Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Tertangkap Basah


__ADS_3

Kedatangan Bunda Kanaya secara tiba-tiba ke apartemen mereka seakan benar-benar membuat Aksara dan Arsyilla tertangkap basah. Memang keduanya sudah selesai dari kegiatan panas mereka, tetapi dengan keduanya yang usai mandi, rambut yang masih setengah basah, dan alibi dari Aksara yang mengatakan bahwa istrinya sedang tidak enak badan, bukan sebuah penjelasan yang baik.


“Kamu jangan terlalu bersemangat, Aksara … kasihan Arsyilla wajahnya sampai pucat gitu. Kamu sakit apa Syilla? Mau Bunda antarkan ke Dokter?” tawar Bunda Kanaya kepada menantunya itu.


Dengan cepat Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, “Eh, tidak Bunda … cukup istirahat saja nanti juga sudah enakan kok. Ada Kak Aksara yang jagain Syilla,” jawabnya pada akhirnya.


Bunda Kanaya pun tersenyum, “Kalau benar-benar tidak enak badan, apa kamu pulang ke rumah Bunda? Bunda akan merawat kamu, Syilla.” Kali ini Bunda menawarkan kepada Arsyilla untuk pulang ke rumahnya saja dan Bunda Kanaya yang akan merawat Arsyilla.


“Biar Aksara yang akan merawat Syilla, Bunda," ucap pria itu dengan cepat menjawab Bundanya. 


Seakan-akan bahwa Aksara akan merawat istrinya sendiri. Dalam hatinya, pria itu berharap alibinya tidak membuat Bunda Kanaya memaksa keduanya untuk pulang ke rumah Bunda Kanaya dan Ayah Bisma. 


Melihat respons keduanya, Bunda Kanaya pun tertawa, "Iya-iya … Bunda tahu. Kalau bulan madunya kemarin kurang, nanti usai ujian semester kalian berangkat lagi aja untuk second Honeymoon. Ke luar negeri tidak apa-apa. Dulu saja Bunda dan Ayahmu pergi ke Turki untuk bulan madu. Sapa tahu kalian mau ke Cappadocia," sahut Bunda Kanaya. 


Agaknya Aksara terpikirkan bahwa usai ujian semester nanti, dia harus membawa Arsyilla untuk menikmati Second Honeymoon. Kemudian Arsyilla menatap suaminya itu, "Jangan lupa siapkan judul skripsi, Kak," ucap Arsyilla yang mengingatkan suaminya itu untuk menyiapkan judul Skripsi. Sebab, di semester delapan, para mahasiswa harus bersiap dengan Skripsi mereka. 


"Akhir semester tujuh, pengajuan judul dulu boleh enggak sih Sayang?" tanya pria itu kepada istrinya. 


"Boleh … hanya saja mata kuliah untuk prasyarat Skripsi sudah kamu ambil. Mending fokus ke Skripsi dulu, Kak. Jalan-jalan bisa lain waktu," balas Arsyilla kali ini. 


Mendengar ucapan menantunya, Bunda Kanaya justru tertawa, "Enak kan Aksara kalau istrimu itu Dosenmu sendiri. Benar sih, selesaikan kuliah kamu dulu. Jangan sampai gagal lagi. Istrimu saja sudah sampai S2 dan menjadi Dosen, kamunya S1 aja belum selesai," ucap Bunda Kanaya. 


Sinar kebahagiaan di wajah Aksara perlahan sirna, "Kalau mau honeymoon lagi gimana dong Sayang?" Agaknya pria itu merajuk di hadapan istri dan Bundanya. Membuat Arsyilla dan Bunda Kanaya tertawa. 


"Skripsi dulu ya Kak … jangan gagal lagi. Untuk dirimu sendiri. Kamu mau hubungan kita sembunyi-sembunyi terus?" tanya Arsyilla kemudian. 

__ADS_1


Barulah Bunda Kanaya teringat akan sesuatu, "Ah, benar… resepsi pernikahan kalian kan juga belum digelar. Katanya akan digelar setelah kamu lulus kuliah. Jadi gimana Aksara? Banyak yang bergantung di pundakmu sekarang ini. Benar yang diucapkan Syilla, mau hubungan kalian sembunyi-sembunyi di hadapan rekan dosen dan mahasiswa?" tanya Bunda Kanaya. 


Arsyilla kemudian mengangguk, "Benar loh Kak … nanti kamu marah kalau ada dosen yang deketin aku," celetuk Arsyilla pada akhirnya. 


"Ada rekan dosen yang deketin kamu ya Syilla?" tanya Bunda Kanaya dengan cepat. 


"Enggak … enggak ada Bunda. Cuma kan ya jaga-jaga. Rekan-rekan dosen kan tahunya Syilla masih single. Jadi lebih baik diumumkan secara resmi kan Bunda," sahut Arsyilla. 


