
Selang dua pekan telah berlalu, itu berarti hari ini persidangan untuk Tiara dan Bagas akan kembali digelar. Sama seperti sebelumnya, Aksara dan Arsyilla, serta keluarga Raditya dan Pradhana turut datang ke pengadilan. Sebab, jika tidak ada masalah, hari ini Hakim akan memutuskan putusan pengadilan bagi Tiara dan Bagas.
Jika sebelumnya Arsyilla sempat merasa shock saat Tiara mengatakan bahwa dalang di balik peristiwa pahit yang menimpanya rupanya adalah Darren Jaya Wardhana. Hari ini, Arsyilla bisa bersikap lebih tenang karena dia percaya dengan hukum dari Allah, walaupun tidak mendoakan yang terburuk, Arsyilla berharap suatu hari Om Darren bisa sadar dan hidup dengan lebih baik lagi. Selain itu, Arsyilla pun menyadari bahwa dirinya memiliki keluarga yang sangat menyayangi dan mensupportnya. Apa pun hasilnya, Arsyilla akan selalu memiliki keluarga dengan ikatan yang kuat. Juga suami yang siap mendukung dan membahagiakannya. Oleh karena itulah, Arsyilla merasa lebih rileks dan tidak terlalu tertekan.
Sementara reaksi berbeda justru ditunjukkan oleh Aksara. Sebab, Aksara berharap Tiara dan Bagas mendapatkan hukuman yang setimpal dengan kejahatan yang telah mereka lakukan. Jika Undang Undang Pidana KUHP menyebutkan bahwa hukuman yang bisa diberikan Tiara dan Bagas bisa mencapai tujuh hingga delapan tahun. Untuk itu, Aksara pun berharap tuntutan tertinggilah yang akan dikabulkan Ketua Hakim kali ini.
“Gugup?” tanya Aksara kepada istrinya itu.
Arsyilla merespons dengan menggelengkan kepalanya perlahan, dan tersenyum menatap suaminya itu. “Enggak sih … kita tinggal menjalini saja. Apa pun putusannya, aku tidak keberatan,” balas Arsyilla.
“Kamu yakin jika hukuman mereka tidak setimpal dengan perbuatan mereka, kamu tidak ingin melakukan banding?” tanya Aksara.
“Tidak Kak … sudah. Tujuanku sih lebih memberi pelajaran kepada Tiara dan Bagas. Semoga saja hukum yang berlaku saja di sini. Tidak ada intervensi dari orang-orang yang ingin membeli hukum di negeri ini,” balas Arsyilla.
“Baiklah, kita itu keputusanmu,” balas Aksara.
Kemudian tidak berselang lama, Majelis Hakim segera memasuki ruangan. Para hadirin pun berdiri dan menundukkan badannya sebagai wujud memberi penghormatana kepada Majelsi Hakim. Kemudian terlihat juga Tiara dan Bagas yang kali ini datang dengan mengenakan kemeja putih dan bawahan hitam. Jika Tiara terlihat percaya diri, berbeda dengan Bagas yang justru menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Persidangan pun kembali digelar, mulainya berita acara dibacakan dan hasil persidangan sebelumnya juga kembali dibacakan. Sampai berlembar-lembar file kertas yang dibacakan oleh Hakim. Kemudian mulailah Hakim hendak mengatakan putusannya.
Saat itu semua hadirin tampak cemas. Termasuk Ravendra yang saat itu juga kembali hadir dan ingin mendengar putusan pengadilan untuk Bagas dan Tiara.
“Berdasarkan setiap bukti yang dikumpulkan dan keterangan dari para saksi, maka berpijakan pada pasal 289 KUHP bahwa Saudara Bagas dan Saudari Tiara terbukti telah melakukan tindakan kekerasan dan upaya pelecehan seksual terhadap korban yang bernama Saudari Arsyilla Kirana, maka Hakim memutuskan untuk menjatuhkan hukuman lima tahun kurungan penjara dan denda sebesar 50 Juta Rupiah kepada Saudari Tiara dan juga Saudara Bagas,” ucap Hakim disertai dengan memukulkan palu sebanyak tiga kali.
