
Menjelang sore Aksara menjemput istrinya itu seperti biasa. Mobil mewah berwarna putih yang sudah terparkir di parkiran Fakultas Teknik Arsitektur. Begitu sampai, Aksara segera mengirimkan pesan untuk istrinya.
[To: Honey]
[Honey, aku tiba di kampus … tempat biasa yah.]
[Cepat pulang, aku kangen.]
Pesan itu rupanya terkirim dengan cepat dan langsung diterima oleh Arsyilla hanya selang beberapa detik saja. Arsyilla merapikan meja kerjanya terlebih dahulu dan memasukkan barang-barangnya ke dalam tasnya. Usai itu, Arsyilla bercermin terlebih dahulu memastikan wajahnya tidak terlihat muram atau bersedih. Setidaknya, Arsyilla tidak ingin terlihat aneh dan mencurigakan di depan suaminya.
Hingga setelah memastikan semuanya aman, Arsyilla segera keluar dari ruangannya dan berjalan keluar tentunya untuk pulang. Sudah ada suaminya yang menjemputnya.
“Kakak,” sapa Arsyilla sembari memasuki mobil suaminya itu.
“Pasti deh … tiap kali masuk ke dalam mobilku kayak kucing-kucingan gitu,” balas Aksara sembari tertawa.
“Iya Kak, enggak apa-apa,” sahut Arsyilla.
Aksara lantas melajukan mobilnya menembus jalanan Ibukota dan membawa sang istri untuk pulang ke unit apartemen mereka. Sama seperti biasanya, begitu turun dari mobil keduanya bergandengan tangan masuk ke dalam lift dan berjalan menuju unit mereka.
Begitu sudah masuk dan kembali menutup pintu, rupanya Aksara langsung menggendong istrinya itu ala bridal style dan mendudukkannya di atas sofa, duduk di atas pangkuannya.
“Kamu kenapa, kayak baru pikiran gitu … ada sesuatu yang terjadi?” tanya Aksara.
“Mau cerita boleh?” tanya Arsyilla pada akhirnya.
Aksara pun menganggukkan kepalanya, dan memberikan waktu kepada istrinya itu untuk bercerita. Pria itu masih mempertahankan Arsyilla dalam pangkuannya dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya itu.
“Kak, aku kepikiran untuk resign ….”
Satu kalimat yang diucapkan Arsyilla nyatanya membuat Aksara begitu terkejut. Seolah apa yang baru saja diucapkan Arsyilla ini terkesan tiba-tiba. Lagipula, selama ini Arsyilla adalah salah seorang dosen yang baik, jadi untuk apa istrinya itu memilih resign.
“Kenapa?” tanya Aksara.
__ADS_1
“Kan sebentar lagi kamu diwisuda … terus, kita berdua ingin punya momongan kan, jadi … biar aku resign dan fokus untuk memiliki baby terlebih dahulu. Gimana Kak?” tanya Arsyilla.
Arsyilla hanya mengatakan bahwa dirinya berniat resign, tidak mengatakan secara gamblang kepada suaminya. Arsyilla justru ingin merahasiakan kejadian barusan bersama dengan Komisi Disiplin dari suaminya itu. Tak ingin membebani pemikiran suaminya dengan masalahnya saat ini.
Perlahan Aksara pun menatap istrinya dengan wajah bertanya-tanya. Jujur saja Aksara merasakan hal yang janggal. Akan tetapi, Aksara berusaha menerima apa yang diucapkan istrinya itu.
“Kamu yakin alasanmu resign karena ingin program hamil?” tanya Aksara yang seakan ingin memastikan.
“Ya kan buat surat pengunduran diri dulu, Kak … cuma mulai enggak ngajar Semester depan. Kalau istrimu ini menjadi pengangguran gimana Kak?” tanya Arsyilla dengan jujur.
Apakah suaminya akan keberatan jika dirinya menjadi pengangguran dan tidak bekerja. Fulltime menjadi Ibu Rumah Tangga.
“Mana mungkin aku keberatan Sayang … aku sama sekali tidak keberatan. Hanya saja, kenapa mendadak sekali? Tidak ada sesuatu yang terjadi kan?” tanya Aksara kemudian.
Tampak Arsyilla tertawa, dengan kedua tangan yang melingkari leher suaminya itu. “Aku kan ini sharing, Kak … berencana. Kalau mendadak kan aku sekarang mengajukan resign dan besok sudah tidak mengajar lagi. Itu baru namanya dadakan,” balas Arsyilla.
Merasa bahwa sang istri sudah memastikan bahwa memang tidak ada sesuatu yang terjadi, Aksara pun mengangguk setuju.
Di dalam hatinya, Arsyilla lega. Setidaknya dia sudah menceritakan perihal dirinya yang hendak resign dari kampusnya. Sekalipun di awal terlihat bahwa Aksara curiga dan merasa ada sesuatu yang terjadi, nyatanya sekarang pria itu pun mengangguk setuju.
