Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Diperiksa Opa Bisma


__ADS_3

Menjelang jam 10.00 pagi itu, bayi yang baru lahir akan mendapatkan visiting dari Dokter Spesialis Anak. Mengecek kondisi bayi yang baru lahir meliputi pemeriksaan suhu tubuh, dan berbagai pemeriksaan lainnya untuk memastikan bayi yang baru saja lahir dalam kondisi sehat dan tidak ada kelainan yang menyeratainya.


Adalah Dokter Bisma yang merupakan seorang Dokter Spesialis Anak yang kali ini mendapatkan kabar untuk melakukan visiting untuk pasien yang baru saja melahirkan subuh tadi. Dokter Bisma pun menganggukkan kepalanya, dengan menggunakan snelli (jubah putih seorang Dokter), menggantungkan Stetoskop di lehernya, dan menggunakan sarung tangan medis, Dokter Bisma pun menuju kamar perawatan di mana ada bayi yang harus dia periksa dan kunjungi hari ini.


Sebelumnya Dokter Bisma tidak menyadari bahwa bayi yang akan dia periksa hari ini adalah cucunya sendiri. Sebab, Aksara sama sekali tidak memberitahunya dan Bunda Kanaya bahwa Arsyilla sudah melahirkan.


“Pagi,” sapa Dokter Bisma dengan ramah memasuki kamar kelas VIP yang ditempati Arsyilla sekarang ini.


Dokter Bisma masuk, dan mengedarkan pandangannya. Akan tetapi, Dokter Bisma sangat terkejut karena yang dia sekarang ini justru adalah anak dan menantunya sendiri.


“Aksa, Syilla … kalian?” tanya Ayah Bisma kepada keduanya.


Aksara pun perlahan bangkit, pria itu kemudian berjalan mendekat ke Ayahnya.


“Maaf Ayah … Aksara sampai belum sempat memberitahu karena saking paniknya,” ucapnya.


Ya, Aksara memang belum memberitahu Bunda Kanaya dan Ayah Bisma karena sejak kemarin Aksara terlalu panik dengan kondisi Arsyilla. Sejak kemarin, Aksara juga menghindari untuk memegang handphone. Memberikan waktunya secara penuh dan totalitas untuk menemani Arsyilla bersalin.


Terlihat Ayah Bisma yang menggelengkan kepalanya, “Kamu ini gimana sih Aksa … hal sebesar ini dan kamu tidak memberitahu Ayah dan Bunda kamu,” balas Ayah Bisma.


Ingin marah sebenarnya dengan putranya itu. Kabar persalinan harusnya bisa turut didampingi keluarga, tetapi hanya Aksara seorang diri yang mendampingi istrinya itu. Namun mengingat Ayah Bisma sedang menunaikan tugasnya sebagai seorang Dokter. Ayah Bisma memilih sabar menghadapi kelakuan putranya itu.


“Lain kali jangan seperti ini, Aksara … kami orang tuamu, Ayah dan Bundamu. Kamu juga ingin mendampingi Syilla dan menyambut cucu kami,” nasihat Ayah Bisma kepada putranya itu.


“Iya Yah, maaf,” sahut Aksara.


Kemudian Ayah Bisma mendekat ke brankar di mana Arsyilla sedang berbaring sekarang ini. Pria paruh baya itu tersenyum dan menggenggam tangan Arsyilla di sana.


“Gimana Syilla, sehat?” tanyanya.


“Sehat Ayah,” jawab Arsyilla yang juga tersenyum melihat Ayah mertuanya itu.


“Bisa-bisanya suami kamu itu tidak memberitahu Ayah dan Bunda,” gumam Ayah Bisma sekarang ini.

__ADS_1


“Maafkan kami, Ayah … cuma kemarin tiba-tiba kontraksi. Jadi kami panik. Pengalaman pertama Ayah, rasanya begitu cemas dan panik,” jawab Arsyilla.


