Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Makan Malam Bersama Mertua


__ADS_3

Usai menjatuhkan kecupan di bibir istrinya, Aksara segera menggandeng tangan istrinya itu keluar dari kamarnya. Keduanya bahkan menuruni anak tangga dengan masih bergandengan tangan. Pemandangan Aksara dan Arsyilla yang turun sembari bergandengan tangan itu tak lepas dari mata Bunda Kanaya dan Ayah Bisma. Pasangan paruh baya itu tersenyum, bagi mereka hal itu wajar karena Arsyilla dan Aksara masih sama-sama muda.


"Daddy, aku makan disuapin Daddy," ucap Thania yang tiba-tiba berlari ke arah Aksara.


"Hati-hati, Sayang," sahut Arsyilla yang takut jika Thania berlarian dan terjatuh.


Thania pun tersenyum, "Iya Onty," sahutnya.


Kemudian Aksara segera menggendong Thania dan membawa gadis kecil itu ke meja makan. Sementara tangannya yang terlepas masih mempertahankan tangan Arsyilla dalam genggamannya.


"Kalian pasangan yang berbahagia," ucap Bunda Kanaya begitu Aksara dan Arsyilla sudah mengambil tempat duduk.


"Doakan kami, Bunda ... semoga saja kami bisa benar-benar bahagia bersama. Seperti Bunda dan Ayah," jawab Aksara.


Bunda Kanaya mengangguk sembari mengisi piring kosong suaminya dengan nasi dan lauk. Sementara, Arsyilla menunggu sampai Bunda Kanaya dan Ayah Bisma selesai, barulah dia mengisi piring suaminya terlebih dahulu.


"Silakan, Kak," ucap Arsyilla mempersilakan suaminya itu untuk makan.


"Makasih, Honey," jawab Aksara.


Ya Tuhan, rupanya di hadapan Bunda Kanaya dan Ayah Bisma saja, Aksara berani memanggil Arsyilla dengan sebutan 'Honey', sudah pasti Arsyilla begitu malu. Refleks, wanita itu menundukkan wajahnya dan tersipu malu.


"Tidak perlu malu, Syilla. Dulu Ayahmu juga begitu," balas Bunda Kanaya.


"Eh, tidak kok Bunda," jawab Arsyilla.


Di meja makan itu, sesekali Aksara terlibat obrolan dengan Bunda Kanaya terkait projek di Jaya Corp. Sesekali ada Thania juga yang menginterupsi.


Lantas, saat mereka masih menikmati makanan mereka hujan kembali turun dengan begitu derasnya, bahkan kilat pun menyambar-nyambar.


"Perasaan semalam sudah hujan lebat bahkan sampai pagi. Kenapa sekarang hujan lagi ya? Perasaan belum musim penghujan," ucap Arsyilla.


"Entahlah, Syilla. Hujan memang kadang bisa turun dengan sendirinya. Apalagi di Jakarta, hujan lebat bisa turun sewaktu-waktu tanpa menunggu musim hujan tiba," balas Ayah Bisma.

__ADS_1


"Benar Ayah, semalam saja hujannya deras banget. Sekarang hujan lagi," sahut Arsyilla.


"Kalau hujan deras, siapkan lampu emergency Aksa, takutnya nanti mati lampu," ucap Bunda Kanaya.


Aksara yang tengah makan pun menganggukkan kepalanya, "Iya Bunda, siap," balas Aksara.


Hingga akhirnya mereka menyudahi makan malam. Kemudian mereka berkumpul di ruang keluarga sebentar.


"Jadi gimana semester depan Skripsi kan?" tanya Ayah Bisma kepada anaknya itu.


"Iya Yah, sekarang sudah mulai Aksara persiapkan. Minggu depan bisa mulai menemui Biro Skripsi," jawab Aksara.


"Itu bagus ... melihatmu semangat kayak gini, Ayah senang," balas Ayah Bisma.


"Setelah lulus, planning kalian apa?" tanya Ayah Bisma lagi. Sebenarnya kali ini pertanyaan bukan hanya untuk Aksara, tetapi juga untuk Arsyilla.


"Melakukan resepsi pernikahan yang tertunda dan memiliki momongan, Yah," jawab Aksara dengan tegas.


"Benar, supaya kalian tidak kucing-kucingan lagi. Selain itu, mumpung kalian berdua masih muda dan berada di usia produktif, jadi memang lebih baik memprioritaskan keturunan terlebih dahulu," balas Ayah Bisma.


