
Hasrat hati hanya sekadar ingin berterima kasih untuk cerita dari Aksara, nyatanya justru suaminya itu kembali bertingkah dengan mengecup bibirnya tanpa permisi. Sontak saja, Arsyilla mengerjapkan kelopak matanya, wanita itu sedikit mendorong dada Aksara.
“Tuh, cium-cium lagi kan,” ucap Arsyilla yang seolah tidak rela jika Aksara kembali mencium bibirnya.
Nyatanya Aksara justru tersenyum dan menatap wajah Arsyilla, “I Love U, Syilla … di masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, aku akan selalu mencintaimu,” ucapnya dengan jujur, tulus, dan tentunya sungguh-sungguh.
Hati Arsyilla rasanya begitu menghangat mendengar ungkapan cinta yang tulus dari Aksara. Wanita itu hanya bisa tersenyum dan menatap wajah Aksara di sana. Saat Aksara hendak mengikis kembali jarak wajah keduanya, Arsyilla rupanya lebih sigap. Wanita itu segera menundurkan posisi duduknya, sehingga upaya Aksara untuk kembali menciumnya pun gagal.
Bukan marah, nyatanya Aksara justru tertawa, tidak menyangka bahwa dirinya benar-benar bahagia saat ini.
Setelahnya, Aksara mengulurkan satu tangannya dan membelai lembut puncak kepala Arsyilla, “Kamu lucu banget sih,” jawabnya dengan terlihat begitu gemas kepada Arsyilla saat ini.
“Ya sudah yah, sudah hampir jam sepuluh malam, aku tidur ya,” ucap Arsyilla yang sudah mulai menguap. Rasanya malam ini dirinya lebih capek, karena hari ini juga ada kuliah lapangan di Taman Ismail Marzuki, rasanya ingin segera bersentuhan dengan ruangan kamarnya yang dingin ber-AC dan segera menarik selimut untuk tidur.
Akan tetapi, Aksara justru menahan pergelangan tangan Arsyilla. “Aku mau menagih janjimu,” ucap Aksara kali ini.
Arsyilla kemudian berbalik dan menatap wajah Aksara, “Menagih janji apa?” tanyanya kali ini.
“Kan aku sudah cerita, sudah semua kisah masa kecil kita berdua sudah aku ceritakan, sekarang penuhi janjimu untuk tidur denganku,” ucapnya kali ini.
Tidak mengira ternyata Aksara benar-benar menagih janji itu dan meminta Arsyilla untuk bermalam dengannya. Lagipula, dirinya sudah terlebih dahulu memenuhi janjinya dan menceritakan semuanya kepada Arsyilla, sehingga kali ini Aksara benar-benar meminta Arsyilla untuk memenuhi janjinya.
“Ya ampun, aku kira bercanda,” ucap Arsyilla dengan menatap wajah Aksara.
__ADS_1
“Denganmu, masalah seserius ini aku tidak pernah bercanda, Syilla,” balas Aksara. Sekali pun terdengar kekanakan, tetapi bagi Aksara janji Arsyilla barusan adalah masalah serius dan dia tidak akan bercanda.
Arsyilla lantas tertawa, “Kalau kamu seperti itu, kamu tidak seperti pria dewasa, kamu terlihat kayak mahasiswa tingkat 1,” godanya.
“Apa, mahasiswa tingkat 1? Anak lulusan SMA dong?” tanya Aksara dan kali ini pria itu terlihat tidak terima dengan ucapan Arsyilla.
Tawa Arsyilla pun pecah, rasanya lucu saja pria dewasa yang berusia cukup matang mengeluhkan perkara berbagi kamar malam ini. Memang ada sisi-sisi tersembunyi dari Aksara atau memang begitulah perangai Aksara selama ini.
“Iya, kamu kayak ABG,” sahut Arsyilla kali ini.
Aksara hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, “Oke, kamu boleh tertawa, sepuasnya kamu … penting malam ini kamu tidur di kamarku,” ucapnya.
Tawa Arsyilla pun perlahan sirna, dia lantas menatap wajah Aksara, “Katanya kamu akan tulus menungguku?” tanyanya kali ini.
“Iya, aku akan menunggumu. Sampai putusan persidangan Ravendra kan? Akan tetapi, kesepakatan hari ini tetap berjalan dong,” pinta Aksara.
“Ayo, jadi tidak?” tanyanya.
