan Eropa. Untuk model bangunannya Jawa dengan Joglo sebagai Kedhaton dan Balairung-Balairung, sementara sentuhan Belanda terletak di warna bangunan keraton ini yang memiliki warna Biru dan Putih. Di masa lampau, warna Biru dan Putih adalah warna kerajaan-kerajaan besar di Eropa. Selain itu, penempatan patung-patung bergaya Eropa di halaman Kedhaton berpadu dengan paviliun berjendela kaca besar, mengingatkan dengan konsep klasik kerajaan di Eropa,” jawab Aksara.


Mendengar jawaban dari Aksara, para mahasiswa pun bertepuk tangan. Tidak mengira mahasiswa yang cuti beberapa semester itu nyatanya bisa menjawab dan menjelaskan desain arsitektur yang dimiliki bangunan bersejarah di kota Solo itu.


“Ya, jawaban dari Aksara benar yah. Penjelasannya juga sudah detail, berarti usai ini kamu ikut saya yah … saya akan traktir makan Selat Solo,” jawab Arsyilla.


Para mahasiswa pun tertawa, jawaban dari Aksara ternyata membuat mahasiswa itu bisa makan bersama dengan Dosen sekaligus istrinya.


***


Usai, tour de Keraton selesai. Arsyilla kini mendatangi Aksara, mengajak mahasiswanya itu untuk makan bersama. Sesuai dengan janjinya bahwa mahasiswa yang bisa menjawab akan mendapatkan traktiran darinya. Lantaran sekarang di Kota Solo, maka Arsyilla berniat mentraktir Selat Solo bagi mahasiswa yang bisa menjawab pertanyaannya tadi.


“Wah, enak Bang Aksara … makan Selat Solo sama Bu Dosen,” sahut Ryan.


“Hmm, iya,” balas Aksara ala kadarnya saja.


Tentu sekalipun hatinya sangat senang karena bisa makan bersama Dosennya itu, tetapi mereka berdua tidak boleh terlihat mencolok di hadapan para mahasiswa. Untuk itu, Aksara tetap tenang.


“Nanti kalian langsung istirahat saja Ryan, ada dosen lain yang bisa menghandle yah. Saya menjalankan tugas dulu,” pamit Arsyilla kepada Ryan.


Rumah makan Selat Mbak Lies, sudah menjadi jujugan bagi para wisata dan menjadi tempat rekomendasi makan Selat Solo yang enak di kota itu. Rumah makan yang didonimasi dengan berbagai koleksi keramik itu merupakan tempat makan yang legendaris di kota Bengawan.


“Mau pesan apa?” tanya Arsyilla.


“Menu yang autentik apa?” tanya Aksara.


“Yang autentik jelas Solo Selat. Kamu bisa milih Selat Segar atau Selat Galantin,” jawab Arsyilla.


Pria itu mengamati beberapa menu, kemudian memilih untuk memesan makanan dan minumannya. “Uhm, aku Selat Segar khas Solo saja minumnya Es Tape,” pesannya.


Sementara Arsyilla memilih memesan menu yang sama dengan Es Gula Asem. Sehingga menjelang sore itu, keduanya makan bersama sembari melihat berbagai koleksi keramik yang dimiliki oleh pemilik rumah makan itu.


“Pasti senang dapat rewardnya ya Kak?” tanya Arsyilla dengan tiba-tiba.


“Pasti senanglah, kapan lagi bisa sembari makan bersama-sama kamu di tempat yang autentik kayak gini,” balasnya.

__ADS_1


“Para food vlogger pada kesini loh Kak, itu mereka menulis pesan di piring-piring keramik itu,” tunjuk Arsyilla pada beberapa piring keramik yang disusun di dinding.


Aksara lantas mengamati beberapa koleksi keramik dan tulisan yang tertera di setiap piring itu, benarlah banyak pesohor yang pernah singgah di rumah makan tersebut.


“Iya, banyak pesohor yang pernah kemari,” balas Aksara.


Pelayan mulai menyajikan menu yang mereka pesan di meja, dan keduanya menikmati Selat Solo yang merupakan hidangan akulturasi antara Jawa dan Eropa itu. Ya, Selat Solo sendiri berasal dari kata ‘Salad’ makanan khas Eropa yang berupa daging yang dimasak. Untuk mengombinasikan dengan lidah nusantara, maka dipadukan dengan beberapa sayuran dan rempah-rempah khas Nusantara. Sejak saat itu, terkenallah Selat Solo yang dikenal sebagai salah satu makanan enak khas Nusantara.


“Enak ya Kak,” ucap Arsyilla saat menyuapkan makanan itu untuk Aksara.


Pria itu mengernyitkan keningnya karena cukup jarang Arsyilla menyuapinya makan. Kendati demikian, Aksara pun membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari istrinya itu. Aksara mengunyahnya perlahan, merasai rasa manis dan berpadu dengan aneka rempah di menu makanan bersama Selat Solo itu.


“Hmm, iya … enak,” sahut Aksara.


Arsyilla tersenyum, “Dihabiskan Kak, tambah lagi boleh. Aku yang traktir,” balasnya.


“Aku akan yang traktir, Sayang … enggak enaklah cowok kok ditraktir cewek,” sahutnya dengan cepat.


“Enggak apa-apa Kak, kan tadi aku udah bilang mau traktir,” sahut Arsyilla lagi.


Aksara lantas menatap wajah istrinya itu, “Aku bisa minta reward yang lain enggak?” tanyanya.


“Hmm, apa?” tanya Arsyilla.


“Minta jatah,” sahut Aksara.


Mendengar permintaan frontal dari suaminya, Arsyilla hingga nyaris tersedak. Sehingga dengan cepat Arsyilla meminum Es Gula Asem miliknya terlebih dahulu.


“Kalau ketahuan?” bisik Arsyilla dengan lirih.


Aksara menggelengkan kepalanya perlahan, “Tidak akan. Tenang saja,” sahutnya. “Di kamarku atau di kamarmu?” tanya pria itu lagi.


“Di tempatmu saja,” balas Arsyilla.


Senyuman di wajah Aksara sekitar mengembang. Pria itu kembali memakan Selat Solo miliknya sembari tersenyum melirik pada wajah istrinya yang memerah. Hanya sekadar berbicara begitu saja, wajah Arsyilla sudah merona-rona. Rasanya Aksara begitu bahagia melihat wajah istrinya yang malu-malu seperti itu, justru kian menggemaskan di matanya.

__ADS_1


__ADS_2