
Sepekan kemudian, Aksara mengajak Arsyilla menuju Teluk Jakarta. Entah, apa yang direncanakan oleh pria itu, tetapi Arsyilla hanya mengikuti saja apa yang sudah direncanakan oleh Aksara.
"Kita mau berlayar yang kayak gimana sih?" tanya Arsyilla kali ini kepada Aksara.
Pria itu justru tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Arsyilla, “Ayo, ikut saja,” ucapnya dan Aksara masih menunggu hingga Arsyilla menautkan tangannya.
Rupanya tanpa menunggu waktu lama, Arsyilla pun mengulurkan tangan kanannya dan menautkannya di tangan Aksara, wanita itu lantas dibimbing oleh Aksara menaiki sebuah kapal pesiar mewah yang berada di Teluk Jakarta.
“Cuma ada kita?” tanya Arsyilla perlahan.
“Ada nahkodanya dong, kalau enggak siapa yang bakal mengemudikan kapal ini coba?” jawab Aksara sembari membawa Arsyilla ke bagian Sundeck.
Sundeck sendiri adalah tempat untuk berjemur yang paling disukai oleh para penumpang kapal, di tempat ini juga para penumpang bisa melihat pemandangan laut yang indah. Hamparan birunya lautan di bawah dan birunya langit di atas seakan berpadu dan membuat suasana sore itu begitu indah dan mempesona.
“Kamu yakin, cuma ada kita dan nahkoda? Penumpang lainnya di mana?” tanya Arsyilla pada akhirnya.
“Tidak ada, hanya aku dan kamu,” jawab Aksara sembari menatap wajah Arsyilla yang sedang duduk di sampingnya.
Kedua mata Arsyilla pun menyipit. Maksudnya, pria itu memang menyiapkan semua ini? Menyewa sebuah kapal? Arsyilla lantas bertanya-tanya sebagai besar gaji seorang Arsitek hingga bisa memiliki apartemen mewah, mobil mewah, bahkan dia bisa menyewa kapal mewah ini.
“Kamu jangan bercanda, kapal ini mewah banget loh,” lanjut Arsyilla.
Aksara pun mengangguk, “Serius cuma aku dan kamu, ya ada nahkoda dan petugas kapal lainnya sih,” jawabnya.
Setelah itu, Aksara kembali menggenggam tangan Arsyilla dan mengajaknya untuk duduk di sebuah kursi yang sudah disediakan di depannya sudah tersedia berbagai makanan yang tampak menggugah selera.
“Kamu juga menyiapkan semuanya?” tanya Arsyilla lagi. Rasanya pria yang berada di hadapannya memang sosok yang penuh dengan kejutan.
Aksara mengangguk dan tersenyum, “Kita sedang Sunset Dinner at Cruise, Syilla … menikmati makanan saat senja terbenam dengan menaiki kapal,” jawabnya lagi. “Ayo, dimakan … sejak tadi kamu belum makan kan,” ucapnya sembari meminta Arsyilla untuk makan.
Hingga akhirnya, Arsyilla pun tersenyum canggung, kendati demikian Arsyilla tetap memakan hidangan yang sudah disajikan. Rasanya benar-benar canggung, tetapi kenapa hatinya justru berdesir saat diperlakukan dengan begitu manisnya oleh Aksara.
Hingga matahari perlahan bergerak menyembunyikan wajahnya, bias rona senja mulai menghiasi langit di atas. Bahkan kilauan senja yang merona-rona itu kian membuat wajah Arsyilla begitu anggun. Dalam diamnya, Aksara sering kali mencuri pandang kepada wanita yang kini berada di hadapannya. Wanita cantik yang sudah dia kenal sejak dirinya masih kecil, bahkan dia mengenal bagaimana wanita itu saat masih bayi. Tidak mengira Arsyillanya kini benar-benar menjadi wanita cantik yang mencuri sepenuh hatinya.
“Syilla, boleh aku bilang sesuatu?” tanya Aksara pada akhirnya.
__ADS_1
Arsyilla pun mengangguk, dia kemudian menaruh garpu dan pisau makan di sisi piringnya. Kemudian retina matanya mulai fokus untuk menatap Aksara. “Hmm, iya, apa?” tanyanya.
“Kamu cantik,” ucapnya sembari tersenyum menatap wajah Arsyilla yang seolah berkilauan dengan surau sebahunya yang melambai-lambai karena tertiup angin.
Tak mampu berkata-kata, Arsyilla justru menunduk. Terlihat jelas bahwa kedua pipinya memerah. Padahal Arsyilla tidak memakai blush on, tetapi pasti saat ini pipi bersemu kemerah-merahan di sana.
Aksara agaknya justru begitu suka membuat Arsyilla salah tingkah, buktinya dia justru kini menatap Arsyilla lekat-lekat.
“Aku serius, kamu cantik,” ucap Aksara lagi kali ini.
Bicaranya begitu manis, hanya saja Arsyilla takut jikalau dia hanya sekadar rayuan. Untuk itulah, Arsyilla memilih diam. Tidak dipungkiri saat seorang pria memujinya, rasanya indera pendengarannya girang, tetapi Arsyilla ingin bersikap sewajarnya.
“Kamu tidak mau merespons ucapan aku?” tanya Aksara kini.
Arsyilla hanya mengangguk, “Oh, begitu, makasih,” jawabnya dengan tertunduk malu.
