
“Aksara, gimana keadaan Arsyilla sekarang?”
Rupanya dari kantor polisi, Ravendra benar-benar menyusul Aksara menuju ke Rumah Sakit. Menyadari ada Ravendra yang datang, Aksara pun menoleh ke pria itu.
“Masih ditangani di IGD,” jawab Aksara.
Ravendra lantas menyerahkan hand bag milik Arsyilla kepada Aksara, “Ini milik Arsyilla kan?” tanya Ravendra.
Aksara pun menganggukkan kepalanya dan menerima hand bag berwarna cokelat itu. “Makasih banyak yah,” jawab Aksara.
Ravendra lantas menepuk punggung Aksara, “Tenang saja … Arsyilla pasti baik-baik saja. Dia akan baik-baik saja karena ada suaminya yang sangat mencintainya,” ucap Ravendra kini.
Kedua pria yang tidak pernah berhubungan baik itu kini bisa bersikap baik. Terasa canggung memang. Akan tetapi, keduanya bersikap santai.
“Thanks ya Vendra … gue gak tahu kalau tadi lo enggak ngikutin Syilla dan kasih lokasinya kepada gue. Entah bagaimana keadaan Syilla sekarang ini,” ucap Aksara.
“Iya … gak apa-apa,” balas Ravendra.
Aksara kemudian menenangkan dirinya sesaat, lantas dia melirik sekilas ke Ravendra, “Tapi lo gak ada kaitannya dengan kasus barusan kan?” tanya Aksara kini.
Bukannya ingin mencurigai Ravendra, hanya saja Ravendra di masa lalu pernah melakukan tindakan serupa kepada Arsyilla. Sehingga, sangat wajar jika Aksara bertanya hal demikian kepada Ravendra.
“Lo lihat gue, Aksara … orang yang pernah melakukan kesalahan bisa bertobat, Sa. Gue akui dulu gue jahat banget. Gue pernah menyakiti Arsyilla. Akan tetapi, selama mendekam di penjara gue sadar bahwa gue udah salah banget. Arsyilla gadis yang baik-baik, tetapi gue justru mencelakainya. Sorry juga buat kesalahan bokap gue ke lo ya Aksa,” ucap Ravendra kali ini.
Mencoba merenungi ucapan Ravendra, Aksara melihat wajah pria yang sekarang duduk di sebelahnya itu. Mencoba menerka apakah ada kebohongan di sana. Jika Ravendra benar-benar bertobat maka Aksara tentu akan bersyukur.
__ADS_1
Ravendra lantas tersenyum dan berdiri, “Ya sudah … gue pamit ya. Lagian yang dibutuhin Arsyilla adalah lo, suaminya. Take care yah,” ucap Ravendra.
Pria itu lantas melangkahkan kakinya dan meninggalkan ruangan IGD. Baru beberapa langkah Ravendra melangkah, perlahan Aksara memanggil nama pria itu.
“Vendra,” ucapnya.
Merasa namanya dipanggil, Ravendra pun berbalik dan menoleh ke arah Aksara. “Ya, ada apa?” tanyanya.
“Thanks yah,” ucap Aksara kali ini.
Ravendra pun menganggukkan kepalanya, pria itu lantas berbalik lagi dan segera meninggalkan tempat itu. Sungguh, Ravendra sepenuhnya sadar bahwa dia ingin hidup dengan caranya. Dia tidak mau dibayang-bayangi dendam sama seperti Papanya. Lagipula tidak memiliki Arsyilla sudah menjadi takdir dalam hidupnya. Mungkin saja, jika bukan Arsyilla, Tuhan akan menyediakan pasangan yang sepadan dan diciptakan Tuhan memang untuknya.
Sementara Aksara masih menunggu, dan berharap bahwa dirinya akan segera diperbolehkan untuk menunggu Arsyilla. Aksara masih panik. Dia ingin bersama Arsyilla dan kali ini Aksara berjanji bahwa dia tidak akan mengizinkan Arsyilla bepergian sendirian lagi.
Memastikan keamanan Arsyilla akan menjadi prioritas Aksara sekarang ini. Untuk pekerjaan bisa dia tinggalkan, tetapi tidak dengan Arsyilla. Sungguh, dalam keadaan seperti ini bukan hanya Arsyilla yang kesakitan, tetapi dirinya turut kesakitan.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Aksara dengan gugup dan khawatir tentunya.