Rupanya melihat Arsyilla yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya, Aksara pun seketika tersenyum. Wajahnya yang semula lesu pun sirna sudah, pria itu kemudian berlari dan segera membukakan pintu kamarnya untuk Arsyilla.
“Kamu ngerjain aku ya?” tanya Aksara kini kepada Arsyilla dengan mencubit hidung mancung milik istrinya itu.
“Aduh, sakit loh, merah pasti hidungku,” keluhnya saat ini merasakan sakit di hidungnya.
__ADS_1
Akan tetapi, nyatanya Aksara segera membawa Arsyilla masuk ke dalam kamarnya, dan segera mengunci pintu itu.
“Ayo, katamu kamu sudah mengantuk kan? Ayo, kita tidur,” ucapnya kali ini.
Memang sudah beberapa kali Arsyilla bermalam dengan Aksara di dalam satu kamar, hanya saja melihat kamar dan ranjang itu, kali ini hatinya lebih terasa dag-dig-dug. Sementara pria itu terlihat santai hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek.
“Kenapa bengong? Kamu tidak yakin denganku?” tanya Aksara lagi.
Akan tetapi, Arsyilla menggelengkan kepalanya. Wanita itu lantas, mulai melepas alas kakinya dan menaiki ranjang di kamar Aksara itu. Menetralkan sejenak degup jantungnya yang memang bertalu-talu di sana, dan kemudian Arsyilla pun segera berbaring.
Melihat Arsyilla yang sudah berbaring di sana, pria itu pun berbaring dan menarik selimut bagi keduanya. Pria itu berbaring dalam posisi miring kemudian menatap wajah Arsyilla, “Tidurlah Syillaku, tenang saja … aku tidak akan macam-macam kok. Sekali pun kamu sudah halal bagiku, tetapi aku akan menunggu kesiapanmu. Aku akan tulus menunggumu,” ucapnya kali ini.
Seolah kelegaan melingkupi hati Arsyilla kali ini, hingga wajah itu pun mengangguk, “Terima kasih,” ucapnya yang yakin bahwa Aksara akan tulus menunggunya. Sekali pun setelah pernikahan, seorang istri adalah halal bagi suaminya, ternyata memang sejauh ini Aksara tidak memaksakan kehendaknya kepada Arsyilla. Dibalik sikapnya yang terkadang nakal dan seperti remaja, tetapi Aksara adalah sosok yang sabar dan juga selalu ada untuk Arsyilla.
Lantas, Aksara menelisipkan tangannya di bawah leher Arsyilla, “Hanya saja peluk aku, Syilla … setelah menceritakan semuanya panjang lebar, aku membutuhkan pelukanmu. Tidak menyangka, aku bisa kembali bertemu denganmu, dan bahkan kamu menjadi pendamping hidupku,” ucap pria itu dengan membawa Arsyilla dalam pelukannya.
Tidak menjawab, nyatanya Arsyilla juga menurut saja saat itu. Arsyilla kini tengah berbaring dengan menyandarkan kepalanya di antara lengan dan dada Aksara, satu tangannya melingkari pinggang Aksara.
“Makasih Kak Aksara,” ucap Arsyilla kali ini.
Entah mengapa kali ini, hatinya yang mendorongnya untuk mengucapkan terima kasih dan kembali memanggil suaminya itu ‘Kak Aksara’, benar saja saat Arsyilla menyebut nama itu hatinya terasa bergetar. Bahkan tidak terasa matanya berkaca-kaca saat ini.
Sementara Aksara sendiri begitu bahagia, saat Arsyilla kembali memanggilnya Kak Aksara, teringat kembali bayangan Arsyilla kecil yang selalu memanggil namanya dengan girang di Panti Asuhan dulu.
__ADS_1
“Makasih Syilla, sekarang tidurlah … aku cinta kamu,” ucap Aksara dan pria itu memejamkan matanya dengan tersenyum, tidak menyangka malam ini dirinya kembali berbagi kamar dengan istrinya itu.
Rasanya malam ini Aksara akan benar-benar tidur nyenyak, karena sudah tidak ada lagi yang dia sembunyikan. Dia sudah mengungkapkan jati dirinya kepada keluarga mertuanya dan kepada Arsyilla. Kini, berbaring dengan memeluk Arsyilla di sisinya, rasanya malam-malam seperti ini akan selalu Aksara inginkan, berbaring memeluk tubuh Arsyilla yang hangat.