Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Bimbingan Skripsi Pribadi


__ADS_3

Hanya membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam, dan sekarang mobil Aksara telah berhenti di kediaman mertuanya. Aksara dan Arsyilla pun segera turun dari mobil dan memasuki rumah Mama Khaira dan Papa Radit itu.


“Mama, Syilla datang,” sapa Arsyilla begitu memasuki rumah Mamanya.


Tidak berselang lama, Mama Khaira pun muncul dari taman yang berada di serambi rumahnya.


“Loh, tumben kalian datang tanpa memberi kabar kepada Mama?” tanya Mama Khaira.


“Maaf Ma, kami tiba-tiba kemari. Sebab Kak Aksara mau pinjem buku-buku Syilla waktu kuliah dulu. Untuk mengerjakan skripsi,” jelas Arsyilla kepada Mamanya itu.


“Oh, kamu sudah mulai skripsi ya Aksara? Sudah Bab berapa?” tanya Mama Khaira.


“Iya Ma, baru mulai Bab 2. Doakan ya, biar Aksara bisa mengerjakannya dengan cepat,” balas Aksara.


Perlahan Mama Khaira menganggukkan kepalanya dan menepuk bahu menantunya itu, “Iya … Mama dan Papamu selalu berdoa buat kalian berdua. Dosen Pembimbingnya bukan Syilla kan?” tanya Mama Khaira kemudian.


“Bukan Ma … sebenarnya dari Biro Skripsi ditawarkan dapat Syilla. Namun, Aksara menolak karena sudah diwanti-wanti Ibu Negara terlebih dahulu,” balasnya.


Tentu saja Mama Khaira tertawa bahwa menantunya itu menjuluki putrinya dengan label ‘Ibu Negara’.


“Kalau Syilla Ibu Negara, kamu Presidennya dong?” tanya Mama Khaira.


“Aksara bukan Presiden, Ma … Aksara ajudannya Bu Negara saja,” jawab pria itu dengan tertawa.


Mama Khaira lagi-lagi tertawa, tidak mengira menantunya itu konyol juga. Setidaknya menantunya memiliki selera humor seperti suaminya.


“Papa belum pulang ya Ma?” tanya Arsyilla.


“Belum dong … satu jam lagi Papamu baru datang,” balas Mama Khaira. “Ya sudah, sana kerjakan dulu skripsinya. Dosen pembimbing kamu memang bukan Syilla, sesuai prosedur itu sudah baik, cuma kalau tanya-tanya tidak apa-apa Aksara. Sebagai memanfaatkan Syilla sebagai fasilitator saja,” jelas Mama Khaira.


“Aksa bimbingan pribadi sama Syilla saja kok Ma,” sahut Aksara dengan cepat.


Setelahnya Aksara dan Arsyilla berpamitan dengan Mama Khaira untuk masuk ke kamarnya. Tentu kali ini, Arsyilla segera mengambilkan buku-buku kuliahnya dulu yang akan digunakan sebagai landasan teori untuk skripsi milik suaminya.


“Ini Kak … ada banyak sekali tentang Konsep Ekologis dan Arsitektur. Nanti kita bawa pulang ke apartemen saja Kak. Kamu kerjakan dulu ya Kak … aku ke kamar mandi dulu,” balas Arsyilla.

__ADS_1


Memberi waktu bagi suaminya untuk memilih dan memilah beberapa buku, Arsyilla memilih mandi. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit, Arsyilla telah keluar dengan badan yang segar dan wangi. Setelahnya, Arsyilla memilih turun ke dapur. Tujuannya kali ini adalah untuk membuatkan minuman bagi suaminya terlebih dahulu.


“Bikin apa, Syilla?” tanya Mama Khaira yang sedang menyiapkan makan malam dibantu seorang pembantu rumah tangga bernama Bibi Sari.


“Mau bikin cokelat hangat untuk Kakak, Ma,” balasnya.


“Mau camilan?” tanya Mama Khaira.


“Mama bikin apa?” Arsyilla bertanya Mamanya itu memiliki camilan apa di rumah.


“Mama membuat Bakwan Udang dan Singkong Goreng. Kamu bawa ke atas yah … buat camilan Aksara dulu. Nanti dia turun kan masih nunggu makan malam,” balas Mama Khaira.


Perlahan Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, “Iya Ma … makasih,” balasnya.


Arsyilla kembali ke kamar dengan membawa nampan yang berisi cokelat panas dan camilan yang sudah dibuatkan oleh Mama Khaira.


“Sambil makan camilannya Kak, aku juga bawakan cokelat hangat nih buat Kakak,” ucap Arsyilla begitu memasuki kembali kamarnya.


“Iya Honey, makasih … sebentar ya. Aku selesaikan ini dulu. Tadi tuh di kantor, aku sambil negerjain biar aku tahu poin-poin apa saja yang ingin kujabarkan di Landasan Teori,” jawabnya.


“Penjelasan kamu nanti dari umum ke khusus atau khusus ke umum dulu Kak?” tanya Arsyilla.


“Enaknya gimana Honey?” balas Aksara.


“Tergantung kita yang menyusun sih Kak … cuma kalau aku suka umum menuju ke khusus, jadi kan lebih mengerucut gitu kan,” jawabnya.


Aksara tampak menganggukkan kepalanya dan sedikit berpikir. Hingga akhirnya, Aksara pun kembali bersuara, “Ya sudah … aku juga begitu saja deh, nanti minta tolong jelaskan pelan-pelan ya Honey,” pintanya kali ini.


