
Liburan babymoon beserta orang tua dan mertua pun akhirnya usai. Walaupun singkat, kota Jogjakarta dengan semua kenangan tetap menorehkan kenangan manis untuk Aksara dan Arsyilla, untuk Mama Khaira dan Papa Radit, dan juga untuk Bunda Kanaya dan Ayah Bisma. Tiap-tiap keluarga bisa makin dekat. Bukan hanya Arsyilla yang menikmati liburan sebelum nanti akan mempersiapkan diri menjadi calon orang tua bagi putri kecilnya, para orang tua juga menikmati liburan sebelum kembali ke rutinitas mereka. Sedikit break dari rutinitas yang bisa men-charge ulang semangat mereka.
“Sorry ya Honey, liburannya cuma sebentar,” ucap Aksara sembari menautkan jemarinya di sela-sela jari milik Arsyilla.
Wanita yang kehamilannya kian bertambah itu pun menganggukkan kepalanya, “Tidak apa-apa, Kak … nanti bisa liburan lagi sama Dedek Bayi,” balasnya.
“Iya, nanti kalau Dedek Bayi sudah cukup usianya, kita ajakin liburan bersama,” balas Aksara.
“Bundanya Dedek Bayi seneng gak nih?” tanya Aksara kepada istrinya itu.
“Senang dong Ayah … kapan lagi bisa jalan-jalan sama suami, sama Eyang, dan Oma Opanya Dedek Bayi,” balas Arsyilla.
Mendengar jawaban dari Arsyilla, Aksara merasa lega. Memang liburan kali ini kurang intim, mengingat ikut sertanya para orang tua mereka. Akan tetapi, terkadang memberi waktu untuk liburan bersama dengan keluarga juga tidak ada salahnya.
“Syukurlah … aku pikir, kamu kurang seneng karena waktu berdua berkurang dan harus berganti menjadi waktu bersama keluarga,” balas Aksara.
Semula memang Aksara mengira bahwa istrinya itu tidak merasa senang. Namun, setelah Arsyilla merasa senang, Aksara pun lega. Dalam hatinya, Aksara berharap di lain waktu nanti dirinya bisa membawa Arsyilla jalan-jalan ke luar negeri bersama dengan putri kecilnya nanti.
Sekarang rombongan keluarga itu tengah bersiap untuk terbang dari Yogyakarta Internasional Airport menuju ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Jika ketika datang, mereka hanya membawa koper yang berisi pakaian. Ketika kembali ke Jakarta, barang bawaan mereka berlebih karena banyak buah tangan yang mereka beli, sehingga membuat mereka membawa lebih banyak barang bawaan.
“Mau minum air putih?” tawar Aksara kepada istrinya itu.
“Enggak … nanti waktu di atas pesawat saja, Kak,” balas Arsyilla.
Kemudian Mama Khaira dan Papa Radit juga duduk di samping Arsyilla. “Capek tidak Syilla?” tanya Mama Khaira kepada putrinya itu.
Mengingat jauhnya pusat kota Jogjakarta dengan letak bandara yang baru ini membuat Mama Khaira mengkhawatirkan kondisi putrinya yang tengah hamil itu. Bahkan kini tangan Mama Khaira memberikan usapan di perut Arsyilla yang kian membuncit itu.
“Enggak kok Ma … enggak capek,” balas Arsyilla.
“Pinggangnya pegel enggak?” tanya Mama Khaira lagi.
Biasanya para ibu hamil akan merasakan kencang di perutnya dan pegal di pinggangnya, maka dari itulah Mama Khaira bertanya kepada Arsyilla.
__ADS_1
“Juga enggak Ma, semoga saja tidak kenapa-napa,” balas Arsyilla lagi.
