
Seharian beraktivitas di area keraton benar-benar membuat Arsyilla kecapekan. Kota Jogjakarta yang begitu panas terik, seakan membuat wanita itu lebih capek. Untuk itu, sore hari Arsyilla rasanya ingin segera mandi dan beristirahat. Keesokan harinya seluruh rombongan akan melakukan cek out dan melanjutkan Field Trip satu hari satu malam ke Kota Solo atau Surakarta.
Setibanya di hotel, rupanya Pak Bagas masih bertanya kepada Arsyilla.
“Bagaimana Bu Arsyilla, mau ke angkringan?” tanya pria itu.
“Maaf Pak Bagas … saya mau istirahat saja dan mengecek laporan yang sudah dikumpulkan mahasiswa hari ini,” tolak Arsyilla dengan sopan.
Setelahnya Arsyilla memilih segera ke kamarnya. Mungkin malam ini, Arsyilla akan mengecek tugas dari mahasiswa dan sekaligus beristirahat.
Merebahkan sejenak badannya di atas tempat tidur, Arsyilla lantas memilih untuk mandi terlebih dahulu. Badannya terasa lepek dan berkeringat usai berpanas-panasan mengelilingi Keraton Jogjakarta. Usai mandi dan badannya telah segar, Arsyilla memilih duduk di sofa dan melihat lalu lalang jalanan di Kota Jogjakarta sore menuju petang itu.
Baru beberapa menit berlalu, terdengar ketukan dari connecting door di kamarnya. Arsyilla sudah tahu pasti itu adalah suaminya. Wanita itu segera bangkit dan membukakan pintu itu.
Benarlah suaminya sudah berdiri di hadapannya dengan wajah yang segar dan membawa paper bag di tangannya.
“Baru ngapain?” tanya Aksara sembari memasuki kamar Arsyilla.
“Abis mandi dan duduk-duduk liat jalanan di bawah itu. Cukup macet,” sahut Arsyilla.
Aksara lantas duduk di sofa yang terdapat di kamar itu, dan membuka isi paper bagnya. Pria itu segera mengeluarkan Es Karamel Machiato, Burger, dan Friend Fries dia atas meja.
“Camilan sore … ayo makanlah. Es Karamel kesukaanmu,” ucap Aksara.
__ADS_1
Melihat perlakuan manis dari suaminya itu, Arsyilla pun tersenyum. Tidak mengira bahwa suaminya akan menyelinap ke dalam kamarnya dengan membawa camilan.
“Kapan kamu belinya Kak?” tanya Arsyilla.
“Tadi … aku beli online sih. Pesan antar aja, malas keluar,” sahut Aksara.
Setelahnya, Aksara menyerahkan gelas cup berisi Karamel Machiato itu kepada istrinya. “Minumlah dulu,” ucap Aksara.
Arsyilla pun menerimanya dan segera meminum es Karamel Machiato itu dengan sedotan plastik. Setelahnya, Aksara menyuapkan friend fries ke mulut istrinya.
“Aku bisa makan sendiri, Kak … malahan disuapin,” balas Arsyilla.
Pria itu seolah tidak menghiraukan Arsyilla dan terus menyuapi istrinya itu. “Jadi gimana, kamu nanti malam mau ke angkringan?” tanya Aksara dengan tiba-tiba.
Dengan cepat Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, “Tidak … kamu kan dengar sendiri kalau aku menolaknya. Kamu tidak percaya sama aku?” tanya Arsyilla.
Arsyilla lantas menatap wajah suaminya itu, “Aku gak akan kemana-mana. Bagiku suamiku tetap nomor satu,” balasnya.
“Yakin?” tanya Aksara.
“Yakin lah,” jawab Arsyilla.
Wanita itu kemudian menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, dan tangannya melingkari lengan suaminya.
__ADS_1
“Aku yakin dengan keputusanku. Walaupun di kampus, kita belum bisa go publik, tetapi aku tetap akan menjaga hati dan diriku dari pria lain. Aku gak akan main-main dengan hubungan kita ini, Kak. Oleh karena itu, aku mohon … segeralah lulus dan kita bisa publikasikan hubungan kita. Resepsi kita bisa segera diselenggarakan,” ucap Arsyilla.
Mendengar ucapan Arsyilla bahwa dirinya tidak akan main-main. Aksara pun mengangguk, pria itu menaruh puncak dagunya di atas kepala Arsyilla dan segera mendaratkan kecupan di puncak kepala istrinya itu.
“Iya Sayang … aku akan kejar semaksimal mungkin untuk lulus dan wisuda dengan cepat. Aku ingin semua orang tahu kalau kita adalah pasangan suami istri. Rasanya, kalau aku ini suami yang tersembunyi banget sih,” gerutu Aksara.
Namun, mau bagaimana lagi hanya di lingkungan kampus saja keduanya harus menjaga rahasia bahwa keduanya bukan sekadar Dosen dan mahasiswa, tetapi juga adalah suami dan istri. Harus bertahan beberapa bulan lagi dan Aksara akan benar-benar mengejar untuk menyelesaikan skripsinya nanti.
“Akhir semester ini aku mau ajukan judul skripsi kok. Dampingi aku ya Sayang?” pinta Aksara kali ini.
Wanita itu lantas menatap wajah suaminya, “Iya … aku akan dampingi kamu. Akan tetapi, aku tidak mau membimbing kamu. Lebih baik, kamu mendapatkan dosen pembimbing lainnya. Sebab, jatuhnya akan bersifat subjektif jika aku membimbing skripsi kamu,” jelas Arsyilla.
“Iya-iya My Sexy Lecturer. Mau dapat dosen pembimbing sapa pun tidak masalah, yang pasti aku kan bisa konsultasi pribadi sama kamu,” sahut Aksara.
“Iya … penting kamu lulus dulu ya Kak. Aku kadang juga capek sih harus sembunyi-sembunyi kayak gini. Akan tetapi, aku pun mau bersabar. Percayai aku, cemburu boleh sih … cuma kamu perlu tahu bahwa bagiku suamiku ini tetap nomor satu,” jelas Arsyilla dengan sungguh-sungguh.
Pria itu menatap wajah istrinya, “Bener aku nomor satu?” tanyanya.
“Iya … kamu nomor satu buatku. My Hubby is number one,” jawab Arsyilla.
Aksara lantas mengangkat satu alisnya, dan kembali berbicara, “Kalau aku nomor satu, beri aku yang enak-enak dulu dong Sayang … udah pusing banget ini,” sahut pria itu.
Ya Tuhan, rasanya Arsyilla benar-benar ingin memukul suaminya itu. Bagaimana bisa dia berbicara dengan tulus dan dari hati, suaminya justru berkata dan minta yang enak-enak. Arsyilla dengan cepat memukul lengan suaminya itu dan mencubit pinggangnya.
__ADS_1
“Nakal banget sih … aku bicara tulus dan dari hati justru mengarahnya ke situ. Sebel deh,” gerutu Arsyilla.
Bukan marah, Aksara justru tertawa, “Enggak Sayang … enggak. Aku cuma bercanda kok. Walaupun pusing, aku tetap akan nahan karena aku cinta sama kamu. Love U My Wife,” balas pria itu.