Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Bolos Sehari?


__ADS_3

“Pagi Syilla Sayang,” sapa Aksara begitu mendapati istrinya yang baru saja bangun di pagi hari itu.


“Euhm … pagi Kak,” balasnya dengan suara khas orang yang baru bangun tidur. Perlahan wanita itu mengerjap, dan masih memeluk suaminya, “Tumben udah bangun duluan sih Kak?” tanyanya.


Dengan cepat Aksara pun mengangguk, “Iya … tadi pagi-pagi buta yang godain aku,” jawabnya dengan menunjukkan wajah yang datar dan tanpa ekspresi.


Seketika Arsyilla pun menatap suaminya, “Godain gimana Kak?” tanyanya.


Aksara lantas tersenyum, “Ada yang meluk aku erat banget, sama lutut kamu kenain punya aku,” jawabnya.


Sontak saja, Arsyilla membolakan matanya. Tidak mengira pagi-pagi seperti ini, suaminya sudah berbicara yang bukan-bukan. Tentu saja Arsyilla merasa malu. Pagi hari, agaknya suaminya sudah memulai dengan obrolan panas.


“Minta tenangin Sayang,” ucap Aksara dengan wajah yang serius.


“Apanya yang ditenangin Kak?” tanya Arsyilla sembari menerka-nerka apa yang dimaksud oleh suaminya itu.


“Yang itu tuh … yang tadi kena lutut kamu,” jawabnya dengan pandangannya yang menunduk.


Ya Tuhan, Arsyilla rasanya benar-benar malu dan ingin menyembunyikan wajahnya. Suaminya yang berbicara aneh-aneh, tetapi dirinya yang merasa malu.


Dengan cepat Arsyilla pun bangun, menyandarkan punggungnya di headboard dan merapikan rambutnya, “Kak, mandi sana. Ini sudah jam 06.00 loh, nanti terlambat,” ucapnya kepada suaminya itu.


“Mandi bareng yuk Sayang?” agak Aksara dengan tiba-tiba.


“Jangan Kak, malu,” jawab Arsyilla dengan jujur.


Sekali pun keduanya sudah saling menerima satu sama lain, Arsyilla masih malu jika harus menjalani kontak fisik dengan suaminya itu. Rasanya risih dan membuatnya benar-benar malu.


Aksara kemudian tertawa, “Kamu ini … aku sudah lihat semuanya, juga masih aja malu sih. Bikin gemes,” ucapnya.


“Ya tetep aja malu, Kak … emang kamu enggak malu?” tanyanya kepada Aksara.


“Ya malu, cuma ya sudah … dijalani aja kan ya yang lihat cuma kamu. Istri aku sendiri,” jawabnya.


Rupanya kali ini, Arsyilla memilih meninggalkan Aksara. Wanita itu masuk terlebih dahulu ke dalam kamar mandi, mencuci muka, dan menggosok gigi. Setelahnya Arsyilla keluar dan menuju ke dapur untuk menyeduh Teh terlebih dahulu.

__ADS_1


“Bolos aja yuk Sayang?” ajak Aksara dengan tiba-tiba yang mengekori Arsyilla hingga ke dapur.


Kegiatan Arsyilla di dapur pun terhenti, wanita itu menatap tajam suaminya, “Hari pertama masuk setelah Mid Semester masak bolos sih Kak?” tanyanya kini kepada suaminya itu.


“Bolos pagi aja Sayang … masuk siang. Boleh enggak?” tanyanya lagi kepada istrinya.


Dengan cepat Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Masuk aja Kak, kan nanti malam bisa,” sahutnya.


Terdengar Aksara yang mendengkus, “Apa aku bisa sabar coba sampai nanti malam?” tanyanya.


“Bisa … kalau niat pasti bisa,” sahut Arsyilla.


Wanita itu kemudian berlari, meninggalkan Aksara yang masih berada di dapur. Arsyilla dengan cepat memasuki kamar mandi, mengguyur badannya dan mengenakan pakaian untuk bekerja.


Setelah Arsyilla keluar dari kamar, Aksara dengan wajahnya yang cemberut segera memasuki kamar mandi. Agaknya pria itu kesal karena istrinya tidak mau membolos di pagi hari. Kurang lebih 20 menit berlalu, keduanya sama-sama berada di meja makan. Di hadapan mereka telah tersedia Roti Panggang dengan butter, dan juga Teh Hangat.


“Mau tambah Rotinya Kak?” tawar Arsyilla kepada suaminya itu.


“Enggak … udah cukup,” sahut Aksara dengan lesu.


Nyatanya justru Arsyilla tersenyum melihat ekspresi lucu dari suaminya itu. Rupanya pria dewasa itu jika mengambek juga terlihat lucu.


Aksara menatap Arsyilla sembari menghela nafasnya yang terasa berat, “Kamu yakin? Enggak pengen bolos gitu. Sekali aja,” pintanya kini.


“Maaf Kak, cuma ada kuis juga di Jam Pagi. Nanti malam deh, janji,” ucapnya.