"Doakan saja Ayah dan Bunda," ucap Arsyilla.


"Tentu, kami tentu akan selalu mendoakan kamu dan juga Aksara," jawab Bunda Kanaya.


Mereka berempat pun melanjutkan obrolan. Rumah yang biasanya sepi itu kini kembali hidup dengan kedatangan Aksara dan Arsyilla, hingga waktu berlalu dengan obrolan-obrolan yang mereka lakukan.


Mengingat waktu kian berjalan, Bunda Kanaya pun mengakhiri perbincangan malam itu dan menyuruh Aksara dan Arsyilla untuk beristirahat. Sehingga sekarang, Aksara kembali menggandeng tangan Arsyilla menuju ke dalam kamarnya.


Baru saja melangkahkan kaki memasuki kamar, Aksara langsung mendekap erat istrinya itu. Memeluknya dengan begitu erat.


"Kangen," ucap Aksara kali ini.


Arsyilla pun terkekeh geli dengan suaminya itu, "Kamu tumben sih Kak," balas Arsyilla.

__ADS_1


"Tumben gimana?" tanya Aksara sembari mengurai pelukannya dan menatap istrinya itu.


"Biasanya enggak kayak gini loh," balas Arsyilla.


"Habis, dari menjelang sore kamu sibuk banget. Memasak, makan malam, mengobrol, jam segini baru bisa sama kamu. Kalau di apartemen kan dari sore udah bisa nempelin kamu," balas Aksara.


Arsyilla masih tertawa, "Manja banget ... gak tiap hari juga kita ke sini. Lagipula pernikahan itu tidak hanya menyatu aku dan kamu, tetapi menyatukan keluarga, dua keluarga, menyatukan mertua dan menantunya," balas Arsyilla.


Mendengar jawab Arsyilla, Aksara pun menganggukkan kepalanya, "Ya apa yang kamu ucapkan benar. Hanya saja, aku kangen. Biasanya dari jam lima sore udah bisa nempelin kamu," balas Aksara.


"Ya sudah, sekarang aja nempelnya sampai besok pagi," sahut Arsyilla.


Arsyilla lantas berdiri di depan jendela kaca di kamar Aksara, melihat keluar rupanya hujan masih begitu deras.


"Deres banget tuh Kak, hujannya," ucapnya.


Aksara pun mendekati Arsyilla, mendekap tubuh istrinya itu. Dia memeluk Arsyilla dari belakang, dengan menaruh dagunya di atas kepala istrinya.


"Iya deres banget, mana itu kilatnya di langit kelihatan banget," balas Aksara.


"Kalau di apartemen, hujan-hujan enaknya liat pemandangan ibu kota dari jendela kaca super besar itu ya Kak, serasa kayak di Drama Korea dengan pemandangan Sungai Han. Kalau di apartemen kamu, itu tempat favoritku," ucap Arsyilla.


Aksara pun mengangguk, "Iya, aku tahu kalau kamu suka berada di sana. Itu memang spot terbaik melihat panorama Ibukota. Aku memilih unit itu salah satunya karena viewnya," balas Aksara.


Keduanya kemudian memiliki diam sejenak, mendengarkan dentingan hujan yang memberikan sensasi romantis dengan sendirinya. Kedua mata mereka sama-sama menatap pada setiap derai hujan yang jatuh dari langit.


"Honey, tahu enggak ... unit apartemenku itu menjadi lebih hidup karena ada kamu. Sekalipun tidak besar, apartemen itu istimewa karena kita memadu kasih di sana," ucap Aksara dengan tiba-tiba.


Mendengar ucapan suaminya, Arsyilla pun tersenyum dan menaruh tangannya di atas tangan Aksara yang melingkari pinggangnya itu.


"Makasih Kak... hidup bersamamu rasanya juga begitu istimewa. Kamu memberi warna tersendiri di dalam hidupku. Mungkin usia pernikahan kita masih baru, gelora kita sama-sama menggebu. Akan tetapi, nanti jika pernikahan kita kian bertambah, semoga cinta kita tak akan surut. Cinta kita tetap menyala dan hangat seperti ini," ucap Arsyilla.


Pada dasarnya memang begitulah pernikahan saat dalam hitungan baru gelora keduanya masih menggebu, tetapi saat waktu kian berjalan, semoga saja cinta keduanya tetap menyala dan hangat. Tidak akan surut, tetapi terjaga utuh untuk waktu yang sangat panjang.

__ADS_1


__ADS_2