Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Kembali Bekerja


__ADS_3

Menjadi seorang Ibu adalah pengalaman yang mengubah hidup seorang wanita. Pun demikian yang dirasakan oleh Arsyilla. Sejak mengambil cuti melahirkan selama tiga bulan, Arsyilla fokus untuk mempersiapkan kelahiran Ara, dan begitu Ara sudah lahir Arsyilla jugalah yang mengurus bayinya itu dengan tangannya. Banyak hal baru yang dipelajari oleh Ibu muda itu.


Dulu, Arsyilla merasa tidak yakin dengan dirinya sendiri, merasa tidak bisa mengasuh anaknya, karena merasa tidak memiliki pengalaman. Akan tetapi, kini Arsyilla telah belajar, dan dia benar-benar menikmati perannya sebagai seorang Bunda bagi Ara.


Sepanjang hari berada di rumah bersama Ara, melihat sendiri bagaimana buah hatinya tumbuh dan berkembang benar-benar membuat Arsyilla bahagia. Sayangnya, waktu yang Arsyilla hampir usai. Cuti melahirkan yang kampus berikan hanya tiga bulan. Kini, dia harus kembali lagi ke kampus untuk mengajar mahasiswanya.


Arsyilla merasa lebih bersyukur karena dia hanya mengajar satu hari saja, dua mata kuliah yang semuanya dijadwal di hari Rabu. Sehingga tidak perlu setiap hari ke kampus untuk mengajar.


"Besok jadi mengajar lagi ke kampus Honey?" tanya Aksara yang sekarang tengah menggendong Ara.


"Iya Kak, besok pertama kali ngajar setelah cuti melahirkan. Deg-degan sih, mana dalam tiga bulan aku tidak mengajar," jawab Arsyilla.


"Ya dipersiapkan baik-baik materi ajarnya. Jangan sampai ada yang terlewat. Besok Ara gimana Honey?" tanya Aksara lagi kepada istrinya.


"Besok aku nitipkan ke rumahnya Mama itu Kak ... kan Mama juga libur, mengajarnya Mama hari Senin dan Selasa, jadi setiap Rabu aku nitipkan Ara di sana," balas Arsyilla.


Mendengar apa yang disampaikan oleh istrinya, Aksara pun menganggukkan kepalanya, "Ya sudah ... tidak apa-apa. Yang penting ASIP dan peralatannya Ara jangan lupa. Abis ini, aku bantuin siapkan tasnya Ara buat besok," balas Aksara.


"Kamu bisa Kak?" tanya Arsyilla.


Aksara justru mengerlingkan matanya kepada istrinya, "Kamu bilang saja mau diambilin apa, nanti aku siapkan dan tata ke dalam tas. Ayah sudah pro ini Bunda," akunya dengan perasaan bangga.


Aksara kemudian menidurkan Ara ke dalam tempat tidur bayi yang berada di sebelah tempat tidurnya. Pria itu kemudian membuka pintu connecting room, dan mengambil tas milik Ara dari kamar Ara.


"Apa saja Honey?" tanyanya dengan suara sedang supaya tidak membangunkan putrinya yang tengah tertidur.


"Pakaian ganti dua setel, diapers, tissue basah dan kering, sabun mandi yang botol kecil, dan minyak telon."


Arsyilla menyebutkan barang itu satu per satu, dan Aksara di sana mulai mengambil barang sesuai yang diucapkan istrinya itu.

__ADS_1


"Ayah, ada yang kurang deh ... dodotnya Ara yang kecil itu dong, buat minum ASIP besok," tambahnya memberitahu suaminya.


Hanya membutuhkan waktu sepuluh sampai lima belas menit, semua barang itu sudah berada di dalam tas.


"Nih Honey ... dicek dulu. Ada yang ketinggalan enggak? Biar tidak perlu bolak-balik," ucapnya sembari masih mengamati barang yang dibutuhkan Ara.


Arsyilla kemudian meninggalkan laptopnya dan mengecek tas yang sudah dipersiapkan oleh suaminya itu. Pelan-pelan Arsyilla melihat semua barang sesuai yang sudah dia sebutkan. Akhirnya pun Arsyilla pun tersenyum lega.


"Ayah Aksara juara banget sih ... semuanya benar. Udah lengkap. Makasih Ayah," ucapnya sembari mengangkat dua ibu jarinya ke arah suaminya.


Mendengar pujian dari istrinya, Aksara pun tersenyum, "Aku bisa kamu andalkan Honey ... untuk hal apa pun," jawabnya dengan hati yang bahagia.


Arsyilla kemudian berdiri dan mengecup bibir suaminya itu, "Makasih banget Ayah ... kamu benar-benar best partnernya aku," ucapnya.