Bukan sekadar jawaban pembenaran, tetapi memang dirinya dan Aksara sama-sama panik. Kepanikan yang direspons dengan cara yang berbeda. Arsyilla yang merintih dan kesakitan setiap kali gelombang kontraksi itu datang. Sementara Aksara yang hanya bisa fokus dan menggenggam tangan Arsyilla, tanpa berpikir untuk memberitahu kabar kepada orang tua yang ada di rumah.


“Ya sudah … yang penting kamu dan cucu Ayah sehat,” balas Ayah Bisma.


Sebagai seorang Ayah, ingin marah rasanya juga sudah terlambat. Ingin memarah Aksara, tetapi Ayah Bisma tahu dan pernah mengalami bahwa menemani istri bersalin memang membuat seorang pria panik setengah hati. Menyadari semua hal itu, Ayah Bisma pun bisa memaklumi semuanya. Yang penting Arsyilla dan bayinya sehat.


“Melahirkan normal atau Caesar?” tanya Ayah Bisma kepada Arsyilla.


“Normal, Ayah … Pervaginam,” jawab Arsyilla.


Pervaginam sendiri adalah istilah medis untuk menyebut proses kelahiran secara normal. Itu adalah jawaban yang diberikan Arsyilla kepada Ayahnya. Berbackground dunia medis, pastilah Ayah Bisma tahu dengan istilah tersebut.


Ada helaan nafas dari Ayah Bisma, “Ya Tuhan, melahirkan secara normal pasti terasa banget sakitnya,” ucap Ayah Bisma.


Perkataan itu bukan tanpa dasar. Istrinya dulu yang melahirkan secara Caesar saja mengeluh sakit. Terlebih sekarang Arsyilla yang melahirkan secara normal. Sudah bisa dipastikan bahwa lebih sakit.


“Jam 05.00 Ayah,” jawab Aksara kali ini yang turut mendekat ke Ayahnya.


Ayah Bisma kemudian melihat bayi yang terbaring di dalam box bayi itu. Pria paruh bayi itu tersenyum menatap wajah yang cantik dan begitu damai dari cucu kecilnya itu. Kemudian Ayah Bisma melakukan prosedur pemeriksaan terhadap cucunya sendiri. Mengukur suhu tubuh, mengukur lingkar kepalanya, dan mengamati bahwa kulit cucunya itu tidak kuning. Lalu bertanya lagi kepada Aksara dan Arsyilla.


“Sudah mendapat suntikan vitamin K dan Hepatitis B?” tanya Ayah Bisma lagi.


“Sudah Ayah … tadi sudah divaksin dan juga ada salep yang dioleskan di matanya,” jawab Aksara.


Tentu saja Aksara bisa menjawabnya, karena Aksara pun melihat proses demi proses ketika Dokter Rinta menyuntikkan imunisasi pertama yang harus diterima Baby Ara.


Ayah Bisma menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Aksara. Kemudian Dokter Bisma rasanya ingin menggendong bayi mungil itu. Sehingga Ayah Bisma segera saja mengangkat Baby Ara dalam gendongannya dan menimangnya.


“Cucunya Opa,” ucapnya dengan lirih dan sekaligus lembut.


Aksara mengamati Ayahnya yang bisa langsung setel menggendong bayi. Agaknya Aksara harus belajar kepada Ayah Bisma mengenai cara menggendong bayi yang benar. Sebab, Ayahnya terlihat begitu terlatih menggendong bayi.

__ADS_1


“Siapa namanya? Sudah kalian beri nama?” tanya Ayah Bisma kepada mereka berdua.


“Sudah Ayah … namanya Aurora, tetapi panggilannya Ara,” jawab Aksara.


Mendengar nama Aurora, Ayah Bisma pun kemudian tertawa. “Oh, Putri Disney kesukaan Arsyilla yah … Ayah kira namanya akan Caramel,” balas Ayah Bisma.


