
Satu pekan telah berlalu. Hari ini, Arsyilla akan kembali menuju pengadilan negeri untuk menghadiri pembacaan putusan persidangan oleh Hakim. Sejak semalam, rasanya Arsyilla tidak bisa tidur, memikirkan apakah pengadilan akan memberikan hukuman kepada Ravendra dengan adil. Hingga Arsyilla hari ini bangun dengan wajah yang lesu lantaran masih kurang tidur.
Di meja makan, Aksara pun menatap wajah Arsyilla yang justru terlihat lesu itu. “Kamu kenapa? Kurang sehat?” tanya Aksara kali ini.
Arsyilla menggeleng, dan kemudian dia mencecap Teh beraroma melati yang masih hangat di dalam cangkirnya. Menghirupi aroma melati dari racikan Teh itu yang bisa sedikit menenangkannya, “Tidak, aku semalam tidak bisa tidur,” aku Arsyilla kali ini dengan jujur.
Aksara tampak mengernyitkan keningnya, saat Arsyilla mengaku bahwa dirinya semalam tidak bisa tidur.
“Kenapa, kamu kepikiran?” tanya Aksara lagi.
“Iya, rasanya aku gugup dan tidak tenang, dan lebih tepatnya aku takut,” jawab Arsyilla kali ini.
Saat Aksara ingin berusaha menenangkan Arsyilla nyatanya handphonenya sudah terlebih berbunyi, rupanya Bunda Kanaya yang kali ini menelponnya. Dengan segera, Aksara pun menggeser ikon telepon berwarna hijau di layar handphonenya.
“Ya, halo … pagi Bunda,” jawab Aksara saat menerima panggilan itu.
“Ya, pagi Aksara … kamu gimana sama Syilla sehat?” tanya Bunda Naya.
“Iya Bunda, kami sedang sarapan … siang nanti akan ke Pengadilan Negeri untuk menghadiri pembacaan putusan persidangan. Bagaimana Bunda?” tanya Aksara kini.
“Ah, tidak … tidak apa-apa. Kamu sampaikan saja kepada Arsyilla, tidak perlu mengkhawatirkan semuanya. Tempo hari lalu, Om Darren memang berusaha menyuap salah satu hakim, tetapi Bunda dan Ayahmu berhasil menggagalkannya. Bawa ulang hasil visum, dan video CCTV, hanya sebatas berjaga-jaga saja. Urusan Om Darren, serahkan saja kepada Bunda.” Kali ini Bunda Naya berbicara dengan serius.
Merespons ucapan Bundanya, Aksara pun mengangguk, “Baik Bunda … bisa minta tolong nasihati Arsyilla, supaya dia lebih tenang, Bun,” pinta Aksara kali ini.
Setelah itu, Aksara pun mengalihkan handphonenya kepada Arsyilla, “Dari Bunda,” ucapnya.
“Ya halo Bunda,” sapa Arsyilla begitu menerima handphone itu.
“Iya halo Sayang, gimana kamu baik kan?” tanya Bunda mertuanya itu.
Arsyilla pun mengangguk, “Iya, baik Bunda,” sahutnya.
“Kamu tidak perlu berpikir berlebihan. Bunda dan Ayah akan menangani perihal Papanya Ravendra saja. Nanti siang bertemu dengan Bunda di pengadilan yah, Bunda masakkan sesuatu yang enak buat kamu,” ucap Bunda Kanaya di seberang sana.
__ADS_1
“Iya Bunda, terima kasih banyak,” sahut Arsyilla.
Setelah itu, Arsyilla kembali mengembalikan handphone itu kepada Aksara, “Ini, sudah,” ucapnya.
Aksara lantas menatap wajah Arsyilla, “Sudah jangan dipikirkan. Kita berdoa saja, semoga semuanya berjalan sesuai yang terbaik,” ucap Aksara.
Arsyilla mengangguk, “Iya, maaf aku boleh enggak tidur sebentar. 30 menit saja, rasanya mataku terlalu berat,” ucapnya.
Mendengar ucapan Arsyilla, Aksara lantas berdiri dan menggeser kursinya, pria itu memberikan punggungnya untuk Arsyilla, “Ayo, aku gendong ke kamar,” ucapnya.
“Eh, aku jalan saja,” sahut Arsyilla yang merasa tidak enak.
Akan tetapi, Aksara terlihat menepuk punggungnya, “Ayo,” ucapnya.
Arsyilla pun segera melingkarkan tangannya di leher Aksara, dan Aksara menggendongnya di punggungnya. Berjalan perlahan, Aksara membawa Arsyilla memasuki kamar milik Arsyilla, “Sekarang tidurlah, tetapi aku akan menunggumu di sini,” ucapnya.
Rupanya, Aksara nyatanya turut berbaring di sisi Arsyilla, pria itu terlihat mengusap-usap puncak kepala Arsyilla. Lantaran benar-benar mengantuk, hanya membutuhkan waktu sebentar bagi Arsyilla untuk terlelap.
***
Arsyilla dan Aksara sudah tiba di pengadilan negeri. Jika pagi tadi, Arsyilla merasa cemas, kali ini Arsyilla lebih bersikap pasrah dan berharap bahwa hukum di negeri ini tidak bisa dibeli oleh mereka yang memiliki uang dan kekuasaan.
“Kamu siap mendengar pembacaan putusan pengadilan hari ini?” tanya Aksara.
Arsyilla pun mengangguk, “Ya, aku sudah siap … apa pun hasilnya, aku siap,” ucapnya.
Hingga sekarang, Arsyilla sudah memasuki ruangan pengadilan. Menunggu majelis hakim yang akan memasuki ruangan itu. Sementara itu, Ravendra juga sudah dihadirkan. Om Darren, Papanya Ravendra juga turut hadir di sana. Sementara dari pihak Arsyilla, orang tua dan mertuanya juga sudah hadir kala itu.