Arsyilla pun tertawa, “Jadi kamu enak ya Kak … bisa bimbingan skripsi privat kayak gini,” balasnya.


“Iya dong … aku harus memanfaatkan istriku yang dosen ini dong. Kamu tuh, dosen idola di Fakultas Teknik Arsitektur ya Honey?” tanya Aksara.


“Siapa yang bilang?” sahut Arsyilla dengan cepat.


“Di grup chat mahasiswa tadi … mereka pada seneng tuh yang dapat Dosen Pembimbing kamu. Banyak yang ngiri. Kalau aku sih gak perlu ngiri, karena aku bisa bimbingan pribadi denganmu setiap saat,” balasnya.

__ADS_1


“Jadi kamu merasa beruntung dong Kak?” tanya Arsyilla.


Dengan cepat Aksara menganggukkan kepalanya, “Beruntung pakai banget Sayang … jadi, ya aku diem-diem saja. Mereka gak tahu saja kalau kamu istriku. Aku juga bangga sih dengan prestasi kamu di kampus, kamu diapresiasi bagus oleh mahasiswa kan prestasi juga, Sayang.”


Mendengar jawaban suaminya, Arsyilla pun lantas tertawa, “Ah, kamu bisa saja … diminum dulu, Kak … mumpung masih hangat. Nanti kata Mama kamu turun waktu jam makan malam saja. Abis ini aku turun lagi untuk bantu Mama menyiapkan makan malam ya Kak?” tanya Arsyilla kepada suaminya.


“Iya Sayang … bantu aja Mama. Mumpung kamu di rumah Mama. Aku juga mengerjakan skripsi dulu. Maaf yah, aku turunnya pas jam makan malam saja. Semua ini aku lakukan demi kamu juga,” balas Aksara.


“Iya Kak,” balas Arsyilla.


Setelahnya Arsyilla berpamitan dengan suaminya terlebih dahulu karena dia akan berada di dapur dan membantu Mama Khaira terlebih dahulu. Lagipula, dia juga memberikan waktu untuk suami mengerjakan skripsi. Biarkan suaminya fokus dan konsentrasi terlebih dahulu, dan Arsyilla akan mengerjakan hal lain. Mumpung dia ada di rumah Mamanya, jadi dia ingin membantu sang Mama di dapur.


“Loh, kok sudah turun lagi Syilla?” tanya Mama Khaira begitu mendapati putrinya itu turut berdiri di dapur dengannya.


“Biar Kak Aksara mengerjakan skripsi dulu, Ma … Syilla mau bantu Mama aja,” sahutnya.


“Kamu ini … menemani suami kamu juga tidak masalah. Kan juga sudah ada Bibi Sari,” balas Mama Khaira.


“Tidak apa-apa Ma, jangan jadikan Syilla tamu di rumah Mama dan Papa. Jadikan Syilla sebagai anak dan suruh Syilla untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Syilla kan kangen dengan semuanya ini,” balasnya.


Mendengar jawaban putrinya, Mama Khaira pun tersenyum, “Kamu tidak pernah menjadi tamu di rumah ini, Syilla … kamu adalah putri kami. Tidak terasa, putri kecilnya Mama sekarang sudah makin dewasa. Hidup bersama dengan Aksara membuat kamu jadi makin dewasa, Syilla,” ucap Mama Khaira kali ini.


“Apa iya Ma? Padahal kadang kala, Syilla malahan manja tuh sama Kakak,” balasnya.


“Itu wajar Syilla … cuma, Mama bisa melihat kamu kian dewasa. Pemikiran kamu dan ucapan kamu. Manja sama suami tidak salah kok. Mumpung masih berdua, nanti kalau sudah ada baby, babynya yang bakalan manja sama Papanya, kayak kamu dulu,” balas Mama Khaira.


Tentu Mama Khaira teringat masa kecil Arsyilla yang begitu manja dan menempel kepada Papanya. Jadi, memang selagi masih berdua biarkan saja mempererat waktu berkualitas dengan suami.


“Iya Ma … nanti kalau sudah punya baby sudah berbeda ya Ma … cuma Syilla seneng sih, Kak Aksara baik dan juga pengertian sama Syilla. Cuma kami harus persiapan dari sekarang untuk memiliki baby. Syilla ingin memiliki baby dengan persiapan yang matang, Ma,” ucap Arsyilla dengan tiba-tiba.


“Benar Sayang, merencanakan termasuk saat ingin memiliki baby itu baik. Persiapan itu tidak ada fisik, tetapi mental dan finansial. Secara fisik tentu kamu siap hamil, siap menerima perubahan di badan kamu nanti. Secara mental kamu siap menjadi Ibu yang sehat secara mental untuk baby kamu, dan secara finansial tentu adalah tabungan untuk si baby nanti. Mama setuju kalau kamu dan Aksara memiliki baby dengan persiapan,” jelas Mama Khaira.


Wah, kali ini sebenarnya bukan hanya Aksara yang mendapatkan bimbingan pribadi dari Arsyilla terkait dengan skripsinya, tetapi juga Arsyilla mendapatkan bimbingan pribadi dari Mamanya mengenai mempersiapkan buah hatinya nanti.


Masih ada waktu kurang lebih lima bulan hingga suaminya lulus nanti. Lima bulan waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri guna mempersiapkan menyambut buah hati nanti.

__ADS_1


__ADS_2