
Usai pulang dari Rumah Sakit, tampak Aksara dan Arsyilla yang sama-sama tersenyum. Tidak mengira bahwa bayinya yang keduanya juga berjenis kelamin perempuan. Itu artinya Aksara menjadi satu-satunya yang tertampan di rumah.
Selebihnya memilih wajah Ara yang begitu lucu, keduanya sama-sama membayangkan bahwa si baby nanti wajahnya tidak akan jauh berbeda dari Ara. Bahkan keduanya juga terbayang nama-nama Princess yang telah disebut Dokter Rinta saat pemeriksaan tadi.
“Jadi, mau namanya si baby pakai nama karakter Princess lagi?” tanya Aksara.
“Pengennya sih … cuma siapa ya Kak, yang lucu dan tepat gitu,” balas Arsyilla.
Unik memang, tetapi agaknya memberikan nama dengan karakter princess begitu lucu bagi Arsyilla. Terlepas dari kesukaan di masa kecil yang selalu membaca dongeng fairytale para princess.
“Siapa saja sih Honey, princess itu? Aku tahunya cuma Aurora, karena itu karakter princess kesukaan kamu,” balas Aksara.
“Banyak Kak … ada Ariell si Putri Duyung berambut merah, Rapunzel yang memiliki rambut panjang, Belle yang disukai oleh The Beast, Mulan yang seorang jenderal perang, Tiana yang membuat kue, Jasmine yang dicintai Alladin, juga jangan lupakan Elsa dan Anna dari Arrandelle, ada Moana juga dari Hawai,” jawab Arsyilla dengan menyebutkan nama para princess itu satu per satu.
“Oh, iya … ada lagi Snow White … dia sama-sama putri tidur seperti Aurora. Hanya saja Aurora dibangunkan Pangeran Philip, sementara Snow White yang terkenal dengan tujuh kurcacinya. Mereka sama-sama tertidur, cuma kisahnya berbeda,” jelas Arsyilla kepada suaminya itu.
Aksara yang tengah mengemudikan mobil pun tertawa. Tidak mengira dalam perjalanan pulang dari Rumah Sakit, mereka justru membahas para putri buatan Disney itu.
“Dari semua itu, setelah Aurora … kamu suka siapa Honey?” tanya Aksara.
“Belle … ya, aku suka Belle. Dia gadis yang pandai, berani berbeda, suka membaca buku. Imagenya itu gadis yang pinter. Apalagi di filmnya diperankan oleh Emma, wah … itu cocok banget menurutku. Pemeran putri yang paling cocok,” jawab Arsyilla dengan sangat yakin.
“Kalau Cinderella itu nama aslinya ya Honey?” tanya Aksara lagi.
“Bukan, nama aslinya Ella … hanya saja Ibu tiri dan saudara tirinya yang mengubah namanya menjadi Cinderella yang artinya Ella si Abu Halus,” jawab Arsyilla.
__ADS_1
Agaknya, Mama muda itu memang penggemar karakter putri versi fairytale itu, sehingga Arsyilla pun bisa memberi jawaban kepada suaminya.
“Kita bicarain kayak gini banget sih … padahal kehamilan kamu baru 18 minggu. Apa pun namanya nanti, yang pasti di rumah aku akan memiliki Queen & Princess. You are my Queen, dan Ara serta adiknya nanti adalah My Princess,” jawab Aksara dengan yakin.
Arsyilla pun terkekeh geli mendengar ucapan suaminya itu. Tidak mengira sekarang pun keduanya sudah membahas berbagai nama untuk si bayi nanti.
“Kalau aku dan dua baby itu Queen and Princess, berarti kamu rajanya dong Kak?” tanya Arsyilla.
“Terserah kamu menganggap aku apa,” sahut Aksara dengan tersenyum.
“Raja minyak atau Raja Naga Selatan di film perjalanan ke Barat?” tanya Arsyilla dengan terkekeh geli.
Entah, malam ini usai mendengar jenis kelamin si baby, rasanya Arsyilla ingin terus bercanda. Terlebih, suaminya juga sedang mengajak bercanda, sengaja Arsyilla pun mengikuti saja candaan suaminya itu.
“Aku seneng deh lihat kamu bahagia gitu. Dulu itu, kamu itu pendiem. Kamu kalau diem gitu, kadang wajah kamu judes tahu,” ucap Aksara tiba-tiba.
Tawa Arsyilla pun hilang. Sebenarnya bukan hanya Aksara yang mengatakan bahwa wajahnya terlihat judes. Hanya saja, memang itu setelan wajahnya jika diam.
“Lah abis gimana dong Kak … kesan pertama kamu kayak gitu. Jadi masak aku harus tersenyum manis dan menerima semuanya. Jujur saja, aku berontak … aku bahkan gak suka menikah sama kamu. Akhirnya ya gitu deh. Cuma, ya … setelahnya kan enggak lagi,” jawab Arsyilla dengan kembali tertawa.
