
Hari ini adalah hari di mana cuti yang diambil Aksara benar-benar sudah habis. Itu berarti Aksara harus kembali bekerja. Biasanya dalam dua pekan ini, Aksara benar-benar membantu Arsyilla. Tugas pengasuhan dan rumah, mereka bagi bersama. Di pagi hari ada Aksara yang menyiapkan air hangat untuk mandi Baby Ara. Terkadang mereka juga menjemur Baby Ara di pagi hari bersama-sama. Saat Arsyilla menyusui Ara dan belum sempat makan, Aksara bahkan tidak segan untuk menyuapi istrinya itu supaya istrinya bisa makan. Bukan hanya terus mengeluarkan ASI, tetapi juga memenuhi kebutuhan makan dan nutrisinya.
“Honey, hari ini aku kembali bekerja yah,” ucap Aksara yang pagi itu hendak mandi lebih cepat karena hari ini akan menjadi hari pertamanya kembali bekerja.
“Iya Ayah … bekerja yang rajin dan semangat yah. Buat masa depan Ara,” balas Arsyilla.
“Iya Bunda, pasti Ayah akan bekerja keras untuk kalian berdua,” balasnya.
Arsyilla pun tertawa mendengar sahutan dari suaminya itu. Sembari menggendong Ara, Arsyilla berusaha untuk menyiapkan kemeja kerja, celana panjang, dan pakaian dalam untuk suaminya itu. Sesekali Arsyilla bergumam dengan mengajak Ara berbicara.
“Kita siapkan baju buat Ayah ya Sayang … Bunda biasanya selalu siapin baju yang dipakai Ayah untuk bekerja, dari kemeja, sampai kaos kakinya Bunda yang siapkan. Ara ikutan bantu Bunda yah,” gumam Arsyilla.
Selang dua puluh menit berlalu, Aksara sudah keluar dari kamar mandi. Pria itu tersenyum saat di atas ranjang sudah tersedia baju ganti untuknya. Dengan cepat Aksara pun memakai kemeja dan lainnya, kemudian pria itu turun dari kamarnya dengan kondisi yang sudah rapi dan wangi tentunya.
“Bunda … Ara,” sapanya begitu di meja makan ada istri dan Baby Ara yang dibaringkan di stroller bayi yang berada di dekat meja makan itu.
“Sarapan dulu Ayah,” balas Arsyilla. Walau belum bisa memasak banyak. Akan tetapi, Arsyilla berhasil membuatkan Nasi Goreng dan Telor Ceplok untuk suaminya itu.
“Makasih Honey … kamu masih bisa-bisanya buatin Nasi Goreng. Aku makan roti saja gak apa-apa kok,” balas Aksara.
Mengingat bahwa Arsyilla masih pemulihan pasca bersalin dan masih menjalani masa nifas, Aksara sendiri tidak mengharuskan istrinya itu untuk memasak. Yang penting Arsyilla bisa pulih, dan Ara terasuh dengan baik.
“Cuma nasi goreng kok Kak … simpel juga,” balas Arsyilla yang mengisi piring kosong suaminya itu dengan nasi goreng dan memberikan telor ceplok di atasnya.
__ADS_1
“Makasih,” ucap Aksara. Pria itu kemudian menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya sendiri. Mengunyahnya perlahan dan kemudian menelannya. Masakan Arsyilla memang enak, hingga cita rasanya seolah begitu menempel di lidah Aksara.
“Kamu bisa mengasuh sendiri Ara hari ini?” tanya Aksara di sela-sela kegiatannya mengunyah sarapan pagi itu.
“Bisa Kak … sekalian latihan. Kenapa?” balas Arsyilla.
“Enggak aku cuma khawatir saja sama kalian berdua di rumah sendirian,” balas Aksara.
Arsyilla kemudian tersenyum, menaruh sendoknya sejenak di atas piring. “Tenang saja Kak … aku pasti akan baik-baik saja kok. Lagian Ara juga masih banyak kok tidurnya, jadi bisalah. Nanti kalau Ara bobok, aku kan bisa ikutan bobok,” balas Arsyilla.
Mengasuh anak itu memang terkadang membuat capek dan bahkan mengantuk. Oleh karena itu, di saat baby tertidur, Ibu juga boleh tidur. Mengistirahatkan badan sejenak untuk mengasuh babynya lagi. Tidak pernah disalahkan seorang Ibu turut tertidur ketika bayinya tertidur. Hanya saja memang lebih baik Ibu tidur di dekat bayinya, sehingga saat bayinya bangun dan menangis meminta ASI, Ibu akan mendengarnya dan memberikan ASI untuk bayinya.