“Syukurlah … Istri Anda terkena luka lebam dan benturan benda tumpul di pelipisnya. Untung saja tidak ada masalah yang serius dengan kehamilan Istri Anda,” jelas Dokter tersebut.
Mendengar perihal kehamilan, air mata Aksara luruh sudah. Dia sungguh tidak mengerti jika istrinya itu ternyata kini tengah hamil.
Melihat reaksi Aksara yang sampai meneteskan air mata, Dokter pun bertanya kepada Aksara. “Apa Anda tidak tahu jika istri Anda hamil?” tanyanya.
Aksara menggelengkan kepalanya, “Tidak … saya belum tahu,” jawab Aksara.
__ADS_1
“Kehamilan masih sangat muda … untung saja tidak ada pukulan atau hantaman yang mengenai perutnya. Tolong lebih dijaga Istrinya. Memang ada sedikit flek, jadi sebaiknya pasien harus bedrest terlebih dahulu,” jelas Dokter tersebut.
“Sebentar lagi Istri Anda akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Tolong lebih diperhatikan apalagi dengan janin dalam kandungannya,” pesan Dokter tersebut kepada Aksara.
“Baik Dok … terima kasih,” sahut Aksara.
Pria itu kembali duduk dengan kaki yang terasa begitu lemas. Sungguh, dia tidak mengira bahwa Arsyilla tengah hamil sekarang. Berarti mual dan muntahnya selama ini bukan lantaran dirinya yang sakit, melainkan karena Arsyilla yang tengah berbadan dua.
“Sampai terjadi apa-apa dengan calon buah hatiku, aku tidak akan segan-segan melenyapkan kalian berdua,” ucap Aksara kali ini dengan mengepalkan kedua tangannya.
Aksara masih meneteskan air mata, bisa saja hari ini dia kehilangan dua sosok paling berharga dalam hidupnya. Untunglah Tuhan masih berbelas kasihan kepadanya. Untunglah Arsyilla dan janin dalam perutnya masih bisa diselamatkan.
“Maafkan aku, Syilla … aku gagal melindungi lagi,” ucap Aksara dengan lirih.
Ya, sebagai seorang pria dan suami, Aksara merasa gagal dan begitu bersalah karena izin yang dia berikan kepada Arsyilla nyatakan justru membuat istrinya itu dalam bahaya. Sungguh, Aksara tidak akan membiarkan Arsyilla bepergian sendirian lagi. Alih-alih membiarkan Arsyilla pergi sendirian, lebih baik dirinya yang cuti atau menerima pemotongan gaji sekaligus asalkan Arsyilla bisa tetap aman dalam lindungan dan pengawasannya.
Beberapa saat berlalu, terlihat pintu kembali dibuka dan Arsyilla yang terbaring di atas brankar mulai dibawa keluar dan akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Aksara pun segera beranjak dan turut mendorong brankar istrinya itu. Hatinya kembali teriris perih melihat wajah Arsyilla yang begitu pucat dengan perban di kepalanya, bekas luka lainnya di wajahnya membuat Arsyilla begitu kasihan saat ini.
“Di kamar VIP ya Pak Aksara … berdasarkan fasilitas kesehatan milik Anda,” ucap seorang perawat.
“Iya,” sahut Aksara.
Lantas kini Arsyilla sudah ditempatkan di ruang rawat inap kelas VIP, dan perawat menaruh selang infus di sebuah tiang yang ada di sisi brankar Arsyilla. Aksara duduk di tepi brankar dengan memegangi tangan istrinya itu.
“Segera sadar, Honey! Pasti sakit sekali yah … maafkan aku. Maafkan aku yang gagal melindungimu,” ucap Aksara kali ini.
__ADS_1
Dalam hatinya, Aksara mengucapkan doa semoga Tuhan segera menyandarkan Arsyilla. Sungguh, hatinya terasa begitu sesak melihat Arsyilla dalam kondisi seperti ini. Jikalau bisa, Aksara ingin menggantikan posisi Arsyilla sekarang ini.