Hingga akhirnya, para Majelis Hakim mulai memasuki ruangan persidangan. Dibacakan berita acara terlebih dahulu, dan kemudian Hakim Ketua membacakan putusannya.
“Mempertimbangkan berbagai bukti dan kesaksian yang memberatkan terdakwa yaitu Saudara Ravendra Wardhana terhadap perbuatannya yang telah mencoba melakukan tindak kekerasan kepada Saudari Arsyilla Kirana Putri Raditya, maka berdasarkan Pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, maka Saudara Ravendra Wardhana terbukti bersalah dan kepadanya dikenakan hukuman kurungan penjara selama 2 tahun 8 bulan, dan denda sebesar Sepuluh Juta Rupiah. Berikut putusan peradilan ini disahkan, di kota Jakarta.”
Putusan itu selesai dibacakan Hakim Ketua dibarengi dengan ketukan palu sebanyak tiga kali.
__ADS_1
Tampak wajah lesu dari Ravendra, sementara Om Darren hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak menyangka jika putranya harus menerima kenyataan pahit seperti dirinya saat muda dulu. Jikalau dulu, dirinya mendekam di dalam jeruji besi karena menggelembungkan dana perusahaan, kini putranya mendekam di dalam jeruji besi karena penganiayaan terhadap Arsyilla.
Sementara Arsyilla sendiri, tampak memejamkan matanya perlahan saat Hakim menyatakan Ravendra bersalah dan diberikan hukuman penjara. Arsyilla hanya berharap bahwa berada di dalam jeruji besi bisa memberikan pengalaman berharga bagi Ravendra dan pria itu menjadi sadar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Begitu persidangan telah usai, Ravendra dibawa kembali. Lantaran sudah dinyatakan bersalah, maka Ravendra yang semula menjadi tahanan sementara di Rumah Tahanan akan dipindahkan di Lembaga Permasyarakatan. Akan dibina selama di sana.
“Pa, tolong Vendra, Pa … ini semuanya tidak benar,” teriak pria itu yang seolah mengiba kepada Papanya untuk bisa menolongnya dan melepaskannya dari jerat hukum kali ini.
Sementara Arsyilla pun menatap pemandangan itu dengan menggandeng tangan sang Mama. Bahkan Mama Khaira beberapa kali mengusapi punggung Arsyilla, “Tenang saja Sayang, kali ini kita melihat bahwa Vendra sudah diberikan hukuman. Sekali pun yang menjeratnya hanya pasal penganiayaan, setidaknya berada di dalam penjara bisa memberikan efek jera baginya,” ucap Mama Khaira.
Sebelum meninggalkan ruang sidang, Darren tampak menatap tajam pada sosok Ayah Bisma dan Bunda Kanaya. Pria itu lantas menghentikkan kakinya tepat di depan Bunda Kanaya, “Aku tidak akan menyerah, memenjarakan Ravendra bukan berarti akhir dari segalanya, aku akan membuat perhitungan denganmu,” tegasnya kali ini.
“Silakan saja, sekuat apa pun yang kamu lakukan, pada akhirnya kebenaranlah yang akan menang melawan kejahatan,” sahut Bunda Kanaya.
“Sebaiknya kamu pergi dari sini, sebelum saya kehilangan kesabaran,” kali ini Ayah Bisma yang tampak menghalau Om Darren untuk segera pergi dari sana.
Om Darren, nyatanya kini menatap tajam pada Arsyilla, “Kamu harus bertanggung jawab karena membuat putra saya mendekam di penjara. Saya akan membuat perhitungan denganmu,” ucapnya dengan memincingkan matanya.
Arsyilla pun hanya bisa menatap pria yang dulu adalah Papa dari pacarnya itu. Sebenarnya, Arsyilla begitu ketakutan, tetapi dia tidak ingin terlihat lemah dan terintimidasi sekarang ini. Sementara Mama Khaira terus menepuki punggung Arsyilla berharap putrinya itu akan lebih kuat.
“Tenang saja, Syilla … Papa akan selalu melindungimu,” ucap Papa Radit yang turut menenangkan putrinya itu.
Arsyilla pun mengangguk, “Terima kasih, Pa,” sahutnya.
“Mama dan Papa tenang saja karena Aksara akan selalu melindungi Arsyilla. Tidak akan Aksara biarkan Om Darren menyakiti Arsyilla,” ucap Aksara dengan sungguh-sungguh.
Papa Radit lantas menepuk bahu Aksara, “Terima kasih Aksara, kamu mau menjaga putri Papa,” ucap Papa Radit yang seolah sedikit lega karena Aksara terlihat peduli dengan Arsyilla.
“Aksara akan buktikan untuk selalu melindungi Arsyilla karena Aksara benar-benar mencintainya,” sahut Aksara.
Mendengar putranya yang mengatakan mencintai Arsyilla, nyatanya justru membuat Ayah Bisma dan Bunda Naya tersenyum. Tidak mengira bahwa putranya yang dingin dan tenang itu, kali ini benar-benar mengungkapkan rasa cintanya untuk Arsyilla.
“Terima kasih Aksara, dia akan bahagia karena Kakaknya sendiri yang akan menjaganya,” sahut Papa Radit.
__ADS_1
Usai mendengar apa yang disampaikan Papa Radit, Bunda Naya dan Ayah Bisma pun tampak memperhatikan besannya itu, “Maksudnya Kakak seperti apa, Pak Radit?” tanyanya.
Rasanya baik Ayah Bisma dan Bunda Naya memiliki pertanyaan besar, bagaimana bisa besannya menyebut Aksara adalah Kakaknya Arsyilla.