
Tidak berselang lama, setelah Aksara sadar. Arsyilla pun segera memencet tombol yang menghubungkan dengan perawat. Sebagaimana pesan yang Dokter berikan semalam, saat pasien sadar, pasien akan kembali melakukan pengecekkan.
Mendengar bunyi bel, tidak berselang lama perawat pun mulai masuk dan datang ke kamar perawatan milik Aksara.
"Apakah pasien sudah sadar? Kira-kira kapan sadarnya?" tanya perawat tersebut.
"Lima menit yang lalu," sahut Arsyilla.
Sebab, memang tidak menunggu lama begitu Aksara siuman, Arsyilla segera menekan bel yang ada di atas brankar suaminya itu. Arsyilla ingin suaminya mendapatkan perawatan terbaik.
"Bagaimana Pak Aksara, apa yang dirasakan?" tanya perawat itu.
"Hanya kaki kiri saya saja yang kiri. Sakit rasanya, dan sekarang seperti tidak bisa digerakkan," jawabnya.
Mendengar jawaban yang diberikan Aksara, terlihat wajah Arsyilla yang begitu cemas. Arsyilla pun menduga bahwa kaki kiri suaminya sudah pasti akan terasa begitu sakit. Hanya sekadar melihat gips yang terpasang di sana membuat Arsyilla meringis, rasanya begitu ngilu.
"Sakit itu berasal karena Anda mengalami patah kaki, Pak. Hantaman material yang jatuh dari Crane sehingga membuat terjadinya Fraktur Tertutup yaitu kondisi tulang yang rusak, tetapi tidak menyebabkan luka sobek pada kulit serta fragmen tulang tidak menembus kulit. Sementara di kaki kanan akan terasa sakit dan perih, karena yang berdarah justru kaki Anda sebelah kanan. Pemulihannya bisa lumayan ini ya Pak ... bisa berminggu-minggu bahkan satu bulan," jelas perawat tersebut.
Mendengar penjelasan dari perawat mengenai keadaan kakinya Aksara sebenarnya merasa sedih. Dengan kaki yang terpasang gips, bisa dipastikan bahwa dia akan kesusahan untuk beraktivitas selama berminggu-minggu sampai satu bulan ke depan. Namun, di hadapan orang yang paling dia cintai, Aksara tidak akan menunjukkan kesedihan dan kerapuhannya. Sebab, Aksara tidak ingin Arsyilla bertambah sedih. Biarlah dirinya saja dan Tuhan yang tahu.
"Sekarang, saya akan suntikan antibiotik lagi ya Pak. Jika ada keluhan bisa langsung memencet tombol di atas brankar Bapak. Ada perawat yang jaga selama dua puluh empat jam," kata perawat itu sembari menyuntikkan antibiotik melalui infus yang terpasang di tangan Aksara.
Usai memeriksa dan menyuntikkan antibiotik, perawat pun kembali meninggalkan ruang perawatan Aksara. Sementara itu, Arsyilla pun kembali duduk di kursi yang berada sebelah brankar suaminya itu.
"Sakit ya Kak?" tanya Arsyilla.
__ADS_1
"Lumayan Honey ... hanya kakiku saja sih," balas Aksara.
Arsyilla sudah berkaca-kaca mendengar pengakuan dari suaminya itu. Sungguh, Arsyilla tidak ingin suaminya mengalami kecelakaan kerja seperti ini.
Aksara pun menggerakkan tangannya, dan memberikan sedikit usapan di punggung tangan istrinya itu.
"Sudah, jangan bersedih ... aku tidak apa-apa kok. Kamu kok di sini? Ini masih dini hari. Lalu, Ara kita sama siapa?" tanya Aksara.
Sebab, Aksara juga khawatir dengan kondisi putri kecilnya. Di saat Arsyilla berada di Rumah Sakit dan menungguinya, di manakah putri kecilnya itu?
"Mama dan Papa menginap di rumah kok Kak ... aku menitipkan Ara sama Mama dan Papa," jawab Arsyilla.
"ASI-nya dia bagaimana Honey?" tanya Aksara yang cemas, karena putrinya itu masih begitu kecil dan belum lepas ASI.
"Syukurlah ... Ara belum ada sebulan. Masak mau lepas ASI. Diberi ASI dulu sampai dua tahun, Honey," balas Aksara kali ini.