Merasa bahwa bujukannya tak berhasil, Aksara pun berdiri. Pria itu dengan langkah gontai mulai keluar dari unit apartemen miliknya, sementara Arsyilla mengekori di belakangnya.


Di dalam mobil pun, Aksara terlihat cemberut dan tidak kelihatan bersemangat. Agaknya godaan di pagi hari yang dia alami, benar-benar menyulut api yang membara dalam dirinya. Namun, gelora itu tidak padam, karena sang istri nyatanya menjanjikannya di malam hari nanti.


Bahkan ketika sudah tiba di depan Fakultas Teknik pun, Arsyilla berpamitan dengan suaminya itu dan Aksara terlihat masih lesu.


“Yakin Sayang?” tanya Aksara lagi.


Harus berapa kali Arsyilla menjelaskan, tetapi nyatanya suaminya benar-benar menginginkan pagi itu juga. Sehingga di dalam mobilnya, Arsyilla kemudian menelpon ketua kelas dan memberikan tugas yang akan dikonversi sebagai kehadiran para mahasiswa sekarang juga.

__ADS_1


Setelahnya, Arsyilla menatap suaminya itu, “Antar aku pulang, Kak …,” ucapnya.


Aksara pun tersenyum, setelah berusaha sekuat tenaga akhirnya Arsyilla menuruti apa yang dia inginkan. Dalam hatinya Aksara berjanji bahwa dia akan benar-benar melakukan apa pun yang diinginkan istrinya itu. Sudah pasti, Arsyilla begitu sebal. Sudah sampai di depan Fakultas, tetapi akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk mengajar hanya demi suaminya itu.


“Makasih Sayang,” ucap Aksara pada akhirnya.


Senyuman di wajah pria itu tidak bisa disembunyikan lagi. Saat Arsyilla membatalkan jadwal mengajarnya dan beralihkan memberikan tugas kepada para mahasiswa, Aksara merasakan senang bukan main. Bahkan jika bisa, dia ingin melompat sekarang juga.


“Sekali ini saja Kak … selanjutnya kita harus profesional dalam bekerja,” sahut Arsyilla.


Pria itu pun mengangguk, “Iya-iya … maaf. Abis udah enggak nahan, Sayang,” jawabnya.


Arsyilla pun menatap horor pada suaminya itu, “Nanti kalau aku dimarahin pihak kampus kamu yang tanggung jawab ya Kak? Aku bilang nanti, Kak Aksara yang bikin aku bolos,” jawabnya.


Aksara pun mengangguk, “Siap … aku akan tanggung jawab. Apa pun yang berkaitan dengan hidupmu, aku akan tanggung jawab,” jawab pria itu.


Arsyilla kemudian menghela nafasnya, baru kali ini dirinya membolos mengajar selama kariernya menjadi seorang Dosen, itu terjadi hanya untuk suaminya. Agaknya Arsyilla benar-benar kurang sehat sekarang ini. Akan tetapi, Arsyilla hanya memberi kesempatan sekali saja, selebihnya dia tetap akan memprioritaskan kariernya dalam mengajar. Mahasiswanya membutuhkan dirinya untuk memberikan materi ajar.


“Nanti aku belikan makan siang yang enak,” ucap Aksara dengan tiba-tiba.


Arsyilla tampak sedikit menoleh kepada pria itu, dan mengerucutkan bibirnya, “Kalau kayak gitu aja semangat banget. Heran deh,” sahutnya.


“Salah sendiri, pagi-pagi lutut kamu itu godain punya aku. Jadinya kan mana tahan, Sayang,” sahutnya.


Dalam perjalanan, Arsyilla kemudian menunjuk sebuah apotek yang berada di tepi jalan. “Kak, mampir apotek sebentar Kak, mau beli pengaman,” ucapnya.


“Serius?” tanya Aksara.


Wanita itu pun mengangguk, “Iya …,” sahut Arsyilla dengan cepat.


Aksara pun menghela nafasnya, “Ya ampun gini amat sih. Gesekan sama plastik,” keluhnya kini.


Dengan cepat Arsyilla pun memukul lengan suaminya itu, “Aku belum pasang kontrasepsi. Jadi Kakak yang diamankan dulu. Gimana? Atau aku balik lagi ke kampus,” ancam Arsyilla kali ini.


“Ya sudah-ya sudah … aku aja yang diamankan. Udah, kamu tunggu di sini. Aku ke dalam dulu. Nanti malam pasang kontrasepsi ke Rumah Sakit mau Sayang?” tanyanya kini.

__ADS_1


“Ya kalau tidak capek Kak,” sahut Arsyilla.


Dengan cepat pria itu tersenyum dan juga keluar dari mobilnya. Pikirnya biarlah kali ini dirinya yang mengalah, lagipula Arsyilla juga sudah mengorbankan jam mengajarnya untuknya. Jadi, Aksara tak ingin egois. Dia juga bersedia mengamankan dirinya terlebih dahulu.


__ADS_2