Aksara justru kian tersenyum, dia sangat tahu bahwa Arsyilla sangat malu kali ini, tetapi Aksara masih ingin melihat wajah istrinya yang memang cantik itu.
“Kenapa kamu lucu sih? Apa tidak ada orang yang berkata bahwa kamu cantik sebelum ini?” tanya Aksara dengan tersenyum menatap Arsyilla.
Usai mengatakan itu, Arsyilla kembali menatap wajah Aksara. Wanita itu bahkan berkali-kali menghela nafasnya, rasanya melihat wajah Aksara di hadapannya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat, untuk itu Arsyilla harus berusaha untuk menetralkan degup jantungnya.
“Kenapa aku merasa kamu sangat mengenalku sebelumnya?” tanya Arsyilla kali ini dengan lirih. “Akan tetapi, jika kamu tidak menjawab, tidak masalah. Sebab, setiap orang memiliki privasi sendiri-sendiri,” lanjut Arsyilla kini.
“Apa itu penting jika kita sudah saling mengenal sejak lama?” Giliran Aksara yang mengajukan pertanyaan itu kepada Arsyilla.
“Penting dan tidaknya itu tergantung sih, hanya saja aku penasaran siapa kamu sebenarnya. Pria yang tidak pernah kukenal sebelumnya, tetapi menghabiskan satu malam kecelakaan bersama, tiba-tiba menjadi suaminya, dan bisa menolong aku, rasanya ada sesuatu yang tidak aku ketahui di sini,” ucap Arsyilla lagi-lagi.
Aksara kemudian diam dan menatap Arsyilla, “Jika aku berkata, kita sudah mengenal sebelumnya. Apa mungkin kamu bisa menjalani pernikahan kita dengan tulus, ikhlas, dan menerima aku?” tanya Aksara kali ini.
Arsyilla mengedikkan bahunya sesaatnya, “Tidak tau juga, tetapi sapa tahu saja bisa menjadikan pertimbangan bagiku,” sahutnya.
Hingga sesaat hanya deburan dari air laut yang terdengar, burung-burung camar di atas sana juga seolah menghiasi langit yang mulai petang. Sementara makanan di depan mereka pun juga sudah tandas.
“Kita sudah saling mengenal, Syilla,” ucap Aksara pada akhirnya.
__ADS_1
Tidak tertegun, nyatanya Arsyilla justru tersenyum sekarang, “Benarkah? Berarti rasa penasaranku selama ini benar,” jawab Arsyilla pada akhirnya.
“Ya, kita sudah saling mengenal … walau mungkin saja di sini hanya aku yang mengingatmu, dan kamu tidak mengingatku,” lanjut Aksara kali ini.
“Kenapa bisa begitu?” tanya Arsyilla dengan singkat.
“Apa kamu masih memiliki memori ingatanmu saat kamu masih kecil?” tanya Aksara kali ini.
Arsyilla menggeleng, “Tidak … kalau ada memori yang tersisa pastilah itu hal-hal yang penting saja. Ingatan seorang anak bersifat parsial, dan tidak ada ingatan yang setia, rekaman ingatan itu pudar begitu saja,” jawab Arsyilla.
Memang benar apa yang Arsyilla ucapkan karena ingatan anak-anak memang bersifat parsial, rekaman ingatan di otak anak-anak bisa hilang begitu saja. Yang tersisa adalah rekaman memori yang benar-benar membekas saja bagi anak-anak.
Aksara pun tersenyum, “Coba panggil aku, Kak Aksara sekali saja,” pintanya kali ini.
Lagi, Arsyilla tersenyum, bagaimana bisa pria itu tiba-tiba memintanya untuk memanggilnya dengan panggilan Kakak. Kendati demikian, Arsyilla pun menyetujui permintaan Aksara.
“Kak Aksara …,” panggilnya kali ini.
“Ya Syilla, aku Kak Aksara,” gumam Aksara dalam hatinya. Akhirnya kerinduannya untuk bisa mendengar Arsyilla kecil dulu yang berlarian dan memanggilnya Kakak seolah terobati kali ini. Nyatanya pria itu justru merasa lidahnya kelu.
“Sudah kah?” tanya Arsyilla lagi.
Aksara pun mengangguk, “Iya, makasih,” jawabnya.
Arsyilla kemudian tertawa, “Aku ini dosenmu, bagaimana bisa seorang dosen memanggil nama mahasiswanya Kakak?” Arsyilla mengajukan pertanyaannya kali ini sembari menggelengkan kepalanya.
“Bisa, karena mahasiswanya ini kan suaminya, lagipula kan aku suamimu,” jawabnya dengan yakin.
“Apa kita akan di sini terus?” tanya Arsyilla pada akhirnya.
Aksara pun menggelengkan kepalanya, “Mau istirahat ke kamar?” tanyanya.
“Pulang ke apartemen?” tanya Arsyilla.
“Tidak, kita akan bermalam di kapal ini. Kamu tidak ingat, jika aku bilang kita akan berlayar semalaman,” ucap Aksara yang mengingatkan bahwa dirinya memang akan mengajak Arsyilla untuk bermalam semalam di atas mewah ini.
__ADS_1
Lagi-lagi, pria itu membuktikan ucapannya. Bahwa dia tidak pernah bermain-main, Aksara benar-benar mewujudkan ucapannya dan membawa Arsyilla bermalam semalam di kapal.