
Sementara itu di unit apartemennya, Arsyilla yang hari ini memang libur memilih untuk mempersiapkan kejutan kecil untuk sang suami. Arsyilla menata beberapa balon dengan tulisan ‘Congratulations’ yang dia taruh di beberapa sudut di apartemennya. Arsyilla juga menyalakan lilin di meja makan, bahkan dia juga membeli boneka bear dengan menggunakan toga. Memang terkesan lucu, tetapi itulah caranya ingin memberikan kejutan untuk sang suami.
Bahkan tanpa sepengetahuan Aksara, Arsyilla juga turut mengundang keluarga besarnya untuk berkumpul di apartemennya kali ini.
Menjelang sore, Arsyilla kian mematangkan persiapannya, dan dia meminta kepada keluarganya untuk sembunyi terlebih dahulu. Wanita itu bersiap dengan sebuah boneka bear yang mengenakan toga, sebagai tanda bahwa suaminya itu akan telah siap diwisuda sebentar lagi.
Begitu terdengar ketukan di pintu unit apartemennya, Papa Radit mulai mematikan seluruh lampu dan menyalakan lilin yang sudah diatur di beberapa tempat. Hingga saat Arsyilla membukakan pintu, suasana di dalam unit apartemennya terlihat remang-remang dan hanya bermandikan cahaya lilin.
Wanita itu tersenyum dan menyambut suaminya.
“Welcome home My Hubby … congratulations for today,” ucap Arsyilla memberikan selamat dan memeluk suaminya itu.
“Thanks Honey … semua ini karena kamu,” balas Aksara.
Pria itu merengkuh tubuh Arsyilla dengan begitu eratnya sembari bernafas lega karena hari ini benar-benar hari yang sangat dia rindukan. Hari di mana masa kuliahnya sebagai mahasiswa berakhir sudah.
Aksara terlihat sedikit menunduk dan mengikis jarak wajahnya, pria itu berniat melabuhkan kecupan dan pagutan yang lembut bibir yang sang istri yang begitu merekah layaknya bunga peony itu. Akan tetapi, Arsyilla dengan cepat mendorong dada Aksara, tidak mengizinkan Aksara untuk menciumnya. Hingga akhirnya lampu menyala dan seluruh anggota keluarga pun datang dengan berteriak.
“Selamat Aksara,” teriak Papa Radit dan Mama Khaira, Ayah Bisma dan Bunda Kanaya.
Aksara mematung, pria itu tak menyangka bahwa kedua orang tua dan mertuanya sekarang berada di dalam apartemennya. Barulah Aksara tersenyum dan memeluk satu per satu keluarganya yang hadir.
“Terima kasih Mama, Papa, Ayah, dan Bunda,” ucap Aksara.
“Bagaimana lancar ujiannya kali ini?” tanya Mama Khaira.
__ADS_1
Setidaknya Mama Khaira juga adalah seorang Dosen, sehingga Mama Khaira pasti tahu bagaimana tegang dan paniknya para mahasiswa yang mengikuti ujian skripsi. Seakan waktu mereka yang panjang saat mengerjakan skripsi dipertaruhkan. Mati-matian mengerjakan, membuktikan hipotesis penelitian, dan melakukan revisi. Tentu Mama Khaira mengetahui semuanya itu.
“Lancar Ma … semuanya berkat Syilla,” jawab Aksara sembari menatap wajah sang istri.
“Kok bisa Aksara?” giliran Papa Radit yang bertanya.
“Semalam Aksara dan Arsyilla melakukan stimulasi ujian skripsi. Arsyilla mengajukan pertanyaan yang harus Aksara jawab. Rupanya pertanyaan dari Dosen Penguji hampir sama dengan pertanyaan yang diberikan Syilla semalam,” jawab Aksara.
Hal tersebut benar karena semalam dirinya melakukan stimulasi ujian skripsi dengan istrinya sendiri. Setidaknya dia bisa mengira-ira jenis pertanyaan seperti apa yang akan diberikan kepadanya. Untunglah, semuanya berjalan dengan lancar.
“Akhirnya putranya Bunda tinggal nunggu diwisuda setelah enam tahun kuliah,” ucap Bunda Kanaya sembari memeluk lagi putranya itu. Tentu saja, Bunda Kanaya merasa bangga karena bisa menyelesaikan kuliah adalah perjuangan yang tidak main-main bagi Aksara.
“Bagi mahasiswa lain bisa selesai kuliah empat tahun itu wajar, tetapi kamu membutuhkan waktu enam tahun untuk menyelesaikan S1. Kendati demikian, Ayah tetap bangga padamu. Selalu, Nak,” ucap Ayah Bisma kali ini.