Sungguh, Ayah Bisma tidak menyangka bahwa cucunya kali ini bernama Aurora, layaknya karakter putri kesukaan menantunya itu. Menyadari hal itu, Arsyilla pun menundukkan wajahnya. Malu sebenarnya, tetapi Aksara jugalah yang membuatnya menyukai karakter putri yang akhirnya tertidur dan menunggu ciuman yang tulus dari pangeran Philip. Ciuman yang akhirnya membangunkan tidur panjangnya.


“Cantiknya Cucu Opa … ya sudah, Baby Ara di box bayi lagi yah. Opa mau memeriksa pasien yang lainnya. Nanti Opa ke sini lagi yah,” pamit Ayah Bisma dan kembali menaruh Baby Ara di box bayi yang berada di samping brankar Arsyilla.


Usai memastikan kondisi pasien sekaligus cucunya baik-baik saja, Ayah Bisma pun berpamitan dengan Arsyilla dan Aksara.


“Ayah memeriksa pasien lain dulu yah … nanti begitu Ayah selesai praktik, Ayah ke sini lagi. Selamat ya Syilla dan Aksara. Sekarang sudah menjadi orang tua. Belajar lagi untuk menjadi orang tua yang baik untuk Ara,” ucap Ayah Bisma.


“Makasih Ayah,” jawab keduanya bersamaan.


Aksara kemudian mengantar Ayahnya sampai keluar dari kamar perawatan Arsyilla. Tidak lupa Aksara berterima kasih kembali kepada Ayahnya itu.


“Makasih banyak Ayah,” ucapnya.


“Iya … kamu ini. Di saat yang genting dan urgent kayak gini, justru sama sekali tidak memberitahu kami. Ayah kaget melihat kalian di sini dan dengan bayi kecil yang sudah lahir. Jangan diulangi lagi Aksara, beri kabar untuk keluarga,” ucap Ayah Bisma.


Setidaknya Aksara bisa saja sekadar memberi pesan dan menyampaikan bahwa Arsyilla sudah dalam kondisi siap bersaling dan di Rumah Sakit. Dengan demikian, Ayah Bisma dan Bunda Kanaya juga bisa turun menemani mereka berdua selama berada di Rumah Sakit.


“Iya Ayah … maaf, Aksara benar-benar panik kemarin. Melihat perjuangan Syilla melahirkan penuh air mata, sampai Aksara tidak bisa berpikir jernih,” aku Aksara dengan jujur.


Ayah Bisma pun menepuki bahu putranya itu. “Itulah perjuangan seorang Ibu. Harus berjuang di antara hidup dan mati, untuk melahirkan buah hatinya. Oleh karena itu, jangan pernah menyakiti istrimu. Ingat betapa besar perjuangan dan pengorbanannya untuk melahirkan buah hati kalian.”


Seakan ini menjadi momentum bagi Ayah Bisma untuk menasihati putra sulungnya itu. Aksara pun menganggukkan kepalanya perlahan. “Iya Ayah … Aksara tidak akan menyakiti Syilla apa pun yang terjadi. Aksara akan selalu mendampingi Syilla dan menua bersamanya,” balas Aksara.


Sebab, tidak ada harapan dan keinginan lain yang Aksara miliki selain bisa menua bersama satu-satunya wanita yang paling dia cintai itu. Kepada wanita itulah, Aksara ingin menghabiskan waktu dan usianya. Menikmati masa-masa berumah tangga dengan segala pahit dan manisnya bersama dengan Arsyilla.


Ayah Bisma tersenyum melihat kesungguhan putranya itu. Sekalipun Ayah Bisma tidak membenarkan sikap Aksara yang memilih tidak memberitahu keluarga dan menemani Arsyilla bersalin sendirian. Akan tetapi, untuk urusan hati dan kesungguhan. Ayah Bisma sama sekali tidak meragukan kesungguhan hati Aksara. Terlebih dari semua sikap yang seakan memperlihatkan Aksara yang seperti itu, tetapi Aksara adalah pria yang dewasa dan begitu tanggung jawab kepada Arsyilla.

__ADS_1


__ADS_2