Begitu putusan sudah dibacakan, terlihat Tiara yang menatap tajam Arsyilla. Tidak mengira bahwa pelaporan Arsyilla dan Aksara terhadapnya membuat dia harus mendekam di balik jeruji besi selama lima tahun. Waktu lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Lima tahun adalah waktu yang lama, dan selama itulah Tiara harus hidup jauh dari keluarga dan dunia luar. Hidup di dalam hotel prodeo yang dingin, lembap, dan juga sesak.
“Gimana Sayang, kamu tidak ingin banding?” tanya Aksara kali ini dengan berbisik lirih di telinga istrinya itu.
“Tidak Mas … lima tahun sudah cukup bagi seseorang merenungkan kesalahannya. Aku justru berharap begitu mereka berdua keluar dari penjara, keduanya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” balas Arsyilla.
“Berengsek! Sialan! Ini semua gara-gara Bokap lo. Gue akan bikin perhitungan dengan Bokap lo itu,” teriak Tiara yang seakan merasa tidak terima.
Di dalam pikiran Tiara saat ini, dirinya harus mendekam di balik jeruji besi karena Darren Jaya Wardhana. Kini, justru Tiara menyalahkan Ravendra.
“Maaf, semua itu tidak ada kaitannya dengan saya. Itu karena kamu yang sudah membuat kesepakatan yang tidak jelas dan tidak mata dengan Pak Darren,” balas Ravendra.
__ADS_1
Aksara dan Arsyilla pun berjalan dan mendekat ke arah Ravendra sekarang ini. Terlebih Aksara yang merasa cukup terkejut karena Ravendra menyebut Papanya dengan sebutan yang formal.
Kini Aksara tampak menepuk bahu Ravendra.
“Yang lo katakan benar. Apa yang dilakukan Bokap lo, gak ada hubungannya dengan lo,” ucap Aksara kali ini.
Kemudian Aksara menatap Ravendra dengan pandangan yang menyelidik, “Tetapi, kenapa lo memanggil bokap lo sendiri dengan panggilan formal?” tanya Aksara.
Terlihat Ravendra tersenyum getir, bahkan sekarang rasanya tidak berani untuk beradu kontak mata dengan Aksara karena mengingat besarnya kejahatan yang dilakukan Papanya kepada Aksara dan keluarganya.
“Aku memutuskan semuanya dengan dia. Kamu juga telah resign dari Dasa, perusahaannya dia,” balas Ravendra kali ini.
Dari sorot mata, gesture tubuh, dan ucapan dari Ravendra terlihat jelas perseteruan antara Ravendra dengan Papanya. Untuk itu Aksara kembali menepuki bahu Ravendra beberapa kali.
“Sabar ya, semua pasti ada jalannya, tapi gue salut sama lo yang berani hidup berbeda, mengambil keputusan besar untuk memilih hidup tidak seperti Bokap lo. Bagi gue itu adalah sesuatu yang berharga,” balas Aksara kali ini.
Kemudian Ravendra menatap Aksara dan Arsyilla bergantian, “Di lain waktu, jika Pak Darren masih berusaha menyakiti lo dan keluarga, gue sendiri yang tidak akan segan-segan untuk melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Berbahagialah kalian berdua, gue pamit,” ucap Ravendra berpamitan dengan Aksara dan Arsyilla.
__ADS_1
Sungguh, sikap seorang pemuda yang begitu gentle dan berani mengambil risiko. Dengan semua kenyamanan dan fasilitas yang sudah Ravendra dapatkan selama ini, tentu tidak mudah untuk memutuskan resign dan membangun karier di perusahaan orang lain dari nol lagi. Akan tetapi, Ravendra akan menunjukkan dan memberi bukti nyata bahwa tanpa nama besar Dasa Grup, dirinya bisa juga mendapatkan pekerjaan dan mencapai kestabilan dalam kariernya.