"Sama-sama Bunda ... cuma kalau kecupan saja kurang Honey, i want more," balasnya dengan memeluk istrinya itu.


"Besok aja ya Kak ... aku selesaikan perangkat pembelajarannya dulu," balasnya. Bukan menolak, hanya saja bernegosiasi dengan suaminya.


***


Keesokan harinya, Arsyilla bersiap untuk mengajar dan dia akan menitipkan terlebih dahulu Ara ke rumah Mama Khaira dan Papa Radit. Saat jam makan siang, Aksara pulang ke rumah untuk menjemput istrinya kemudian mengantarkannya untuk mengajar.


"Sudah siap semuanya?" tanyanya sembari memasukkan tas milik Ara, tas laptop milik istrinya, dan juga hand bag yang selalu dibawa istrinya untuk bekerja.


"Iya, sudah semua ... eh, tambah ini Kak," ucapnya sembari menyerahkan satu tas lagi yang bertuliskan Gabag itu.


"Apa ini Honey?" tanyanya dengan penasaran.


"Tas ini isinya pumping dan kantong ASIP, Kak. Takut kalau nanti 'ini' penuh. Kalau sempat sih aku mau pumping," jawabnya.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Arsyilla, Aksara pun memelototkan matanya, "Jangan pumping sembarangan Honey ... bahaya tau. Aku enggak mau punya kamu terekspos," jawabnya yang terdengar begitu posesif.


"Tenang saja Ayah ... aku bawa penutup dada juga kok, biar enggak terekspos. Buat jaga-jaga. Kalau enggak ya nanti sore aku bisa pumping dulu di rumahnya Mama. Daripada penuh dan aku malahan sakit gimana?" tanya Arsyilla kepada suaminya.


"Janji yah, enggak boleh sembarang. Aku gak mau ada orang lain yang lihat punya kamu. Cukup aku saja yang lihat," jawab Aksara lagi.


Arsyilla pun tertawa, dan membelai sisi wajah suaminya itu, "Iya-iya Ayahnya Ara yang super duper posesif. Kamu posesif kayak gini, kok aku mau sama kamu sih Kak," balas Arsyilla.


Keduanya pun tertawa, tidak mengira bahwa ucapan bernada posesif Aksara justru dijawab dengan kelakar dari Arsyilla.


Sampai akhirnya, Aksara mengemudikan mobilnya dan kecepatan sedang. Mereka menuju rumah Mama Khaira terlebih dahulu untuk mengantarkan Ara, setelahnya Aksara mengantarkan Arsyilla ke kampus untuk mengajar.


“Ayah, aku mengajar dulu yah … doakan hari ini mengajarnya lancar. Duh, aku jadi deg-degan deh,” balas Arsyilla dengan mencium punggung tangan suaminya itu.


“Tenang saja Honeyku … pasti kamu bisa mengatasi hari ini dengan baik. Semangat mengajarnya ya Honeyku … Bundanya Ara,” jawab Aksara dan diakhiri dengan melabuhkan sebuah kecupan di kening Arsyilla.


“Honey, tunggu … ada yang terlupa,” ucap Aksara yang membuat Arsyilla keluar dari mobil.


“Hmm, apa Ayah?” tanyanya.


“Itu, kamu sudah pakai breastpad … takutnya nanti basah karena beberapa jam ke depan tidak diminum Ara,” tanya Aksara kepada istrinya.


Arsyilla pun tersenyum dan memberikan anggukan secara samar, “Sudah Ayah … aman kok,” jawabnya.


“Ya sudah … selamat mengajar Istriku, I Love U My Sexy Lecturer,” balasnya.


Turun dari mobil, Arsyilla tersenyum dan beberapa kali menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya suaminya itu berbicara seperti itu. Namun, setidaknya semangatnya kian bertambah untuk bisa mengajar hari ini.


Begitu telah tiba di kampus, Arsyilla segera memberikan mata kuliah untuk mahasiswa tingkat satu mengenai Desain Dasar I, dan kemudian dilanjutkan memberikan mahasiswa tingkat tiga mengenai Teknologi Bangunan.

__ADS_1


Hampir setengah hari berlalu, dan Arsyilla masih menikmati saat-saat mengajar mahasiswanya. Kembali mengajar setelah hiatus tiga bulan, seolah me-recharge kembali passion-nya dalam mengajar. Sungguh senang bisa kembali bekerja setelah tiga bulan cuti, tetapi ada rindu dan berbayang-bayang dengan wajah Ara. Baru beberapa jam berlalu, dan Arsyilla sudah merasa rindu dengan bayi kecilnya itu.


__ADS_2