"Iya Kak ... Ara tetap minum ASI kok cuma diperah dan dihangatkan nanti. Cuma, aku besok pulang ke rumah dulu ya Kak ... Ara juga membutuhkan aku," ucapnya.
Kali ini Arsyilla mencoba berbicara dengan jujur. Walau sebenarnya jika bisa memilih, tentu Arsyilla ingin bersama dengan suami dan bayinya dengan keadaan sehat. Akan tetapi, sekarang Tuhan sedang menguji mereka. Sehingga, Arsyilla akan membagi waktunya supaya bisa menemani suami dan putrinya. Keduanya sama-sama berharga untuk Arsyilla. Keduanya sama-sama berarti untuk Arsyilla.
"Iya Honey ... tidak apa-apa. Ara juga butuh Bundanya," jawab Aksara.
Setelahnya, Arsyilla kembali duduk di kursi yang berada di sisi brankar. “Ini masih dini hari, Kak … kamu tidur dulu yah, aku akan jagain kamu,” balas Arsyilla.
“Enggak bisa tidur Honey, biasanya ada kamu yang pelukin aku. Guling hidupku … mana bisa aku tidur tanpa kamu,” balas Aksara.
__ADS_1
Kali ini Arsyilla tertawa karena suaminya itu sudah kembali absurb. Sampai akhirnya Arsyilla kembali menggenggam tangan suaminya itu.
“Kita pisah ranjang cuma di Rumah Sakit saja kok Kak … setelahnya kita akan satu ranjang lagi di rumah nanti. Nanti aku tata, kita nempatin kamar di bawah dulu yah. Semoga kamu boleh pulang cepat, jadi gak perlu lama-lama berpisah. Di rumah, aku akan merawat kamu dan Ara,” ucap Arsyilla.
Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Ya Honey … maaf yah, kamu justru lebih repot karena aku sakit kayak gini,” balas Aksara.
“Tidak repot kok Kak … lagian aku masih masa cuti. Justru aku mau merawat kamu dan Ara,” balas Arsyilla.
Merawat suami yang baru saja sakit adalah tanda bakti dari seorang istri. Untuk itu, Arsyilla sama sekali tidak keberatan. Justru dia akan mengabdikan dirinya untuk merawat suaminya itu sampai sembuh. Tidak apa-apa, karena yang Arsyilla harapkan suaminya juga tidak mengalami tekanan secara mental karena kakinya yang terluka.
“Tidur Ayah … istirahat dulu, aku akan menjagamu di sini,” ucap Arsyilla lagi.
Dengan berat hati, Aksara pun memejamkan matanya perlahan. Sebenarnya Aksara tidak rela melihat Arsyilla yang duduk di kursi yang berada di samping brankarnya. Tidur dalam keadaan duduk itu sama sekali tidak nyaman. Ingin rasanya, Aksara membawa istrinya itu berbaring di sisinya. Malam pertama di Rumah Sakit, menyisakan beberapa jam saja sampai surya kembali menyapa. Akhirnya, surya perlahan menyapa dari balik tirai jendela berwarna putih itu. Arsyilla terbangun, dan yang dia lakukan pertama adalah mengecek suhu badan suaminya dengan menggunakan telapak tangannya, selain itu Arsyilla mengamati luka-luka yang ada di tubuh suaminya.
"Honey," ucap Aksara dengan suaranya yang lirih.
"Hmm, ya Kak ... ada apa?" tanya Arsyilla. "Sudah bangun?" tanyanya lagi.
"Hmm, iya ... hari ini kamu pulang ya Honey?" tanya Aksara lagi seakan-akan Aksara pun enggan untuk berpisah dari istrinya itu.
"Iya, Ara butuh aku juga. Nanti kalau udah agak senggang, aku ke sini lagi," balas Arsyilla.
Aksara pun tampak menganggukkan kepalanya, "Iya Honey ... nanti titip salam sayang untuk putrinya Ayah yah. Ayahnya tidak bisa gendong Ara dulu, Ayahnya selalu sayang sama Ara," balas Aksara.
Mendengar pesan yang diucapkan Aksara pagi itu, nyaris saja air mata Arsyilla jatuh dan ingin menangis. Namun, dia harus kuat. Dia harus kuat untuk suaminya, untuk Ara, dan untuk dirinya sendiri.
__ADS_1