Bunda Kanaya mendengarkan ucapan menantunya itu dan perlahan menganggukkan kepalanya, "Iya benar… jadi gimana Aksara? Tentukan mana prioritas kamu." 


Saat istri dan Bundanya sama-sama meminta dia untuk menentukan prioritas tertinggi, Aksara pun tampak berpikir. Akhirnya pria itu mengangguk, "Baiklah … Aksara akan segera mengurus skripsi dan lulus," ucapnya. 


Bunda Kanaya dan Arsyilla sama-sama tersenyum, semoga saja kali ini Aksara benar-benar memiliki tekad untuk lulus dan segera diwisuda. Tentu keluarga dan istrinya akan selalu mensupport pria itu. 


Ah, barulah Arsyilla mengingat pasti lehernya merah karena cupangan dari suaminya. Dengan segera, Arsyilla mengurai kembali rambutnya. Wanita itu tertunduk malu. Dirinya kali ini benar-benar tertangkap basah oleh Bunda Kanaya. 


"Eh, ini … kena sesuatu, Bunda." Arsyilla menjawab dengan menunduk. Begitu malu rasanya. 


Perlahan Bunda Kanaya berdiri mengambil peralatan makan dan membuka kotak makan yang dia bawa. Mengambilkan nasi putih, dengan sayuran dan lauk untuk menantunya itu. 


"Sekarang dimakan dulu, kamu pasti kelelahan," ucap Bunda Kanaya dengan tersenyum. 


"Makasih Bunda," sahut Arsyilla. 


Setelah itu Bunda Kanaya memincingkan matanya kepada putranya itu, "Kamu benar-benar ya Aksara."

__ADS_1


Sementara Aksara sendiri hanya senyam-senyum. Tidak mengira bahwa Bunda Kanaya akan ke apartemennya. Padahal dia hanya bolos sehari, tetapi Bundanya mencarinya hingga ke apartemennya. 


"Ya sudah. Kamu makan dulu, Syilla. Dihabiskan, Bunda temani. Jangan sampai kamu belum makan dan digangguin suamimu lagi," jelas Bunda Kanaya. 


Arsyilla mengangguk, dan dia segera menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri. Mengunyah nasi beserta sayuran dan lauk yang dibawakan mertuanya. Aksara sendiri kemudian mengambil piring dan juga turut makan. 


"Bunda enggak makan?" tanya Arsyilla kepada ibu mertuanya itu. 


"Bunda sudah makan dengan Ayahmu di rumah, Nak … rasanya ada yang kurang jika tidak sarapan bersama Ayah kalian," jawabnya. 


Arsyilla pun lantas tersenyum, "Sama seperti Mama dan Papa yang selalu sarapan bersama setiap hari. Papa bahkan selalu menyukai masakan buatan Mama," cerita Arsyilla yang teringat dengan Mama dan Papanya. 


"Begitulah pasangan sejati yang menjadi teman hidup, Syilla. Saling mengisi satu sama lain, saling memperlengkapi. Di dunia ini, Bunda sangat bersyukur memiliki Ayah Bisma dalam hidup Bunda. Dia pria yang baik dan penyabar. Pria yang selalu mendampingi Bunda di setiap musim hidup Bunda. Di musim hujan, Ayahmu seperti payung yang menudungi Bunda supaya Bunda tidak kehujanan. Di musim panas pun, Ayahmu juga menjadi payung supaya Bunda tidak kepanasan," ungkap Bunda Kanaya kepada Arsyilla. 


"Wah, keren Bunda. Semoga Arsyilla juga mendapatkan pendamping hidup yang seperti itu. Semoga kita mengikuti jejak kedua orang tua ya Kak … saling mengisi dan menguatkan satu sama lain," ucap Arsyilla. 


"Iya Syilla. Aku juga akan belajar untuk mendampingi kamu, mengisi kekuranganmu dengan kelebihanku. Kamu pun isi kekuranganku dengan kelebihanmu," jawab Aksara. 


"Amin … Bunda doakan hidup kalian selalu bahagia. Saling bergandengan tangan di setiap musim yang kalian jalani berdua," ucap Bunda Kanaya. 


Setelahnya Bunda Kanaya kembali melihat putranya, "Hanya saja… jangan sering-sering membuat Syilla kecapean, Aksara. Hubungan suami istri juga harus didasari dengan cinta dan sikap saling pengertian," ucap Bunda Kanaya lagi. 


Aksara pun mengangguk, "Iya Bunda … siap laksanakan nasihat dari Bunda," jawab pria itu. 


Akan tetapi, tanpa Bunda Kanaya ketahui, telapak kaki Aksara sedang bergerak-gerak di bawah sana dan menyentuhkan kaki itu ke kaki milik istrinya. Bunda Kanaya tidak tahu betapa usilnya putranya itu. 

__ADS_1


__ADS_2