
Begitu waktu mengajar sudah usai, yang sangat dirindukan Arsyilla tentunya bisa pulang ke rumah dan bertemu dengan putri kecilnya. Dulu, rasanya mengajar itu menyenangkan, tetapi setelah memiliki Ara, rasanya ingin segera pulang ke rumah dan bertemu dengan putri kecilnya. Beberapa kali Arsyilla juga melihat jam yang melingkari di tangannya dan berharap suaminya akan segera menjemputnya.
Beberapa menit pun berlalu, sampai akhirnya terdapat beberapa pesan yang tentunya dari Aksara yang mengatakan bahwa dia sudah berada di parkiran dan menunggunya.
Sedikit bergegas, Arsyilla pun keluar dari ruangan dosen dan kemudian menemui suaminya yang sudah menunggunya di parkiran fakultas.
“Ayah,” sapanya dengan senyuman yang tercetak jelas di wajahnya.
“Bunda,” sahut Aksara yang turut tersenyum lebar.
Pria itu bergegas berdiri dan kemudian meminta tas laptop dan juga tas berisi pumping milik istrinya dan menaruhnya di mobilnya. Setelahnya, Aksara membukakan pintu bagi istrinya itu.
“Masuk Bunda,” ucapnya.
Arsyilla pun tertawa dan menduduki kursi di samping kursi kemudi itu. Kemudian barulah Aksara mengitari mobil, dan kemudian duduk di balik stir kemudi.
“Gimana tadi mengajarnya?” tanya Aksara yang mulai menjalankan mobilnya perlahan-lahan keluar dari fakultas Teknik itu.
“Lumayan sih Kak … cuma ya awal-awal tadi aku nervous banget. Udah lama enggak mengajar, jadinya deg-degan,” balasnya.
“Dosenku yang cantik ini bisa nervous juga toh? Santai saja Honey, kamu pasti bisa menguasai kelas dan mengajar dengan baik,” balas Aksara.
“Ya, mengajar pun butuh persiapan dan perencanaan. Mengajar tanpa persiapan dan perencanaan artinya sedang menggali kegagalan diri sendiri,” sahut Arsyilla.
Aksara pun tersenyum, tangannya terulur dan memberi usapan di puncak kepala istrinya, “Pinter banget sih … Istrinya siapa nih ini. Aku tuh kagum banget sama kamu, untuk urusan mengajar, persiapan kamu itu luar biasa. Jadi, aku yakin bahwa kamu bisa. Dosen kan gak hanya membutuhkan otak yang cerdas, tetapi harus didukung dengan kemauan mau belajar dan persiapan dengan baik,” sahut Aksara.
“Ya, otak cerdas perlu juga sih … cuma kan ilmu berkembang. Jadi bagaimana caranya pembelajaran itu tetap sesuai dengan konsep masa kini,” balas Arsyilla.
“Betul Honey … harusnya kamu jadi Dosen aku sejak aku semester satu. Pasti aku jadi bakalan lebih pinter, dan ilmu yang kudapat lebih banyak karena kamunya berwawasan luas kayak gini,” balas Aksara.
Mendengar apa yang diucapkan Aksara, Arsyilla pun tertawa dengan menggelengkan kepalanya, “Untung enggak ketemu … gimana malunya aku, masih fresh graduate, masih banyak salah, terus ketemu kamu, nanti cerita kita bakalan beda deh,” sahut Arsyilla.
“Beda gimana?” tanya Aksara.
__ADS_1
“Ya beda saja … udah deh, yang penting kita menjalani yang sekarang,” balas Arsyilla.
Keduanya pun lantas tertawa. Lebih baik menjalani hidup yang saat ini berjalan dan juga terus menjadi orang tua yang baik untuk putri kecilnya, Ara.
“Aku sudah kangen Ara deh Kak,” ucap Arsyilla saat ini.
“Itu yang aku rasakan pas awal kerja dulu usai cuti, Honey … keingat wajahnya Ara terus,” balas Aksara.
“Bener banget … rasanya waktu jadi pengen cepet berlalu, dan bisa ketemu Ara,” balas Arsyilla yang sedikit lesu karena sudah begitu rindu dengan buah hatinya.
Tidak berselang lama, mobil yang dikemudikan Aksara pun sudah tiba di depan gerbang kediaman Mama Khaira dan Papa Radit. Keduanya turun dari mobil dan memasuki rumah orang tuanya.
“Sore Eyang,” sapanya dengan serentak.
Terlihat Mama Khaira sedang menggendong Ara dengan menggunakan kain jarik. Wanita paruh baya itu sedang berdiri, seolah mengayun Ara dan bersenandung lirih.
“Sudah pulang?” tanya Mama Khaira.
“Sudah Mama … Ara rewel enggak Ma?” tanya Arsyilla kepada Mamanya.
Lega rasanya hati Arsyilla saat dirinya pulang dari mengajar dan mendengar dari Mama Khaira bahwa Ara sama sekali tidak rewel. Semoga saja di lain waktu, Ara juga bersikap manis dan tidak rewel saat dirinya mengajar.
