Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Rekonsiliasi Kakak Adik


__ADS_3

“Mas, aku benar-benar minta maaf,” ucap Rangga saat itu.


Bagi Rangga sendiri, membutuhkan keberanian yang besar baginya untuk bisa meminta maaf secara langsung kepada Kakaknya. Dulu, dengan bodohnya Rangga hampir melakukan dua kesalahan sekaligus. Untung saja, keluarganya segera mencegahnya. Hanya saja Aksara memang terlihat lebih frontal dan begitu marah dengan tindakan adiknya di masa lalu.


Aksara masih diam, pria itu menghela nafas yang seakan begitu berat. Tidak mengira juga akhir pekan yang bisa dia isi dengan melakukan bounding bersama Arsyilla dan Ara, kini berubah karena kedatangan Airlangga dan niatan adiknya itu untuk meminta maaf.


“Aku janji akan sepenuhnya berubah dan menjadi pria sejati,” ucap Rangga lagi.


“Tidak perlu berjanji kepadaku … jikalau kamu mau berubah, berubahlah untuk dirimu sendiri,” balas Aksara dengan menatap tajam pada adiknya saat itu.


Terkadang seseorang memang berjanji akan berubah demi orang lain, sama seperti Rangga yang berjanji kepada Aksara bahwa dirinya akan menjadi pria yang lebih baik lagi. Namun, untuk berubah itu dibutuhkan keyakinan pada diri sendiri. Jikalau ingin berubah, berubahlah untuk dirimu sendiri, bukan untuk orang lain. Sehingga, saat perubahan tidak mendapatkan pengakuan dari orang lain, kamu tidak akan merasa sakit hati. Jika perubahan yang kamu lakukan murni untuk dirimu sendiri, semua bisa berjalan dengan baik dan sebagaimana mestinya.


Menyadari apa yang dikatakan oleh Kakaknya, Rangga pun menganggukkan kepalanya. Pria itu sudah begitu memerah wajahnya. Hanya membutuhkan maaf, tetapi Rangga seolah harus berjuang untuk merebut sebuah kota pertahanan.


“Mas, selama ini aku sadar … yang aku lakukan salah. Ayah dan Bunda pun marah padaku. Aku ingin meminta dan kita bisa akur kembali,” ucap Rangga lagi.


Memang saat kedua anak bertikai, orang tua juga merasakan bebannya. Semua orang tua mengharapkan anak-anak hidup rukun dan bisa berdampingan satu sama lain. Saling membantu di saat kekurangan, saling menguatkan di saat lemah, saling menghibur di saat merasakan kesedihan. Namun, selama empat tahun terakhir hubungan Aksara dan Airlangga justru begitu renggang.


“Kamu meminta maaf karena Ayah dan Bunda?” tanya Aksara kali ini kepada adiknya.


Rangga pun dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak, Mas … aku datang dengan niatku sendiri. Aku merasa harus meminta maaf kepada Mas Aksa. Dulu aku menganggap enteng semuanya, tetapi seiring berjalannya waktu aku menyadari bahwa tindakanku sangat salah,” jawab Airlangga.


Memang saat melakukan sebuah kesalahan, ada orang yang bisa langsung menyadarinya, meminta maaf, dan tidak melakukannya lagi. Sementara ada juga yang harus membutuhkan waktu lama untuk menyadari semuanya. Cara orang menyingkapi masalah dan kesalahan pun berbeda-beda. Kali ini, Rangga adalah tipe yang menganggap enteng sebuah kesalahan. Dia pikir kesalahannya tidak fatal dan pasti akan dimaafkan keluarganya. Namun, dia tidak menyadari jika Aksara rupanya tidak bisa memaafkannya. Bahkan karena enggan bertemu dengan Rangga, Aksara memutuskan untuk pindah dari rumah dan memilih untuk tinggal di apartemen.

__ADS_1


Sementara bagi Aksara sendiri, dia berpikir dengan sikapnya diam, Rangga bisa berpikir dengan jernih. Bisa mengurai masalahnya. Akan tetapi, yang terjadi justru selebihnya, di masa lalu Rangga justru terkesan cuek, dan juga hanya memikirkan studinya saja.


“Jadi … Mas, apakah aku dimaafkan?” tanya Rangga kali ini.


Arsyilla yang sedari tadi turut duduk di situ, menghela nafas panjang dan menatap suaminya yang duduk di sampingnya. Dalam hatinya, Arsyilla berharap banyak bahwa Aksara bisa melembutkan hatinya dan memaafkan kesalahan adiknya itu di masa lalu. Hubungan Kakak dan Adik memang rentan dari masalah. Namun, membiarkan semua berlarut-larut juga tidak enak. Ada rasa ketidaknyamanan yang terjadi ketika seorang Kakak tidak bisa akur dan rukun dengan adiknya sendiri.


