
Kali pertama dalam hidupnya, Arsyilla merasa begitu hancur. Firasatnya tadi pagi akhirnya terjadi kali ini. Air mata masih berderai dan menghiasi wajah Arsyilla. Sementara Bunda Kanaya segera memeluk menantunya itu.
"Sabar ya Syilla ... Aksara sudah ditangani dengan baik. Nanti Bunda akan cek lagi bagaimana kronologis kecelakaan itu bisa terjadi. Kuat yah," ucap Bunda Kanaya yang menguatkan Arsyilla.
Walaupun sebagai Ibu, Bunda Kanaya juga hancur dan terluka, tetapi Bunda Kanaya sangat tahu bahwa Arsyilla lebih terluka. Air mata yang sejak tadi membanjiri wajahnya menjadi bukti hancurnya seorang Arsyilla.
"Tenangin diri kamu, ya Syilla ... Tim Medis sudah berupaya maksimal. Ayah yakin Aksara akan segera pulih," balas Ayah Bisma kali ini.
Arsyilla pun menganggukkan kepalanya. Wanita itu masih saja menangis, walaupun tidak bersuara. Namun, hatinya sangat pedih rasanya.
Kemudian tidak berselang lama, perawat memindahkan brankar Aksara ke kamar perawatan. Lagi-lagi Arsyilla terisak melihat suaminya yang tak sadarkan diri. Pria yang biasanya selalu modus, dan ucapannya terlihat bersungguh-sungguh itu sekarang terbaring lemah di atas brankar. Tangan Arsyilla yang turut mendorong brankar itu juga terasa lemas.
"Biar Ayah yang mendorongnya," ucap Ayah Bisma yang mengalihkan tangan Arsyilla.
Kemudian Bunda Kanaya segera merangkul bahu menantunya itu dan berjalan menuju ke kamar perawatan di mana Aksara akan ditempatnya. Sampai akhirnya, mereka sampai di kamar perawatan kelas VIP dan Aksara segera dipindahkan di sana.
"Jadi, bagaimana Syilla kamu ingin menunggui suamimu?" tanya Ayah Bisma kali ini.
"Iya Ayah, malam ini saja ... besok Syilla akan pulang," balasnya.
"Perlu kami temani di sini?" tanya Ayah Bisma lagi.
Sebab, sebagai orang tua, Ayah Bisma dan Bunda Kanaya pun tidak tega melihat Arsyilla harus sendirian berjaga di rumah sakit. Untuk itu, mereka menawarkan untuk menemani Arsyilla.
"Tidak perlu Ayah, besok gantian saja supaya Syilla bisa pulang dan mengurus Ara juga," balas Arsyilla.
__ADS_1
"Baiklah Syilla ... kamu boleh menemani suamimu. Hanya saja, jangan terlalu bersedih. Jika terjadi sesuatu, segera kabari kami," balas Ayah Bisma.
Arsyilla menganggukkan kepalanya, "Iya Ayah ... Syilla tidak akan merasa tenang jika Kakak Aksara belum sadar. Syilla ingin memastikan bahwa Kak Aksara sadar," balasnya.
Mendengar keteguhan hati Arsyilla, akhirnya Bunda Kanaya dan Ayah Bisma berpamitan. Membiarkan Arsyilla untuk berjaga sepanjang malam ini dan terus berharap bahwa Aksara akan segera sadar. Sehingga seluruh keluarga akan merasa lega.
Arsyilla kini terduduk di sebuah kursi yang berada di samping brankar. "Kak Aksara ... bangunlah. Aku sudah kangen kamu. Aku sangat merindukanmu," ucapnya dengan isakan dan bibir yang bergetar.
Tidak dipungkiri bahwa Arsyilla begitu takut saat Bunda Kanaya dan Ayah Bisma datang dan mengabarkan kecelakaan kerja yang menimpa suaminya. Sekian lama Arsyilla menangis, tetapi hatinya masih belum merasa lega karena suaminya itu belum siuman.
Wanita itu mengamati suaminya, dengan kaki yang terpasang gips di sebelah kirinya. Arsyilla menggenggam tangan suaminya itu yang tidak dipasangi jarum infus.
"Kak, berapa lama pengaruh obat bius ini? Aku sudah kangen kamu, Kak ... kangen modus dan jahilnya sama. Aku dan Ara merindukan kamu."