Inilah sore yang dinanti oleh Arsyilla. Sore ketika dia kembali ke rumah dan melihat Ara.
“Mandi dulu sana … jadi nanti sampai di rumah sudah bersih,” ucap Mama Khaira yang memberikan perintah kepada Arsyilla dan Aksara.
“Kamu mandi duluan Kak,” ucap Arsyilla sembari menatap suaminya.
“Iya Honey,” jawabnya. Aksara pun segera berpamitan dan izin untuk mandi lebih dahulu. Sementara Arsyilla masih ada di ruang tamu menunggu Aksara yang mandi, begitu Aksara sudah selesai, giliran Arsyilla yang naik ke kamarnya dan bergegas untuk mandi cepat supaya bisa segera menggendong Ara.
“Sini Ma, biar Aksara yang gendong Ara,” pinta Aksara kali ini.
Mama Khaira pun melepas kain jarik yang dia gunakan untuk menggendong Ara, kemudian menyerahkan bayi berusia 3 bulan itu ke dalam gendongan Aksara.
__ADS_1
“Putrinya Ayah … tadi ikut Eyang ya Sayang waktu Bunda mengajar,” ucap Aksara yang mengajak bicara (sounding) dengan Ara.
Mama Khaira tersenyum mengamati interaksi antara Aksara dengan putrinya, teringat dulu bagaimana Papa Radit di sore hari selalu menggendong Arsyilla kecil dan mengajaknya berbicara. Kemudian saat Shaka lahir, Papa Radit juga menggendongnya. Bergantian untuk mengasuh anak mereka di sore hari.
“Kalian berdua pengennya punya anak berapa Aksara?” tanya Mama Khaira dengan tiba-tiba.
“Berapa ya Ma … mungkin satu saja. Aksara tidak tega melihat Syilla kesakitan melahirkan,” jawab Aksara dengan jujur.
Rupanya jawaban yang diucapkan Aksara didengar juga oleh Arsyilla yang baru saja turun dari anak tangga. Wanita itu mendekat ke suami dan putrinya, kemudian melabuhkan kecupan di kening Ara dengan penuh sayang.
“Iya Syilla, kalian hanya ingin punya anak satu saja?” tanya Mama Khaira kini kepada Arsyilla.
Arsyilla tersenyum dan memberikan anggukan samar, “Iya Ma … kelihatannya satu saja, Ma,” balasnya.
“Ya, kalau Mama sih … jangan hanya satu. Dua lah. Mengikuti anjuran pemerintah, dua anak cukup,” balas Mama Khaira. “Namun, selebihnya terserah kalian berdua saja … kalian yang berhak menentukan. Mama dan Papa dulu anak tunggal, jadi tidak punya teman bermain di rumah. Sementara Mama dan Papa berkeinginan memiliki anak dua karena supaya kamu memiliki teman bermain, berbagi, bahkan bertengkar di rumah,” jawab Mama Khaira.
“Kok bertengkar sih Ma?” tanya Arsyilla kepada Mamanya.
“Iya, bertengkar itu baik untuk pertumbuhan emosi anak. Dari pertengkaran seorang anak akan semakin mengenal berbagai macam emosi dan bagaimana mengelolanya. Bertengkar dan kemudian berbaik, itu adalah cara mengelola kemampuan sosial anak,” jelas Mama Khaira.
Mendengarkan apa yang baru saja disampaikan Mama Khaira, Arsyilla dan Aksara pun saling pandang. Hingga kemudian Aksara menatap istrinya itu.
“Nanti, tambah satu lagi mau tidak Honey? Biar Ara ya dua atau tiga tahun dulu,” ucap Aksara kini.
“Lihat nanti saja ya Kak … minimal Ara lepas ASI dulu,” jawab Arsyilla.
Mama Khaira pun tersenyum mendengar percakapan Arsyilla dan Aksara, “Sudah, tidak usah dijadikan beban. Sekarang fokus ke Ara dan memberi ASI sampai lulus S2 ya Ara, cucunya Eyang yang sangat cantik,” balas Mama Khaira.
“Benar Ma … fokus ke Ara dulu, kalau Aksara terserah Arsyilla. Hamil dan melahirkan itu hak perempuan, yang pasti Aksara sudah bersyukur memiliki Ara sebagai buah cinta kami berdua,” balasnya.
“Kamu itu mirip banget sih sama Papa kamu, dulu Papa kamu juga berbicara begitu.” Mama Khaira berbicara dan teringat dengan ucapan suaminya dulu.
Baru saja Mama Khaira selesai berbicara, tampak Papa Radit yang masuk dari pintu depan rumah.
__ADS_1
“Kenapa dengan Papa, Ma? Kok sebut-sebut Papa sih,” ucap Papa Radit dengan tiba-tiba.
Sontak saja Aksara, Arsyilla, dan Mama Khaira yang sedang bersantai di ruang tamu tertawa karena kedatangan Papa Radit dan sahutannya yang tiba-tiba.