“Hmm, aku maafkan,” balas Aksara pada akhirnya.


Beban dan amarah yang sudah cukup lama Aksara rasakan akhirnya kali ini bisa dia lepaskan. Ya, Aksara benar-benar memaafkan adiknya itu.


Sementara Rangga sendiri benar-benar merinding rasanya saat mendengar bahwa Kakaknya itu sudah memaafkannya. Rangga segera berdiri dan berjalan ke arah Kakaknya, tanpa banyak bicara, Rangga segera memeluk Kakaknya itu.


“Maafkan aku, Mas,” tangisan Rangga pun pecah.


Aksara pun turut memeluk adiknya itu dan menepuki bahu adik satu-satunya itu.


“Sudahlah … semua hanya masa lalu. Namun, jangan melupakan masa lalu. Jadikan itu sebagai pelajaran untuk melangkah di masa depan. Ingat, jangan lakukan hal-hal bodoh lagi di masa depan. Bukan untukku, maupun Ayah dan Bunda. Namun, untuk Thania. Dia membutuhkan figur Papa darimu. Jadilah pria sejati untuk Thania,” balas Aksara.


Kali ini Aksara menasihati adiknya itu supaya bisa belajar dari pengalaman di masa lalu. Masa lalu memang akan tetap berada di belakang, tetapi kita bisa menggunakan masa lalu sebagai cermin diri di masa yang ada datang. Menolong kita menentukan pijakan yang tepat di masa depan. Selain itu, Aksara menasihati adiknya itu menjadi figur Papa yang baik bagi Thania.


“Iya Mas … makasih,” balas Rangga.


Arsyilla yang turut melihat momen haru tersebut pun turun meneteskan air mata. Kendati demikian, ada perasaan lega yang melingkupinya saat Aksara pada akhirnya bisa memaafkan adiknya itu. Arsyilla berharap, untuk ke depannya hubungan Kakak Adik antara Aksara dan Rangga akan sepenuhnya membaik.

__ADS_1


Keduanya pun akhirnya mengurai pelukannya, air mata tampak membasahi wajah kedua pria dengan beda usia tujuh tahun itu. Sementara begitu Aksara duduk, Arsyilla pun menepuki bahu suaminya itu. Ada rasa bangga yang Arsyilla rasakan karena Aksara bisa melepaskan pengampunan untuk adiknya sendiri.


“Maaf ya Kak Syilla, jadi drama di sini,” ucap Rangga yang merasa tidak enak dengan Arsyilla.


“Tidak apa-apa … aku memang tidak tahu dengan pasti masalah kalian berdua. Hanya saja, yang dikatakan Kak Aksara benar. Lebih bijak dalam bertindak yah,” ucap Arsyilla.


Memang dia tidak tahu masalah sebesar apa yang terjadi di masa lalu secara detail. Hanya saja Arsyilla mengatakan kepada adik iparnya itu untuk lebih bijak dalam bertindak. Jangan sembrono dengan hidup ini, harus berhati-hati supaya tidak tergelincir.


“Iya Kak … makasih nasihatnya,” balas Arsyilla.


“Aku buatkan minum yah,” ucap Arsyilla yang kemudian memilih berlalu dari antara suami dan adik iparnya itu. Setidaknya Arsyilla juga harus memberikan waktu bagi keduanya untuk melakukan rekonsiliasi dan bisa lebih akrab lagi.


“Rangga, ada yang harus aku sampaikan lagi,” ucap Aksara begitu istrinya itu pergi.


Seketika atensi Rangga pun teralihkan kepada Kakaknya itu, “Ya, apa Mas?” tanyanya.


“Jangan menghamili anak orang lain. Itu pesanku,” ucap Aksara yang berkata dengan sangat tegas kepada adiknya itu.


Bagi Aksara, dia sangat tidak setuju bahwa Rangga menghamili anak orang lain. Itu adalah sebuah kesalahan yang fatal. Aksara memang menjebak Arsyilla dalam petaka satu malam, tetapi Aksara tidak sampai hati untuk mengambil mahkota wanita yang sangat dia cintai itu.


“Iya Mas, maaf,” balas Rangga pada akhirnya.


Walau sudah bermaaf-maafan, tetapi juga membutuhkan waktu untuk mencairkan suasana. Terlebih saat mereka memiliki hubungan yang renggang selama empat tahun. Jadi, Aksara dan Rangga membutuhkan waktu untuk mencairkan bola salju yang ada di antara mereka.

__ADS_1


__ADS_2