“Ya sudah … penting kamu jangan kecapekan saja. Mau cari ART?” tawar Aksara kali ini kepada Arsyilla.
Aksara merepons dengan menganggukkan kepalanya, “Iya … senyaman kamu saja Honey … yang penting Ara itu kepegang. Kasihan dia masih kecil, harus full untuk mengasuh dia,” sahut Aksara.
“Iya Kak … tenang saja. Bunda akan selalu ada buat Ara. Mengasuh Ara setiap hari. Iya kan Putri Kecilnya Bunda?” sahut Arsyilla yang seolah turut mengajak Ara berbicara itu.
Usai sarapan, Aksara pun berpamitan dengan istri dan putrinya itu.
“Ya sudah, hati-hati ya di rumah. Kalau ada apa-apa hubungi aku. Jangan kecapekan. Maaf yah gak bisa bantu kamu lagi untuk urus Ara,” ucap Aksara kali ini.
“Iya Ayah … bekerjanya yang semangat ya Ayah. Bunda dan Ara akan menunggu Ayah di rumah. Semangat Ayah!” Arsyilla membalas dan memberikan semangat kepada suaminya itu.
__ADS_1
Dengan berat hati pun Aksara harus meninggalkan Arsyilla dan Ara di rumah. Walau sebenarnya masih ingin di rumah, menghabiskan waktu bersama istri dan putri kecilnya. Namun, cuti yang dia ambil sudah habis sehingga Aksara memang harus kembali ke Jaya Corp untuk bekerja.
Begitu sampai di Jaya Corp, Aksara mendapatkan berbagai macam pekerjaan. Ada yang meminta untuk membuatkan gambar untuk projek yang baru, ada yang meminta revisi rancang bangun, dan sebagainya. Untung saja Aksara bisa mengerjakannya satu per satu. Dari pagi, hingga waktu makan siang sepenuhnya dipakai Aksara untuk bekerja. Pria itu menyandarkan bahunya sejenak di kursi kerjanya. Baru beberapa jam keluar dari rumah saja, rasanya Aksara sudah begitu rindu dengan Baby Ara. Teringat wajahnya yang mungil, matanya yang bulat, bulu mata yang begitu lentik, dan aroma khas bayi yang membuat Aksara selalu ingin menciumi bayinya itu.
Sampai akhirnya, Aksara mengambil handphonenya dari saku celana dan kemudian mengirimkan pesan kepada istrinya yang berada di rumah.
[To: Honey]
[Bunda, gimana Ara rewel enggak?]
[Jangan lupa makan siang yah.]
[Tunggu Ayah pulang nanti sore]
[Ayah cinta Bunda, Ayah sayang Ara.]
Begitulah para pria ketika mereka sudah menjadi seorang Ayah. Setiap pesan yang mereka kirimkan akan menanyakan anak mereka terlebih dahulu. Bukan bermaksud menggeser posisi istri di dalam hidup suami. Namun, para pria akan melakukan hal yang sama, yaitu menanyakan buah hati mereka terlebih dahulu. Aksara pun demikian. Baru dua pekan dirinya menjadi seorang Ayah, dan begitu kembali bekerja rasanya Aksara sudah begitu rindu dengan Ara. Terbayang-bayang wajah cantik putrinya itu, dan begitu waktu menjadi sore hari dan bisa segera bertemu dan menggendong putri kecilnya itu.
Percayalah, bahwa kehadiran anak akan benar-benar mengubah hidup pasangan suami istri. Buah hati yang akan membawa begitu banyak perubahan dalam sikap dan pola pikir di antara suami dan istri.
“Ah, baru beberapa jam keluar rumah. Sekarang, sudah begitu kangen sama Syilla dan Ara. Tunggu beberapa jam lagi, dan Ayah akan pulang yah My Love,” gumam Aksara seorang diri sembari menggeser satu per satu foto Baby Ara yang dia abadikan dengan kamera handphonenya itu.
Ingin rasanya segera pulang, bertemu lagi dengan istri dan putri tercinta. Rasanya Aksara tidak bisa jauh-jauh dari dua wanita kesayangannya itu di rumah. Jika bisa, Aksara justru ingin bekerja saja dari rumah dan selalu bisa memandang dan berinteraksi langsung dengan Arsyilla dan juga Ara.
__ADS_1