“Emang kalau aku enggak bikin jebakan Batman itu, dan datang dengan baik-baik ke kamu, kamu bakalan terima aku, Honey?” tanya Aksara kini dengan serius.
Jika saja, saat itu Aksara datang dengan baik-baik. Mengenalkan dirinya, mengurai kembali kisah yang pernah terjalin di antara keduanya. Mungkinkah Arsyilla bisa menerimanya? Mungkinkah Arsyilla yang saat itu menjadi kekasih Ravendra, bisa meninggalkan Ravendra dan menerima Aksara begitu saja?
“Entahlah Kak … aku tidak tahu. Bahkan aku tidak bisa membayangkan semuanya itu. Sekarang gelombang di otakku hanya penuh bayangan akan kamu dan anak-anak kita. Aku ingin membayangkan diri kita di masa depan dengan dua putri yang usianya hampir seumuran,” jawab Arsyilla dengan jujur.
__ADS_1
Alih-alih mengingat masa lalu dengan segala problematikanya, Arsyilla lebih memilih untuk membayangkan masa depannya bersama dengan Aksara dan kedua putrinya nanti. Dua tahun memiliki dua anak cukup prestasi yang membanggakan bukan? Ara masih kecil, dan si adik sudah akan lahir. Ada kalanya banyak harapan di masa depan akan semuanya itu.
“Benar Honey … bayangkan saja masa depan kita. Kamu tenang saja yah, apa pun yang terjadi di masa depan nanti, aku akan selalu mendampingimu. Untuk pengasuhan dua princess juga gak usah khawatir. Kita bisa sewa babbysitter dan supaya kamu tidak kecapekan. Untuk urusan rumah tangga, kita bisa sharingkan bersama,” ucap Aksara dengan yakin.
Aksara memang tidak ingin membebani masalah rumah tangga kepada istrinya. Apa pun pekerjaan di rumah tangga bisa mereka obrolkan bersama. Terlebih sekarang Arsyilla tengah hamil, sehingga Aksara pun ingin istrinya itu fokus ke masa kehamilan dan persalinannya nanti.
“Iya Kak … makasih banget untuk pengertian dan dukungannya. Yang Mama Khaira katakan benar, aku tidak perlu ragu dengan rumah tanggaku karena aku memiliki suami yang sangat bisa diandalkan dan selalu mendukungku,” ucap Arsyilla dengan hati yang hangat.
“Mama bilang begitu ya Honey? Kapan?” tanya Aksara. Sebab, kadang kala dia ingin tahu juga bagaimana penilaian mertuanya kepadanya.
“Iya, waktu aku pening beberapa minggu lalu itu. Mama bilang, kamu itu setipe sama Papa. Jadi, aku tidak perlu khawatir mengenai rumah tangga dan pengasuhan anak. Sebab, Mama percaya bahwa kamu tidak akan membiarkan aku kepayahan seorang diri,” jelas Arsyilla kepada suaminya.
Senyuman di wajah Aksara pun mengembang. Mendapatkan penilaian yang baik dari Mama mertuanya tentu membuatnya senang. Semoga saja Aksara bisa menjadi seorang menantu yang tidak mengecewakan kedua orang tuanya.
“Tuh, pasti seneng kan dipuji Mama gitu … senyum-senyum gitu,” ucap Arsyilla dengan melirik suaminya.
“Tentu seneng dong Honey … kapan lagi dipuji sama Mama mertua yang menjadi Dosen Senior dan ahli parenting kayak Mama. Mama itu bakatnya di parenting kerasa banget, Honey … malahan kadang ngobrol sama Mama itu kayak konsultasi sama Psikolog keluarga,” ucap Aksara dengan jujur.
“Mama memang begitu, Kak … Mama itu konsultan terbaik di rumah. Diajak bicara parenting bisa, pendidikan jago, sepakbola oke, masakan juga bisa. Hebat banget deh Mama aku. Makanya Papa tuh sering banget ngobrol sama Mama. Bahkan sampai masalah di kantor finance aja ngobrolnya sama Mama,” jelas Arsyilla kepada suaminya.
“Keren banget dong Mama … berwawasan luas banget ya Honey,” balas Aksara.
“Iya Kak … menurutku yang membuat rumah tangga Mama dan Papa begitu harmonis ya dari obrolan mereka. Saling terbuka satu sama lain, aku senang sekali dengan kehidupan rumah tangga Mama dan Papa,” balas Arsyilla.
Sungguh, Arsyilla begitu senang bisa mengobrol dan bercerita banyak hal tentang keluarganya kepada Aksara. Dalam hatinya, semoga saja kehidupan rumah tangganya dengan Aksara akan selalu langgeng dan harmonis. Sekalipun badai menerpa, keduanya sama-sama memiliki kekuatan untuk melewati semua rintangan yang ada.
__ADS_1