Arsyilla lantas mencerukkan wajahnya di antara leher dan dada suaminya itu. Memejamkan matanya perlahan di sertai helaan nafas sepenuh dada. Akhirnya, setelah menjelaskan panjang dan lebar, suaminya bisa menerimanya juga.
“Makasih Kak,” ucap Arsyilla kini.
***
Tengah Malam …
Menyembunyikan sesuatu dalam hati itu memang rasanya tidak tenang. Benar bahwa Arsyilla hanya mengatakan untuk resign, tetapi peristiwa di balik semuanya itu tidak dijelaskan Arsyilla. Hingga hampir tengah malam matanya begitu sulit untuk terpejam.
Arsyilla mencoba berbaring ke kiri … tetapi sama saja, matanya tidak bisa terpejam. Beralih dan mencoba berbaring ke kanan sembari menatap wajah suaminya yang sudah terlelap sama saja. Matanya juga masih belum bisa terpejam.
Hingga akhirnya, Arsyilla perlahan memilih turun dari ranjangnya. Wanita itu berjalan menuju dapur, setidaknya minum segelas air putih bisa untuk melegakan tenggorokan dan menjernihkan pikirannya saat ini. Segelas air putih dia teguk, kemudian Arsyilla berdiri di dekat jendela. Menatap kota Jakarta dengan gedung pencakar langitnya yang begitu tinggi. Wanita itu membawa kedua tangannya bersidekap di dada dan menatap lampu-lampu malam yang terlihat dari unit apartemennya itu.
__ADS_1
Beberapa saat lamanya Arsyilla berdiri sendirian di situ, berpikir dengan berbagai rencana dan juga memikirkan masa depannya nanti. Jika orang berkata berkorban seorang diri itu melelahkan, tetapi kali ini Arsyilla harus berkorban seorang diri. Terlintas wajah penuh kebahagiaan orang tua dan mertuanya yang menyaksikan bagaimana suaminya berhasil menjalani ujian skripsi. Arsyilla tidak mungkin menghapus tawa dan memberikan duka untuk keluarganya termasuk suaminya sendiri.
Tanpa Arsyilla sadari, ada tangan kokoh yang memeluknya dari belakang begitu saja. Tentu saja Arsyilla terkesiap. Langkah kaki saja tidak terdengar, tetapi sekarang ada tangan yang sudah melingkari pinggangnya.
“Kamu kenapa di sini?” tanya Aksara dengan suara seraknya. “Aku cariin di tempat tidur … kamu tidak ada. Kamu ini yah, bikin aku sakit jantung,” ucapnya lagi.
“Aku tadi haus, Kak … minum dulu ke dapur. Terus iseng deh, lihat pemandangan tengah malam dari sini. Maaf yah,” balas Arsyilla kini.
“Yakin tidak terjadi apa-apa?” tanya Aksara lagi yang ingin mendapatkan kepastian.
“Iya, yakin … tadi cuma minum. Ini gelasnya masih di sana,” jawab Arsyilla.
“Lalu, sekarang mau di sini dulu atau mau tidur?” tanya Aksara.
“Mau tidur,” jawab Arsyilla. Sekalipun dia tidak tahu apakah dirinya bisa teridur malam ini. Akan tetapi, Arsyilla memilih untuk kembali ke kamar dan berbaring di tempat tidur. Sapa tahu kali ini, dirinya bisa segera tidur.
“Mau aku gendong?” tawar Aksara dengan tiba-tiba.
Dengan cepat Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, “Aku bisa jalan sendiri Hubby … yuk, masuk ke kamar, sudah jam berapa ini, nanti kelamaan di sini malahan tidak tidur,” balas Arsyilla.
Keduanya pun lantas kembali memasuki kamar, Aksara tampak menggandeng tangan istrinya itu dan sesekali memperhatikan wajah Arsyilla. Sungguh, kali ini rasanya Aksara tidak ingin menerka apa yang tersirat di wajah sang istri.
Memasuki kamar, Aksara lantas mematikan lampu utama, dan menarik selimut. Tidak lupa dia memberikan lengannya sebagai bantal untuk sang istri.
“Kalau masih belum bisa tidur bilang saja, jangan menyimpan semuanya seorang diri. Kamu tahu kan suamimu ini pasti akan selalu mendengarkan keluh kesahmu,” ucap Aksara kini.
“Iya Kak … kan ya tadi aku udah cerita sepulang dari kampus kalau pengen resign. Mau mempersiapkan pernikahan dan program hamil,” ucap Arsyilla.
Aksara pun lantas menganggukkan kepalanya, “Baiklah … asalkan kamu tidak merasa terbebani. Ingat juga, bagi semuanya denganku. Apa pun itu, aku selalu mau menjadi tempatmu berbagi,” ucap Aksara.
Arsyilla pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum menatap suaminya itu, “Iya Hubby,” balasnya.
Kali ini Aksara memilih terjaga, memastikan Arsyilla benar-benar tertidur. Bahkan Aksara mengusapi puncak kepala Arsyilla perlahan dan mendaratkan kecupan sayang di kening istrinya. Saat terdengar dengkuran halus dari Arsyilla barulah Aksara memejamkan matanya.
__ADS_1