Ayah Bisma pun turut mengucapkan selamat kepada putranya itu. Mereka pun tertawa, tentu semuanya bahagia melihat Aksara yang akhirnya lulus dan hanya menunggu waktu untuk diwisuda.
“Kakak mau mandi dulu, atau langsung makan?” tanya Arsyilla.
“Aksara pamit mandi sebentar yah,” pamitnya kepada orang tua dan mertuanya itu.
Hingga selang lima belas menit, pria itu telah keluar dengan wajah dan badan yang lebih segar dan tentunya begitu wangi. Rasanya ingin Arsyilla menghambur ke pelukan suaminya tiap kali suaminya itu usai mandi, tetapi sekarang Arsyilla tidak berani melakukannya karena malu dengan mertua dan orang tuanya sendiri.
“Jadi, sembari menunggu wisuda, kamu mau ngapain Aksara?” tanya Ayah Bisma.
“Mau mulai mempersiapkan resepsi pernikahan kami berdua, Ayah,” jawab Aksara dengan yakin.
__ADS_1
“Mau kami bantu, Nak?” tanya Bunda Kanaya dan Mama Khaira bersamaan.
Arsyilla pun tersenyum melihat kekompakan Mama dan Bundanya itu. “Boleh Ma … nanti kalau kami butuh bantuan, kami akan mengatakannya secara langsung kepada Mama,” jawab Arsyilla.
“Biar Bunda yang belikan Wedding Gown buat kamu, Syilla,” tawar Bunda Kanaya saat ini.
“Uhm, Kak Aksara sudah janji akan belikan Wedding Gown buat Syilla, Bunda … Kayak mau pilihkan untuk Syilla,” jawab Arsyilla dengan jujur.
Mendengar jawaban Arsyilla yang jujur dan polos itu, mertuanya justru tersenyum, tentu Mama Khaira dan Papa Radit turut tersenyum.
“Ya sudah … biarkan Aksara yang mengurusi adik kecil kesayangannya itu,” balas Bunda Kanaya kini.
“Syilla bukan adiknya Aksara lagi, Bunda … dia istri kesayangannya Aksara,” sahut Aksara dengan cepat.
Ya ampun, di hadapan keluarga besar saja Aksara dengan mudahnya mengatakan hal demikian. Akan tetapi, di satu sisi Mama Khaira tersenyum lebar, karakter Aksara yang bicara ceplas-ceplos seperti itu mengingatkannya kepada sang suaminya. Ya, Papa Radit juga adalah pribadi yang seperti itu.
“Kamu ingin hadiah pernikahan apa Sayang?” Kini giliran Ayah Bisma yang bertanya kepada Arsyilla.
Dengan cepat Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Hadiah rasanya tidak perlu, Ayah … doakan kami saja supaya bisa segera dipercayakan Allah untuk menjadi orang tua,” balas Arsyilla.
Sebab Arsyilla tahu bahwa mendapatkan buah hati pun adalah Allah yang mempercayakan dan mengaruniakan. Oleh karena itulah, Arsyilla memohon doa kepada orang tua dan mertuanya.
“Masyaallah, Nak … kamu begitu baik. Ayah dan Bunda, Mama dan Papa juga pasti akan mendoakan supaya kalian berdua bisa memiliki buah hati. Kami sudah ingin menimang cucu dari kalian,” balas Ayah Bisma.
Aksara tersenyum dalam hati karena istrinya itu benar-benar wanita yang baik dan justru terkesan sederhana. Sekalipun Arsyilla sendiri berasal dari keluarga berada, tetapi Arsyilla justru tidak silau dengan kemewahan. Rasanya Aksara begitu bangga kepada istrinya itu.
__ADS_1
“Ya sudah … nanti biar kami yang akan pikirkan hadiah pernikahan untuk kalian berdua. Apa pun yang Ayah berikan nanti jangan menolaknya karena itu tanda kasih sayang kami kepada kalian berdua,” ucap Ayah Bisma.
Rasanya begitu bahagia dilimpahi kasih sayang begitu besar dari keluarga besar. Aksara dan Arsyilla pun bersyukur. Di malam ini mereka bisa berkumpul bersama dan membicarakan rencana resepsi pernikahan Aksara dan Arsyilla. Kedua keluarga terlihat begitu excited dan ingin segera menggelar pesta pernikahan Aksara dan Arsyilla. Momennya memang lulusan ujian skripsi, tetapi yang mereka bahas kali ini adalah perihal resepsi. Begitu lucu keluarga yang harmonis ini.