Mama Khaira merasa lega, semoga saja kandungan putrinya itu memang baik-baik saja. Kendati demikian, Mama Khaira tetap saja khawatir jika putrinya itu kecapekan atau merasa tidak nyaman dengan kandungan. Namun, saat Mama Khaira melihat Aksara yang setia dan begitu perhatian kepada Arsyilla, rasanya Mama Khaira kembali tenang karena Aksara terlihat sangat peduli dan mencintai Arsyilla.
Beberapa saat menunggu, kemudian para penumpang pun diminta untuk memasuki pesawat. Mengingat kondisi Arsyilla yang hamil, dan terkadang para penumpang berdesak-desakkan untuk segera masuk ke dalam pesawat, Aksara menggandengan tangan Arsyilla.
“Belakangan aja Honey … takut perut kamu kena pergerakan orang-orang,” ucap Aksara.
“Iya Kak … santai saja, toh tempat duduknya kan sudah tertera di tiket kita. Lagian aku juga jalannya pelan-pelan ya Kak. Perutku makin berat dan tidak bisa untuk jalan cepat-cepat,” balas Arsyilla.
“Iya Honey … santai saja, aku akan selalu bersama denganmu,” balas Aksara.
Sampai pada akhirnya, keduanya memang berjalan perlahan. Tidak memaksakan untuk berjalan terlalu cepat. Bahkan Aksara tampak hati-hati menuntun istrinya itu. Baru melihat Arsyilla yang terkadang berjalan sembari memegangi pinggangnya saja, rasanya Aksara sudah begitu kasihan dengan istrinya itu. Aksara sangat tahu bahwa hamil itu tidak mudah. Merasakan pertambahan berat badan, merasakan perubahan hormon yang menyebabkan mood swing, bahkan tidak jarang wajah menjadi kusam dan berjerawat, atau kaki yang menjadi bengkak. Untuk itu, para pria memang harus bersabar dan mencurahkan perhatian dan kasih sayang mereka saat istri tengah mengandung. Sebab, perjuangan seorang wanita yang tengah mengandung itu benar-benar tak terkira.
Begitu sudah di dalam pesawat, Aksara membantu Arsyilla untuk duduk. Kemudian pria itu menawarkan minum kepada istrinya itu.
“Minum dulu Honey,” ucapnya membuka seal penutup botol dan menyerahkannya kepada istrinya.
“Makasih Kak,” balas Arsyilla sembari sedikit meneguk air mineral itu.
“Enggak kok … nanti kan bisa tidur. Sampai di rumah juga bisa rebahan lagi,” balas Arsyilla.
“Iya, penting kalau merasa apa-apa bilang ya Honey. Kan yang bisa merasakan itu kamu. Jadi, kalau kerasa apa-apa, bilang ke aku,” balas Aksara.
Usai mengatakan semua itu, awak kabin memberitahukan bahwa pesawat akan segera lepas landas. Aksara menautkan jari-jemarinya di tangan Arsyilla, sesekali Aksara menatap wajah istrinya itu. Aksara berharap Arsyilla baik-baik saja dan tidak ketakutan. Ketika pesawat mulai mengudara, ada remasan tangan Arsyilla di tangan Aksara. Membuat pria itu menoleh dan kembali bersuara.
“Takut?” tanyanya.
“Sedikit,” balas Arsyilla sembari tertawa.
“Enggak apa-apa, nanti kalau posisi pesawatnya sudah stabil, enggak takut lagi,” balas Aksara yang kembali menenangkan Arsyilla.
Untung saja Aksara juga begitu sabar. Di balik sifatnya yang begitu modus dan terkadang nakal kepada istrinya, tetapi Aksara adalah sosok yang begitu sabar dan peduli dengan Arsyilla. Bahkan pria itu seolah-olah melayani Arsyilla dengan sangat baik.
__ADS_1
Remasan Arsyilla di tangan Aksara kian lemah, saat badan pesawat mulai mengudara dengan stabil di udara. Bahkan wanita itu beberapa kali tersenyum dan terkagum melihat aneka panorama yang dia lihat dari balik jendela pesawat itu. Gumpalan awan putih yang laksana ombak, angkasa biru, di bawah ada pulau-pulau Indonesia yang seolah mengapung di lautan, dan juga lautan luas yang membentang. Semua pemandangan yang hanya bisa dia nikmati saat menaiki pesawat.