Arsyilla masih menggenggam tangan suaminya, dan kini Arsyilla menciumi punggung tangan suaminya itu.
"Setidaklah sadarlah, Kak ... aku kangen," suaranya lirih dan isakan saja yang terdengar kali ini.
Terlalu lama menangis, kini Arsyilla menyandarkan kepalanya di tepi brankar suaminya. Tepat di sisi tangan suaminya. Dalam posisi duduk, matanya terus melihat pada suaminya. Hingga sekian waktu berlalu, mata Arsyilla mulai terpejam. Membiarkan malam membuainya sesaat. Arsyilla kini benar-benar menyandarkan hidupnya kepada sang Pemilik Hidup yang Agung. Sekalipun terpejam, tetapi air mata masih saja berlinangan dari sudut matanya. Dalam tidurnya pun Arsyilla berharap bahwa suaminya akan segera sadar.
Tanpa terasa Arsyilla merasakan gerakan tangan suaminya. Sekalipun gerakan itu begitu halus, tetapi cukup untuk mengusik Arsyilla. Dengan segera Arsyilla pun mengerjapkan matanya. Kelopak mata yang semula terpejam, kini perlahan terbuka, dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah suaminya.
Mata suaminya masih terpejam, tetapi jari-jemarinya seolah bergerak perlahan. Dalam harap dan kecemasan Arsyilla pun menunggu dan terus berharap bahwa suaminya itu akan bangun.
Detik berganti dengan detik, menit berganti menit, jari-jari suaminya masih bergerak perlahan. Dengan segera tangan Arsyilla bergerak dan menautkan jari-jemarinya ke dalam tangan suaminya.
__ADS_1
"Kak Aksara," dipanggilnyalah suaminya itu dengan suara yang lirih.
"Kak Aksara, aku Syilla," ucap Arsyilla lagi seolah menegaskan bahwa di Rumah Sakit itu suaminya tidak sendirian. Ada Arsyilla yang menemani suaminya itu.
Hingga perlahan, kelopak mata Aksara pun terbuka. "Syilla ... Syilla," ucapnya dengan suara yang tak kalah lirih.
Luruh seketika air mata Arsyilla. Yang dia minta kepada Tuhan, yang dia harapkan dalam doanya akhirnya terkabul. Suaminya sudah sadarkan diri.
"Kakak ...."
Arsyilla kembali memanggil suaminya itu dengan air mata yang masih saja berlinangan.
Aksara dengan kekuatan yang masih lemah, menggelengkan kepalanya perlahan, "Berapa lama kamu menangis? Hmm. Aku baik-baik saja, Honey," ucap Aksara kali ini.
Ingin rasanya Aksara bergerak, mendekat, dan segera membawa istrinya yang begitu rapuh itu ke dalam pelukannya. Apa daya, untuk bergerak saja Aksara begitu terbatas. Sakit di kakinya, dan jarum infus yang tertanam di tangannya membuat Aksara kesusahan bergerak.
"Kamu membuatku kahawatir, Kak ... aku takut. Aku takut banget," balas Arsyilla.
"Ssttss, jangan menangis lagi. Mata kamu sampai bengkak gitu. Sudah, tidak apa-apa. Aku sudah sadar. Aku sudah kembali kepadamu," ucap Aksara.
Arsyilla pun menganggukkan kepalanya. Dengan segera dia menyeka air matanya, "Aku panggilkan Dokter dulu ya Kak ... biar diperiksa Dokter. Tadi, Dokter pesan kalau pasien udah sadar, aku harus ngasih tahu."
Aksara pun kembali menganggukkan kepalanya, "Iya ...."
Arsyilla segera berdiri dan memencet tombol untuk memanggil perawat. Dia berharap suaminya yang sadar itu akan segera membaik. Sedikit kelegaan yang bisa Arsyilla rasakan saat suaminya sadar dan memanggil namanya. Inilah waktu yang berharga bagi Arsyilla. Ketika Aksara masih belum sadar, waktu seolah berjalan begitu lama. Akan tetapi, setelah Aksara sadar dan berbicara, Arsyilla seolah menemukan oase yang berada di padang gurun. Dia seperti kafilah yang menemukan sumber air dan juga menyegarkan dahaganya yang begitu kering.
__ADS_1