Perjalanan udara kurang lebih dua jam, dan sekarang mereka bersiap untuk landing di Bandara Internasional Soekarno - Hatta. Pesawat mulai mengurangi ketinggiannya di udara. Arsyilla juga kembali menggenggam tangan Aksara. Meremasnya perlahan, remasannya kian menguat saat pesawat mulai turun dan menukik memutar, sampai akhirnya roda-roda pesawat berjejak di tanah.
“Akhirnya,” ucap Arsyilla sembari menghela nafas panjang.
Lega rasanya saat pesawat sudah landing dengan selamat. Kembali ke Jakarta, kembali dengan segala aktivitas yang sudah menunggu mereka kembali. Aksara dengan pekerjaannya sebagai Arsitek, dan Arsyilla dengan pekerjaannya sebagai Dosen. Selain itu, mengingat usia kehamilan Arsyilla yang kian bertambah mereka juga akan bersiap menyiapkan segala sesuatunya untuk baby kecilnya nanti.
“Sudah tiba di Jakarta lagi. Istirahat sehari dan Senin sudah kembali bekerja,” balas Aksara.
“Iya Kak … kalau liburan itu rasanya sebentar banget. Cuma kalau sudah di Jakarta, rasanya lama banget,” sahut Arsyilla dengan tertawa.
Memang rasanya demikian, menghabiskan waktu untuk liburan rasanya begitu singkat. Akan tetapi, menghabiskan waktu untuk menjalani rutinitas rasanya begitu lama.
“Benar Honey … cuma ya dinikmati saja. Mau ke toilet dulu enggak sebelum pulang ke rumah kita?” tanya Aksara kepada istrinya.
“Boleh deh Kak … anterin yah,” balas Arsyilla.
Aksara tertawa, dan kemudian mengantarkan istrinya itu menuju ke toilet terlebih dahulu. Bahkan Aksara juga begitu sabar untuk menunggu Arsyilla. Setelahnya, barulah keduanya menuju ke tempat pengambilan koper, menunggu koper-koper mereka keluar, setelahnya barulah mereka akan kembali ke rumah mereka.
“Liburannya cuma sebentar ya Syilla?” tanya Bunda Kanaya kepada menantunya itu.
“Tidak apa-apa Bunda … Syilla juga sudah seneng banget bisa liburan bersama keluarga,” balasnya.
“Kapan-kapan main ke rumah Bunda ya Syilla … menginap di sana. Oh, iya, nanti waktu kamu melahirkan mungkin si Airlangga juga datang dari Australia. Jadi, baby kamu bisa ketemu sama Unclenya nanti,” balas Bunda Kanaya.
Arsyilla menganggukkan kepalanya, dan kemudian tersenyum. “Iya Bunda … supaya nanti bisa kenalan juga sama Airlangga,” balas Arsyilla.
Setelahnya, Arsyilla mendekat kembali kepada suaminya, “Kak, waktu baby kita lahir bertepatan dengan Airlangga pulang dari Australia yah?” tanyanya.
“Hmm, yang bilang siapa Honey?” tanya Aksara.
“Bunda, barusan,” jawabnya.
__ADS_1
“Entahlah … aku tidak tahu,” sahut Aksara.
Namun, bisa terlihat dengan jelas perbedaan raut muka Aksara saat memberikan jawaban. Arsyilla lantas memilih diam dan mengalihkan pembicaraan. Mungkin saja ada sesuatu yang tidak beres antara suaminya dengan adik iparnya. Namun, Arsyilla tidak ingin bertanya lebih lanjut, dia akan menunggu sampai suaminya itu mau berbagi kisahnya dengan sendirinya.